Antara Surya Namaskar, Gulat, Matahari dan Haji

Surya namaskaraDalam praktik yoga modern, surya namaskar (sun salutation/ salam matahari) adalah sebuah koreografi (sekuen gerakan seperti dalam dunia tari) yang sering diperdebatkan kehalalannya untuk dipraktikkan kaum muslim. Di India yang menjadi asal yoga sendiri, argumen kelompok pro-yoga versus kontra terus mengemuka. Mereka yang ingin sun salutation dipraktikkan di sekolah-sekolah India beralasan surya namaskar tidak akan membuat seseorang berpindah keyakinan. Sementara itu, mereka yang menganut Islam konservatif menampik alasan tadi dan mengatakan melakukan surya namaskar sama saja dengan menyembah matahari, bukan Allah sebagai satu-satunya sesembahan manusia.

Asal muasal surya namaskar sendiri cukup rumit tetapi bisa disederhanakan sebagai berikut. Meskipun dijumpai dalam praktik yoga yang dianggap klasik dan tradisional, surya namaskar sebetulnya tidak sekuno dugaan kita. Tujuan pelaksanaan surya namaskar sendiri dahulu kala ialah memang untuk menyembah matahari dalam masyarakat India Kuno sebagai bentuk syukur datangnya hari baru. Praktik semacam ini lazim ditemui pada para penganut Hindu India sebelum era penjajahan Inggris. Mereka melakukannya dengan merapal japa mantra di setiap gerakan, tanpa ada keserasian gerak dan napas. Jadi fokus gerakannya ialah ritual dan pemujaan semata.

(Baca: Haruskah Memulai Latihan Yoga dengan Surya Namaskar?)

Dalam perkembangannya di kemudian hari, sekuen ini kemudian diadopsi oleh pendiri kemaharajaan Maratha di abad ke-17, Shivaji. Untuk meningkatkan tingkat kebugaran fisik para serdadunya, Shivaji kemudian menggunakan gerakan surya namaskar ini dan memodifikasinya sebagai gerakan pemanasan fisik saban pagi bagi para prajurit agar tetap bugar dan siap bekerja mempertahankan keutuhan kerajaan. Surya namaskar kemudian tenggelam seiring berjalannya waktu. Masyarakat India tak mempedulikannya lagi hingga pada tahun 1938, pemimpin kerajaan Aundh (sekarang di sekitar Mumbai) yang bernama Bhavanrao Shrimant Balasaib Pandit Pathinidi mengangkatnya kembali melalui bukunya The Ten Poin-way to Health – Surya Namaskars (1936).  Sebagai penggemar gulat tradisional India, Pathinidi ingin memperkenalkan surya namaskar kembali yang ia ketahui dan pelajari dari Shrit. Balasaheb Mirajkar (raja dari Miraj). Dalam ajaran Balasaheb yang kemudian dipraktikkan Pathinidi, surya namaskar tidak lagi menjadi sebuah tarian pemujaan Brahman di pagi hari dengan menghadap sang surya tetapi sudah menjelma menjadi senam pemanasan sebelum bergulat. Surya namaskar yang dipraktikkan Bhavanrao inilah yang kemudian didokumentasikan dalam film pendek dan disimpan oleh British Film Institute, Inggris. Dokumentasi tadi sedikit banyak membentuk wajah yoga di Barat.

Lebih lanjut lagi, jika dicermati kita akan menemukan perbedaan antara surya namaskar yang dipraktikkan umat Hindu di India pra penjajahan Inggris dan surya namaskar di masa Pathinidi. Pathinidi telah memodifikasi surya namaskar menjadi lebih terstruktur, runut dan lebih selaras dengan napas. Pathinidi juga menghapus japa mantra dari gerakan surya namaskar, sehingga membuat gerakan ini tidak lagi bersifat spritual apalagi relijius. Pathinidi juga memperbaiki panduan postur dan cara napas dalam surya namaskar agar lebih jelas dan baku. Menurutnya, gerakan tadi dapat menguatkan kebugaran dan vitalitas tubuh secara keseluruhan terutama otot-otot lengan dan jantung yang amat perlu dilatih tiap hari bagi para pegulat pria di masa itu. Jadi ditegaskan lagi bahwa saat itu, surya namaskar merupakan bagian integral gulat India, bukan yoga.

Setelah pegulat mengadopsinya, barulah praktisi yoga asana modern di awal abad ke-20 mulai berlatih surya namaskar untuk memanaskan tubuh mereka sebelum berlatih asana. Belum dapat dipastikan siapa yang memasukkan surya namaskar dalam praktik yoga asana modern. Tetapi jika ditilik kurun waktunya, bisa jadi yang bertanggung jawab atas adopsi surya namaskar dalam latihan yoga kita ialah Shivananda atau Krishnamacharya, dua sosok menonjol dalam penyebaran yoga modern di era tersebut. Surya namaskar modern juga bisa dilakukan tanpa harus menghadap matahari (bahkan bisa membelakangi matahari atau pada malam hari jika Anda ingin). Tidak ada keharusan waktu dalam melakukan surya namaskar modern. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa surya namaskar yang sekarang kita lakukan di kelas yoga hanya memiliki kemiripan gerakan fisik dengan surya namaskar kuno yang bersifat ritual. Namun, pada hakikatnya tujuan dan niat pelaksanaan surya namaskar kuno dan kontemporer (masa kini) sangatlah berbeda.

Evolusi dan mutasi esensi yang mirip juga ternyata terjadi pada haji. Mungkin tidak banyak muslim tahu bahwa ibadah haji dulu bukan sebuah ritual untuk menyembah Allah SWT. Menurut penjelasan Philip K. Hitti dalam bukunya The History of Arabs, ibadah terakhir dalam rukun Islam itu dilaksanakan oleh orang Arab (bangsa Semit) sebagai bentuk pemujaan mereka pada matahari. Haji cara purba itu dilangsungkan biasanya dalam musim gugur di bulan-bulan seperti sekarang.

Selain untuk memuja matahari, haji di masa pra-Islam itu dimaksudkan sebagai sebuah “upacara perpisahan dengan raja matahari yang panasnya membakar”, tulis Hitti dalam bukunya. Haji sebelum Muhammad datang juga ditujukan sebagai penyambutan dewa hujan Quzah yang bertanggung jawab atas kesuburan bumi Arab. Kala itu, haji digelar di Arab Utara dengan iringan semarak selebrasi tahunan masyarakat Arab di tiap bulan Zulhijjah.

Walaupun ritual ini tujuannya memuja dewa-dewa, anehnya Nabi Muhammad tidak serta merta menghapusnya. Alih-alih melarang umat muslim untuk berhaji, Rasul malah melestarikan budaya haji purba itu. Hanya saja memang tujuannya tidak lagi untuk menyembah ‘raja matahari’ dan dewa hujan Quzah. Ritual haji yang kemudian dikenalkan Muhammad SAW itu tetap mempertahankan mayoritas praktik masyarakat Arab sebelum Islam datang tetapi dengan beberapa modifikasi. Di antaranya yang paling penting ialah tata cara dan adab pelaksanaan haji serta lafaz-lafaz yang mengagungkan Allah saja. Umat muslim tidak diperkenankan berdoa kepada selain Allah selama berhaji. Jadi, jangan harap orang muslim bisa berdoa sekehendak hatinya sebab Rosul sudah memberikan teladan mengenai detail pelaksanaan haji yang sesuai Islam.

Hal ini membuat haji di masa kegelapan sebelum masa kenabian Muhammad mirip tetapi juga berbeda dalam esensinya dari haji yang dilakukan umat Islam hingga kini. Dulu orang berhaji bisa melafalkan doanya sesuai selera. Menurut catatan Rif’at yang juga dikutip Hitti, orang Arab dahulu berdoa sesuka hati mereka pada dewa-dewi mana saja yang mereka inginkan. Dalam satu kesempatan, Rif’at menjumpai seorang perempuan mengucapkan doa seperti ini:”Wahai Laylah! Jika kau turunkan hujan di tanah kami sehingga tumbuh kebaikan, maka aku akan memberimu sebotol minyak untuk membasahi rambutmu…” Masih menurut Rif’at, seorang pria Badui ditemui sedang mengulang-ulang doanya dalam bahasa Arab,”Wahai Tuhan pemilik rumah ini! Aku bersaksi bahwa aku telah datang! Jangan bilang aku tidak datang. Maafkan aku dan ayahku, jika kau berkehendak. Jika tidak, maafkan aku meskipun kau enggan, karena aku telah melaksanakan haji, seperti yang engkau saksikan.”

Setelah mengetahui perjalanan surya namaskar dan haji ini, kembali kita dihadapkan pada dilema mengenai adopsi hal-hal yang berbau keyakinan lain yang pada dasarnya juga ada manfaatnya bagi kemaslahatan kita (Baca: Yoga sebagai Salah Satu Cara Pencegahan Diabetes). Apakah hanya karena kelompok lain sudah melakukannya, kita harus menghindarinya? Saya pikir tidak bijak juga. Karena kembali semua amalan — setidaknya begitu yang saya pahami dalam Islam — berpulang pada pangkalnya, yakni NIAT.  Dari niat itu, akan kembali pada kita imbalan yang setimpal.

Rujukan:
Terjemahan bahasa Indonesia The History of Arabs oleh Philip K. Hitti (terbitan Serambi, hal. 168)
Encyclopedia of Indian Physical Culture (1950) oleh D. C. Mujumdar