Ahmad Ridwan: Dari Blora, Membela Indonesia

USIANYA baru 21 tahun. Namun, pengalaman dan kedewasaan Ahmad Ridwan dalam menjalani hidup mungkin melebihi orang-orang sebayanya. Atlet parashooting asal Blora, Jawa Tengah, ini beruntung dapat mengikuti Pelatnas tim Indonesia Asian Para Games 2018 yang baru-baru ini dihelat di Jakarta.

Berbincang dengan saya di tengah hingar-bingar panggung hiburan Wisma Atlet Kemayoran malam itu, ia menceritakan seluk beluk perjalanannya hingga bisa sampai ke Jakarta dan bertanding di Asian Para Games tahun ini.

“Saya terlahir dalam kondisi normal sebagai anak kedua dari dua bersaudara di sebuah keluarga sederhana di Purwosari, Blora,” jelasnya lugas di tengah terpaan angin malam sepoi-sepoi Jakarta. Di depan kami, banyak atlet lalu lalang.

Di cabang parashooting, ia masuk kategori amputasi kaki (SH1), kelas menembak duduk. Sementara itu, untuk kategori SH2 diperuntukkan bagi mereka yang tangannya diamputasi tetapi bisa berdiri karena kedua kakinya masih lengkap.

Selain menekuni dunia olahraga, Ridwan mengaku dirinya tertarik untuk menjadi pekerja seni di dunia musik. “Dalam tubuh saya mengalir aliran musik dangdut,” ujar pemuda yang kini dikenal sebagai atlet oleh masyarakat Blora ini. Tak cuma memainkan alat musik dari gendang hingga seruling dan piano dan angklung, ia juga bisa menyanyikan lagu-lagu dangdut dengan baik. Semua itu dipelajarinya secara otodidak.

Dalam menjalani kegiatan sehari-hari, ia tidak pernah merasa kesulitan sehingga sangat bergantung pada orang lain. Ia sangat mandiri. “Tidak ada yang sulit.” Bahkan dalam urusan transportasi, tidak hanya ia berjalan sendiri ke berbagai tempat yang ia inginkan, Ridwan juga terbiasa menunggangi moda transportasi pribadi seperti sepeda motor. Karena mudah bosan, ia yang semula sudah memiliki kendaraan roda dua otomatis beralih ke kendaraan bermotor dengan CC besar. Ia sangat puas karena bisa membeli sepeda motor itu secara mandiri. Tidak meminta dari orang tuanya.

Termotivasi Resident Evil

Ia pertama kali bisa berkenalan dengan cabang olahraga menembak secara tak sengaja. Persentuhannya yang perdana dengan dunia olahraga menembak ini berawal dari rasa penasaran saat ia mendengar berita dibukanya lowongan untuk menjadi para atlet di ajang Asian Para Games 2018 pada bulan Desember 2017. Saat itu ia masih sibuk bekerja di sebuah pabrik meubel di Blora. “Saat itu di tiap kecamatan diumumkan pencarian atlet disabilitas yang ingin mengikuti Asian Para Games 2018. Saya bisa memilih cabang olahraga yang ingin diikuti.”

Ahmad yang sama sekali tidak mengetahui seluk beluk olahraga menembak dan kehidupan atlet memutuskan mencoba dan berhasil lolos. “Rupanya ada juga atlet yang seperti saya. Sebenarnya saya suka bulutangkis dan renang tetapi saya pikir keduanya melelahkan. Haha. Jadi saya pilih menembak saja. Apalagi saya suka main PS. Miriplah dengan main Resident Evil. Haha!”

Begitu lolos di tingkat kabupaten, ia menuju ke Stadion Manahan, Solo. Ia ikut seleksi. Meski mengaku tidak begitu bagus dan mengesankan, ternyata ia meraih poin tertinggi dibandingkan rekan-rekannya. Tanggal 10 Januari 2018, ia pun dinyatakan lolos mewakili Indonesia. Ia beruntung bisa mengikuti seleksi itu tepat waktu sebelum tanggal 10 Januari karena ada sejumlah atlet lain yang terlambat ikut seleksi dan gagal melaju.

Ia berlatih selama 6 bulan sebagai persiapan. Pelatnas ini berlangsung saban hari karena bersifat intensif. Sehari ia mengaku bisa berlatih dari pukul 6 pagi sampai maghrib atau bahkan pukul 9 malam. “Pelatih saya kadang bertanya kondisi para atlet binaannya. Kalau lebih banyak dari kami yang mengeluh lelah, kami diizinkan istirahat lebih awal. Tapi jika masih banyak yang mengatakan belum capek, kami dipersilakan berlatih.

Menemukan Tujuan Hidup

Ia masih merasa belum percaya saat menjalani pelatnas bahwa dengan menembak ‘saja’ dirinya bisa disebut sebagai atlet. “Lalu saya jelajahi YouTube untuk menemukan atlet-atlet parashooting. Yang muncul atlet-atlet China yang juara dunia. Saya berkhayal kapan bisa bertemu mereka ini, yang kemampuan menembaknya keren-keren. Tidak saya sangka, saya bisa bertemu mereka di sini (ajang Asian Para Games 2018). Saya kegirangan bertemu mereka. Wah ini kan yang saya sering tonton di YouTube itu!!!”

Atlet-atlet parashooting China yang sudah malang melintang selama 20 tahun lebih di olahraga ini sempat mengobrol dengan Ahmad. Mereka memompa semangat Ahmad untuk terus berlatih selagi masih muda agar nantinya bisa berprestasi lebih baik lagi. “Sayangi senjatamu, seperti kamu menyayangi istrimu,” tutur atlet itu padanya. “Kalau kamu bisa menyatu dengannya, hasil akan mengikuti.”

Sepanjang karier parashootingnya yang baru 8 bulan, Ahmad memang tidak perlu patah semangat karena justru ia masih punya masa depan yang lebih panjang daripada mereka yang sudah memulai lebih dulu. China memang sudah melesat lebih dulu daripada Indonesia dalam hal prestasi di banyak cabang olahraga untuk para atlet ini karena mereka sudah sejak lama membina atlet-atlet disabilitas. Sungguh bukan tandingan bagi Indonesia yang baru saja mempersiapkan atlet-atlet mereka dalam 8 bulan sebelum ajang digelar.

Bertanding di Jakarta mewakili negara bukan satu-satunya misi Ahmad. Ia juga ingin memberikan motivasi yang sama bagi para rekan-rekannya para penyandang disabilitas di kota kelahirannya. “Saya berfoto dengan atlet-atlet idola parashooting dari China itu dan ingin saya tunjukkan ke teman-teman sesama atlet diabilitas di Blora agar mereka bersemangat untuk latihan. Orang dengan disabilitas bukan manusia lemah. Pasti ada jalannya jika mau berusaha,” terangnya.

Ahmad menganggap ajang Asian Para Games sebagai ajang bagi kaum disabilitas untuk unjuk gigi bahwa mereka juga bisa berprestasi. “Justru sekarang pemerintah memandang orang dengan disabilitas melebihi orang normal,” Ahmad menegaskan.

Kepercayaan diri Ahmad meningkat dengan keikutsertaannya di ajang ini. Ia sekarang masih belum percaya sepenuhnya ia seorang atlet yang membela negara di event setingkat Asia, mengingat ia ‘hanya’ seorang anak muda dari kota kecil di Jawa Tengah.

Semua ini tak terbersit sebelumnya setelah ia tertimpa kecelakaan yang membuatnya kehilangan satu kaki. “Di tahun 2009 saat kelas 6 SD, saya memanjat sebuah pohon mahoni untuk mengambil layang-layang. Tak disangka pohon itu bersentuhan dengan kabel listrik bertegangan tinggi dan ranting mahoni yang saya pijak tidak cukup kuat,” kenanganya dengan nada getir. Ia jatuh tak sadarkan diri dan kemudian mendapati satu kaki diamputasi.

Kebangkitan

Untuk bisa bangkit dan mendapatkan semangat hidupnya lagi bahkan mencetak prestasi seperti sekarang, Ahmad harus menapaki jalan yang cukup panjang. Ia mengaku sempat stres berat karena ia terlahir normal namun harus menerima kenyataan bahwa ia akan hidup dengan disabilitas selama sisa hidupnya. Selama beberapa bulan pertama sejak kecelakaan dan kehilangan kaki, ia terus termenung membayangkan masa hidupnya sebelum kecelakaan. “Saya sempat menangis melihat teman-teman saya main sepakbola. Sebelumnya saya masih bisa bermain bola, lari, renang, voli, bulutangkis. Pokoknya saya anak yang selalu ingin menang. Sekarang saya tidak bisa melakukannya dan cuma bisa menonton.”

Dengan jalan hidup yang tiba-tiba berubah, Ahmad kecil melancarkan protesnya pada Tuhan karena menganggap-Nya kurang adil. Dampaknya tidak cuma pada dirinya sendiri tetapi juga pada keluarganya. Ibunya turut tertekan melihatnya diam saja selama sebulan penuh. Ia sama sekali menolak berinteraksi, melamun dan hanya berdiam diri, mengunci diri di kamar. Sampai kamarnya didobrak karena ibunya cemas jika ada sesuatu yang terjadi pada diri anaknya. Seolah Ahmad hidup segan, mati pun tidak mau.

Ahmad awalnya memang kaku dan merasa segan dan rendah diri untuk bergaul dengan teman-temannya kembali pasca kecelakaan. “Apakah mereka mau bergaul dengan saya? Saya berpikir teman-teman saya pasti menjauhi saya yang sudah begini. Meski ibu saya berupaya membesarkan hati saya, saya terus menyangkal bahwa orang-orang di sekeliling saya pasti tak mau berteman. Dan kalaupun mereka mau, mereka hanya berteman sebatas perkataan. Dalam hati, mereka tetap saja mencibir saya,” tutur Ahmad.

Prihatin dengan keadaan adik semata wayangnya, kakak kandung Ahmad datang dan mengajaknya tinggal di Kalimantan untuk menyegarkan pikiran dan jiwanya. Apa daya, meski sudah di sana 3 tahun dan dimanjakan sedemikian rupa, rasa frustrasinya masih belum luntur juga. Kakaknya melancarkan berbagai cara, dari membelikan Play Station dan TV sampai menawarinya kuliah setinggi mungkin agar semangat hidupnya kembali seperti sediakala. Semua percuma karena adiknya itu keras kepala. “Biarlah saya berpikir untuk diri sendiri. Tidak perlu diceramahi, kata saya,” ia menimpali sang kakak.

Kakaknya terus mengingatkan Ahmad bahwa pasti akan ada hikmah di balik apa yang menimpanya. “Mungkin hikmah itulah yang saya rasakan sekarang tetapi saat itu saya belum terpikirkan,” ungkap pemuda yang kini berpikiran lebih dewasa ini.

Dengan banyaknya waktu senggang yang ia miliki, Ahmad beruntung bisa menjelajahi YouTube untuk menemukan konten-konten yang positif dan memotivasi. “Saya sering mengetikkan istilah pencarian ‘disabilitas ala Indonesia’ dan menemukan banyak video tentang orang dengan disabilitas yang terus berkarya. Saya berpikir, kalau mereka bisa, kenapa saya tidak?” Dari sana ia memutar otak untuk mengisi hidupnya dengan menekuni musik.

Begitu ia pulang kembali ke Blora, Ahmad terus mencari pekerjaan yang sesuai. Sebab menurutnya musik hanya sebatas hobi, ia pun menekuni pekerjaan di pabrik meubel dekat rumah orang tuanya. Begitu mulai bisa menghasilkan uang sendiri dan mandiri dengan penghasilannya sebagai buruh di pabrik meubel.

Meskipun memiliki kaki palsu, Ahmad mengaku tidak betah berlama-lama memakainya. “Terasa panas apalagi kalau sampai seharian memakai. Ah saya pikir ribet pakai ginian terus! Akhirnya saya cuma pakai di saat-saat tertentu.” Ia lebih memilih beraktivitas dengan tongkat penyangga.

Fokus dan Tekad

Baginya, kesempatan berkiprah melalui Asian Para Games 2018 ini adalah sebuah keajaiban yang membelokkan jalan hidupnya kembali ke arah yang lebih baik. Ia tahu ia tak bisa selama-lamanya bekerja sebagai buruh di pabrik meubel. Dengan menekuni olahraga menembak, Ahmad menemukan kembali tujuan dan semangat hidupnya dalam parashooting. Ia paham bahwa jika ia konsisten menekuni parashooting, ia akan memiliki masa depan di sini. Ahmad terus memutar otak bagaimana bisa menabung dan memanfaatkan pemasukannya dari parashooting sebagai modalnya menapaki masa depan. Ia ingin mendirikan bisnis makanan.

Ditanya soal orang yang paling berjasa membimbingnya sampai ke titik seperti sekarang, Ahmad menyebut nama pelatihnya, Saridi. “Beliau membimbing saya dengan sabar dari nol. Berjuangan bersama-sama, bahkan kami sudah seperti keluarga.”

“Pesan saya untuk mereka yang memiliki disabilitas, jangan berpikir disabilitas pasti membuat Anda lemah. Anda bisa bangkit meski memang tidak mudah. Lebih fokuskan diri pada masa depan, daripada masa lalu,” tukas anak muda dari kota asal sastrawan Pramoedya Ananta Toer ini.

Yang sekarang Ahmad bisa lakukan ialah terus berlatih untuk memantapkan kariernya sebagai atlet parashooting sembari memikirkan masa depannya. Satu yang mengganjal, di Blora nanti ia tak menemukan tempat latihan yang memenuhi standar layaknya di Jakarta. “Tapi itu tak masalah. Saya bisa saja latihan di mana saja termasuk di rumah. Yang penting fokus dan tekad.” (*/)