Perjuangan yang Padam

Cita-citaku bukan menjadi sopir sebenarnya. Aku mau menjadi sutradara panggung seperti ketoprak, wayang orang, ludruk dan sejenisnya. Sayangnya kuliahku di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) putus di tengah jalan setelah aku menghamili anak gadis orang.

Masa kecilku bahagia. Aku menikmati banyak hiburan dari televisi. Saat aku kecil sudah ada sebagian orang yang memiliki pesawat televisi hitam putih. Setelah aki habis, kami mesti sabar menunggu tiga hari lagi. Kami mesti mengisi daya lagi peswat televisi itu di tempat khusus yang jarang dimiliki orang. Paling satu atau dua tempat pengisi daya ini bisa ditemukan di sebuah kecamatan. Cuma mandor atau orang-orang berada yang memiliki pesawat televisi mahal itu.

Acara-acara TVRI menjadi kesukaan kami. Misalnya Ria Jenaka. Selain itu, kami juga banyak menyaksikan acara-acara serial televisi Barat yang berkualitas. Sebelum aki habis, biasanya gambar televisi menjadi bergoyang tanpa peringatan sebelumnya. Hal ini membuatku jengkel karena kadang membuat kami ketinggalan jalam cerita.

Begini -begini saya bangga menjadi salah satu saksi sejarah reformasi tahun 1998. Saat tanggal 12-13 Mei saya turut turun ke sumber kerusuhan. Kami para aktivis mahasiswa dibidik menjadi sasaran empuk para penembak jitu (snipers) yang sudah bersiap siaga di jembatan Semanggi. Aku ikut berkonvoi bersama ribuan orang mahasiswa lainnya.

Kami pikir penembak jitu itu hanya memakai peluru karet yang tidak akan membuat kami sekarat atau terluka. Nyatanya, kami ditembaki dengan peluru tajam seperti hewan buruan di hutan-hutan pedalaman Kalimantan. Beberapa teman kami terluka dan bahkan tewas. Kalian tentu tahu nama Elang yang legendaris itu. Ia salah satu korbannya.

Mulanya kampus kami itu damai. Kampus yang bernuansa seni kental tidak perlu memusingkan pergolakan politik dan pergantian tampuk pemerintahan di luar sana. Begitu keyakinan kami para calon seniman andal negeri ini. Sebagai calon pemimpin negeri ini, kami memang buta politik. Kami tidak pernah diberikan pendidikan politik yang memadai. Murni seni. Hanya seni yang kami yakini dengan sepenuh hati.

Tanpa diduga, kami dikirimi oleh Himpunan Mahasiswa Jakatrta dan Himpunan Mahasiswa Indonesia bra dan celana dalam wanita. Kami mendapatinya dalam paket yang dikirim dalam sebuah paket yang tertuju pada sebuah kantor BEM dan kami buka ramai-ramai. Kami dikatai banci, itu pesan yang kami tangkap dari paket itu. Kami pun terpaksa turun ke jalan dan menganggapnya sebagai perjuangan.

Setelah pak Harto lengser justru muncul pro kontra di kalangan mahasiswa sendiri. Mereka menanyakan pada diri sendiri:”Mengapa yang kita perjuangkan ini malah menceraiberaikan Indonesia?”. Di sini, para mahasiswa mulai pecah dan ditunggangi.

Aku sendiri ikut berunjuk rasa turun ke jalan karena aku anak kos yang semata-mata tergiur oleh suplai makanan gratis. Pasokan makanan seolah tanpa henti dan menjadi bagian dari sponsor. Merek-merek makanan berbau Barat mendominasi pasokan makanan kami yang turun ke jalan-jalan di Jakarta dan membanjiri gedung MPR/ DPR di Senayan. Mereka seperti diperintahkan untuk memberikan kami ‘bahan bakar’ agar terus bisa berunjuk rasa mengkudeta status quo. Siang datang ambil makanan lalu ikut demontrasi ala kadarnya dan malamnya berpesta pora. Sayangnya pesta pora ini tak sampai berlangsung tujuh hari tujuh malam. Kami hanya bisa mengecap makanan enak saat tanggal 12-13 Mei 1998 saja. Setelah tuntutan kami dipenuhi agar Soeharto lengser, kami pun tidak lagi mendapati makanan gratis yang menerbitkan air liur itu.

Amien Rais bukan orang yang ditakdirkan menjadi presiden. Terbukti seberapa kerasnya ia berjuang menjadi orang nomor satu di negeri ini, kursi presiden itu tidak kunjung bisa ia duduki. Berkali-kali mencalonkan diri dalam pemilihan presiden di Indonesia membuatnya sadar bahwa ia tidak memiliki takdir sebagai pemimpin nomor wahid Indonesia. Bahkan ia mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN) sebagai partai yang dipenuhi orang-orang cerdik cendekia sepertinya. Tetap saja ia tidak terpilih kan? Akhirnya ia menyerah dan memilih untuk duduk di belakang saja.

Gus Dur membuktikan kehebatannya dengan bisa merangsek ke jajaran elit dan bisa menunjukkan bahwa dirinya tetap bisa memerintah walaupun secara fisik ia tidak bisa dikatakan bugar atau sehat.