Stressed Out? Go Blogging!

Contrary to popular belief, expressive writing that gets read by others apparently provides real benefits. The effects are real when compared with private diary writing.

At least that’s what American Psychological Association (APA) publicized in early 2012. These psychologists claimed following a study that blogging about their anxiety issues openly may offer psychological benefits for those who are anxiety-ridden especially due to social pressures.

Aside from that, teenagers who blog are more confident as they find themselves and their issues are not unique to themselves. They realize that no human is an island. We are all connected with each other and share many things together without our knowledge. This helps them grow unity and solidarity.

All this totally makes sense to me. If you just write a diary and no one reads what you are venting about, what’s the point? You only keep it for yourself and thus things won’t change. Once your thoughts get shared and read, that’s how a healing effect arises and your issues get solved.

This is why I cannot stress more about the importance of blogging instead of just being online on Instagram or Facebook or Twitter. Again, I am not against social media but I am sure social media has somewhat destroyed blogging. I’ve seen a lot of bloggers turning into instant-gratification lovers on Instagram or Facebook. It’s just sad.

While we start to leave Facebook and witness the horrible effect of Instagram (from bullying to body image disorder), I am always reminded of the joy of blogging. While I am not saying that blogging is completely safe and free from digital bullying or disgusting online behaviors, I should be more certain that it requires more energy and time for people to write longer than an Instagram caption these days and this fact actually serves as the natural filter to keep those online trolls at bay.

My hunch is justified. Despite rampant cyberbullying and online abuse, researchers as stated by Azy Barak, PhD, found that virtually every all response to participants’ blog messages were supportive and positive in nature.

So everytime you think you’re stressed out and cannot stand this life, turn to blogging and find online friends that share your worry.

And I also need to emphasize that a blogger is almost always welcome and kindly treated by his or her peers when s/he is honest, frank, decent, positive and sensible. Once you make these mistakes for any reasons, you’ll taste the revenge online, too. Don’t believe it? Go googling to find a vegan social media influencer who got caught by the public eating fish. The public reaction is beyond kindness. Pray that you’ll never be in her shoes. (*/)

Apakah Harus Nge-Blog Sesering Mungkin?

Menulis blog mirip lari marathon. Bukan sprint.

Menulis blog tiap hari terasa mudah awalnya jika memiliki banyak ide tetapi di tengah jalan, setidaknya pasti sesekali saya ‘disergap’ kemalasan, atau kesibukan lain yang tak kalah pentingnya.

Dengan bangga, saya mengatakan saya tak lagi bisa disebut sebagai narablog yang produktif. Blog-blog saya sudah lebih jarang diperbarui. Tetapi itu bukan karena saya malas menulis. Justru karena saya lebih produktif menulis untuk kebutuhan profesi saya.

Betul, saya sudah tak seproduktif dulu lagi. Namun, itu bukan karena saya sudah tak memiliki passion atau karena kemalasan yang susah dihalau. Atau karena saya tak memiliki alat dan sarana.

Tidak.

Justru saya bisa menulis dengan leluasa dengan koneksi internet dan laptop yang tersedia.

Kini saya pikir menulis blog hanya untuk sekadar eksis hanya memberikan kesia-siaan. Sering kita menulis blog hanya untuk menulis ulang soal apa yang sudah diutarakan banyak orang di luar sana. Atau kita hanya menulis sebuah blog hanya untuk bisa terkesan mutakhir, tidak ketinggalan langkah zaman yang begitu cepat. Kalau ada isu terbaru dan blog kita tidak membahasnya, kita menjadi merasa terbelakang dan ‘nista’ karena tidak cepat menanggapinya. Semacam FOMO (Fear of Missing Out). Ketakutan yang menjadi penyakit laten dalam diri para sosok social media influencer. Bukan, saya bukannya berambisi untuk menjadi seperti itu tetapi setidaknya saya bersikap realistis, bahwa kehidupan semacam itu berisiko untuk membuka masalah baru.

Namun, bukan berarti bahwa saya berhenti untuk membahas topik yang sedang panas dengan sudut pandang yang segar tetapi saya akan mengarahkan upaya lebih banyak untuk memberikan opini yang otentik daripada sekadar mengekor opini dari A, atau B, atau C, atau X. Dan inilah yang susah, sebab saya harus berpikir lebih banyak.

Jadi, apakah memang frekuensi kita menulis blog itu penting?

Ada saat saya merasa sangat bersemangat dan memiliki banyak ide untuk ditulis. Semakin banyak yang ditulis, akan semakin banyak pembaca datang juga. Kunjungan naik dan blog ini makin populer. Bukankah itu yang diinginkan seorang narablog?

Yang jelas, mengisi blog dengan tulisan baru dengan teratur memberikan sejumlah keuntungan, misalnya:

1. Semakin banyak Anda mengunggah, semakin banyak laman web yang diindeks oleh mesin pencari.

2. Semakin banyak yang Anda unggah, makin banyak kunjungan yang Anda terima dari pengguna Internet yang menerima konten Anda.

3. Makin banyak Anda mengunggah konten, makin tinggi potensi konten Anda untuk dijadikan rujukan oleh orang.

4. Makin banyak Anda mengunggah, makin tinggi peluang Anda untuk mengukuhkan status sebagai pakar atau ahli.

Ada banyak manfaat sering mengunggah konten baru ke blog kita.

Masalahnya, yang patut dicamkan adalah kualitas seharusnya menjadi prioritas dibandingkan kuantitas. Jika yang kita lakukan sebagai narablog cuma menulis ulang apa yang sudah ditulis banyak orang, orang tentu akan jemu. Akhirnya mereka menjadi tidak tertarik untuk menjadi pembaca blog kita.

Sekarang, apakah kita harus menulis blog setiap hari?

Narablog berbeda memiliki opini dan jawaban berbeda tentang ini. Betul bahwa menulis blog saban hari atau setidaknya beberapa kali seminggu akan menghasilkan angka kunjungan yang lebih tinggi dan membuat kita lebih profesional. Apalagi jika Anda menulis blog untuk kepentingan finansial, frekuensi menjadi penentu keberhasilan. Masalahnya, jika konten itu cuma mengulang yang sudah ada, tidak ada manfaatnya Anda membuat sebanyak mungkin konten untuk diunggah setiap hari.

Beberapa kiat yang pernah saya coba ialah bereksperimen dengan beragam topik yang relevan dengan ceruk atau bidang yang saya tekuni; frekuensi mengunggah konten baru. Satu yang belum pernah saya coba ialah meneliti kebiasaan pembaca blog saya. Apakah mereka lebih banyak yang membaca pada waktu tertentu? Saya belum tahu. Mungkin sudah saatnya saya berusaha mencari tahu. (*/)

After 9 Years of Blogging Tirelessly…

silver macbook pro
Why do you keep blogging if you don’t make money of it at all? (Photo by Pexels.com)

I am still going strong!

The 27th of October has been always a special day on my calendar since forever. Besides the fact that it’s my birthday (cough!), it’s also National Blogger Day in Indonesia. Today also marked my ninth year of blogging. I’ve never thought I would’ve gone this far. Especially these days, when social media enjoyment has taken over the joy of hitting ‘publish’ button on your blog dashboard and get some likes and comments from readers of your blog(s). But this is definitely not the end of my blogging pursuit.

It’s true that I’d never planned to develop this blog to be a really professionally-managed one so that I can make some money of it. As you can see, this blog has some spots of Google Ads but to be brutally honest, it doesn’t generate even a single cent of income for the blogkeeper. That said, I get into thinking that I must soon take down all these useless ads and quit being the disgruntled ad publisher. It doesn’t add value for my readership anyway.

So why do I keep blogging if I don’t make money AT ALL? You may ask.

In my first amateurish blog (akhlispurnomo.blogspot.com), in the most confident and shameless way I picked a tagline, “Blogging, My Second Religion”. You can laugh at it now, but that’s somehow still the perfect description of my reason of writing this blog (and some others).

Very few of these write-ups on my blogs generated enough money to feed me, at the very least. Yet, I always long for the satisfaction that I can only feel when there are some readers who leave comments or silent readers who never leave comments but someday I ran into and told me they liked some of my articles a lot. Probably this is very self-centered. It’s a way to satiate my hungry ego, but once again why should I stop blogging when I can entertain and inform people around me or around the world with some bits of my thought and opinions?

I’ve got to admit that I almost completely abandoned this blog’s domain, which is like a hard-earned domain. I once had a domain of my full name but along the way I failed to renew it (blame it on the M@#$%^& credit card!) and it got bought by some opportunistic domain buyer who may have thought I would beg him or her to give me the domain at a much higher cost.

Just a month ago, before my domain expired, I came to a decision that I might just let this go. “It’s a hobby so why bother spending money for it?” I thought. I considered relying only on the free blog hosting service like WordPress.com and Blogger.com but then I reweighed it after a course of content marketing that I took. It said owning a domain that bears our name is a must if we aim to be a competent, competitive digital player. Well, I made up my mind and renewed it.

Each word in this blog (and some others) shows you my ups and downs; progress and regress; happiness and sorrow. It’s a long winding road of my life journey and self-development. I get almost completely intellectually naked in my blog write-ups, which I further think is quite scary and risky in the future. That’s why every time I write, I keep reminding myself of the risk of posting stuff on the web. No blogging allowed when I get angry and emotional!  Or else I’ll regret it. And even if I intended my write-ups to be less offensive and more helpful for some, I still find some others getting upset by what I write on this very blog.

Lesson to learn? We can never satisfy everyone.

Though I humbly admit that my blog is not an extremely popular one, I take pride of it. In this social media age, when Instagram caption or Facebook status or tweets is what you call ‘write-ups’, I can still find time and collect my intellectual energy for this seemingly pointless undertaking.

I guess this clearly defines what passion is really. Passion is something we still do even if we no longer (or never) can make money of it, or something we keep doing even if we have to make money from other jobs but we still stick to this one ‘useless’ thing.

So I can say after 9 years of tirelessly blogging, I hardly made money from this blog but the blog has made it POSSIBLE for me to land many jobs, ranging from a journalist, a copywriter, a translator, an editor, a book writer, a magazine writer and even a guest lecture, which never snapped on my mind. All these jobs are paying ones (forget about the image of a lonely, tortured, poverty-stricken writer). This would be different if I had spent my time for writing Facebook updates, producing tweets like crazy, or selecting the right diction for a caption on Instagram to impress followers.

Anyway, happy National Bloggers Day! Keep blogging no matter what! (*/)

 

 

 

 

To Be a Good Entrepreneurship Reporter, Don't Be an Entrepreneur

So here’s the rule of thumb for entrepreneurship and business reporters out there: Don’t be the person you want to interview and write about. In other words, don’t be an entrepreneur or business person. This piece of advice sounds a little bit counter-intuitive as I thought it’d be much easier to understand the subject matters by being in their shoes, seeing things the way these people do so I can write better about them and their companies.

It turns out I’m wrong…

Reporters need to stay away from being an entrepreneur themselves. They can’t be a top-notch reporter and a great entrepreneur at the very same time. They have to relinquish one of the two.

That’s probably the gist of Sarah Lacy’s statements. The founder of media company Pando.com was asked whether being an entrepreneur herself changed her way of writing as a tech reporter. As we all know, Lacy has worked for almost 15 years writing about the tech industry, the people and the whole dynamics in it. She answered it bluntly,”I’m a way worse reporter now…”

Asking hard questions to other entrepreneurs as an entrepreneur cum reporter is relatively easy, claimed Lacy. Yet, she stated that what bothered her to do her best job she always wanted is the OVEREMPATHY on the answers. “So particularly when it comes to things I’ve gone through…like having the ousted board member (she might be reminded of Mike Arrington ousted from TechCrunch or?) or even like a cash crunch or hiring a sales guy that didn’t work out[…]”

She further said she didn’t write as much as she used to and she felt for these pitiful entrepreneurs. “Because I see every side to it and I feel for them,”explained the mother of two.

Thank God, I’m not an entrepreneur because if I have to be one, I would certainly lose my best job ever. And I would never trade being a writer to any job on earth. This is very much the best. At least for now.

The Roadmap to Writing Like an Expert

Anyone can write. Your 4-year-old child can write simple sentences on the wall of his bedroom. Your nephew writes an essay on how more civilized and developed this country can be without Trans TV airing Raffi Ahmad’s live update of the wedding ceremony. Your teenage neighbor writes rants on Twitter every minute of his waking hours. And your 76-year-old grand father writes replies to your BBM messages on his smartphone.

Not everyone, however, writes and gets the acknowledgment as an expert and gets paid with a hefty sum of money.

Jason Calacanis – an Internet entrepreneur cum blogger – spills his tricks on how to approach writing and blogging so people will know you as an expert. Here’s the roadmap.

Pick a subject you’re most passionate about.

Spend one hour a day writing about it on a blog called “your first name + the topic” or “the topic + your first name”. For instance, “yoga akhlis” (or “yogakhlis”, like I’ve invented in my Instagram hashtag for my yoga photos). So I have to write about yoga every day for an hour (or more, if I want to speed up the process).

And then write about other people writing about it. This makes you more connected and relevant to the world, or at the very least to people around you.

Don’t forget to link to these people whose writing you praise, criticize or review. Let them know you have your own opinions on their thoughts. Of course, you may add or negate or improve what s/he wrote. Be yourself when you write.

After that, write comments around the web as the name of your blog (in my case, it is yogakhlis). And then after you have a year of your work, you may bring that to people who want to write about that certain topic (in my case, it’s yoga), and you’ll be likely to get more access. Because you have brain and have more knowledge on the subject like an expert (but by this point, definitely you’ve become one, if you really really write it on your own, not paraphrasing or quoting others’ thoughts only).

Now, you’re likely to get into writing and get a writing job because you manage to differentiate yourself from everybody else!

Calacanis added,”If you’re really good at what you do, they cannot stop you!” If you have performance with so refined skills after years of practicing and mean into it, you’re bound to be successful.

In journalism, said Calacanis, some people write so well and they practice it over and over again and they write some long-form pieces. You should keep on writing, regardless of anything. Only you can stop yourself, he firmly stated.

{source: A Fireside Chat by Sarah Lacy with Jason Calacanis /image credit: YouTube screenshot }

Building a Blog as a Business

‎If you were not like most blog readers, you’d find comments below a post a lot more engaging than content of it. It’s not because content in discussion is boring or a cliche, but more because it manages to spark a (luke)warm exchange of ideas amongst readers who decide to leave comments.

I saw a male commenter trying to make sense‎ the whole thing, as to why a blog needs investors. He argues,”It’s just a blogging software, pay for some hosting and call it a day, right?” He doesn’t seem to take staff’s salaries and other aspects into account, which he should have.

But he got it all wrong. Blogs can be an entity of serious business if founders or bloggers wish to operate it like a REAL business instead of a small home-based business. It’s obviously not one of those diary blogs where you can read daily rants of a blogger who may be using the f word at his or her disposal.

Setting up a blog is ‎one thing and maintaining it is another. Even if your blog has reached millions of visitors, things are not that easy for most bloggers who expect to earn a living by making profits of his blogs.

‎But a blog alone won’t make bloggers or writers go too far these days. You cannot just sit and post writeups on a daily basis and hope business is going better on is own. You need to figure out the best ways to build products around the blogs. Something you can sell, a business model that makes money and solve problems at the same time.

That explains why ‎writers and bloggers publish ebooks, produce paid webinars, podcasts, and provide consulting service as well.

And that’s what separates blogs as a medium of rants and a serious business entity. Pretty much…

Not Everyone Must Be a Blogger

matt mNot everyone should be a blogger, says WordPress founder Matt Mullenweg. Simply because not everyone has the passion to share things online. “Not everyone’s a creator,”claims he.

But maybe everyone’s a creator, Matt. But not everyone has the passion of sharing.

That reminds me of a friend who happens to like sharing long long updates on Path. She rants a lot once in a while on stuff she cares so much about like parenting but she tends to refuse the idea of blogging because she assumes it’s not what she really is. In many ways, the blogging thing is something  she thinks way too time and intellectual labor intensive. Yet, she can afford the hassle of writing such long updates on Path, which makes me confused. It turns out she doesn’t think sharing ideas to the rest of the world without limit is her thing. That’s something I could never understand. Why writing for only yourself or a limited number of people when you know what you share is useful to not only your inner circle but also everyone who shares the same shoes with you?

Blogging should be done with passion as it’d be tiresome for many without passion to write up like every single day. And this is not everyone can and wants to do. Writing every day is a grind and writing every day to get significant audience is another challenge to conquer.

There’re bloggers who shift path to microblogging like Twitter simply because it’s more succinct and instant a a tool of interaction. The Great Robert Scobble would be one of the examples. In Indonesia, we’ve got Nukman Luthfie, who happened to be an early adopter of blogging and online journalism in the country but as Twitter emerged as a new channel of communication, Nukman spends more time to tweet than blog. It’s all about passion once again. And not all bloggers are all that consistent when it comes to writing consistently. Of course they still write but not in the long form as often as they did before. Instant gratification? I bet.

Blogging may be adopted and then abandoned or vice versa but no one can ddeny that blogging is constant in the way that it serves as our digital home. You can have as many social media accounts as you want but all those lead you to one single place: your site or blog.

Jurnalisme Emosional

‎Era media baru yang ditandai dengan inovasi-inovasi teknologi yang memudahkan siapa saja membuat publikasi mereka sendiri (via blog, self publishing, dll) membuat norma-norma jurnalisme konvensional mau tidak mau, cepat atau lambat harus bergeser. Terjadi friksi, tumpang tindih, perselisihan di antara para wartawan dan blogger (narablog) yang saling mengklaim bahwa kelompok atau aliran atau medianya adalah yang paling baik. Fenomena ini sungguh menarik untuk diamati bila Anda adalah pewarta atau peminat jurnalisme media baru dan blogging.

Dalam pengamatan saya, ‎sekarang ini muncul sebuah aliran baru dalam jurnalisme:jurnalisme emosional. Para pelopornya adalah pendiri blog TechCrunch.com Michael Arrington, pendiri blog Pando.com Sarah Lacy, dan Kara Swisher yang mendirikan Recode.net. Mereka inilah orang yang membuat terobosan dengan memanfaatkan kanal penerbitan digital semacam blog dan jejaring sosial sebagai pengganti. Mereka membuat dunia jurnalisme menjadi lebih segar, tidak melulu menampilkan onggokan hasil wawancara, fakta dan data. Jurnalis-jurnalis kampiun media baru ini juga memiliki kepribadian (personality) dalam menyampaikan isi kepala mereka mengenai sebuah isu.

Beda yang pertama dan utama aliran jurnalisme emosional ini ialah mereka tidak segan menggunakan kata “I” (saya) dalam berbagai tulisan. Ego mereka memang besar dan mereka tidak menggunakan bahasa yang formal dan kaku bak pewarta media lama yang kerap menghiasi halaman surat kabar. Gaya menulis mereka sangat berkebalikan dengan gaya menulis wartawan di situs-situs berita mapan seperti BBC.co.uk dan VOANEWS.

Karena besarnya ego itulah, jurnalis-blogger di sini diperkenankan (baca : sangat didesak) untuk‎ menunjukkan kepribadian mereka secara blak-blakan. Arrington dan Lacy, misalnya, tidak malu menulis dengan nada memojokkan atau menggunakan kata kasar semacam “f*ck”. Swisher juga terlihat sangat liberal dengan penggunaan kata-katanya di berbagai kesempatan publik meski di tulisannya agak lebih terkendali. Emosi yang menjadi bagian dari watak manusia justru harus dipertontonkan di jurnalisme emosional dan media baru. Padahal di jurnalisme kolot, emosi sebisa mungkin dihindari agar tidak mencemari fakta yang disajikan pada pembaca. Jurnalis adalah mesin penyaji fakta dan peristiwa, tidak dianggap memiliki kepribadian atau sikap atau emosi yang manusiawi. Dalam jurnalisme emosional, justru kepribadian dan emosi harus dieksploitasi karena inilah komoditi.

Kecepatan juga menjadi prioritas di jurnalisme emosional. Sarah Lacy sendiri mengkritik bahwa dunia jurnalisme teknologi akhir-akhir ini menjadi semacam perlombaan bagi jurnalis-jurnalis agar bisa menghasilkan konten baru tentang pernyataan pers yang sama “lebih cepat dua detik” daripada para pesaingnya. Agar jurnalisme tidak semata-mata menjadi lomba kecepatan “salin tempel” (copy paste), ia menyarankan untuk menulis ulang pernyataan pers yang dikirimkan oleh startup atau berita apapun yang sudah ada agar konten yang disajikan lebih segar dan memiliki nilai tambah. Saya amati sendiri metode penulisan di Pando.com yang ia bawahi cukup menarik, karena kontennya lebih kaya referensi dari berbagai sumber. Banyak hyperlink menuju ke laman-laman lain yang bisa memperluas pandangan dan wawasan sehingga bias dalam penyampaian bisa ditekan.

‎Hal lain yang turut membedakan jurnalisme emosional ialah minimnya intervensi tim editorial. Di Techcrunch misalnya, menurut Eric Eldon (mantan editor Techcrunch) sebagaimana dikutip laman Poynter.org di artikel “Techcrunch’s Alexia Tsotsis‎: ‘I Like the Emotional Part of the News’, blog itu tidak memiliki proses ulasan editorial yang formal seperti halnya di media lainnya. Tetapi inilah yang membuat Techcrunch sanggup bertengger di peringkat teratas Techmeme Leaderboard. Artikel-artikel blogger mereka kerap mendapat kecaman, sindiran, olok-olok, karena dianggap bukan pekerjaan jurnalistik yang sesuai pakem. Namun demikian, mereka malah makin berjaya. Salah satunya menurut saya adalah karena blogger-blogger di Techcrunch menulis dengan gaya pribadi mereka sendiri. Dan mereka diberikan ruang yang hampir tanpa batas untuk itu. Begitu bebasnya ruang itu, sampai Tsotsis sendiri mengaku pernah menulis dan mempublikasikan artikel dalam kondisi mabuk setelah minum anggur. “Fuckers I am so sick of reporting on incremental tech news for fucking two years now, so sick I’m pretty much considering reverting full-time to fashion coverage,”tulis Tsotsis yang mabuk di sebuah malam Minggu di Techcrunch. Tulisannya langsung menuai kritik dan kecaman pedas.

Sarah Lacy yang juga pernah bekerja di Techcrunch menyoroti lemahnya pengawasan editorial di media baru seperti Techcrunch dan menerapkan penyempurnaan ‎itu di Pando. Penyuntingan naskah (copy editing) ia anggap sebagai bagian integral penerbitan sebuah artikel hingga pantas dibaca khalayak. Lacy mengatakan sendiri misinya adalah menggabungkan sisi posisif media lama dan media baru. Dan tampaknya ia belajar banyak dari kebebasan yang terlalu tinggi di Techcrunch.

Semua plus minus itulah yang membuat jurnalisme emosional ini menjadi begitu seksi, menantang persis seperti Alexia yang dulunya berprofesi sebagai model. Karena mereka mendobrak aturan formal yang sudah ada, dan makin dicerca, mereka makin disuka juga. Berita yang mereka sampaikan seolah menjadi lebih manusiawi dan tidak mengada-ada. ‎Saya menduga ada kriteria khusus supaya seseorang bisa sukses di jurnalisme emosional seperti ini. Mereka adalah orang-orang yang bersedia menerima kecaman kejam tanpa henti dari troll virtual yang kapan saja bisa meninggalkan komentar pedas di kotak komentar.

Di Indonesia, sepengetahuan saya belum ada yang benar-benar bisa merealisasikan jurnalisme emosional ini. ‎Dibutuhkan orang-orang dengan keberanian seperti Ruhut Sitompul atau Farhat Abbas untuk memancing emosi pembaca tetapi tentu saja, dengan memiliki kepribadian yang unik dan penampilan yang lebih menarik dari keduanya.

{image credit: Alexia Tsotsis/ Business Insider}

Jika Menulis Jadi Otomatis (Tren Robot Penulis Berita)

Berhati-hatilah dengan impian dan harapan Anda. Begitu kata pepatah dari negeri China. Jika Anda bekerja sebagai pewarta, dan Anda pernah mengeluhkan betapa beratnya beban kerja Anda selama ini (misalnya karena harus turun ke lapangan, mengejar narasumber, menjalani piket/ shift malam dan dini hari yang membuat jam tidur kacau balau) dan ingin proses membuat berita menjadi semudah mengayunkan tongkat sihir dan mengucapkan mantra, selamat! Impian Anda sudah terwujud.

Beberapa waktu lalu saya pernah membaca sebuah artikel tentang bagaimana menulis buku yang praktis, yang ternyata dilakukan dengan bantuan software tertentu. Saya anggap ‘inovasi’ itu sungguh absurd. Jikalau memang teknologi semacam itu akan marak nantinya, tak serta merta ia bisa menjamin kualitas buku yang dihasilkan. Tetap saja harus ada campur tangan manusia dalam prosesnya. Otomatisasi tidak akan bisa seratus persen menggeser peran penulis dan segenap intelejensia, pengalaman, gagasan dan emosi mereka yang khas dan tiada duanya. Inilah yang tidak akan bisa dimiliki oleh buku-buku yang dihasilkan dengan mekanisme otomatis semacam itu, terka saya. Intinya, software itu tetap tidak bisa menggantikan peran para penulis buku fiksi dan non-fiksi.

Itu pula yang terpikir saat saya mengetahui dua media di Amerika Serikat mulai mengadopsi teknologi dalam proses penyusunan berita mereka dengan lebih inovatif. Los Angeles Times dan Associated Press dikabarkan telah menerapkan robo-journalism dalam proses produksi artikel berita mereka.

Sejak Maret 2014 media Los Angeles Times, yang menjadi pers lokal bagi kota Los Angeles yang dikenal sebagai kota yang kerap digoyang gempa bumi, menghadirkan inovasi berupa Quakebot, sebuah software karya Ken Schwencke yang selain bekerja sebagai jurnalis juga adalah seorang programmer andal. Konon hanya diperlukan waktu 3 menit untuk menyusun sebuah artikel berita gempa, yang relatif lengkap dan memenuhi syarat jurnalistik 5W (who, why, what, where, when) dan 1H (how).

Sementara itu, Associated Press sejak bulan Agustus 2014 telah menggunakan software penulis berita Wordsmith buatan startup Automated Insights yang bertugas merangkum berbagai laporan finansial korporasi. Dengan Wordsmith, tugas pewarta AP jauh lebih ringan. Bila dikerjakan manual, pastinya akan lebih memakan waktu dan energi. Dalam kasus AP, teknologi diperlukan untuk efisiensi kerja dan penyajian berita.

Bagaimana proses software Wordsmith mengolah berita hingga siap saji? Pertama, data mentah dijaring dari pelanggan, penyedia data pihak ketiga dan repositori publik seperti jejaring sosial. Banyak sekali format data yang bisa dijaring sehingga akurasi dan kelengkapannya relatif tinggi. Selanjutnya, dilakukan telaah data yang terkumpul dengan bantuan matriks canggih pendeteksi tren menarik dan menempatkannya dalam konteks sejarah. Kemudian data akan diidentifikasi dan dibandingkan dengan data lain yang sudah ada sebelumnya. Tahap berikutnya yaitu penyusunan struktur dan format laporan. Di sini, algoritma akan menyusun kalimat-kalimat untuk menghasilkan jenis format berita yang dikehendaki, misalnya narasi panjang, artikel pendek, visualisasi, tweet, berita dan sebagainya. Akhirnya, laporan tadi siap dipublikasikan secara real time via API, Twitter, email, laman web dan perangkat digital. Tugas editor hanya memberikan polesan akhir agar artikel tampak natural saat dibaca.

Kalau begitu mudah membuat berita sekarang, apakah para jurnalis tidak lagi dibutuhkan di masa datang? Editor pelaksana berita bisnis Associated Press Lou Ferrara tidak sepakat. Ia beropini bahwa robo-journalists ini justru memberikan banyak jurnalis manusia untuk melepaskan beban pemberitaaan yang simpel untuk lebih berfokus pada penyusunan berita-berita yang lebih mendalam. Argumen Ferrara menurut hemat saya memang cukup beralasan. Alih-alih membuat jurnalis kehilangan pekerjaan, inovasi robo-journalists justru harus dianggap sebagai pembebas dari rutinitas menulis berita yang membosankan dan itu-itu saja. Jurnalis tampaknya memang makin didesak untuk bisa berpikir dan menulis dengan sudut pandang yang khas dan pembahasan yang lebih analitis karena inilah yang tidak bisa dilakukan robot-robot itu!
Mengamini pernyataan Ferrara, Ken Schwencke dari LA Times juga menandaskan bahwa robo-journalists hanya melengkapi keberadaan human-journalists. Justru inovasi ini akan “membuat pekerjaan semua orang lebih menarik”, ujarnya.

CEO Automated Insights Robbie Allen juga memberikan pernyataan serupa, bahwa software buatannya bukan dirancang sebagai pengganti jurnalis manusia. Allen menambahkan kelebihan robo-journalists hanya ada pada ketepatan dan kecepatan pengolahan data. Sementara gaya bahasa, gaya penulisan dan sebagainya cuma bisa dihasilkan oleh human-journalists. Tugas robo-journalists jelas hanya menyajikan data agar lebih cepat dan layak baca. Titik.

Karena itu, jika Anda seorang pewarta yang setiap hari hanya bekerja untuk menyalin tempel artikel berita atau cuma menyadur tanpa membubuhkan kepribadian Anda di dalamnya, rasanya Anda harus siap-siap ditelan persaingan oleh robo-journalists ini.

Saya teringat dengan kata-kata jurnalis teknologi AS Kara Swisher, bahwa banyak jurnalis menyajikan berita dengan cara yang membosankan pembaca. Besar kemungkinan kemunculan robo-journalists akan memberangus jurnalis-jurnalis semacam ini, karena seberapapun cepat otak mereka bekerja dan jari jemari mereka mengetik, tetap saja tak akan bisa mengalahkan software-software seperti Wordsmith atau Quakebot. Maksudnya membosankan mungkin adalah penyajian yang mengikuti pola atau template tertentu, yang terus menerus berulang dan tak berubah. Alur cerita dalam berita juga relatif mudah ditebak. “Setelah itu, pasti membahas ini, ah basi,” begitu gumam pembaca. Tidak heran mereka juga bekerja seperti robot! Pastilah penyajiannya lebih kaku.

Dan satu poin yang menjadi perhatian bagi mereka yang mengaku jurnalis – bila mereka tak ingin tersingkir – adalah perhatian yang harusnya makin besar untuk membangun pemikiran sendiri dan tidak segan untuk menunjukkan kepribadiannya. Elemen kepribadian ini menjadi sorotan terutama jika Anda bekerja sebagai jurnalis online atau blogger. Tanpa kepribadian yang unik, karya-karya Anda akan kurang menarik minat pembaca. Bahkan jika kepribadian itu sangat sarkastis, atau emosional sekalipun, jangan ragu untuk menampilkannya dalam tulisan Anda. Karena kepribadian inilah yang sampai kiamat pun tidak akan bisa dimiliki oleh robo-journalists yang secanggih apapun. Contohnya, kata Swisher, adalah para jurnalis cum blogger teknologi di TechCrunch.com pasca keluarnya Michael Arrington, Sarah Lacy cs. Meski blogger-blogger TechCrunch itu kerap diremehkan dengan alasan memiliki bias atau sikap kurang objektif serta kurang piawai menggunakan prinsip jurnalisme dalam penulisan konten mereka, toh orang-orang itu sanggup menunjukkan kepribadian mereka yang menarik via jejaring sosial dan konten-konten yang mereka tampilkan. Tentu saja kata “menarik” di sini bersifat nisbi. Namun, yang patut digarisbawahi adalah bahwa kepribadian mereka menjadi salah satu faktor daya jual atau selling point yang turut mengungkit pamor konten berita yang disusun.

Jadi apakah masih ingin menjadi wartawan biasa-biasa saja? Itu terserah Anda. Namun alangkah baiknya bila mau berubah sebelum binasa.

Verbal Constipation

‎Writer’s, or in my case, blogger’s block sounds too hackneyed. I hence coined a novel terminology for this: verbal constipation.‎ Just to tell you, my mind is slightly dead tired.

I have been silent on my blog for a couple of days, which seems unusual‎. At times, I may blog twice or even three times a day, but these recent days, blogging for fun is a little bit too tiresome because blogging for money has already become a chore to me day by day. And I can’t stop doing it if I want to survive. Yeah, it sucks to be me. But well, at the very least this is the job I am passionate about so the boredom, the poor example and leadership, the disappointing work ethics can be tolerated to a seemingly limitless extent. It’s almost all of love labor.

Ultimately, what brings me back to sanity and productivity is my love and passion of WRITING.And I kind of miss it now.