Losing Mentors

PARIS-popup
They’re like Papa to me. (Source: Wikimedia Commons)

I am in grief. It took me around an entire month to discover the fact that one of my mentors I look up to passed away. Blame it on my digital news diet.

I was just googling and suddenly I stumbled upon a flyer showing condolence of Nukman Luthfie’s passing. Still in utter disbelief, I googled once again, trying to make sure it wasn’t hoax or a hideous joke that some irresponsible person was uploading on to Twitter.

I took to Instagram and found that his Instagram account was updated on the end of January 2019. This was a little bit unusual because he was always updating frequently. He was a social media maven and digital pundit of the country, so it was a bit suspicious when he stopped uploading fresh content for a too long time.

So I found condolence remarks on his passing here and there on Twitter and Instagram, two social media services he was actively engaged in.

Stroke killed him, which is quite a shock. He looked robust at 52 and didn’t show any signs of major health deterioration. Certainly, I was a little concerned to see him snacking on fried cassava and coffee as early breakfast but he just looked okay and highly functional.

He was impressively helpful. I recall the time when I asked for his willingness to get included in my referer list. I was about to submit a form as a social media speaker and because he was someone in the social media realm and he knew me well, I thought he was the best person to ask for reference. And he said yes immediately. What touched my heart even more is that he still remembered where I used to work and asked what I was up to at the time. Very cordial and sweet.

The other mentor I just also lost earlier this month is Subur Wardoyo. A lecturer teaching English at Universitas Negeri Semarang (the undergraduate program of English Literature) and Universitas Diponegoro Semarang (the graduate program of Literature). Always proud of being a graduate of New York University, Pak Subur – as far as I am concerned – was a nonpolitical personality. He didn’t seem disturbed by office politics around him. He got very unapologetically practical, focused, blunt and frank. I still remember how shrewd his tip was as we were assigned to write an essay on a particular American literary work years ago when I was still in my graduate years, which lasted 3 painful years. “You can just tactfully change and rephrase sentences you’ve made for the previous assignment if you want to. But don’t be too obvious. Be smart,” said he back then as long as my memory serves right.

He’d always been that helpful literary fairy for us. So resourceful and generous with the final scores, something that I remorsefully failed to do when I was a lecturer myself in the past. He understood that most of those American novels are unusually thick (that tomb-stone-sized Ernest Hemingway’s “For Whom The Bell Tolls” for example), so he provided some hacks to get the learning objectives done. Knowing that we would never manage to chew that all in a short time (well, being a literary program students here doesn’t mean you have to be a bookworm with a lightning speed of reading), he screened us the movie, he read us the key scenes and provided key pointers that led to what really matters in the literary works in question. That way, we could be prepared well to get our assignments done on time.

I cannot tell how much I miss them both. They’re such influential figures in my academic and professional pursuit altogether. (*/)

[Sent from my BlackBerry 10 smartphone.]

Daya Kata-kata

Mendiang Pramoedya Ananta Toer di masa mudanya (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Sebuah rekaman suara tanpa judul itu saya putar kembali pagi ini. Rekaman yang tertumpuk dalam gudang digital saya. Sebuah ceramah bernas mengenai kekuatan kata oleh seorang pekerja sastra kampiun bernama Martin Aleida terdengar jelas di dalamnya. Saat tersebut namanya saya ingat cerita seorang teman yang berceloteh bahwa Martin ditakuti oleh seorang penulis lain karena riwayatnya yang dicap sebagai tahanan politik yang membuatnya dijebloskan ke penjara dahulu kala. “Saya takut akan dibacoknya karena ia komunis,” kata teman saya mengutip reaksi spontan penulis temannya itu.

Akan tetapi, bagi saya wajah Martin tak menunjukkan bekas kebengisan. Raut muka dan gaya bicaranya santun. Ingatannya memang masih tertancap di masa lalu. Luka-luka dan usia yang renta itu membuatnya terus membicarakan masa lalu dan tak banyak membahas masa depan.

Penderitaan sebagai pesakitan politik rezim Orde baru itu menjadi tema besar karya-karyanya. “Sastra memihak kalian, para penderita,” klaim Martin yang pertama kali saya temui secara langsung dalam sebuah seminar berbayar singkat di Taman Ismail Marzuki beberapa waktu lalu. Saat itu ia tampil sederhana dalam sebuah acara yang menjadi rangkaian Asean Literary Festival 2015.

Terkait daya doa dan kata-kata, Martin menjelaskan sebuah cerpen gubahannya,  yang menceritakan perjalanan seorang pria yang terobsesi untuk mati dengan diiringi doa. Pria itu tak mau mati seperti ayahnya yang dicangkul kepalanya dan dibiarkan jenazahnya membusuk begitu saja tanpa ada prosesi pemakaman yang layak. Sejak itu, ia meneguhkan tekad agar bisa meninggalkan dunia dalam perpisahan berbalur doa-doa indah dan menyejukkan telinga, hati dan pikiran.

Untuk mewujudkan ritual kematian yang indah itu, ia membawa bekal seekor anjing kintamani bali. Tujuannya berkelana mencari dan menemukan orang Bali yang berdarah murni di Sumatra.

Dia yakin akan menemukan orang semacam itu di sana. Ia sewa jasa seorang sopir dan menjelajah lewat jalur darat. Untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-harinya, pria itu juga membawa monyet dan alat-alat pertunjukan jalanan dan mereka menari untuk mendapatkan perhatian dan sedekah dari orang-orang yang lewat.

Begitulah perjuangan seorang manusia ‘hanya’ untuk mendapatkan sebuah doa, yang berupa kata-kata di penghujung kehidupan fananya. Ini sungguh sebuah ironi yang menyayat hati. Terutama karena seuntai kata bisa diproduksi begitu mudahnya, sehingga seolah membuat derajatnya hampir nihil.

Kata-kata (baik yang terucap maupun tergurat dalam material konkret) bagi saya memiliki kekuatan, daya, dan energi. Saat kata-kata itu bermunculan terlalu acak dan tanpa tujuan yang jelas apalagi sampai mencederai inti dari interaksi yang sebaiknya penuh dengan kebajikan dan keselarasan, itulah yang namanya “diare” atau “berak” dalam hal verbal. Diare kata-kata ini Anda bisa temukan di berbagai tempat, baik fisik maupun elektronik. Baru-baru ini saya mencoba untuk menghentikan kebiasaan “berak” verbal itu di aplikasi percakapan virtual dan media sosial. Sungguh, kemudahan mengeluarkan kata di mana saja dan kapan saja, tanpa harus ada misi dan visi tertentu menjadi sebuah bumerang yang mematikan. Selain memudahkan orang menyebarkan energi baik lewat kata-kata positif, ternyata manusia lebih mudah takluk pada hasrat menyebarkan atau melampiaskan energi negatif itu melalui kata-kata negatif pula. Atau mungkin kata-kata yang sebetulnya netral tetapi karena kesalahpahaman terhadap konteks yang rumit, terpantiklah sebuah konflik. Bahkan saya menemukan kenyataan bahwa diam melulu di sebuah ruang percakapan maya juga bisa mengundang cacian.

Kembali pada Martin, sastrawan veteran ini kembali mengajak kita untuk lebih cermat dan hemat dengan kata-kata yang kita keluarkan dalam bentuk lisan dan tulisan. Dicontohkan kasus sastrawan legendaris negeri Pramoedya Ananta Toer. Kata Martin, buku-buku Pram yang diterbitkan melalui penerbit Balai Pustaka lebih enak dinikmati para pecinta kata karena lebih tertata. “Kata-katanya terjaga, terjamin, konsisten,” tukas Martin.

Setelah lepas dari Balai Pustaka, Pram menerbitkan buku bersama sejumlah penerbit lain. Dan titik ini, Pram sudah diakui sebagai sastrawan besar dibanding sebelumnya. Maka dari itu, ia diberi kebebasan dalam menulis, yang artinya tanpa kekangan dari para penyunting. Mereka percaya tangan sastrawi Pram saja sudah bisa menghasilkan karya sastra berkualitas unggul tanpa campur tangan siapapun. “Pram tidak seperti orang kebanyakan yang sebelum mengeluarkan kata-katanya secara terbuka pada publik — bersedia membaca ulang beberapa kali hingga benar-benar yakin bahwa yang terbaiklah yang tersaji untuk pembaca. “Ia mengetik dengan sepuluh jarinya karena terlatih sebagai soerang juru ketik (typist) dan begitu cerita itu jadi ia tidak pernah membacanya kembali,” jelas Martin. Seorang sahabat Pram bernama Idrus bisa dikatakan menjadi penyunting andal bagi sang pengarang. Begitu besarnya peran Idrus ini sampai Pram sendiri memanggilnya “guru”. Itu karena Idrus memiliki kejelian membuang kata-kata yang tidak perlu dalam karya-karyanya. Karena kebebasan merangkai kata yang terlalu banyak itulah, kualitas karya Pram selanjutnya malah kurang terjaga, demikian disiratkan Martin dalam pernyataannya.

Mirip halnya dengan pengarang Amerika Serikat Ernest Hemingway yang awalnya menulis novel The Old Man and the Sea dalam bentuk yang jauh lebih panjang. Begitu panjang isinya sampai ditolak karena tidak bisa dimuat dalam majalah Look. Menerima penolakan karena alasan terlalu panjang, Hemingway pun mencari akal dengan membaca berulang kali karyanya dan memangkas dengan ‘sangat keji’.

Perampingan karya yang ‘amat keji’ semacam itu konon juga menjadi salah satu kiat bagi J. K. Rowling dalam menulis dan menghasilkan karangan yang apik sehingga laik baca. Dikatakan sendiri oleh Rowling dalam sebuah interviu dengan novelis Ann Patchett, sebuah bagian panjang dan rinci mengenai adegan otopsi terhadap jenazah karakter utama dalam novel The Casual Vacancy dengan sangat amat terpaksa ia hapus karena dianggap tak sesuai dengan harapan. Rowling meratapinya sampai sekarang karena bagaimanapun juga ia sudah mengorbankan banyak sekali waktu untuk meriset seluk beluk prosedur medis otopsi yang riil.

Pengalaman yang sama ‘menyakitkannya’ mengenai pemangkasan radikal sebuah karya hasil kerja keras yang ternyata harus dibuang begitu saja  juga sudah pernah saya alami sendiri. Sakit hati? Tidak bisa. Karena jika saya menganggap semua penghapusan itu sebagai sebuah tindakan personal yang menyinggung maka saya hanya akan melelahkan diri. Tujuan mempertahankan keutuhan karya malah menjadi sebuah perjuangan demi keutuhan ego saya saja. Padahal ada tujuan yang lebih besar daripada keharusan memelihara keutuhan ego seseorang dalam penulisan sebuah buku. Selama bekerja sebagai blogger, mungkin saya tak banyak mengalami penyaringan dari penyunting (editor) namun begitu saya harus terlibat dalam penulisan sebuah buku, saya mau tidak mau saya harus memilah-milah kata dengan jauh lebih cermat dan detil. Dan saya bersyukur bisa mencicipinya sebagai seorang penulis baru. Pada akhirnya, kita harus akui bahwa kesuksesan seorang penulis bukan cuma terletak pada kepiawaiannya menata kata tetapi juga pada kekompakannya bekerja dengan penyunting dan semua anggota tim lain.

Tackling Depression through Writing

Writing and depression are no strangers to each other. The late American writer Ernest Hemingway who we all now know for his literary masterpieces, I suspect, also struggled hard to combat the depression in him. He saw many murdered during the World War I and also managed to survive after a couple of airplane crash incidents, as long as my memory serves. He then indulged himself in liquor a lot and took his own life at last.

Such a depressive mindset almost ruined Joanne Rowling’s entire life as well in her early 30’s. A broken marriage, being a single mother and financial downturn dragged our dear author J. K. Rowling to another chapter of life – the stardom she ‘instantly’ built after Harry Potter series – which saved herself and Jessica, her baby. In one TV interview, I recall her stating that writing is what kept her alive and moving forward. She was lucky indeed to have a happy family, something she always longed for since the bitter childhood.

Another novelist – a fictitious one I saw on a K-drama – admitted how writing had saved him from the darkest past memory. His marriage was so close to ideal. He loved his wife so much and vice versa. Then an accident struck without warning. She was at last dead, leaving him forlorn and so desperate he wanted to take his own life. He simply got depressed, shunning social life and so forth. Psychologically and mentally dying the man was. Wanting some ‎improvement in his life, a close friend introduced him to writing world. He managed to gain huge success by writing thriller novels, dubbed the Stephen King of Korea, perhaps. And his good looks worked so well to build even more staunch female fan base.

‎An old adage says:”An apple a day keeps the doctor away.” Now I invent my own adage, saying:”A composition a day keeps depression away.”

Maybe if only Robin Williams liked writing even more, everything would be more bearable to him. But that is just maybe…