Perjamuan Korea di Hari Raya

13575808_10208105563894229_24706567865707961_oKoran Chosun Ilbo edisi 27 Juni itu ia bawa keluar dari kamarnya. Saya tahu ia memiliki setumpuk koran itu di sana. Untuk perhelatan sederhana ini ia mengeluarkan beberapa lembar untuk kami.

Koran berbahasa Korea itu ia pakai untuk alas kami duduk di lantai. Di atas sebuah kursi ia letakkan sepanci besar sup berwarna kemerahan, sebuah hasil kerja keras petang tadi yang siap kami nikmati.

Beberapa menit sebelumnya saya memergokinya di dapur bawah. “Akhlis, where have you been?” tanyanya dalam bahasa Inggris beraksen Korea yang kental. Saya katakan saya baru pulang dari kota kelahiran dan baru saja mendarat di tanah Betawi.

Tahu ia mengaduk-aduk sesuatu di panci, saya iseng melongok ke dalamnya. Bau amis menusuk hidung. Rupanya ia merebus kimchi, lalu mencampurinya dengan udang mentah yang tidak dibersihkan kulit dan antenanya, serta seekor ikan air tawar yang saya duga adalah mujahir. Untuk memastikan, saya tanya dia,”Ikan apa ini?” Dia tidak menjawab pasti. “Tidak tahu. Makan saja. Haha.” Lalu saya tanya lagi,”Apa nama masakan ini?” Mulanya ia menyebut nama sejenis sup. Rumit namanya, saya tak bisa mengingatnya. Akhirnya ia berkata jujur, masakan itu sebetulnya tak bernama. “Ini sup kreasi saya saja.” Mata saya terbelalak,”Ya ampun, ini makanan eksperimen Anda?” Ia mengangguk lalu tertawa. Ah, dasar mr Ahn. Siapa peduli nama dan takaran? Merepotkan. Asal bisa dimakan, mengapa harus ada banyak pertanyaan?

Saya sepakat untuk turut mencicipi masakan beraliran oriental-eksperimental ini. Kebetulan saya malas ke luar rumah kos. Dan ia satu-satunya orang di rumah ini yang memasak. Untuk itu, ia rajin berbelanja di supermarket Korea dekat sini. Saya melihatnya sore tadi berjalan kaki membawa kantong plastik besar saat saya turun dari kendaraan dari bandara. Mungkin sekali ia baru membeli bahan-bahan untuk sup ikan ini. Saya yakin karena ia suka memasak bahan yang sesegar mungkin. Beli, masak, habis. Begitu seterusnya. Tak mau menyimpan lama-lama.

Saat jutaan manusia di pulau ini tengah mabuk opor dan sambal goreng hati ayam, saya di sini duduk mencicipi masakan eksperimental yang asing bagi lidah. Absurd memang rasanya. Sup ikan itu amis sekali bagi saya yang jarang makan makanan laut. Rasa asin juga tak ada. Pedas juga absen di dalamnya. Padahal keduanya yang memicu selera makan saya. Tapi saya sudah telanjur menyendok banyak kuah dan isinya. Pantang saya sisakan. Begitu semboyan saya di meja makan.

Tidak berlebihan kimchi dilabeli makanan pokok setara beras di Korea, mirip tempe atau sambal di Indonesia. Klaim tetangga ini, kimchi bisa dicampur apa saja. “Mau ikan, daging, ramen, udon, apa saja bisa dimakan bersama kimchi,” tegas pria Korea berkacamata yang wajahnya resik dari manipulasi estetik itu. Dengan berdasarkan falsafah itu dalam benaknya, ia berani mencipta berbagai kreasi baru di tengah kerinduan memuncak karena tak bisa pulang sekehendak hatinya. Apalagi sekarang di Seoul, rumahnya, sedang musim panas.

“Mengapa makanan Korea tak pakai garam?” saya ingin mengorek jawaban di balik hambarnya sup ikan hasil inovasi kulinernya. Mr Ahn menjelaskan dengan sabar dalam bahasa Inggris yang patah-patah dicampur sejumput kata bahasa Indonesia jika putus asa mendapatkan padanan kata. Untuk Anda, saya ringkaskan saja celotehannya. Jadi menurutnya semua masakan terutama yang sudah pakai kimchi sebagai bahan dasarnya tak lagi perlu tambahan garam karena saat pembuatan kimchi pun sebetulnya sudah banyak garam yang dimasukkan.

Saya juga mempersoalkan kebiasaan makan orang Korea yang secepat kilat. Apa alasan di balik kebiasaan itu? Jelas mr Ahn lagi, dulu masyarakat Korea memang cenderung makan perlahan-lahan. Namun begitu Perang Dunia menerjang negeri ginseng, kebiasaan makan menjadi berubah. Orang Korea tak bisa berlambat-lambat makan. Mereka mesti berpacu dengan waktu karena musuh perang bisa muncul kapan saja. “Jadi kami harus makan lebih cepat,” tandasnya, lalu menyuap nasi yang sudah dicampur black beans ke dalam mulutnya. Makanannya tandas dalam 3 menit. Saya 20 menit.

Belum habis makanan ini, ia menawari,”Kau mau kimchi labu dan kaen-iph (daun kaen)?” Saya tidak menampik tawarannya. Ia secepat kilat ke kamarnya, muncul kembali dengan dua bungkusan. Satu labu renyah berlumur bubuk cabai dan selembar daun beraroma kimchi ia berikan pada saya. Saya lahap semuanya. “Healthy foods!” serunya. Kepala saya mengangguk. Lidah saya menggeleng. Untung saya tipe orang yang tak segan menelan makanan apapun asal sehat dan halal.

Sembari melayani pertanyaan-pertanyaan saya, ia sesekali mengambil ponsel Samsungnya dan berbicara pada Taeyon, anak laki-lakinya yang baru belajar bahasa Inggris. “Ia baru mulai belajar dan ingin saya mendengarkannya berlatih membaca,” katanya sambil membuka aplikasi Kakao Talk. Mereka bercakap gratis via aplikasi itu setiap hari. Betapa mereka setia dengan produk-produk dalam negerinya. Sungguh lain dari kita.

Perjamuan berakhir. Sup ikan bercita rasa aneh itu hampir habis. Seekor kucing datang mendekat dari arah tangga, mengeong dengan mata fokus pada panci sup ikan itu. Kami sisihkan sisa udang dan duri ikan dan sajikan di sesobek koran alas duduk ini. Sementara itu, mr Ahn mengambil panci itu lagi dan turun ke dapur. Saya pikir ia akan membuangnya. “Mau dipanaskan lagi buat besok,” ucapnya lembut. Sungguh teladan sejati dalam aspek hidup hemat di perantauan.

Sehabis makan, ia tidak serta merta santai apalagi tidur. Justru ia ambil sepatu ketsnya dan keluar berjalan kaki. Di jalan pulangnya, kami bertemu kembali. Bedanya saya pulang dari membeli kudapan, sebatang cokelat.

“Tiga hari ini melakukan apa saja di Jakarta?” saya melancarkan pertanyaan terakhir. Membosankan, tukasnya. Ia habiskan waktu dengan makan dan berlari keliling sendirian sebagaimana biasanya. Ia hanya mau hari segera berganti Senin supaya lekas kerja. Ah malunya. Padahal kita orang Indonesia ingin memperpanjang lagi cuti bersama. Persetan dengan kemajuan bangsa, asal diri dan keluarga kenyang, mapan dan sejahtera. Meski itu tentu bukan cerminan semua.

Menerka Filosofi Baju Baru Lebaran

‎Lebaran memang tidak pernah terlepas dari hedonisme berpakaian. Ada saja trik yang digunakan oleh para penjual agar kita mau membeli pakaian baru, tak peduli harganya. Iming-iming berupa diskon, cuci gudang, midnight sale, dsb bisa kita temui sepanjang Ramadhan. Tak ayal banyak yang menjadi “korban”. Membengkaknya anggaran tak dirasa sebagai beban asal bisa memamerkan kekayaan.

Sementara itu, di sisi lain ada yang mencoba menghapus kewajiban untuk memakai baju baru selama Idul Fitri. Mereka mengampanyekan bahwa memakai pakaian lama yang masih bagus pun bukan hal yang haram. Toh masih banyak kebutuhan lain yang lebih mendesak. Tabung saja, saran orang-orang ini‎.

Terlepas dari tarik ulur ‎paradigma konsumerisme vs gaya hidup sederhana tadi, saya teringat dengan celoteh seorang teman yang beragama Kristen. “Saya dan keluarga ada kebiasaan yang unik kalau membeli pakaian baru. Sebelum memakainya untuk acara apapun, kami harus memakainya di acara gereja,”kisahnya. “Kenapa begitu?”saya tergelitik mengetahui alasannya. “Karena itu seperti berkata pada Tuhan,’Ini lho Tuhan rejeki dari-Mu’, kami pakai buat ke gereja dulu supaya kami dapat berkah untuk pakaian itu dari Tuhan dulu. Baru deh habis itu, baju itu bisa dipakai ke mana-mana.”

‎Dari cerita teman saya tadi, saya kemudian berpikir. Apakah hal yang sama juga berlaku untuk baju Lebaran kami yang muslim ini? Kembali lagi, semua berawal dan berpulang pada niat. Apakah niat membeli baju baru untuk menunjukkan syukur atau yang lain? Jawabannya di hati kita masing-masing.

Para Pemudik 'Sadomasokis' yang Mirip Salmon

‎”Ah nggak tau deh, pusinggg!!!”

Begitu keluhnya saat mengingat-ingat detil perjalanan‎ mudik kemarin. Gila, membuat menderita, sengsara tiada tara. Itulah potret mengenaskan para pemudik seperti bu kos, saya, dan mungkin Anda para pembaca.

“Ah kapok deh kalau begini.! Tahun depan gak bakal mudik lagi…”bu kos mengatakan ‎pada saya. Teman-temannya juga berpikir begitu. “Tapi lihat saja nanti beberapa bulan sebelum Lebaran taun depan pasti pada ribut ngajakin dan nanya-nanya mau pulang nggak,”ia berkata nyinyir tentang orang-orang sekampungnya yang ikut serta dalam perjalanan darat menuju ibukota, yang memakan waktu 26 jam itu.

‎Pemudik-pemudik ini mengingatkan saya pada novel sadomasokis karya E. L. James “Fifty Shades of Grey”. Si karakter utama wanita begitu terpesona dengan ketampanan, kekayaan dan kebinalan si protagonis pria sampai-sampai tidak keberatan disiksa saat berhubungan badan.

Sungguh, mereka yang mudik ini juga sangat tersiksa dengan apa yang dialami sepanjang perjalanan itu. Kegerahan, kelaparan, kehausan, belum lagi harus menahan hajat sampai di luar kemampuan dan pegal di sekujur badan. Tetapi mereka tetap saja kecanduan, tetap terus menikmati semua siksaan, karena kenikmatan juga sudah terbaur rata di dalamnya. Sulit diuraikan lagi. Dapat dikatakan keduanya sudah seperti unsur kimia berbeda yang telah bersenyawa.

Semua daya upaya tampaknya sudah dikerahkan untuk membuat mudik tambah aman, nyaman dan murah. Namun, toh tetap saja ada yang kurang. Apa yang kurang? Kepatuhan pemudik untuk diatur rupanya.

Kabarnya, mudik dengan kapal laut juga ‎disediakan secara cuma-cuma oleh pemerintah kita. “Tetapi dari target 300 orang, masak yang ikut cuma 70,”kata bu kos. Bisa jadi karena mereka takut tenggelam, saya beralasan. Tetapi kalau pun tewas tenggelam, bukankah akan dianggap mati syahid? Apalagi masih bulan Ramadhan kala itu. Entahlah, kadang orang Indonesia susah sekali dipahami jalan pikirannya.

Bersama-sama kami mencerca ambrolnya jembatan Comal yang menjadi akar masalah kacaunya mudik darat tahun ini. Dari berbagai hari dan musim yang ada, mengapa ia harus runtuh sebelum hari raya dan selama musim mudik? Tidak seorang pun bisa menjelaskannya. Volume kendaraan yang luar biasa jahanam? Atau konstruksinya yang kurang meyakinkan? Namun, beruntungnya tak ada orang yang terluka saat menyeberang.

Kampung halaman bu kos itu Sukorejo, Jawa Tengah. Kalau menurut ceritanya, udaranya masih sejuk sekali bahkan di malam pertama menginap, ia dan keluarga harus berselimut tebal saat tidur karena lebih terbiasa udara panas Jakarta. ‎Masih banyak pepohonan di sana, bahkan ada perkebunan karet yang lumayan luas.

Bagi sebagian orang, mudik bisa semudah mengendarai motor ke desa tetangga. Seperti apa yang dialami orang tua saya dan seorang bapak rekan kerja di kantor. “Nggak ke mana-mana. Di Jakarta saja. Orang tua saya kan asli sini,”tukas bapak itu setelah saya bertanya.

Itu yang amat beruntung. Tidak perlu bersusah payah, menyengsarakan diri di tengah aliran lalu lintas jutaan manusia ‎yang mirip ikan-ikan salmon yang hendak bertelur sehingga membahayakan diri menerjang arus sungai yang bukan main derasnya ‘cuma’ untuk bertelur di hulu. Dasar salmon-salmon gila! Padahal sudah tidak terhitung jumlah salmon pendahulu mereka yang gugur di tengah rute akibat terkaman hewan predator seperti beruang. Toh mereka tetap saja begitu. Seolah kebandelan dan kekeraskepalaan itu sudah menjadi tradisi, ciri khas atau malah warisan dalam untaian DNA mereka. Spesies yang mengagumkan dan konyol pada saat yang sama.

Saya mungkin salmon sadomasokis juga tetapi bukan jenis yang keras kepala dan mau mempertaruhkan nyawa. Argumentasi saya, Lebaran kan cuma momen budaya. Tradisi semata. Tidak ada kan ayat suci mengharuskan umat muslim berkunjung di hari raya dengan menghalalkan segala cara. Betul kalau kita harus menjaga tali silaturahmi, tetapi apakah silaturahmi wajib dilakukan saat Idul Fitri saja? Banyak momen-momen lain yang juga bisa dimanfaatkan sebagai ajang mengeratkan hubungan yang merenggang. Jangan hanya membatasi silaturahmi saat Idul Fitri.

Sementara itu, bu kos dan keluarganya masih harus berjuang lebih keras. Dengan berbekal uang Rp145.000, anak bu kos sudah bisa sampai ke Pekalongan meski itu artinya harus terjebak dua hari dua malam di kursi bus yang sempitnya membuat kaki tak leluasa karena kemacetan akibat putusnya akses Pantura via jembatan Comal di Pemalang. Bu kos terus menerus cemas: ia kirim SMS, menelepon beberapa jam sekali, hanya untuk mengetahui sudah sampai mana. “Masih di sini, ma. Nggak gerak dari subuh,”begitu balas anaknya. Siapa yang tidak trenyuh? “Kamu sudah makan? Makan apa?” Beruntung si anak membawa bekal. Lalu bu kos mengeluh SMS-nya tak lekas terkirim, dan ternyata pulsanya ludes. Dan ia gusar karena penjual pulsa jelang lebaran sudah makin jarang dan warung depan tutup. Saya pun kena getahnya dan harus membelikan di AlfaMart terdekat yang syukurnya masih terbuka lebar pintunya menyambut pembeli yang makin sepi di sini.

Tak kalah tragis dari sang anak yang berangkat mudik lebih dulu, ibu kos dan suami serta 2 anak lainnya naik bus juga ke Jawa Tengah. Mereka turun Pekalongan lalu naik mobil sewaan dengan biaya yang katanya “selangit”. Kenaikannya 5 kali lipat, baik ojek dan kendaraan roda 4.‎ Semua -termasuk para awak angkutan itu – mau mendapat THR ekstra, persetan yang lain sengsara. Ditantang akan dilaporkan ke DLLAJR atau Kemenhub, mereka dengan lantang menjawab:”Laporin aja sana!!!”

Susahnya menemukan angkutan yang murah dan nyaman juga masih dialami keluarganya. Mereka harus menyewa mobil-mobil pribadi bermuatan banyak seperti Kijang yang disulap jadi mobil travel. “Satu mobil itu ada 15 orang: 7 anak-anak dan 9 orang dewasa,”bu kos berceloteh lagi. Sekarang bayangkan dalam kondisi seperti itu, Anda harus tinggal berdesakan di dalam kendaraan selama sehari semalam lebih. Joknya ditutup, kemudian dilapisi papan. Sopirnya dua orang supaya bisa berganti-ganti.

Dan karena ongkosnya mahal, semua penumpang tidak mau rugi. Separuh barang-barang ditaruh di atap mobil. Separuhnya diletakkan di tempat duduk. “Ada yang bawa pisang, pete, telur… Aduh! Beras!!! Apa aja dibawa!”

Karena tidak sebesar bus yang bertoilet di dalamnya, mobil yang ditumpangi bus kos dan keluarganya harus berhenti cukup sering. Untungnya WC umum bertebaran di sepanjang jalan. Mereka sempat berhenti untuk mandi juga. “Makan, minum, kencing… makan, minum, kencing… terusss! Asal abis makan minum, pada ‘mau kencing mau kencing’ berenti, makan minum, mau kencing mau kencing…berenti.” Tergelak saya mendengar itu. “Kapan nyampenya??!!”keluh bu kos,”Asal capek dikit, ‘aduh nih pantat panas, pinggang pegel, berentiii! Dengkul pegel, berenti..” Belum lengkap, suami bu kos yang katanya kalau naik bus cuma kencing dua kali selama perjalanan saja malah akhirnya kerap kencing berkali-kali, lebih sering.

Anda pikir mobil itu dilengkapi pendingin udara karena si bapak dan penumpang jadi sering kencing. Salah besar! ‎Sepanjang jalan mereka kepanasan saat siang hari lalu kedinginan di malam harinya. Belum cukup, mobil itu bocor saat hujan menerpanya di Banyuputih, Pekalongan dan Batang. Pintu-pintu bocor, membuat yang di dalamnya kebasahan. “Berhenti lagi deh buat beli baju baru yang kering,”tuturnya diiringi helaan napas.

Sebal dengan omelan sesama penumpang yang luar biasa lelah jiwa dan raga, bu kos mengkritik,”Kalau pas susah begini, pada bilang,’Ah, besok nggak mau pulang. Kapok ya. Tahun besok kapok! Jangan pulang.’ Giliran dah puasa aja pada ribut mikirin hari buat pulang kampung!”

Idul Fitri and The Frustration of an Introvert

Our fictitious superhuman Superman has kryptonite, and introverts have their own kryptonite as well: huge crowd, unfriendly jokes, inquisitive and annoying half-strangers having distant blood ties and plenty supply of awkward conversations coming afterwards. And all these things are summed up into one cultural moment: Idul Fitri. I’m not anti Idul Fitri, I am a moslem myself so I of course embrace the spiritual nuance of it but when it comes to social and cultural aspects, Idul Fitri brings more frustration than anything else to an introvert.

As I read Susan Cain’s book “Quiet”, I came to deeper understanding of my own self and psyche. The book really speaks to me. I cannot disagree on so many things elaborated in it. Cain recounts lengthy stories coupled with some scientific explanation on why introverts feel and act and think and work in different ways. ‎I cannot tell you how joyful I am to suddenly have a book which can easily explain and defend my being recluse in a huge congregation, why I find it uneasy to share private stuff in public where too many people can learn and hear without intending to eavesdrop, why I shun public speaking or any appearance that may result in unnecessary public attanetion. Back then I thought my being introverted is “curable”. Yes, I used to perceive it as a disorder because I don’t see many people around me having such personality, or even they are around, they don’t come to sight that much or noticably. Yet, now as I see more people, I encounter more people with this inclination.

Which is why I am so relieved to know I am not alone…

An ideal Idul Fitri, to an introvert, would be depicted as lovely as having no unwanted and unsensitive guests around your house, having no distant relatives that get too curious about your private life details, and the rather lenient convention of spending time in unnecessarily loud and meaningless celebrations. ‎