Menelisik Fitartistik: Pentingnya Imagery

Imagery dalam senam, bergunakah? [Sumber foto:Wikimedia Commons]
SAYA masih menghadapi mental block yang besar dalam melakukan back handspring seperti yang sudah diajarkan coach saya di kelas Fitartistic, Jonathan Sianturi, dalam beberapa pertemuan terakhir.

Sebenarnya saya sudah tidak ada masalah berarti saat mengeksekusi gerakan ini dengan matras tinggi di belakang saya. Tapi begitu matras setinggi lutut itu disingkirkan, otak saya seolah memberitahukan kecemasan akan ancaman potensial. Seolah-olah saya tidak mempercayai kekuatan kedua telapak tangan saya dalam menopang tubuh agar kepala ini tidak terbentur lantai. Konsekuensinya, saya bisa melenting dengan percaya diri saat masih ada matras setinggi lutut itu. Begitu matras itu tidak ada, keberanian dan kepercayaan diri saya juga sirna seketika.

Padahal secara esensi, gerakannya sama saja. Hanya saja saya harus membangun kepercayaan diri itu dengan imagery, demikian kata coach Jonathan.

Saya mencoba meresepi kata-katanya itu. Pertama-tama saya tentu heran. “Apa hubungannya imagery dengan senam?” protes saya dalam hati. Rasa-rasanya kedua bidang ini sama sekali tidak berkaitan, batin saya terus memberontak.

Sebagai mantan mahasiswa sastra, saya tahu apa itu imagery. Menurut Collins Dictionary, imagery merujuk pada bayangan yang kita ciptakan dalam benak/ otak kita berdasarkan pada kata-kata yang biasanya ada dalam karya sastra seperti syair, bait lagu, atau puisi.

Lama-kelamaan saya paham dengan saran coach Jonathan untuk menggunakan imagery dalam berlatih gerakan-gerakan yang menantang.

“Kadang dalam melakukan gerakan-gerakan senam, Anda harus menggunakan imagery karena apa yang Anda pikirkan itu mempengaruhi realitas,” tegasnya.

Dengan kata lain, pikiran memiliki pengaruh pada apa yang terjadi dalam kenyataan. Jika Anda hanya berpikir,”Duh, saya akan gagal pasti habis ini” atau “Gerakan ini susah. Pasti saya jatuh deh!”, vibrasi pikiran itu seolah akan mengirimkan sebuah sinyal ke alam semesta bahwa Anda memang pantas untuk jatuh. Maka, saran coach Jonathan, bangunlah mentalitas positif melalui imagery yang positif juga.

Dan inilah tantangan mengajarkan pada orang yang sudah dewasa, selain tubuh yang sudah lebih kaku dan terbiasa dengan rutinitas lainnya, mental mereka juga lebih sulit dibentuk.

Kenapa? Karena kita sebagai orang dewasa sudah memiliki kemampuan untuk membentuk pendapat dan pemikiran sendiri. Dan kita lebih asertif dan defensif dalam memegang opini itu dibandingkan anak-anak.

Karena itu, saya memiliki pekerjana rumah yang sangat besar di aspek ini. Bila saya sudah menaklukkan mental block satu ini, saya akan bisa menaklukkan yang lain juga. (*/)

Menelisik Fitartistik (9): Melenting ke Belakang

Hari ini setelah melakukan rutinitas dari jogging beberapa lap, lari mundur dan pemanasan reguler, akhirnya untuk handstand saya mulai untuk diajari teknik straddle-legged handstand. Kedua kaki panjang membuka ke samping dengan tangan menekan ke lantai dan menutup lurus ke atas. Saya masih perlu membangun kekuatan untuk meneruskan kedua kaki menutup lurus ke atas. Hari ini saya coba dan hanya bisa setengah jalan. Dengan bantuan coach Jonathan, saya lebih mulus melakukan teknik satu ini.

Hari ini saya juga kembali berlatih cartwheel. Satu hal yang saya pernah asumsikan ialah dalam gymnastik kita juga harus melatih kedua sisi badan. Jadi saat cartwheel misalnya saya selain sudah bisa dan nyaman di sisi kanan, saya mesti juga latih sisi kiri.

Tapi menurut coach J, asumsi khas yoga yang semacam itu ternyata tidak berlaku di dunia gymnastik termasuk fitartistik yang berorientasi ketrampilan. “Biasanya ada sisi yang lebih bagus dan sisi itulah yang nantinya akan dilatih agar hasil terbaik dapat dicapai,” ungkap coach J. Ia sendiri berkaca dari pengalamannya bahwa bagaimanapun kerasnya berlatih ada satu sisi yang lebih lemah, kurang nyaman dan kurang lincah. Bahkan coach saja baru bisa cartwheel di sisi kiri yang ia anggap lemah saat usianya sudah menanjak. Saat muda, justru ia lebih banyak memakai sisi yang dominan, lincah dan kuat. Karena itulah, pilih satu sisi yang mampu menunjukkan ketrampilan dan kestabilan paling baik. Kecuali memang Anda seorang ambidextrous, yang memiliki kemampuan motorik sama baik di kedua sisi badan.

Yang menarik hari ini saya dikenalkan dengan teknik melenting ke belakang. Reka ulangnya ada di serangkaian foto di atas. Dari jongkok kemudian saya harus merentangkan lengan ke depan dan mesti menekuk lutut dan bersiap melontarkan badan ke belakang.

Langkah selanjutnya ialah latihan kayang secara statis, atau diam. Dengan begitu tubuh akan lebih lentur dan siap ke gerakan melenting ke belakang.

Kemudian saya diinstruksikan melakukan semua urutan gerakan tadi dengan lancar tanpa jeda. Tentu badan saya masih belum tahu orientasinya dan kebingungan. Susah menyesuaikan antara perintah dari otak dengan gerakan tubuh. Ternyata kita tidak sepenuhnya menguasai tubuh kita sendiri. Tubuh kita perlu diajak bekerjasama dengan lembut dan bertahap. Tidak bisa dikasari secara mendadak. Perlu taktik dan kesabaran. Inilah yang sulit dan menantang.

Menelisik Fitartistik (8): Handstand Itu Mahal

HANDSTAND itu mahal. Demikian kata coach Jonathan Sianturi.

Ya betul juga sebab handstand asal-asalan, dengan cara yang sembarangan, mungkin lebih mudah dilakukan. Asal kedua kaki naik ke atas dan jadilah.

Tapi jika mau melakukannya dengan teknik yang benar dan aman serta memberi lebih banyak faedah daripada risiko cedera bagi tubuh, teknik yang benar tak pelak diperlukan.

Di pertemuan ini saya masih berjuang agar teknik handstand saya bisa lebih mapan dan aman. Tapi memang lagi lagi kembali pada komitmen masing-masing. Berapa banyak waktu yang bisa diluangkan untuk belajar dan berlatih? Nah, itu yang jadi pertanyaan.

Saya sendiri masih agak labil. Bisa naik tetapi untuk mempertahankan handstand susahnya bukan main. Resepnya dari coach: handstand dengan muka menghadap dinding. Agak mengerikan tapi bagus untuk melatih respons tangan tatkala tubuh agak limbung ke depan. Mekanisme rem itu mesti dibangun perlahan tiap hari. (*/)

Menelisik Fitartistik (7): Mempertahankan Pencapaian

HARI INI COACH Jonathan Sianturi memberikan sebuah tantangan baru agar latihan handstand saya bisa berkembang. Tidak berkembang lamban.

Disarankannya saya untuk handstand dengan muka menghadap (bukan membelakangi) tembok. Dan pergelangan tangan serta seluruh permukaan tubuh depan saya mengenai dinding. Bila sudah bisa mempertahankan posisi ini dengan nyaman, barulah saya bisa mencoba menjauhi sedikit dinding itu ke depan dengan ujung jari kaki mengenai dinding dan kalau bisa tetap di postur handstand tanpa menyentuh dinding. Saya sendiri tahu ini tidaklah mudah. Saya sudah pernah mencoba handstand dengan seluruh tubuh depan mengenai tembok tapi untuk sedikit menjauh dari dinding dengan masih mempertahankan postur itu, saya terus terang belum mencoba karena belum yakin. Jadi, ini patut saya coba. Bukan hanya saat latihan yang hanya dua kali seminggu tapi kalau bisa saban hari. Toh ini latihan skills, bukan latihan kekuatan dan condotioning yang mengandalkan repetisi hingga menguras tenaga.

Terkait kemajuan dalam latihan planche, saya masih bertahan di level dua setengah, kata bang Jo. Agak perlu usaha lebih banyak agar terbiasa dengan posisi tangan yang tetap lurus saat tubuh mulai condong ke depan. Ini sangat menantang apalagi pergelangan tangan saya belum terlatih secara intensif untuk itu. Makanya saya terus berlatih dengan barbel agar dapat membantu penguatannya. Dengan berat tubuh yang sudah mendukung (baca: relatif ringan), saya merasa bisa membuat kemajuan pesat bila pergelangan tangan dan bahu saya sudah lebih kuat sebagai fondasi gerakan-gerakan yang sangat menantang dan menuntut keberanian dan keterampilan berakrobat.

Menelisik Fitartistik (6): Menanamkan Disiplin Latihan

MEMASUKI PERTEMUAN KEENAM, teknik-teknik dasar sudah diberikan semua dan tugas saya sekarang ialah terus berlatih dengan konsistensi yang terpelihara. Begitu sudah mulai dan berkomitmen, sebaiknya memang tidak berhenti begitu saja karena alasan apapun juga. Kenapa? Karena kalau Anda sudah terbiasa dan kemudian berhenti di tengah jalan, apapun hasil yang Anda sudah dapatkan di titik itu akan surut kembali ke nol begitu berhenti berlatih dalam waktu lama yang tidak bisa ditentukan. Itulah kenapa latihan harus konsisten dan disiplin.

Lagi-lagi saya harus menghadapi menu yang sama dengan sebelumnya. Jogging beberapa putaran, melompati anak tangga, lalu lari mundur, dan kemudian pemanasan ala Fitartistik yang ada enam sirkuit itu (lain kali akan saya rinci lagi keenamnya), latihan inti dan pendinginan.

Latihan inti sendiri terbagi dalam beberapa gerakan dasar. Pertama handstand. Ya, lagi-lagi handstand. Ini supaya makin terbiasa dengan sensasinya. Dan memang dengan pengulangan, keterampilan apapun bisa tersempurnakan. Repetisi juga membuat saya makin fokus dalam meneliti detail-detail yang penting agar handstand ini makin sempurna. Tidak seperti yoga, dalam Fitartistik tidak dilarang untuk mengejar kesempurnaan (meskipun relatif juga makna kesempurnaan itu).

Detail-detail yang terlewatkan dalam handstand itu misalnya penempatan dan posisi jari jemari saya di permukaan lantai. Selama ini saya tidak mengamati benar tetapi begitu saya perhatikan lebih cermat, jari jemari saya memang kurang pas dan kokoh dalam menopang berat tubuh. Ruas-ruas jari saya ternyata seharusnya tidak terkena permukaan lantai semua. Sisakan sedikit rongga antara sendi jari dan lantai sehingga jari-jari itu bisa difungsikan sebagai rem bila tubuh hampir condong ke depan. Dan fakta aneh yang saya rasakan ialah kekuatan jari kelingking saya yang terlalu rendah untuk ikut mengerem daya tarik bumi. Saya merasa kelingking saya terlalu melebar ke samping luar. Jari-jari yang terlalu lebar dibuka sehingga telapak tangan menempel semuanya di lantai (seperti dalam downward-facing dog) juga malah kontraproduktif dalam handstand, menurut pengalaman saya. Posisi mencengkeram lebih pas untuk handstand.

Apakah jari-jari ini cuma bisa dipakai mengetik dan tidak bisa dilatih handstand? Hanya waktu yang bisa menjawab. Sementara itu, yang saya bisa lakukan hanyalah berlatih terus.

Untuk cartwheel, saya masih harus berjuang untuk menyeimbangkan sisi kanan dan kiri. Sisi kiri saya masih tidak sekuat dan selentur sisi kanan sehingga saat cartwheel, saya merasa canggung dan gerakannya kaku, kurang memenuhi ekspektasi.

Untuk persiapan planche, saya terus memperlama ketahanan dalam posisi tubuh di atas paralel bar. Saya masih terus berlatih dengan posisi kedua tangan menggenggam palang dan posisi lutut ditekuk ke arah dada tetapi tidak menyentuh ketiak dan dada sama sekali. Bila ini sudah stabil dan tahan lama dan di ketinggian yang memadai, saya bisa mencoba planche dengan kaki terbuka lurus ke samping (straddle legs). (*/)

Menelisik Fitartistik (5):Membina Ketekunan

PADA LATIHAN KELIMA, saya menjadi lebih tahu kemampuan tubuh sendiri. Eksplorasi gerakan-gerakan dasar sudah dilakukan, dan saya menjadi lebih tahu batasan kemampuan, kelemahan dan kekuatan saya.

Di titik ini, saya tidak diperkenalkan dengan gerakan-gerakan baru lagi. Level yang saya sudah lampaui juga masih kabur. Ini karena dalam Fitartistik, ada lima aspek yang diajarkan: mobilitas, fleksibilitas, kekuatan core, skills, dan conditioning.  Dalam hal mobilitas dan fleksibilitas, karena saya sudah beryoga selama bertahun-tahun, kendala relatif nihil. Dalam tiga aspek sisanya, saya akui masih memiliki segunung ‘pekerjaan rumah’.

Karena saya tidak diberikan gerakan-gerakan baru, saya pun harus fokus pada gerakan-gerakan yang sudah diberikan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya namun saya masih belum bisa secara sempurna lakukan.

Misalnya saat melakukan cartwheel, saya merasa lebih nyaman dengan tangan kanan mendarat lebih dulu. Kalau saya daratkan tangan kiri, tubuh limbung dan koordinasi tubuh menjadi kacau balau. Ini menunjukkan sisi kiri saya sangat perlu dilatih agar seimbang.

Lalu pekerjaan rumah lainnya ialah melakukan roll depan yang lebih mulus dan efisien. Bagaimana menilai roll depan kita efisien atau tidak? Caranya cukup dengan mengukur jarak sekali berguling ke depan. Apakah jaraknya jauh atau cuma sedikit saja? Jika saya bandingkan dengan coach Jonathan Sianturi yang membimbing, sekali roll depan saja ia bisa setidaknya menempuh jarak dua kali dari saya. Saya perlu lebih berani mendorong tubuh ke depan sehingga tubuh terlontar lebih jauh ke depan. Selama ini saya merasa masih harus berhati-hati dengan leher dan sedikit menjadi ‘mental block’. Padahal jika leher sudah ditundukkan sampai dagu kena dada, leher relatif aman. Sekarang masalahnya ialah bahu. Karena bahu saya kecil dan tulangnya menonjol, saya merasa sakit karena langsung beradu dengan lantai berpegas yang menjadi arena kami berlatih (bayangkan saja sakitnya jika di lantai atau mat yoga biasa).

Saya juga kembali harus menyempurnakan latihan planche saya yang masih tertatih-tatih. Seperti yang bisa disaksikan di foto di atas, saya merasa masih berat untuk bisa mendorong bahu dan dada saya ke depan agar saya bisa meluruskan kaki ke samping (ini yang disebut straddle legs). Genggaman jari tangan dan pergelangan tangan saya belum sekuat harapan rupanya. Atau setidaknya belum terbiasa dengan gerakan itu sebab selama dalam yoga tidak pernah diajarkan untuk itu. Jadi mungkin saja saya bisa suatu saat nanti jika terus berlatih. Kapan? Saya tidak tahu. Asalkan terus berlatih, pasti akan datang juga saatnya.

Sementara itu, untuk pengayaan, saya melakukan eksperimen sehabis kelas dengan ring. Saya lakukan gerakan untuk melatih mobilitas sendi bahu dan otot core. Back lever dengan kaki terbuka ke samping juga masih belum stabil. Untuk naik ke atas dalam posisi l-sit juga belum bisa lebih dari dua kali (entah karena habis tenaga setelah latihan selama dua jam lamanya atau belum terbiasa). Selanjutnya keterampilan-keterampilan dasar ini masih harus terus saya latih karena merekalah fondasi untuk gerakan-gerakan yang lebih sukar dan menantang. (*/)

Menelisik Fitartistik (4): Membangun Keseimbangan

Handstand pushup ternyata tidak semudah dugaan. Ada teknik tersendiri yang mesti dikuasai.

MENCAPAI KESEIMBANGAN TERNYATA juga adalah inti Fitartistik. Maksud saya, keseimbangan dalam membangun kekuatan di bagian tubuh bawah dan atas. Jika kita selama ini berpikir bahwa dalam gymnastics hanya diperlukan kelenturan, kekuatan serta kelincahan tubuh bagian atas (itulah kenapa para pesenam terutama yang laki-laki banyak yang memiliki tubuh bagian atas yang lebih besar daripada tubuh bagian bawah mereka), ternyata tidak sepenuhnya benar. Dalam latihan pembuka, ada juga menu jogging dan lari dengan loncatan untuk membangun kekuatan tubuh bagian bawah (tungkai dan pinggul). Putarannya dilakukan sesuai kebutuhan dan ditambah dari latihan ke latihan. Setelah itu ada melangkah mundur dan inilah yang menegangkan: meloncati beberapa anak tangga sekaligus. Dari satu anak tangga, dua hingga kalau bisa tiga anak tangga!

Sedikit tips buat mereka yang ingin jogging tapi susah ‘panas’ dan sulit berkeringat seperti saya sebelum Fitartistik ialah pakailah jaket untuk menutup pori-pori tubuh. Alasannya ialah supaya tubuh tidak lekas dingin lagi karena diterpa angin yang melalui kita saat bergerak. Dan ini memang benar, karena saya yang memang sudah susah berkeringat dan memakai baju tanpa lengan makin susah ‘panas’ dibandingkan dengan Torik yang memakai baju berlengan dan pak Jonathan yang memakai jaket. Lari kecil dengan kecepatan stabil seperti ini, kata Jonathan, diperlukan untuk bisa tetap bugar saat usia menanjak dan dibutuhkan pesenam untuk mengimbangi latihan tubuh bagian atas yang lebih dominan selama latihan setelahnya.

Hari ini kami fokus berlatih handstand (lagi). Masih dengan bantuan matras untuk menyokong pergelangan tangan saya, saya bisa menahan handstand ini dalam alignment yang diharapkan selama 30 detik. Kiat agar saat mencoba handstand tidak mengalami sakit di pergelangan tangan ialah dengan mengusahakan sudut antara punggung tangan dan lengan tidak lebih dari 90 derajat. Jika lebih dari 90, biasanya akan membuat nyeri setelah itu. Nah, itulah gunanya menggunakan matras senam yang padat dan tebal. Saya dilatih untuk menjaga awareness untuk menekan telapak tangan dan jari-jari secara merata dengan sudut yang pas 90 derajat agar aman dan bentuk handstandnya lurus benar. Sendi bahu dan pergelangan tangan saya dilatih untuk terus menahan berat tubuh (yang tidak seberapa ini) dengan lebih stabil. Dan ini jauh lebih efektif daripada dengan dinding atau menendang-nendang ke udara.

Lalu kami mencoba pull-up dan chin-up khas Fitartistik yang berbeda dengan yang sudah saya kenal di calisthenics. Selama ini di calisthenics saya mengenal pull-up dengan eksekusinya yang smooth, no jerking. Di sini, saya diajari untuk sedikit menggunakan ayunan kaki agar bisa naik dengan sedikit jerking (goncangan/ hentakan) hingga dagu lalu turun perlahan. Alasannya menurut saya ialah dalam calisthenics, palang yang dipakai biasanya besi biasa sementara di gymnastics ini, palangnya memiliki karakteristik lebih lentur. Ia bisa agak melengkung saat pesenam menggelayutinya. Dan hentakan-hentakan saat bergerak akan lebih sedikit mencederai pergelangan tangan dan lengan. Inilah yang berbeda dari palang di calisthenics yang kaku dan kokoh karena hanya dari besi biasa. Tubuh saya memang masih protes karena terbiasa dengan gaya calisthenics tapi begitu saya mengamati lebih jauh alasan di balik perbedaan ini, saya bisa menerimanya dan mencoba sedikit mengayunkan tungkai ke belakang saat hendak mengangkat tubuh ke atas sampai dagu di atas palang.

Kesalahan pemula dalam handstand pushup, kata Jonathan, biasanya di siku yang terlalu jauh ke samping. Dorong dada ke depan dan siku tetap sedekat mungkin ke dada, sarannya pada saya.

Tantangan berikutnya ialah handstand pushups. Ok, ini memang terdengar agak ekstrim tapi tidak juga sebab saya melakukannya tentu dengan bantuan coach Jonathan. Handstand pushups ini tidak dilakukan dengan bersandar di dinding atau palang tetapi idealnya hanya dengan palang sejajar yang lebih rendah dengan lebar sama dengan bahu kita dan tanpa ada sandaran. “Oke…,” batin saya. Dengan keyakinan bahwa ada matras empuk di sekeliling saya dan bantuan coach yang memegang kaki dan pinggul saya jika saya limbung, saya pun mencoba. Awalnya saya kira akan mudah. Dan memang mudah, karena saya bisa melakukan sampai delapan repetisi. Hanya saja, bentuk (form) handstand pushups saya kurang benar karena lengan saya terlalu jauh ke samping luar. Padahal kata Jonathan idealnya siku tetap sedekat mungkin ke dada/ tulang iga dan dada didorong ke depan saat turun. Saya baru paham setelah ingat cara Ollie Torkel melakukannya dalam sebuah video. “Ah, iya saya salah,” keluh saya. Tapi tidak masalah karena saya setidaknya bisa sampai 8 kali. “Ya, kamu menang ringan aja,” komentar coach J. Dalam hati saya membenarkan.

Setelah itu kami mencoba gelang-gelang alias ring. Sensasi pertama yang berbeda dari ring yang saya selama ini pakai di taman ialah bahwa ring dari kayu ini justru lebih berat! Padahal saya pikir lebih ringan daripada ring logam di taman-taman di tengah Jakarta. Entah ini benar atau cuma perasaan saya saja karena tubuh sudah makin lelah.

Saya mencoba gerakan yang bernama ‘skin the cat‘. Di sini saya naik dengan melompat susah payah (karena entah kenapa aturan mengharuskan ring ditempatkan begitu tinggi dari permukaan matras di bawahnya). Sebetulnya gerakan ini juga sudah tidak asing lagi bagi saya tapi sekali lagi alat dan situasi yang baru membuat saya juga harus beradaptasi. Dan memang itu tidak mudah. Karena itulah diberlakukan standarisasi alat-alat gymnastics di seluruh dunia. Jonathan bercerita bahwa pernah dahulu di zamannya berlatih ia menemukan banyak alat yang berbeda-beda ukuran dan bahan di setiap negara yang ia tandangi. Perbedaan itu membuat pesenam harus pontang-panting mengadaptasikan diri. Pelana kuda misalnya dulu sebelum ada standarisasi terbuat hanya dari besi dibungkus kulit, yang pastinya keras bukan main. Sekarang pelana kuda sudah dibuat lebih empuk dan sama ukurannya di mana-mana. Namun, justru saya pikir ketidaksamaan itulah yang membuat pesenam zaman dulu lebih tangguh dan tidak cengeng.

Kembali ke skin the cat, gerakan ini menjadi perkenalan bagi mereka yang masih asing dengan ring. Anda bisa mencoba ini sendiri karena tingkat kesulitannya minimal dan tidak membutuhkan orang lain untuk memegangi (kecuali jika memang betul-betul awam).

Kegunaan gerakan ini banyak. Selain melatih mobilitas sendi bahu dan melatih awareness di area pinggul, terasa juga penggunaan kekuatan core muscles yang dipakai saat meluruskan kaki lalu menggulung badan ke atas. Sungguh perjuangan bagi yang belum terbiasa. Tetapi sekali lagi, pastinya akan membuat ketagihan. (*/)

Menelisik Fitartistik (3): Planche dan Cartwheel untuk Pemula

MEMASUKI PERTEMUAN KETIGA, kelas Fitartistik makin menguji kesabaran dan keteguhan semangat.

Kenapa?

Karena di pertemuan ketiga ini saya merasakan proses belajar yang sebenarnya mulai berjalan. Di dua pertemuan awal, level tantangan masih teratasi dengan baik. Buktinya saya masih bisa senyum senyum dan santai sepanjang kelas. Tidak ada tantangan berarti yang mesti saya taklukkan (kecuali handstand tanpa bantuan penopang pergelangan tangan). Dan memang bagaimanapun juga, proses belajar yang sebetulnya justru dimulai saat kita mulai kewalahan dan menyeret kita menjauh dari zona nyaman. Inilah kenapa belajar itu kurang menyenangkan. Karena tidak semua orang suka tantangan, bukan?

Saya pun tidak suka tantangan. Akan tetapi, saya sangat suka dengan kepuasan yang tercapai di balik tantangan.

Latihan ini – sebagaimana proses belajar apapun yang saya jalani – bagi saya adalah proses tarik ulur ego. Saat merasa bisa, ego membubung tinggi dan inilah waktunya untuk mengekangnya agar tidak terus tinggi sampai talinya putus. Sebaliknya, saat merasa tidak mampu dan kurang percaya diri, ego menukik tajam seperti pesawat terbang kehabisan avtur dan pilotnya mati mendadak karena kena serangan jantung atau ditembak teroris. Di situ, ego perlu diberdayakan untuk bisa membawa kita menuju ke pencapaian yang diinginkan. Jadi, ego itu bukan musuh abadi yang absolut. Ia bisa jadi kawan dan lawan, bergantung pada kondisi dan situasi.

Saya merasa perlu untuk menuangkan pemikiran ini karena di Fitartistik, memang tidak akan pernah ada pembahasan yang bersifat meditatif, kontemplatif atau reflektif ke dalam semacam ini (karena ini khas yoga) tapi saya pikir pada akhirnya konsep itu bisa diterapkan dalam proses belajar apapun.

Di pertemuan ketiga ini, pelatih saya Jonathan Sianturi mulai membaca kemampuan dan minat tiap peserta dan memberikan apa yang mereka butuhkan sesuai dengan tujuan masing-masing.

Kali ini, ada seorang pendatang baru yang benar-benar baru. Ia mengaku suka berlari. Namanya Indri.

Tantangannya meski lari masuk kategori olahraga, ia amat berbeda dengan Fitartistik. Ketrampilan motorik dalam kelas Fitartistik lebih menantang dari sekadar berpacu dengan kedua tungkai ke depan. Istilahnya anak zaman sekarang, semua bagian tubuh nggak bisa santai. Semuanya terlibat aktif.

Bahkan saya yakin mereka yang tampak kekar karena biasa latihan beban berat pun bisa bertekuk lutut di kelas Fitartistik. Ya, sebab ini bukan cuma berorientasi pada aspek estetik, misalnya supaya otot perut tampak terbagi enam layaknya roti bantal. Fokusnya ialah penguasaan skills dan keindahan fisik itu sebagai bonus yang akan terberikan secara otomatis. Jadi ukuran besar saja akan percuma jika gagal difungsikan secara penuh.

Kembali ke pemula seperti Indri ini, ia memang tidak langsung didorong untuk menjalani latihan yang intens. Misalnya setelah roll ke depan beberapa kali dan merasa pusing, ia diizinkan pelatih untuk menepi dan memulihkan diri dahulu. Sebab tubuhnya masih belum sepenuhnya bisa menerima.

Lain dengan beberapa orang lain yang sudah lebih terbiasa. Mereka dipersilakan meningkatkan intensitas dan tingkat kesulitan roll bila mau. Dari roll sekali, tambah dua kali baru berdiri, lalu tiga kali roll baru berdiri dan seterusnya.

Untuk quarter handstand, saya tampaknya sudah mencapai kemajuan dan tinggal memantapkannya. Bila saya rajin berlatih, saya mungkin bisa handstand tanpa penopang lagi. Tapi kita lihat saja nanti.

Lalu terdengarlah sekonyong-konyong instruksi untuk core drills di palang ganda. Muncul firasat bahwa akan ada sesuatu yang mendebarkan di sini.

“Untuk kamu, coba ke level 2,5,” tutur pelatih pada saya. “Belum level 3 tapi sudah di atas level 2.”

Level 3 yang ia maksudkan ialah mengeksekusi planche secara mumpuni, yang pada saat ini saya belum bisa lakukan. Dan agar bisa disebut planche yang paripurna atau final, saya mesti bisa menahannya selama setidaknya dua detik. “Hitungannya nol, satu, dua. Baru boleh dilepas. Kalau belum bisa menahan selama itu, berarti belum bisa dikatakan berhasil menguasai planche.”

Membayangkannya saja saya sudah gentar. Tapi saya katakan lagi pada diri sendiri,”Ayolah tidak ada ruginya mencoba.”

Baiklah, tukas saya.

Saya pun diajak ke double bar dan menahan tubuh dengan mengaktifkan bahu dan tangan mencengkeram di bar. Baru level selanjutnya ialah mengangkat kedua kaki ke dada, dan bila ini masih terasa mudah, lakukan L-sit alias kedua kaki lurus ke depan sejajar permukaan lantai. Di sinilah saya merasa sudah mencapai puncak kemampuan. Saya memang masih bisa menahan L-sit selama beberapa detik namun itu sudah terasa cukup menguras tenaga. Itupun lebih karena bobot tubuh bawah saya (pinggang ke bawah) yang ringan.

Dari sinilah, pelatih mendorong saya mencoba meninggalkan zona nyaman, yakni dengan menjaga tangan tetap lurus, dan mengangkat tubuh bawah lalu memanjangkan torso dan kaki lurus menjulur ke belakang. Karena saya masih dibantu, saya tidak melakukan planche dengan cara straddle (kedua kaki terentang ke samping luar) agar tidak menendang muka pelatih.

Di sini saya sudah tidak bisa mengobral senyum lagi. Susahnya minta ampun! Pergelangan tangan saya terasa masih terlalu rapuh; bahu saya masih terlampau mungil; kekuatan core saya begitu tidak berarti. Dengan kata lain, planche masih musykil buat saya hari ini.

Asisten pelatih Trisna Ramdhany bersedia memberikan secuil bocoran soal cara menguasai planche ini. “Latihannya pakai dumbbell dulu, ditahan begini,” ujar atlet senam senior yang dibimbing Jonathan itu dengan menunjukkan kedua lengannya lurus ke depan dengan telapak tangan menggenggam dan menghadap ke atas dan bawah.

Skill lainnya yang juga diajarkan di kelas ketiga saya ialah cartwheel. Pelatih menyuruh saya mencoba cartwheel dengan prosedur Fitartistik, yang masih asing untuk badan saya yang meski sudah sedikit bisa melakukan cartwheel tapi lain caranya.

Di sinilah saya melakukan kekeliruan-kekeliruan yang mesti diperbaiki. Misalnya sikap badan sebelum cartwheel. Di Fitartistik, saya mesti mengambil posisi awalan yang proper: kedua lengan lurus ke atas kepala lalu turun ke samping badan barulah satu kaki ke depan, tangan ke bawah dan melakukan cartwheel.

Baru kemudian saya sadari sisi kanan saya begitu dominan hingga saat saya hendak cartwheel dengan sisi kiri dahulu, saya tertahan karena kepercayaan diri surut. Cuma karena saya lebih terbiasa dengan tangan kanan turun dulu ke lantai. Untuk pesenam, agar seimbang dua sisi perlu digunakan secara adil. Karena itulah, proporsi tubuh pesenam rata rata bagus (simetris). Tidak ada sisi yang lebih tinggi atau besar atau dominan.

Lalu ada juga versi lanjutan cartwheel yang lebih sukar. Kedua kaki bertemu di atas lalu saat turun dan mendarat keduanya masih menyatu. Saya mencoba dan limbung seketika.

Untuk pertemuan berikutnya, saya kemungkinan besar masih akan terus berjuang memperbaiki fondasi untuk planche. Dan asyiknya Fitartistik, saya tidak melulu melakukan satu latihan yang sama dan monoton secara berulang hingga bosan dan capek. Saya bisa mengeskplorasi gerakan lain dulu, baru kemudian kembali. Sebuah hak istimewa yang dimiliki seseorang yang bukan atlet profesional.

Saya ingin menikmati proses belajar ini dengan menghayati tiap perjuangan. Agar setelah bisa, tidak merasa jumawa. Bukankah kemampuan itu setelah tercapai juga akhirnya akan hilang juga seiring menanjaknya usia? (*/)

Menelisik Fitartistik (Jilid Dua): Handstand Adalah Koentji!

SEMENTARA DI YOGA, sebagian orang menganggap handstand sebagai puncak yang diidamkan, dalam fitartistik handstand ialah ‘menu pembuka’. Setidaknya begitulah yang saya tangkap dari pelatih Jonathan Sianturi yang menggarisbawahi pentingnya handstand dalam fitartistik. Handstand ialah koentji, begitu sabdanya.

Alasan kenapa penguasaan handstand dengan teknik yang tepat dan aman menjadi begitu vital ialah karena dengan melakukannya, mental block dan paranoia dalam alam bawah sadar kita dapat diluruhkan. Mereka yang sudah biasa handstand dapat lebih leluasa mengeksplorasi beragam gerakan fitartistik lainnya yang tak kalah mendebarkan karena tidak mudah gentar, lebih berani. Dan ini menjadi sejenis fondasi untuk berlatih seterusnya.

Bahkan Jonathan sendiri menandaskan bahwa handstand ialah fitartistik. Begitu mendengarnya, tentu saya yang masih bersusah payah bertumpu di kedua telapak tangan ini tersentak lalu sedikit menggigil gugup.

Setelah mencoba half handstand atau baby handstand, sekarang saatnya saya mencoba quarter handstand.

Pelatih menitahkan saya mencobanya sebab menurutnya saya telah fasih di tahap baby handstand di platform busa yang tingginya seketiak itu.

Bedanya, di quarter handstand ini, penopang lengan saya makin dikurangi. Kini saya cuma akan memakai dua matras tebal empuk setinggi siku sebagai penopang. Saya ucapkan bismillah sebelum mencoba.

Saya aktifkan telapak tangan dan jari jari tangan serta bahu, kemudian dengan mengerahkan seluruh daya upaya raga ini, saya angkat kedua kaki ke atas. Kedua matras itu menyokong bagian lengan di bawah siku saya. Kedua pergelangan tangan juga sedekat mungkin ke matras. Saya gunakan jari jari sebagai rem agar tidak tumbang ke depan.

Di titik ini saya masih bisa dan karena itulah saya membuktikan bahwa hipotesis saya soal kenapa handstand saya payah ialah karena pergelangan tangan saya kurang stabil. Dengan sokongan tumpukan matras untuk menstabilkan pergelangan tangan saja, ternyata saya sudah bisa bertahan di handstand saya tanpa menendang-nendang di udara.

Kemajuan kecil. “Memuaskan tapi jangan girang berlebihan.” Sergah saya menegur ego yang sudah hendak bereuforia.

Beetje bij beetje, saya ingat peribahasa Belanda itu. Sedikit demi sedikit. Sabarlah. Jangan arogan.

Kemudian selanjutnya ialah menguji kekuatan tangan ini di palang tunggal. Saya harus pull up dan chin up. Sebetulnya saya sudah biasa namun di fitartistik pelatih saya menyuruh melakukan dengan sedikit hentakan. Mungkin untuk mendorong daya ledak otot. Terus terang saya tidak terbiasa pull up dan chin up dengan gaya begitu. Saya lebih suka gaya yang smooth, tanpa jerking. Tapi sekali lagi, saya katakan saya harus menundukkan kebiasaan lama dan berlapang dada dan kepala agar ilmu baru bisa masuk dan terserap. Tidak boleh banyak beralasan ini itu. Just do it. Karena saya yakin semua itu ada alasannya.

Untuk latihan kekuatan core dengan palang ganda sejajar, ada beberapa level. Yang paling dasar ialah kedua tangan mengangkat tubuh secara stabil. Bahu berperan penting di sini. Lalu level berikutnya ialah mengangkat kedua kaki ke arah dada. Jika itu sudah lancar dan tidak membuat muka merah padam dan seram, beralihlah ke tingkat yang lebih lanjut, yakni L-sit dengan tumpuan kedua tangan di palang. Semua ini terlewati dengan mulus. Ego saya masih bisa sombong dan menyungging senyum bahkan saat pelatih Jonathan menghitung lewat dari 8. “Juara kamu!!” Batin saya memuji diri.

Benar adanya jika arogansi cepat atau lambat akan menumbangkan diri. Dalam kasus ini, tumbangnya arogansi saya begitu cepat datang. Begitu tahu itu sudah bukan masalah, saya diberi perintah melakukan planche, kedua tangan di palang lalu dada diangkat dan tubuh sejajar lantai dengan kedua kaki lurus ke samping.

Bendera putih melambai…

Ego saya tunduk. Takluk. “You’re not that great. Sorry.”

Tahu tubuh saya belum setegar itu, pelatih Jonathan memberi sebuah solusi untuk berlatih secara bertahap. Saya bisa mencoba bakasana dengan memakai dua dumbbell. Hanya saja bakasana di sini tidak menyentuhkan ketiak ke lutut. Jadi antara lutut dan dada ada ruang.

Untuk diri saya hari ini, skill itu masih musykil. Untuk beberapa bulan lagi mungkin. Siapa tahu? (*/)

Exercise More, and Be Happier with Your Life

If you think physical workout brings you muscles and better health exam results only, think again. Some scientists found that whenever someone exercise longer or heavier, s/he is likely to feel more content with whatever s/he has now as a human being. Sounds great huh?

“Shifts in depression, anxiety, and stress would be expected to influence a person’s satisfaction with life at any given point in time,” says David Conroy, professor of kinesiology. “In addition, fatigue can be a barrier to engaging in physical activity, and a high Body Mass Index associated with being overweight may cause a person to be less satisfied in a variety of ways.”(source: futurity.org)

That, I guess, is no more big secret. In my case, I almost always feel lighter and happier to a certain extent whenever I can find time and space to do some brief yoga session, sweat a bit, gasp a bit. I used to hate workouts and I grew as a sport hater to be brutally honest. Yet now I’ve changed my mind completely.

So when my couch potato friend said,”Maintaining health is the business of minds. Think positively and everything’s gonna be OK”. He is very likely NOT to realize the existing mutual relationship between physical and mental wellbeing. And for everyone of you who happen to abbhor exercise, I feel sorry for you. That’s like a suicidal option to me.

Now’s the time! Leave that couch and move!