Dalam Mrtasana dengan Kino MacGregor

Jauh sebelum Instagram merasuk dalam dunia yoga kontemporer seperti sekarang, ashtangi Kino MacGregor sudah menentukan gaya berpakaiannya sendiri. Sebagian orang mungkin menyangka ia berpakaian minim hanya untuk menarik perhatian para pengikut di jejaring sosial tetapi sejak dari dulu ia memang lebih memilih demikian sebagai pakaian dalam latihan yoga sehari-hari karena kenyamanan.

Dalam sebuah foto di majalah bertema yoga edisi tahun 2008 itu, saya melihatnya sedang memeragakan pose natarajasana (lord of the dance pose) yang saya juga amat gandrungi. Kakinya kala itu belum lurus. Sekarang ia sudah bisa meluruskannya. Ia tampak samping dengan mata fokus ke depan, hanya sports bra hitam dan celana pendek ketat warna serupa yang menempel di tubuhnya. Hanya saja, rambut pirangnya masih tergelung rapi. Sekarang ia lebih suka mengurainya begitu saja secara natural.

Kino duduk siang itu di sebuah panggung kecil dengan ketinggian cuma sejengkal dari lantai. Saya mendekatinya, mencoba menyampaikan bahasa tubuh yang mengundang perhatian karena saya tidak bisa berbicara lantang di depan orang-orang dan meminta berbincang sebentar.

“Baiklah, apa yang Anda ingin tanyakan? Maaf nama Anda siapa?” tanyanya lembut. Tangannya mengurai rambut ikal mayangnya yang keemasan. Riasan wajahnya tipis dan tampak alami. Di belakangny sebuah backdrop raksasa menunjukkan Kino dengan pose natarajasana terbaiknya sembari memamerkan senyum menawannya.

Saya sebut nama saya. Kino masih kesulitan mengucapkannya. Saya contohkan pengucapannya. Masih juga ia salah ucap. Putus asa, saya berkata,”Anda tahu nama tendon di atas tumit yang jika putus akan membuat seseorang tak bisa berjalan selamanya?”

“Oh, Achilles heels?”

“Tepat sekali,” tukas saya.

“Nama Anda Achilles?”

“Bukan. Tetapi mirip seperti itu kan?”

“Iya juga,” ia menganggukkan kepala, tak sabar menjawab pertanyaan saya.

“Oke, mbak Kino. Boleh kan saya panggil begitu?”

“Silakan saja. Tapi artinya apa sih ‘mbak’?” tanya Kino ingin tahu.

“Itu artinya sebutan untuk perempuan yang dihormati,” karang saya.

“Oh ya? Hmm, saya suka kalau begitu,” ucapnya dengan mata berbinar.

Tak sabar saya mulai wawancara saya dalam bahasa Inggris acak-acakan,”Jadi bagaimana sih mbak Kino mulai tertarik dengan Ashtanga Yoga? Kok nggak tertarik sama olahraga yang lain, yang lebih modern gitu? Zumba kek, les mills kek, atau senam kegel. Yoga kan kuno ya mbak? Eh, ya nggak sih?”

“Begini ya, Achilles,” ia menatap ke bawah, tetapi bukan untuk mencari-cari uang yang jatuh.

“Bisa saya gambarkan dulu saya itu gadis Amerika…,” ucapnya.

“Ah berarti sekarang sudah tidak lagi gadis, mbak Kino???” tanya saya kepo.

“Saya sudah menikah. Tapi belum ada anak,” jawab Kino dengan menyungging senyum.

“Ok lanjut…”

“Baiklah. Begini ceritanya…”

“Oh sudah begitu saja ya?”

“Belum! Hmm..” ia mencoba bersabar menghadapi pewawancara setengah sinting ini.

“Oh oke. Silakan dilanjutkan,” ucap saya sambil mendorong dagu maju, menunjukkan antusiasme.

“Jadi saya dulu gadis Amerika yang cuma tahu sedikit tentang ikonografi ( citra-citra visual dan lambang-lambang yang dipakai dalam sebuah karya seni atau ilmu atau interpretasi dari citra dan lambang tadi) dunia Timur. Saya suka hal yang berbau Timur. Dan tiba-tiba saya terpikat dengan Ashtanga Yoga dan Dewa Syiwa,” terang Kino dengan mata berbinar. Jadi itu menjelaskan kenapa ia sangat suka dengan pose natarajasana. Konon natarajasana menggambarkan dewa perusak itu sedang menari-nari. Di antara banyak perwujudan Syiwa, sosok penari semesta inilah yang diambil sebagai inspirasi dalam asana yoga. Tarian Syiwa yang dilambangkan dalam pose natarajasana ini melambangkan ritme universal kehidupan dan kematian, proses tanpa akhir yang melibatkan penciptaan dan peluluhlantakan, kematian dan kelahiran kembali yang tidak ada habisnya dalam alam semesta.

Ia terus menceritakan mimpinya yang isinya pertemuannya dengan K. Pattabhi Jois, sang pendiri Ashtanga Yoga. Saat itu Kino sudah berlatih Ashtanga selama kurang dari setahun. “Malam itu saya bermimpi didatangi K. Pattabhi Jois yang tersohor itu. Dan tebak apa yang ia lakukan pada saya? Saya saat itu terjebak dalam situasi darurat saat Dewa Syiwa sedang mengamuk membabi buta.”

“Maksud mbak Kino? Ada peperangan begitu? Dewa Syiwa melawan siapa?”

“Nggak tahu sih. Lupa lupa inget. Tapi yang penting suasananya persis layak di film Lord of the Rings, tapi versi Hindunya gitu,” terang wanita Amerika itu dengan nada bicara yang mulai mencair.

“Wow, seru banget yak,” timpal saya lagi, memberikan jawaban yang penuh semangat dengan harapan ia memberikan lebih banyak cerita menarik pada saya.

“Lalu K. Pattabhi Jois menyelamatkan saya dari Syiwa yang sedang marah itu dan menempatkan saya dalam sebuah perahu ke kota Mysore, India.”

“Perahu apa itu, mbak?”

“Itu tidak penting, Achilles. Yang penting saya seolah mendapatkan pesan untuk segera ke Mysore. Lalu dalam dua minggu, saya mendapatkan tiket pesawat ke India. Dalam hitungan detik sejak bertemu dengan Jois dalam mimpi saya itu, saya tahu Jois akan menjadi sosok berpengaruh dalam hidup saya.”

“Begitu mbak Kino sampai di Mysore, langsung ketemu itu pak Joisnya?”

“Sebelum pikiran saya yang penuh logika ini bekerja, saya hanya memasrahkan diri dengan berlutut di depan beliau dan menyentuh kaki beliau. Dari saat itulah, saya menganggap beliau sebagai guru saya.”

Itu semua terjadi delapan belas tahun lalu. Kino bersama dengan Tim Feldman yang dulu tunangannya dan sekarang suaminya mendirikan Miami Life Center satu dekade sejak pertemuan pertama dengan Jois.

“Oh I see. Gitu yang ceritanya mbak. Eh tapi kenapa tidak pakai nama ‘studio’ gitu?” Saya merangsek dengan pertanyaan baru.

“Karena kami berdua mau Miami Life Center tidak cuma tempat berlatih yoga tetapi juga menawarkan kelas-kelas nutrisi dan mengadakan berbagai workshop tentang spiritualitas, olah tubuh dan bimbingan hidup,” katanya lagi dengan sabar.

Satu hal yang saya kagumi dari Kino ialah ia juga akademisi. Saat itu ia menyandang status sebagai kandidat Ph. D. atau S3 dalam disiplin ilmu kesehatan holistik selain statusnya sebagai seorang yogini yang serius dan pemilik sebuah pusat kesehatan paripurna. Tampak sekali ia perempuan yang tidak sembarangan dalam perkara kecerdasan dan bakat.

Saya belum menyerah,”Bagi mbak Kino, yoga itu apa sih?”

“Hmm, yoga bagi saya ialah katalis untuk mewujudkan perubahan besar dalam hidup kita. Begitu kira-kira, Achilles. Saya juga meyakini bahwa semua siswa memerlukan komunitas dan dukungan. Karena itulah saya mendirikan Miami Life Center itu,” jelas yogini yang pose-posenya menggemparkan jagat Instagram itu. “Miami Life Center pada dasarnya ingin memberikan panduan spiritual bagi mereka yang ingin mengintegrasikan pelajaran-pelajaran dari kesadaran yang lebih tinggi ke dalam kehidupan sehari-hari.”

Di lembaganya itu, Kino membuka kelas kelompok khusus Ashtanga Yoga namun ia mengaku tujuan sejatinya ialah bagaimana agar gaya yoga khas Mysore yang tradisional dan berfokus pada ritme masing-masing pelaku itu tetap lestari. “Kelas-kelas yang dipandu guru bisa membuat murid frustrasi dan menantang, Achilles,” tuturnya meyakinkan saya mengenai kelebihan gaya beryoga satu ini. Terus terang saya belum mencicipinya.

“Anda harus mencobanya. Mysore memberikan Anda banyak waktu dan ruang untuk melakukan banyak modifikasi dan waktu untuk berlatih sesuai kebutuhan masing-masing.” Kami terdiam sejenak. Saya mencari-cari pertanyaan lagi.

“Apa sih trik supaya disukai murid?”tanya saya lagi secara spontan.

“Tidak ada lah. Yang penting saya bisa membantu mereka dengan semangat keterbukaan dan empati.” Jelas ia merendahkan hati.

Kino mengibaratkan diri sebagai mercusuar yang memancarkan sinar spiritual bagi orang-orang yang ingin mencari jauh ke dalam diri mereka sendiri. “Kehadiran saya sebagai guru juga bertujuan sebagai membuka ruang menuju berbagai kemungkinan bagi murid-murid saya dan pada saat yang sama menghargai tradisi dan warisan turun-temurun yang saya ajarkan,” jelasnya.

Belum sempat pertanyaan berikutnya terlontar dari lidah ini, tiba-tiba terasa ada yang menyengat panas di pipi saya. Saya tengadahkan muka. Sekonyong-konyong Kino yang ada di hadapan saya berubah menjadi pancaran piksel-piksel halus di layar laptop. Laptop saya itu rupanya yang memanas dan menyengat pipi ini. Dalam mrtasana alias savasana singkat di sebuah kursi di Starbucks sore itu saya telah bertemu dengan idola saya yang tak bisa saya temuidi dunia nyata. Tetapi toh saya masih bersyukur, karena saya belum sampai terlambat mengajar sebuah kelas yoga yang dilimpahkan pada saya karena seorang guru senior menghadiri workshop Kino. Kedatangan Kino membawa rezeki tidak langsung juga bagi saya.

Apakah Beryoga Membuat Seseorang Menjadi Hindu?

Selang beberapa hari dari gegap gempita perayaan hari yoga sedunia beberapa waktu lalu, pertanyaan tersebut tiba-tiba terlontar dalam benak saya setelah sebuah akun Twitter mengklaim bahwa seseorang yang melakukan yoga secara sadar atau tidak berubah keyakinan menjadi Hindu. Dengan fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang belum sepenuhnya dipahami dengan baik bahkan oleh sebagian kaum muslim sendiri, munculnya klaim semacam ini terasa makin ‘memperkeruh’ pandangan banyak orang terhadap yoga. Akibatnya, antipati terhadap yoga juga tidak hanya muncul dalam diri kaum muslim, mereka yang beragama Kristen atau Katholik juga ada sebagian yang menolak melakukan yoga karena alasan berisiko mencemari keyakinan mereka. Dalam suatu berita mancanegara yang pernah saya baca, sebuah gereja melarang jemaatnya melakukan yoga. Dan jangan keliru; reaksi penolakan itu tidak hanya terjadi Indonesia tetapi juga terjadi di Amerika Serikat — tempat yang menjadi berkembangnya yoga secara komersial untuk pertama kalinya di dunia — dan di India sendiri sebagai tempat riwayat yoga bermula.

Penasaran dengan pendapat teman-teman saya yang sudah sekian lama menekuni yoga dan beragama Hindu (saya menghindari bertanya pada mereka yang baru saja berlatih yoga asana agar tidak terjadi spekulasi dan ‘kacau pikir’), saya meneruskan pertanyaan tadi pada mereka.

Seseorang dari mereka menerangkan bahwa klaim seperti itu tidak beralasan. “Mereka (admin di balik akun Twitter tersebut – pen) tidak memahami sama sekali Hindu. Dalam ajaran Hindu sendiri, yoga sebenarnya tidak ada. Hanya saja disebutkan adanya banyak jalan praktik spiritual di sepanjang sungai Hindus dan Gangga. Salah satu sekolah spiritual itu bernama yoga,” terang seorang teman beragama Hindu dengan panjang lebar. Ia mencontohkan lagi, dalam keyakinan Hindu aliran Vedanta yang ia sendiri yakini dan pelajari, yoga memang disarankan sebagai praktiknya. Dalam pemahamannya, esensi yoga ialah semua aktivitas yang mengolah tubuh, pikiran dan jiwa. “Jadi, membatasi yoga sebagai Hindu atau bukan Hindu malah membatasi keluasan dari ajaran yoga itu sendiri. Tidak ada batas untuk yoga karena tidak ada batas itulah sehingga tidak ada pintu masuk dan pintu keluar dari yoga,” ungkapnya. Intinya, yoga bertebaran di mana-mana. Ia memang ada dalam salah satu jalan praktik spiritual Hindu tetapi bukan berarti ia milik umat Hindu semata. Sifatnya yang universal melintasi batas-batas keyakinan dan budaya. Contoh analogis yang sama mungkin ialah sistem ekonomi syariah, yang di dalamnya semua orang — tak peduli
keyakinannya — bisa masuk dan ikut serta dan menuai manfaatnya tappa mesti mengucapkan kalimat syahadat dan masuk Islam. “Biarlah semua orang menemukan manfaat yoga sendiri tanpa harus membawa embel-embel keyakinan apapun,” tegas teman saya itu.

Sahabat lainnya yang menganut Hindu juga menampik anggapan akun Twitter tersebut. “Tidaklah. Tidak segampang itu (berlatih yoga asana lalu otomatis menjadi Hindu – pen),” jawabnya. Ia mengambil taichi sebagai contoh. “Apakah dengan begitu saya menjadi (penganut) Buddha atau Shinto?” Di semua agama, lanjutnya, pasti ada golongan yang garis keras. Mungkin ini salah satu pemikiran mereka, cetusnya.

Seorang teman lain yang muslim dan berlatih yoga asana juga
mengamininya. “Yah itu mah orang yang pemikirannya sempit,” tegas teman yang berhijab itu pada saya. Mungkin banyak pengajar yoga yang sebelum beryoga (asana) mereka mengucapkan mantra (chanting), tetapi ia mengaku “tidak merasa berubah menjadi Hindu.”

5 Fakta Unik tentang Ukiran Khas Kudus

Bila ingin melihat kompleksitas budaya dan pemikiran sebuah masyarakat, amatilah produk fisiknya. Begitulah yang terlintas saat mencermati gebyok atau ukiran gerbang depan rumah khas Kudus. Ukirannya berbeda dari daerah-daerah lain karena lebih rumit dan sulit dibuat. Karenanya, harganya relatif lebih mahal.

Sebagai warga asli Kudus, saya seperti memanggul kewajiban untuk menjelaskan bahwa kekayaan budaya lokal ini semestinya diketahui oleh lebih banyak orang, seperti Anda. Berikut saya rangkumkan 10 fakta menarik tentang ukiran khas Kudus. Semoga menambah wawasan Anda.

Fakta 1: Ukiran khas Kudus merupakan hasil percampuran berbagai budaya
Meskipun Kudus terlihat relatif homogen, pada realitanya dahulu kala ia diperkaya dengan beberapa budaya yaitu Eropa, Tiongkok, Hindu dan Islam. Di masyarakat Kudus kontemporer, kebudayaan Hindu sudah jauh pudar. Sangat jarang ditemukan orang Kudus dengan kepercayaan satu ini.

Fakta 2: Ukiran Kudus dirintis oleh seorang ulama Tiongkok
Saya kerap melewati satu ruas jalan bernama Kyai Telingsing. Nama yang amat aneh untuk telinga Jawa saya. Usut punya usut, ternyata nama jalan tadi diambil dari nama seorang warga Tiongkok yang menetap di Kudus pada sekitar abad ke-15. The Ling Sing, begitu namanya, memiliki pengetahuan Islam yang baik sehingga pantas disebut sebagai ulama. Begitu ia berada di Kudus, The Ling Sing mulai mengembangkan bakatnya dalam seni ukir. Konon, ia mempraktikkan aliran seni ukir Sun Ging yang terkenal karena halus dan indahnya. Nama Sun Ging ini pun kemudian diadopsi menjadi sebuah nama desa di Kudus; Sunggingan. Sang kyai Tiongkok itu kemudian menyebarkan pengetahuan agamanya dengan membuka perguruan, atau pesantren. Karena itu, jangan heran kalau beberapa orang yang mengaku asli Kudus dan beragama Islam serta bermukim di dekat Menara Kudus memiliki penampilan fisik yang mirip orang Tiongkok. Rambut mereka kejur, mata mereka cenderung kecil dan sipit, dengan kulit kuning bersih. Beberapa teman dan kenalan saya ada yang demikian dan saya akhirnya memahami bahwa mungkin mereka memiliki sisa-sisa gen The Ling Sing.

Fakta 3: Ukiran Kudus berfokus pada rumah.Berbeda dari ukiran Jepara yang lebih banyak dipakai dalam perabotan rumah (almari, kursi dan meja misalnya)‎, ukiran‎ Kudus memfokuskan diri pada rumah. Ukirannya menunjukkan kehalusan dan keindahan. Bila diamati cermat, bunganya kecil-kecil dan bisa 2 atau 3 dimensi.

Fakta 4: Motif ukiran Kudus ada 4.
Ukiran rumah khas Kudus biasanya memiliki 4 jenis motif.‎ Dari motif Tiongkok, Hindu, Persia atau Islam sampai Eropa. Nuansa Tiongkok tampak dalam bentuk naga di bangku mungil menuju ruang dalam rumah. Unsur Hindu muncul dalam bentuk pedupaan atau padupan dalam gebyok (pemisah ruang Jogo Satru dan ruang dalam rumah. Elemen Persia/Islam tampil dalam bentuk ‎bunga, terdapat
pada ruang Jogo Satru (ruangan depan yang biasa dipakai menerima tamu). Terakhir motif Eropa yang digambarkan dalam bentuk mahkota yang terdapat
di atas pintu masuk ke gedongan.

Fakta 5: Ukiran Kudus makin langka dipakai di rumah penduduk asli.
Rumah seorang teman SD saya pernah memakai gebyok ukiran khas Kudus tetapi beberapa tahun lalu sudah diganti dengan gaya modern. Satu hal yang memprihatinkan adalah ukiran ini makin jarang ditemui di rumah-rumah warga Kudus sendiri. Kebanyakan gebyok Kudus malah dipakai di museum, di tempat-tempat umum seperti hotel, restoran dan sejenisnya yang ingin menarik pengunjung dengan nuansa etnis.

IMG_2800.JPG

Sapi Tak Boleh, Kerbau pun Jadi (Wisata Kuliner Kudus)

Jika Anda berkunjung ke Kudus, jangan lewatkan warung soto satu ini.
Jika Anda berkunjung ke Kudus, jangan lewatkan warung soto satu ini.

Di Kudus, jarang dijumpai makanan dan olahan daging dari sapi. Semuanya berasal dari daging ayam, daging kerbau atau daging bebek (kami menyebutnya mentok), atau sebagian lainnya yang Anda tidak pernah terpikir, seperti seluruh tubuh burung puyuh mungil yang malang.

Mengapa orang Kudus tidak dibiasakan mengkonsumsi daging sapi?

Konon, dahulu kala sebelum Islam masuk ke daerah ini, lebih banyak pemeluk agama Hindu yang tinggal di Kudus. Itulah mengapa Anda bisa menemukan sebuah masjid dengan menara yang mirip candi di sebelah warung soto yang fotonya saya unggah di sini. Masjid dengan menara itu kami sebut “Masjid Menara Kudus“, tetapi penduduk lokal cukup menyebutnya “Menoro”.  Dan seperti kita ketahui, ajaran agama Hindu meyakini sapi itu binatang suci. Sapi merupakan simbol kekayaan, kekuatan, kelimpahan, semangat memberi yang tulus, dan kehidupan yang makmur dan lengkap dalam bumi (sumber:Wikipedia). Karena itulah, para pemeluk Hindu terutama di Nepal dan sejumlah negara bagian di India mengharamkan mengkonsumsi daging sapi dan olahannya. Sapi disucikan bisa jadi karena mereka adalah hewan ternak yang hasilnya bisa menghidupi manusia. Dari susu dan tenaganya bisa dimanfaatkan untuk memberi makan dan membantu manusia mengolah dan kotoran mereka menyuburkan tanah pertanian. Bahkan menurut Mahatma Gandhi, keyakinan bahwa sapi adalah binatang suci dan tidak boleh dikorbankan ialah ajaran inti Hindu (sumber: Wikipedia). Namun, seiring dengan makin berkurangnya penganut Hindu di Kudus, tradisi dan keyakinan yang menganggap suci sapi memang makin lama makin pudar tetapi toh tidak sepenuhnya hilang.

Sebenarnya cukup banyak warung soto kerbau yang ada di Kudus. Ada soto kerbau (dan ayam) di “Soto Pak Denuh” yang berada di jalan Jepara dan Agil Kusumadya (jalan provinsi ke arah Semarang), warung soto “Karso Karsi” yang ada juga di jalan Agil Kusumadya, tetapi warung soto satu ini unik karena bangunannya yang amat sangat lusuh. Dari dulu sampai sekarang, tidak ada perbaikan mencolok di sana. Sejak saya kecil sampai terakhir berkunjung di sana Lebaran tahun ini, tata ruang warungnya masih sama, dindingnya masih persis. Kuno dan entahlah, vintage mungkin? Namun, saya pikir tidak semua tempat harus terus menerus diperbarui agar tampak segar. Beberapa tempat lebih cocok jika dibiarkan begitu saja apa adanya karena kelak di sinilah kita akan berkunjung sesekali untuk bisa mengenang memori-memori di masa lalu. Dan bagi saya, mengunjungi warung ini bukan hanya memesan dan makan soto kerbau saja tetapi juga menikmati rasa dan ingatan lama.

305
Soto kerbau dan jeruk hangat yang akan mengurangi efek negatif lemak. Kombinasi yang unik kan? Bayangkan perut Anda panci yang baru dipakai membuat sup daging. Untuk mencucinya hingga bersih lagi, Anda akan gunakan jeruk nipis itu mengangkat lemaknya.

Saya sering diolok-olok bahwa orang Kudus, terutama Kudus Kulon (Kudus bagian barat sungai Gelis yang membelah kota), adalah orang-orang yang kikir. Warung ini kebetulan juga berada di sisi barat sungai itu. Anda bisa lihat ukuran mangkuk soto Kudus memang unik karena ukurannya yang mungil. Satu porsi soto kerbau ini harganya termasuk mahal untuk ukuran orang lokal. Dengan bakso sekitar Rp5-6 ribu per porsi dengan ukuran yang mengenyangkan, porsi soto kerbau ini hanya terasa separuh kenyang. Tanggung, begitu kata orang yang suka makan banyak. Soto kerbau di warung ini harganya Rp8.000. Bukan harga yang mengeruk kantung bagi turis ibukota tentunya yang sudah biasa makan di mall dengan harga per sajian yang rata-rata Rp50.000.

Bersama dengan hidangan itu, Anda bisa mencoba krupuk paru. Dan satu rekomendasi lainnya adalah mencicipi krupuk rambaknya yang khas. Krupuk ini terbuat dari kulit. Kulit hewan ternak apa, saya tidak tahu persisnya. Tetapi intinya keduanya sangat amat gurih. Cocok untuk mereka penggemar makanan ringan yang membangkitkan selera makan.

Penjualnya ada dua wanita paruh baya. Mereka bersaudara, jadi tidak heran muka dan perawakan badan pun sangat mirip.

304
Pembeli harus bersabar karena pelayannya hanya 2 orang!

Terbatasnya sumber daya membuat warung ini kurang cepat melayani konsumen. Saat saya meminta tambah 1 mangkok lagi, misalnya, ibu itu tampak sibuk dengan ponsel. Ia mengurus pesanan makanan dari pelanggan setia yang tidak datang tetapi sudah mengubunginya untuk dikirimi makanan. Apalagi saat itu baru Lebaran, saat orang-orang bisa lupa daratan dengan makanan. Karena itu, pesanan saya terlupakan dan saya harus mengulang lagi permintaan saya padanya. Perempuan itu pontang-panting bersama saudaranya melayani pembeli warungnya, lalu menyiapkan makanan untuk dibungkus lalu dikirim ke sana.

303
Mukanya sangat familiar. Ia mungkin pemilik sekaligus pelayan utama di sini.

Kalau dalam pembahasan entrepreneurship, saya jadi teringat dengan kata-kata Sandiaga Uno tentang scaling-up. Saya pikir perempuan-perempuan ini adalah pebisnis yang ulet dan tangguh. Buktinya mereka sudah bertahan selama puluhan tahun. Dan mustahil mereka tidak menikmati untung besar dari sini karena jika bisnis soto kerbau dan sate kerbau ini cuma untung sedikit, kenapa mereka harus repot-repot bertahan sampai selama itu? Mereka bisa saja mencoba bidang bisnis lain. Bisa jadi karena mereka sudah memiliki kekhasan dan jati diri brand bisnis di sini. Orang Kudus yang mana yang tidak tahu lokasi Menara Kudus yang dianggap sebagai ikon kota kretek Kudus? Dan warung ini terletak tepat di sebelahnya. Sangat strategis dan tidak bisa terlupakan oleh mereka yang berkunjung dari luar kota, misalnya. Masalahnya mereka sudah berpuas diri. Tidak ada keinginan atau ambisi untuk membesarkan bisnis itu menjadi, katakanlah, sebuah waralaba yang tersebar ke seluruh Indonesia , bahkan dunia.

302
Dindingnya sejak dulu begitu. Tidak makin putih. Tetap kelabu. Mungkin karena asap masakan.

Tetapi kadang mindset tradisional dan konservatif seperti ini menjadikan UMKM seperti ini menjadi begitu otentik, begitu lokal, khas, tiada duanya. Pengalaman yang bisa dinikmati di sini tidak akan bisa ditemukan di tempat lain di dunia, tak peduli seberapa mewah dan bersihnya. Malah kalau tempat ini direnovasi, memori  – hal yang paling disayang manusia – bisa terhapus. Untuk alasan tertentu, saya bersyukur kapitalisme tidak sampai menyentuh warung ini. Bila dinding warung soto kerbau itu menjadi bersih, rasanya pasti akan lain. Jika soto mereka itu kemudian diwaralabakan, cita rasanya mungkin akan berubah. Membakukan bahan baku dan cara memasak mungkin sukar tetapi yang lebih sukar lagi adalah bagaimana mempertahankan sensasi yang membuat orang bisa melayang dalam benak mereka cuma untuk bernostalgia ke masa lalu mereka saat masih kecil, masih muda. Warung ini bukanlah mesin waktu Doraemon yang bisa membuat pengunjungnya kembali ke masa lalu seenaknya tetapi setidaknya ada kepuasan tersendiri saat memasukinya. Semacam melankoli atau apalah. Sulit mendefinisikannya dengan kata dan logika. Karena ini berkaitan dengan RASA.

Cikal Bakal Yoga *

Suatu sinar menyinari semua benda di muka bumi ini, menyinari kita semua, menyinari langit, puncak tertinggi, lapisan langit tertinggi. inilah sinar yang menyinari hati kita semua.

Chandogya Upanishad

 

 

Yoga berasal dari keluasan dan kedalaman tradisi kuno. Banyak aliran yoga yang berakar dari sejarah eksplorasi spiritual yang kompleks, refleksi filosofis, eksperimen ilmiah dan ekspresi kreatif nan spontan. Muncul dari budaya India yang terus berkembang dan majemuk, yoga sering disamakan dan dibentuk oleh Hinduisme, Buddhisme, Jainisme, dan sejumlah kepercayaan lainnya. Filosofi, ajaran, dan praktik yoga sama bervariasinya dengan cabang-cabang dari luasnya yoga yang tak terhitung banyaknya dalam segala manifestasinya. Apa yang kita ketahui mengenai asal muasal dan perkembangan yoga berasal dari berbagai sumber, termasuk teks kuno, pewarisan pengetahuan secara verbal melalui garis keturunan spiritual atau image

yoga tertentu, ikonografi, tari-tarian dan lagu-lagu. Meskipun bagi sebagian orang yang belajar dan mengajar yoga sejarah ini bermakna sepele, bagi sebagian yang lain apresiasi penuh terhadap yoga akan menjadi lebih kaya dan lebih nyata saat diajarkan dengan pemahaman yang lebih mendalam mengenai asal muasalnya.

Dalam pembahasan ini, kita akan menggunakan sapuan kuas yang besar untuk melukis di atas sebuah kanvas yang menggambarkan kebijaksanaan tradisi yang berterima yang masih mengajarkan praktik-praktik yang kita eksplorasi dan bagikan saat ini. Kita akan membahas literatur dasar yoga untuk mengidentifikasi praktik-praktik yoga tradisional, berhenti sejenak saat membaca untuk merenungkan relevansi dan penerapan praktis dari semua praktik ini dalam melakukan dan mengajarkan yoga di abad ke-21.

Weda

Walaupun sejarah yoga mungkin berusia beberapa ribu tahun, tulisan mengenai yoga yang pertama kali diketahui ditemukan di dalam teks spiritual Hindu kuno yang dikenal sebagai Weda (yang berarti “pengetahuan”), dan yang tertua adalah Rig Weda. Meskipun para cendekiawan memperdebatkan tanggal dan asal Weda (1700-1100 SM) yang pasti, mayoritas sepakat bahwa 1.028 himne yang menjadi bagian penyusun Rig Weda, yang dianggap oleh banyak orang berasal dari dewa, merupakan sumber tertulis pertama mengenai yoga (Witzel 1997). Semua himne ini tersusun sebagai puisi oleh para pemimpin spiritual (paranormal) dalam suatu budaya yang di dalamnya sebagian besar praktik-praktik yang paling bersifat spiritual terhubung langsung dan cepat dengan alam dalam rangka pencarian makna dan keseimbangan. Himne-himne tersebut mencerminkan eksplorasi mistik mengenai kesadaran, hidup dan hubungan dengan dewa. Di sinilah, yoga yang berarti “bersatu” atau “menyatukan” pertama kali disebut. Penyatuan yang disengaja itu ialah penyatuan pikiran seseorang dan dewa, sebuah kualitas transenden mandiri yang menciptakan keadaan sadar sepenuhnya yang di dalamnya kesadaran akan adanya “Saya” sirna menjadi suatu rasa munculnya kehadiran inti ketuhanan.

Meditasi ialah alat utama yang dikisahkan para paranormal Weda dalam Rig Weda untuk mencapai keadaan sadar dan kesatuan ini. Bentuk utama meditasi ialah melalui mantra, nyanyian bunyi tertentu yang dilakukan berulang yang dibuat untuk menciptakan getaran dalam batin agar selaras dengan inti ketuhanan. Bunyi-bunyian itu sendiri disajikan oleh para paranormal dalam sesuatu yang dianggap sebagai bentuk murni ekspresi ketuhanan yang tidak luntur oleh pikiran. Keadaan meditatif diperdalam dengan membayangkan dewa dan secara total menyerap rasa hadirnya dewa itu dalam hati seseorang. Semua praktik yang saling berhubungan ini mendahului sifat-sifat meditasi yang ditemui kemudian dalam Sutra Yoga”: penarikan indra-indra dari gangguan eksternal, konsentrasi pada satu titik, pelepasan pikiran menjadi kesadaran hidup yang berpusat pada hati nurani, dan awal menuju kesatuan dengan tuhan. Banyak himne Weda disebarkan saat ini dalam kirtan – atau nyanyian panggilan dan sahutan – yang dipimpin oleh para praktisi yoga bhakti (kebaktian). Meskipun kelompok Hare Khrisna mungkin yang pertama kali mempopulerkan senandung mantra di Barat, para penyanyi pop seperti Jai Uttal, Deva Premal, dan Khrisna Das telah meleburkan praktik ini dalam studio yoga yang banyak kita temui di Barat. Kini makin mudah ditemui senandung himne Hindu dalam kelas-kelas yoga di Barat, entah itu sebagai bagian dari musik pengiring atau diiringi dengan partisipasi siswa secara penuh.

Banyak siswa merasa bahwa praktik ini memperdalam pemahaman hubungan spiritual mereka dan sekaligus mempererat hubungan sebagai satu komunitas. Apakah efek itu berasal dari getaran khusus yang diciptakan oleh cengkok nada kata-kata Sansekerta tertentu sebagaimana diklaim dalam Rig Weda, atau begitu saja muncul dari kebahagiaan dari bernyanyi dan bernapas, menjadi topik perbincangan yang hangat. Meskipun banyak siswa mengaku memiliki pengalaman yang menguatkan dan menyenangkan, sejumlah studio yoga melarang senandung (termasuk “aum”) karena banyak siswa lain, terutama yang masih baru, berpendapat bahwa bersenandung merupakan ritual agama esoterik dan aneh. Mereka ini mungkin masih belum berdamai dengan sistem kepercayaannya atau pemahaman spiritualitasnya. Dengan memperkuat dan membuka kepekaan spiritual Anda yang sebenarnya dan secara bersamaan menjadi terbiasa dengan keterbukaan siswa-siswa Anda, Anda akan terbantu dalam menentukan kapan atau apakah akan memasukkan senandung dalam kelas yoga Anda.

Mantra Gayatri yang diambil dari Rig Weda merupakan salah satu mantra yang paling sering dilantunkan dalam Hinduisme. Terjemahan dan catatan paling populer di Barat berasal dari Deva Premal:

Om bhur bhuvah svah

Tat savitur varenyam

Bhargo devasya dhimahi

Dhiyo yonah prachodayat

Terjemahan:

Melalui datangnya, perginya, dan seimbangnya kehidupan

Sifat pokok yang menerangi keberadaan ialah yang mengagumkan

Semoga semua merasakan melalui akal yang halus

Kecemerlangan pencerahan

 

(*Terjemahan dari “Teaching Yoga” oleh Mark Stephens, halaman 1-3)

Drive Books Jakarta: Books Flea Market and Charity

The less premium books are displayed on this counter. Metta Anggriani, my buddy at Yoga Gembira, was spotted behind it wearing sunglasses.The other counters seeling books look particularly swarmed by passers-by on the Jakarta Car Free Day. The books there are sold even cheaper, only 5k.
How can I not love Hotel Indonesia Turnaround (Bundaran HI) on Car Free Days like this?
This is where the exclusive, premium books are sold. Only as much as Rp.50k! And I got Elizabeth Gilbert's "Eat, Pray, Love" .
I got seven lovely books in my hand, and practically had to bring them from EX to Karet Kuningan ON FOOT. I spent more than the actual budget but for (extra affordable) books, I won't complain.