If Jakarta Sinks…

Asian Boss has asked several young Jakartans what they think of the recent discourse of moving the capital to a new city outside Java Island.

If I were one of them, I’d say:

“It should’ve done long time ago. It has always been a debate since the last administration but nothing occcured.

Moving the center of economic and administrative affairs from Jakarta (formerly called Batavia) to a new city in Borneo Island.actually not only involves shifts of physical positions but also shifts of paradigm in the mind of our policy makers.

For more than 70 years, Indonesia has been too Javacentric. Seriously. We have had almost all of our presidents from Javanese families. The first president is Soekarno or Kusno Sosordihardjo, which is a very Javanese name. Suharto is also a Javanese-born man. Our third is not a pure Javanese man but B. J. Habibie has a mother of Javanese nobility. Abdurrahman Wahid is totally from East Java. Megawati is Soekarno’s daughter, so she is Javanese to her core. And Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) is from Pacitan, East Java. Even the current president Jokowi was born in Surakarta, Java. So we can tell how much the Javacentricism is in the core of our country. All is about Java.

Though I am a Javanese and muslim man myself (just like being a Christian, white male in the States), I in fact look forward to something bigger than this restricting and suffocating Javacentricism as I believe in the notion that openness to reform is the key to unlocking the nation’s biggest potential.

Jakarta and Javacentricism are getting less and less relevant as Indonesia is becoming a more developed country. And Jakarta is way too old and fragile to support a disgustingly rapid economic boom in the country. The impact of this slow response to the Jakarta’s incapability of becoming a representative capital is too bitter for us. We have been so tired and drained by the traffic jams, floodings, environmental issues, etc.

And no one seems inside a happy bubble, not wanting to acknowledge the fact that Jakarta is doomed once the nation gained its independence. I am not saying our independence is the culprit of the huge mess in Jakarta but Jakarta/ Batavia was clearly built by the Dutch. And our ‘organic’ way of city plan growth and changes is very wild, dissimilar in many ways possibly found from the Dutch’s ways of thinking and city planning, design and so on.

Not to mention the urbanization rate which has been soaring and the ill-planned urban landscape, Jakarta looks like an old lady getting raped by super selfish men.

But the current regime should learn from the past mistakes so they won’t create another Jakarta in Borneo.

I really think Jakarta’s role as an administrative center can be gradually removed; while its role as an economic center can be transferred to other big cities throughout Indonesia, such as Medan, Makassar, Jayapura, and other port cities. (*/)

34 Menteri Perkuat Kabinet Kerja Jokowi-JK. What's Next?

Setelah hampir sepekan kita lelah menyaksikan pemberitaan dan spekulasi di media mengenai kabinet baru Jokowi-JK, akhirnya petang tadi rasa ingin tahu itu terpuaskan. Tentunya, susunan kabinet ini tidak mungkin memuaskan semua pihak termasuk rakyat tetapi inilah yang terbaik yang bisa dilakukan mengingat tarik ulur yang alot dan menguras pikiran antara berbagai pihak yang berkepentingan.

Berikut daftar lengkap semua menteri dalam Kabinet Kerja tersebut:

1. Menteri Sekretaris Negara – Pratikno
2. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) – Andrinof Chaniago
3. Menteri Koordinator Kemaritiman – Indroyono Susilo
4. Menteri Perhubungan – Ignasius Johan
5. Menteri Kelautan dan Perikanan – Susi Pujiastuti
6. Menteri Pariwisata – Arif Yahya
7. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral – Sudirman Said
8. Menteri Koordinator Polhukam – Laksamana Tedjo Edy Purdjianto 9. Menteri Dalam Negeri – Tjahjo Kumolo
10. Menteri Luar Negeri – Retno L.P Marsudi
11. Menteri Pertahanan – Jenderal (Purnawirawan) Ryamizard Ryacudu 12. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia – Yasona Laoly
13. Menteri Komunikasi dan Informatika – Rudiantara
14. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi – Yudi Chrisnandi
15. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian – Sofyan Djalil
16. Menteri Keuangan – Bambang Brodjonegoro
17. Menteri Badan Usaha Milik Negara – Rini Soemarno
18. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah – Puspa Yuda
19. Menteri Perindustrian – Saleh Husin
20. Menteri Perdagangan – Rahmat Gobel
21. Menteri Pertanian – Amran Sulaiman
22. Menteri Ketenagakerjaan – Hanif Dhakiri
23. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat – Basuki Hadi Muljono 24. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan – Siti Nurbaya
25. Menteri Agraria dan Perencanaan Tata Ruang – Ferry Mursidan Baldan 26. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan – Puan Maharani
27. Menteri Agama – Lukman Hakim Saipudin
28. Menteri Kesehatan – Nila Moeloek
29. Menteri Sosial – Khofifah Indar Parawansa
30. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak – Yohana Yembise 31. Menteri Budaya dan Pendidikan Dasar dan Menengah – Anies Baswedan 32. Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi – M. Nasir 33. Menteri Pemuda dan Olahraga – Imam Nahrawi
34. Menteri Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi – Marwan Jafar WIL

Kini kita memahami orang-orang seperti apa yang bisa lolos dari saringan KPK dan PPATK yang berlapis itu. Akan tetapi, jangan serta merta gembira dahulu karena semua orang ini tidak dijamin 100% oleh KPK dan PPATK bersih dari tindak KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) yang sudah mendarah daging dalam bangsa ini.

Saya belum bisa banyak berkomentar tentang orang-orang ini. Namun, dari sekilas pandang bisa dikatakan praktik politik dagang sapi yang kental dalam kabinet-kabinet sebelumnya sudah agak berkurang. Seberapa banyak? Saya tak bisa mengukurnya tetapi setidaknya kita bisa saksikan ada pos-pos yang diisi oleh orang-orang yang namanya asing dari pemberitaan politik yang hingar bingar di tanah air.

Basuki Hadi Muljono, misalnya, sebelumnya menjabat sebagai Direktur Jenderal Tata Ruang Kementerian PU Indonesia dan kini menyandang posisi yang lebih tinggi di kementerian yang sama. Tepat, saya pikir. Tak banyak penyesuaian yang akan dilakukan dan kerjanya pasti akan lebih cepat karena sudah kenal medan kerjanya.

Tentang Rini Soemarno yang cukup kontroversial, kita tahu ia mendapatkan perlawanan dari para relawan Jokowi (sumber:
http://news.okezone.com/read/2014/10/25/337/1056929/dukung-kabinet-bersih-relawan-jokowi-tolak-rini-soemarno). Dan fakta ini patut menjadi catatan tersendiri. Apalagi setahu saya, ada yang berkata anggota tim rumah transisi (Rini salah satu yang menggawanginya) dikatakan tidak akan masuk kabinet. Rini dianggap memiliki rekam jejak yang meragukan karena diduga tersangkut sejumlah kasus hukum di masa lalu.

Yang jelas, komposisi kabinet ini relatif berimbang antara kaum profesional dan partai, sesuatu yang patut diapresiasi.Dan yang terpenting mereka bisa bekerja dan tetap bersih selama 5 tahun mendatang hingga Jokowi mencopot jabatan menteri. Semoga…

Besok Senin, 27 Oktober, menteri-menteri ini sudah harus mulai bekerja keras dan cerdas. Selamat bekerja!

Jokowi: I'm Stunned by the Reaction

Jokowi, as interviewed by Metro TV, admitted he even was stunned by the intensity of people’s reaction. He said he and Jusuf Kalla felt truly burdened by it all. “I’ve never seen soooo many people standing out there in such hot weather only for this, and I saw many expectations out there, but it should be realized that we need time to improve things.”

Meanwhile, people in Semarang, Central Java, were also celebrating the appointment of Jokowi-JK. Some in Deli Serdang, Sumatra, also showed their huge expectation.

Jokowi was awarded by MURI (Museum Rekor Indonesia) as the first Indonesian president to be welcome by people in a massive grass root festivity.

After the appointment, Jokowi-JK are expected to work harder than ever before. Singer Marcel Siahaan emphasized on the mentality revolution and law supremacy. Actor and host Darius Sinatraya stated the complexity of problems the nation is facing right now at almost every level of governance.

I myself have no specific expectation for Jokowi-JK but I really really wish Indonesia can be as big as China and the US. I want to see, in my lifetime, Indonesia is deemed one of the biggest nations on earth. It might not be the best or the strongest (We know how the US ends up by being so ambitious to be the king of the world. It’s self destructive.) but I hope Indonesia is reinforcing its law supremacy and corruption eradication, which involves mentality shift. Corruption is latent because everyone can be a corruptor, regardless of their status or sex or anything.

Arkarna Sang "Gebyar Gebyar"

Arkarna could be the household name for you 90’s generation. Yes, Ollie was in town last night, performing before the audience at Monumen Nasional (Monas), Central Jakarta, which is a few steps away from the State Palace.

Jokowi, it’s all about Jokowi…

Optimism Arises as New Indonesian Leaders Jokowi-JK Officially Take the Helmet

All is well. Prabowo Subianto shows up. Optimism surges and market reacts to it quiet positively. Rupiah is said to rise and things are so flowery now. No bad news is seen. Smooth sail, up to now.

The best thing grass roots can enjoy after the official appointment ceremony is the fact that they can go to Bundaran Hotel Indonesia (Hotel Indonesia roundabout) and Monas in Central Jakarta this afternoon to see what the elect president will do as a newly appointed leader of this republic and enjoy FREE foods and beverages like bakso (meatballs), dawet, ketoprak,etc.

My father is now at Monas, waiting for Jokowi giving speech and he told me he was watching the update through a wide screen there. He is certainly having a good time!

Because it’s zuhur time , my father is headed to Istiqlal.

Selamat Ulang Tahun, Pak Wowo!

Ada dua alasan kenapa orang berubah baik secara tiba-tiba: karena bulan puasa datang dan karena hari ulang tahunnya akan tiba. Untuk kasus Prabowo Subianto, alasan kedua tampaknya lebih cocok.Di BBC (http://www.bbc.com/news/world-asia-29655872), ia diberitakan sudah “berdamai dan mendukung” musuh bebuyutannya di Pilpres 2014 yang sudah mirip Bharatayudha bagi bangsa ini. Entah kenapa BBC masih memakai tanda petik di judulnya: “Prabowo Pledges ‘Support’ for Indonesia Leader Jokowi” tetapi yang pasti mari kita ucapkan selamat pada Pak Wowo yang berulang tahun hari ini ke-63.

Berikut ucapan selamatnya dari Jaringan Partai Gerindra yang ia bina dan dirikan malam ini di email blast mereka.

“Segenap keluarga besar partai Gerindra,

pada hari ini ketua dewan pembina sekaligus ketua umum kita, Bpk. H. Prabowo Subianto berulang tahun yang ke-63. Mari kita sama-sama doakan agar beliau senantiasa dilindungi dan diberkati oleh Tuhan YME. Kami berterima kasih atas teladan yang sudah beliau berikan kepada kami, teladan agar kita semua menjadi warga negara yang mencintai bangsanya, berkomitmen, disiplin, tetapi juga penuh kasih kepada sesama. Selamat ulang tahun Pak Prabowo, semoga panjang umur.

Bagi sahabat yang ingin menyampaikan selamat kepada beliau bisa melalui sosial media pribadi Pak Prabowo. Twitter @Prabowo08 dan fb.com/PrabowoSubianto

Salam Indonesia Raya.”

Apakah Jokowi akan memberikan kado ultah bagi Pak Wowo? Mungkin dengan mengajaknya kirab di Monas tanggal 20 nanti. Ah, senangnya…

[image credit: Reuters]

Kuda dan Jokowi

IMG_20141014_145537

“Lama banget nggak dateng-dateng nih.”
“Hhhh…” (mata melekat ke smartphone)
“Eh, ngapain itu?”
(Dua orang membawa patung kuda warna emas ke panggung)
“Kuda?”
“Kenapa harus kuda?”
“Mana mau Jokowi naik kuda? Kalau Prabowo mau.”
“Iya ya…”
“….” (kembali melihat smartphone)
“Lama sekali ya…”
“Hoahmmm…” (mengucek mata)
“….” (memutar video “Sakitnya Tuh Di Sini”)

Tentang Zuckerberg

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10101694621736251&set=a.529237706231.2034669.4&type=1“Bacanya zukerbeg atau zakerbeg?”
“Hmm.. fakerbeg?”
“Zakar…”
“Haha…”
“Atau zakar buruk.”
“Itu kan nama keluarga di Jerman.”
“Oh gitu…”
“Kalau bahasa Jerman dibaca apa adanya.”
“Zukerbeg ya…”
“Jadi TV One salah nih!”
“Haha. as usual.”
“Liputan enam betul nih. Zukerbeg.”
“…..” (hening, menunggu Jokowi-JK)
Prok prok prok… (orang-orang di meja depan bertepuk tangan tiba-tiba)
“Hahaha. Stresss!”

Jokowi is Unfashionably Late…

‎They said he’d come around 9. Well, it’d be ten I guess considering the traffic. But I never thought he could be this late for the talks. It’s 2 minutes to 11 am. We journalists and newsroom leaders of Jawa Pos are awaiting like morons.

UPDATE:

The event was over minutes ago at 13.40. And Jusuf Kall told us Jokowi was too busy to attend but no worries because he’s coming tomorrow at the theater of Ciputra Artpreneur Jakarta. I’ll make sure you’ll get updated as well.

Membedah Tanda Tangan Jokowi dengan Grafologi (3- Tamat)

img 20140913 2106111
Tanda tangan Jokowi di prasasti Taman kota Waduk Pluit, Jakut, tahun 2013 lalu.

Bagian terakhir dari tanda tangan Jokowi penuh dengan kerumitan. Semua berjejalan. Tampak tidak ada banyak ruang antara goresan-goresannya seperti yang bisa kita jumpai di beberapa bagian sebelumnya. Apakah nanti di akhir karirnya sebagai pejabat publik, perjalanan Jokowi akan serumit goresan ini? Karena seperti kita ketahui, banyak pihak yang menjadi oposisi pemerintahannya seperti Koalisi Merah Putih yang membuat parlemen memanas akhir-akhir ini. Namun, optimisme akan selalu ada sepanjang Jokowi bisa membuktikan bahwa dirinya membela rakyat dan selalu bersih. Kita akan menyaksikannya sendiri di masa datang.

Yang menarik dari bagian akhir ini ialah garis di belakang yang memanjang ke atas tetapi juga memiliki cabang ke bawah. Menurut penjelasan Bayu Ludvianto, goresan berkali-kali di bawah tanda tangan yang seolah berfungsi sebagai penopang adalah tanda bahwa seseorang meminta untuk disanjung dan haus puja-puji (Analisis Tulisan Tangan, hal 176). Akan tetapi, di tanda tangan Jokowi, goresan itu tidak diberikan berkali-kali. Garis di bawah seolah juga menyangga garis yang mengarah ke atas. Bentuknya juga lurus, bukan berliku-liku, sehingga bisa dikatakan di sini maknanya bukan sanjungan yang muluk-muluk dan penuh agenda tersembunyi di baliknya tetapi sanjungan yang penuh dukungan tulus, pujian yang memang datang dari hati orang yang merasakan dampak baik dari hasil kerjanya (baca : blusukan). Jelas bahwa sebagai manusia, Jokowi juga membutuhkan dukungan dan sanjungan tetapi bukan yang dimaksudkan untuk “menjilat”, dan sebagai pribadi yang cukup bijak, ia mengetahui orang dan pihak mana yang “penjilat” dan yang memberikan sanjungan serta dukungan secara tulus.

Bila dukungan dari bawah – yang disimbolkan dengan garis penopang di bawah – ini memang tulus dan kuat, tidak heran jika Jokowi nantinya akan melaju ke posisi yang lebih tinggi dari posisi presiden republik ini, sebagaimana dilambangkan dengan garis yang panjang mengarah ke atas. Apakah ia, katakanlah, akan diangkat sebagai Bapak Revolusi Mental Indonesia? Entahlah saya bukan cenayang.

Beberapa poin yang menarik untuk dikupas juga ialah bahwa tanda tangan Jokowi memiliki ukuran yang relatif standar, artinya tidak terlalu besar atau tidak terlalu kecil bila dibandingkan dengan tulisan di sekitarnya. Anda bisa lihat sendiri di gambar tersebut. Seseorang yang memiliki tanda tangan lebih besar atau lebih kecil dari tulisan sekitarnya menunjukkan adanya pergulatan batin dalam diri,tulis Bayu Ludvianto di bukunya “Analisis Tulisan Tangan” halaman 174. Dengan demikian, dapat disimpulkan Jokowi memiliki batin dan pikiran yang relatif tenang. Ia tidak menunjukkan perasaan inferior atau rendah diri yang amat sangat, sesuatu yang bisa kita jumpai pada para pemilik tanda tangan yang ukurannya jauh lebih besar dari ukuran tulisan tangannya sendiri. Perasaan rendah diri itu mungkin ada di masa-masa awal kehidupan Jokowi tetapi kita bisa lihat, makin dewasa, makin stabil kepribadiannya. Tidak lagi meletup-letup dan mudah ‘ngambek’ seperti saat masih muda. Tampaknya ia banyak belajar tentang pengendalian diri memasuki masa jabatan sebagai pejabat publik.

Satu poin lain yang patut diketahui ialah tidak dijumpainya bentuk-bentuk tajam dan meruncing di tanda tangan Jokowi. Sangat cocok! Karena menurut penjelasan Bayu Ludvianto di halaman 172 di buku yang sama, bentuk meruncing di tanda tangan seseorang menunjukkan agresivitas. Kemiripan bentuk dengan mata pisau atau panah memang bisa disamakan dengan naluri menyerang atau ofensif yang relatif tinggi. Jokowi sama sekali bukan pribadi yang agresif atau memiliki potensi menyerang apalagi menjadi garang bak Ahok. Gubernur DKI Jakarta itu sendiri menegaskan dalam wawancaranya dengan Tempo edisi 25-31 Agustus 2014, bahwa Jokowi bukan orang yang agresif. “Strateginya [strategi Jokowi-pen] dia selalu bilang ‘jangan dulu’ atau ‘sebentar’. Kalau saya tidak ada strategi seperti itu,”terang Ahok yang kerap berang dengan pihak-pihak penentangnya.

Tanda tangan presiden terpilih kita ini juga tidak menunjukkan adanya kebencian pada dirinya sendiri, terutama tampilannya sendiri di depan publik. Ia merasakan kenyamanan dengan menjadi dirinya yang apa adanya. Tidak dibuat-buat atau yang kita sering sebut sebagai “pencitraan”. Bagaimana bisa? Tanda tangan Jokowi tidak memiliki coretan di tengah-tengahnya. Dan patut diketahui bahwa tanda tangan adalah salah satu wajah yang kita perlihatkan di depan publik. Sehingga logis jika Anda mencoret tanda tangan Anda sendiri, seolah-olah Anda “menolak dan menyalahkan diri” atas kondisi yang ada dalam diri terutama saat harus menghadapi orang lain.