Menelisik Fitartistik: Pentingnya Imagery

Imagery dalam senam, bergunakah? [Sumber foto:Wikimedia Commons]
SAYA masih menghadapi mental block yang besar dalam melakukan back handspring seperti yang sudah diajarkan coach saya di kelas Fitartistic, Jonathan Sianturi, dalam beberapa pertemuan terakhir.

Sebenarnya saya sudah tidak ada masalah berarti saat mengeksekusi gerakan ini dengan matras tinggi di belakang saya. Tapi begitu matras setinggi lutut itu disingkirkan, otak saya seolah memberitahukan kecemasan akan ancaman potensial. Seolah-olah saya tidak mempercayai kekuatan kedua telapak tangan saya dalam menopang tubuh agar kepala ini tidak terbentur lantai. Konsekuensinya, saya bisa melenting dengan percaya diri saat masih ada matras setinggi lutut itu. Begitu matras itu tidak ada, keberanian dan kepercayaan diri saya juga sirna seketika.

Padahal secara esensi, gerakannya sama saja. Hanya saja saya harus membangun kepercayaan diri itu dengan imagery, demikian kata coach Jonathan.

Saya mencoba meresepi kata-katanya itu. Pertama-tama saya tentu heran. “Apa hubungannya imagery dengan senam?” protes saya dalam hati. Rasa-rasanya kedua bidang ini sama sekali tidak berkaitan, batin saya terus memberontak.

Sebagai mantan mahasiswa sastra, saya tahu apa itu imagery. Menurut Collins Dictionary, imagery merujuk pada bayangan yang kita ciptakan dalam benak/ otak kita berdasarkan pada kata-kata yang biasanya ada dalam karya sastra seperti syair, bait lagu, atau puisi.

Lama-kelamaan saya paham dengan saran coach Jonathan untuk menggunakan imagery dalam berlatih gerakan-gerakan yang menantang.

“Kadang dalam melakukan gerakan-gerakan senam, Anda harus menggunakan imagery karena apa yang Anda pikirkan itu mempengaruhi realitas,” tegasnya.

Dengan kata lain, pikiran memiliki pengaruh pada apa yang terjadi dalam kenyataan. Jika Anda hanya berpikir,”Duh, saya akan gagal pasti habis ini” atau “Gerakan ini susah. Pasti saya jatuh deh!”, vibrasi pikiran itu seolah akan mengirimkan sebuah sinyal ke alam semesta bahwa Anda memang pantas untuk jatuh. Maka, saran coach Jonathan, bangunlah mentalitas positif melalui imagery yang positif juga.

Dan inilah tantangan mengajarkan pada orang yang sudah dewasa, selain tubuh yang sudah lebih kaku dan terbiasa dengan rutinitas lainnya, mental mereka juga lebih sulit dibentuk.

Kenapa? Karena kita sebagai orang dewasa sudah memiliki kemampuan untuk membentuk pendapat dan pemikiran sendiri. Dan kita lebih asertif dan defensif dalam memegang opini itu dibandingkan anak-anak.

Karena itu, saya memiliki pekerjana rumah yang sangat besar di aspek ini. Bila saya sudah menaklukkan mental block satu ini, saya akan bisa menaklukkan yang lain juga. (*/)

Fitartistik: Tanpa Batas, Lebih Asyik

HUMAN flag adalah salah satu gerakan yang tidak terbayangkan bisa saya lakukan. Gerakannya disebut demikian karena posisi tubuh meniru bendera yang tengah tertiup angin kencang, sampai benar-benar tegak lurus dengan tiang.

Tapi hari ini saya mencoba dan ternyata bisa juga!

Fitartistik inilah yang menurut saya adalah latihan dengan hanya menggunaka  berat tubuh (body weight workout) yang tanpa menargetkan harus menguasai ini itu tetapi secara lambat namun pasti membangun kekuatan dan kelenturan tubuh sehingga kita pada suatu saat tiba juga pada titik yang diinginkan. Tentu jika syarat-syaratnya terpenuhi: latihan dengan disiplin dan konsisten.

Coach Jonathan Sianturi sendiri memberikan sedikit nasihat pada saya yang memiliki tipe tubuh ectomorph ini agar memperbanyak latihan fisik jenis muscle-up agar kekuatan lebih terbangun secara alami. Ia menyarankan makan lebih banyak protein alami seperti putih telur dan ikan.

Jadwal latihan juga perlu diatur. Bisa dengan dua hari berturut-turut latihan sampai lelah baru dua hari berikutnya benar-benar istirahat. Ini yang dinamai recovery period. Kemudian bisa juga selanjutnya satu hari latihan dan diikuti satu hari istirahat. Ini yang dinamakan mini break. Demikian saran Jonathan.

Menelisik Fitartistik (8): Handstand Itu Mahal

HANDSTAND itu mahal. Demikian kata coach Jonathan Sianturi.

Ya betul juga sebab handstand asal-asalan, dengan cara yang sembarangan, mungkin lebih mudah dilakukan. Asal kedua kaki naik ke atas dan jadilah.

Tapi jika mau melakukannya dengan teknik yang benar dan aman serta memberi lebih banyak faedah daripada risiko cedera bagi tubuh, teknik yang benar tak pelak diperlukan.

Di pertemuan ini saya masih berjuang agar teknik handstand saya bisa lebih mapan dan aman. Tapi memang lagi lagi kembali pada komitmen masing-masing. Berapa banyak waktu yang bisa diluangkan untuk belajar dan berlatih? Nah, itu yang jadi pertanyaan.

Saya sendiri masih agak labil. Bisa naik tetapi untuk mempertahankan handstand susahnya bukan main. Resepnya dari coach: handstand dengan muka menghadap dinding. Agak mengerikan tapi bagus untuk melatih respons tangan tatkala tubuh agak limbung ke depan. Mekanisme rem itu mesti dibangun perlahan tiap hari. (*/)

Menelisik Fitartistik (7): Mempertahankan Pencapaian

HARI INI COACH Jonathan Sianturi memberikan sebuah tantangan baru agar latihan handstand saya bisa berkembang. Tidak berkembang lamban.

Disarankannya saya untuk handstand dengan muka menghadap (bukan membelakangi) tembok. Dan pergelangan tangan serta seluruh permukaan tubuh depan saya mengenai dinding. Bila sudah bisa mempertahankan posisi ini dengan nyaman, barulah saya bisa mencoba menjauhi sedikit dinding itu ke depan dengan ujung jari kaki mengenai dinding dan kalau bisa tetap di postur handstand tanpa menyentuh dinding. Saya sendiri tahu ini tidaklah mudah. Saya sudah pernah mencoba handstand dengan seluruh tubuh depan mengenai tembok tapi untuk sedikit menjauh dari dinding dengan masih mempertahankan postur itu, saya terus terang belum mencoba karena belum yakin. Jadi, ini patut saya coba. Bukan hanya saat latihan yang hanya dua kali seminggu tapi kalau bisa saban hari. Toh ini latihan skills, bukan latihan kekuatan dan condotioning yang mengandalkan repetisi hingga menguras tenaga.

Terkait kemajuan dalam latihan planche, saya masih bertahan di level dua setengah, kata bang Jo. Agak perlu usaha lebih banyak agar terbiasa dengan posisi tangan yang tetap lurus saat tubuh mulai condong ke depan. Ini sangat menantang apalagi pergelangan tangan saya belum terlatih secara intensif untuk itu. Makanya saya terus berlatih dengan barbel agar dapat membantu penguatannya. Dengan berat tubuh yang sudah mendukung (baca: relatif ringan), saya merasa bisa membuat kemajuan pesat bila pergelangan tangan dan bahu saya sudah lebih kuat sebagai fondasi gerakan-gerakan yang sangat menantang dan menuntut keberanian dan keterampilan berakrobat.

Menelisik Fitartistik (5):Membina Ketekunan

PADA LATIHAN KELIMA, saya menjadi lebih tahu kemampuan tubuh sendiri. Eksplorasi gerakan-gerakan dasar sudah dilakukan, dan saya menjadi lebih tahu batasan kemampuan, kelemahan dan kekuatan saya.

Di titik ini, saya tidak diperkenalkan dengan gerakan-gerakan baru lagi. Level yang saya sudah lampaui juga masih kabur. Ini karena dalam Fitartistik, ada lima aspek yang diajarkan: mobilitas, fleksibilitas, kekuatan core, skills, dan conditioning.  Dalam hal mobilitas dan fleksibilitas, karena saya sudah beryoga selama bertahun-tahun, kendala relatif nihil. Dalam tiga aspek sisanya, saya akui masih memiliki segunung ‘pekerjaan rumah’.

Karena saya tidak diberikan gerakan-gerakan baru, saya pun harus fokus pada gerakan-gerakan yang sudah diberikan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya namun saya masih belum bisa secara sempurna lakukan.

Misalnya saat melakukan cartwheel, saya merasa lebih nyaman dengan tangan kanan mendarat lebih dulu. Kalau saya daratkan tangan kiri, tubuh limbung dan koordinasi tubuh menjadi kacau balau. Ini menunjukkan sisi kiri saya sangat perlu dilatih agar seimbang.

Lalu pekerjaan rumah lainnya ialah melakukan roll depan yang lebih mulus dan efisien. Bagaimana menilai roll depan kita efisien atau tidak? Caranya cukup dengan mengukur jarak sekali berguling ke depan. Apakah jaraknya jauh atau cuma sedikit saja? Jika saya bandingkan dengan coach Jonathan Sianturi yang membimbing, sekali roll depan saja ia bisa setidaknya menempuh jarak dua kali dari saya. Saya perlu lebih berani mendorong tubuh ke depan sehingga tubuh terlontar lebih jauh ke depan. Selama ini saya merasa masih harus berhati-hati dengan leher dan sedikit menjadi ‘mental block’. Padahal jika leher sudah ditundukkan sampai dagu kena dada, leher relatif aman. Sekarang masalahnya ialah bahu. Karena bahu saya kecil dan tulangnya menonjol, saya merasa sakit karena langsung beradu dengan lantai berpegas yang menjadi arena kami berlatih (bayangkan saja sakitnya jika di lantai atau mat yoga biasa).

Saya juga kembali harus menyempurnakan latihan planche saya yang masih tertatih-tatih. Seperti yang bisa disaksikan di foto di atas, saya merasa masih berat untuk bisa mendorong bahu dan dada saya ke depan agar saya bisa meluruskan kaki ke samping (ini yang disebut straddle legs). Genggaman jari tangan dan pergelangan tangan saya belum sekuat harapan rupanya. Atau setidaknya belum terbiasa dengan gerakan itu sebab selama dalam yoga tidak pernah diajarkan untuk itu. Jadi mungkin saja saya bisa suatu saat nanti jika terus berlatih. Kapan? Saya tidak tahu. Asalkan terus berlatih, pasti akan datang juga saatnya.

Sementara itu, untuk pengayaan, saya melakukan eksperimen sehabis kelas dengan ring. Saya lakukan gerakan untuk melatih mobilitas sendi bahu dan otot core. Back lever dengan kaki terbuka ke samping juga masih belum stabil. Untuk naik ke atas dalam posisi l-sit juga belum bisa lebih dari dua kali (entah karena habis tenaga setelah latihan selama dua jam lamanya atau belum terbiasa). Selanjutnya keterampilan-keterampilan dasar ini masih harus terus saya latih karena merekalah fondasi untuk gerakan-gerakan yang lebih sukar dan menantang. (*/)

Menelisik Fitartistik (4): Membangun Keseimbangan

Handstand pushup ternyata tidak semudah dugaan. Ada teknik tersendiri yang mesti dikuasai.

MENCAPAI KESEIMBANGAN TERNYATA juga adalah inti Fitartistik. Maksud saya, keseimbangan dalam membangun kekuatan di bagian tubuh bawah dan atas. Jika kita selama ini berpikir bahwa dalam gymnastics hanya diperlukan kelenturan, kekuatan serta kelincahan tubuh bagian atas (itulah kenapa para pesenam terutama yang laki-laki banyak yang memiliki tubuh bagian atas yang lebih besar daripada tubuh bagian bawah mereka), ternyata tidak sepenuhnya benar. Dalam latihan pembuka, ada juga menu jogging dan lari dengan loncatan untuk membangun kekuatan tubuh bagian bawah (tungkai dan pinggul). Putarannya dilakukan sesuai kebutuhan dan ditambah dari latihan ke latihan. Setelah itu ada melangkah mundur dan inilah yang menegangkan: meloncati beberapa anak tangga sekaligus. Dari satu anak tangga, dua hingga kalau bisa tiga anak tangga!

Sedikit tips buat mereka yang ingin jogging tapi susah ‘panas’ dan sulit berkeringat seperti saya sebelum Fitartistik ialah pakailah jaket untuk menutup pori-pori tubuh. Alasannya ialah supaya tubuh tidak lekas dingin lagi karena diterpa angin yang melalui kita saat bergerak. Dan ini memang benar, karena saya yang memang sudah susah berkeringat dan memakai baju tanpa lengan makin susah ‘panas’ dibandingkan dengan Torik yang memakai baju berlengan dan pak Jonathan yang memakai jaket. Lari kecil dengan kecepatan stabil seperti ini, kata Jonathan, diperlukan untuk bisa tetap bugar saat usia menanjak dan dibutuhkan pesenam untuk mengimbangi latihan tubuh bagian atas yang lebih dominan selama latihan setelahnya.

Hari ini kami fokus berlatih handstand (lagi). Masih dengan bantuan matras untuk menyokong pergelangan tangan saya, saya bisa menahan handstand ini dalam alignment yang diharapkan selama 30 detik. Kiat agar saat mencoba handstand tidak mengalami sakit di pergelangan tangan ialah dengan mengusahakan sudut antara punggung tangan dan lengan tidak lebih dari 90 derajat. Jika lebih dari 90, biasanya akan membuat nyeri setelah itu. Nah, itulah gunanya menggunakan matras senam yang padat dan tebal. Saya dilatih untuk menjaga awareness untuk menekan telapak tangan dan jari-jari secara merata dengan sudut yang pas 90 derajat agar aman dan bentuk handstandnya lurus benar. Sendi bahu dan pergelangan tangan saya dilatih untuk terus menahan berat tubuh (yang tidak seberapa ini) dengan lebih stabil. Dan ini jauh lebih efektif daripada dengan dinding atau menendang-nendang ke udara.

Lalu kami mencoba pull-up dan chin-up khas Fitartistik yang berbeda dengan yang sudah saya kenal di calisthenics. Selama ini di calisthenics saya mengenal pull-up dengan eksekusinya yang smooth, no jerking. Di sini, saya diajari untuk sedikit menggunakan ayunan kaki agar bisa naik dengan sedikit jerking (goncangan/ hentakan) hingga dagu lalu turun perlahan. Alasannya menurut saya ialah dalam calisthenics, palang yang dipakai biasanya besi biasa sementara di gymnastics ini, palangnya memiliki karakteristik lebih lentur. Ia bisa agak melengkung saat pesenam menggelayutinya. Dan hentakan-hentakan saat bergerak akan lebih sedikit mencederai pergelangan tangan dan lengan. Inilah yang berbeda dari palang di calisthenics yang kaku dan kokoh karena hanya dari besi biasa. Tubuh saya memang masih protes karena terbiasa dengan gaya calisthenics tapi begitu saya mengamati lebih jauh alasan di balik perbedaan ini, saya bisa menerimanya dan mencoba sedikit mengayunkan tungkai ke belakang saat hendak mengangkat tubuh ke atas sampai dagu di atas palang.

Kesalahan pemula dalam handstand pushup, kata Jonathan, biasanya di siku yang terlalu jauh ke samping. Dorong dada ke depan dan siku tetap sedekat mungkin ke dada, sarannya pada saya.

Tantangan berikutnya ialah handstand pushups. Ok, ini memang terdengar agak ekstrim tapi tidak juga sebab saya melakukannya tentu dengan bantuan coach Jonathan. Handstand pushups ini tidak dilakukan dengan bersandar di dinding atau palang tetapi idealnya hanya dengan palang sejajar yang lebih rendah dengan lebar sama dengan bahu kita dan tanpa ada sandaran. “Oke…,” batin saya. Dengan keyakinan bahwa ada matras empuk di sekeliling saya dan bantuan coach yang memegang kaki dan pinggul saya jika saya limbung, saya pun mencoba. Awalnya saya kira akan mudah. Dan memang mudah, karena saya bisa melakukan sampai delapan repetisi. Hanya saja, bentuk (form) handstand pushups saya kurang benar karena lengan saya terlalu jauh ke samping luar. Padahal kata Jonathan idealnya siku tetap sedekat mungkin ke dada/ tulang iga dan dada didorong ke depan saat turun. Saya baru paham setelah ingat cara Ollie Torkel melakukannya dalam sebuah video. “Ah, iya saya salah,” keluh saya. Tapi tidak masalah karena saya setidaknya bisa sampai 8 kali. “Ya, kamu menang ringan aja,” komentar coach J. Dalam hati saya membenarkan.

Setelah itu kami mencoba gelang-gelang alias ring. Sensasi pertama yang berbeda dari ring yang saya selama ini pakai di taman ialah bahwa ring dari kayu ini justru lebih berat! Padahal saya pikir lebih ringan daripada ring logam di taman-taman di tengah Jakarta. Entah ini benar atau cuma perasaan saya saja karena tubuh sudah makin lelah.

Saya mencoba gerakan yang bernama ‘skin the cat‘. Di sini saya naik dengan melompat susah payah (karena entah kenapa aturan mengharuskan ring ditempatkan begitu tinggi dari permukaan matras di bawahnya). Sebetulnya gerakan ini juga sudah tidak asing lagi bagi saya tapi sekali lagi alat dan situasi yang baru membuat saya juga harus beradaptasi. Dan memang itu tidak mudah. Karena itulah diberlakukan standarisasi alat-alat gymnastics di seluruh dunia. Jonathan bercerita bahwa pernah dahulu di zamannya berlatih ia menemukan banyak alat yang berbeda-beda ukuran dan bahan di setiap negara yang ia tandangi. Perbedaan itu membuat pesenam harus pontang-panting mengadaptasikan diri. Pelana kuda misalnya dulu sebelum ada standarisasi terbuat hanya dari besi dibungkus kulit, yang pastinya keras bukan main. Sekarang pelana kuda sudah dibuat lebih empuk dan sama ukurannya di mana-mana. Namun, justru saya pikir ketidaksamaan itulah yang membuat pesenam zaman dulu lebih tangguh dan tidak cengeng.

Kembali ke skin the cat, gerakan ini menjadi perkenalan bagi mereka yang masih asing dengan ring. Anda bisa mencoba ini sendiri karena tingkat kesulitannya minimal dan tidak membutuhkan orang lain untuk memegangi (kecuali jika memang betul-betul awam).

Kegunaan gerakan ini banyak. Selain melatih mobilitas sendi bahu dan melatih awareness di area pinggul, terasa juga penggunaan kekuatan core muscles yang dipakai saat meluruskan kaki lalu menggulung badan ke atas. Sungguh perjuangan bagi yang belum terbiasa. Tetapi sekali lagi, pastinya akan membuat ketagihan. (*/)

Menelisik Fitartistik (Jilid Dua): Handstand Adalah Koentji!

SEMENTARA DI YOGA, sebagian orang menganggap handstand sebagai puncak yang diidamkan, dalam fitartistik handstand ialah ‘menu pembuka’. Setidaknya begitulah yang saya tangkap dari pelatih Jonathan Sianturi yang menggarisbawahi pentingnya handstand dalam fitartistik. Handstand ialah koentji, begitu sabdanya.

Alasan kenapa penguasaan handstand dengan teknik yang tepat dan aman menjadi begitu vital ialah karena dengan melakukannya, mental block dan paranoia dalam alam bawah sadar kita dapat diluruhkan. Mereka yang sudah biasa handstand dapat lebih leluasa mengeksplorasi beragam gerakan fitartistik lainnya yang tak kalah mendebarkan karena tidak mudah gentar, lebih berani. Dan ini menjadi sejenis fondasi untuk berlatih seterusnya.

Bahkan Jonathan sendiri menandaskan bahwa handstand ialah fitartistik. Begitu mendengarnya, tentu saya yang masih bersusah payah bertumpu di kedua telapak tangan ini tersentak lalu sedikit menggigil gugup.

Setelah mencoba half handstand atau baby handstand, sekarang saatnya saya mencoba quarter handstand.

Pelatih menitahkan saya mencobanya sebab menurutnya saya telah fasih di tahap baby handstand di platform busa yang tingginya seketiak itu.

Bedanya, di quarter handstand ini, penopang lengan saya makin dikurangi. Kini saya cuma akan memakai dua matras tebal empuk setinggi siku sebagai penopang. Saya ucapkan bismillah sebelum mencoba.

Saya aktifkan telapak tangan dan jari jari tangan serta bahu, kemudian dengan mengerahkan seluruh daya upaya raga ini, saya angkat kedua kaki ke atas. Kedua matras itu menyokong bagian lengan di bawah siku saya. Kedua pergelangan tangan juga sedekat mungkin ke matras. Saya gunakan jari jari sebagai rem agar tidak tumbang ke depan.

Di titik ini saya masih bisa dan karena itulah saya membuktikan bahwa hipotesis saya soal kenapa handstand saya payah ialah karena pergelangan tangan saya kurang stabil. Dengan sokongan tumpukan matras untuk menstabilkan pergelangan tangan saja, ternyata saya sudah bisa bertahan di handstand saya tanpa menendang-nendang di udara.

Kemajuan kecil. “Memuaskan tapi jangan girang berlebihan.” Sergah saya menegur ego yang sudah hendak bereuforia.

Beetje bij beetje, saya ingat peribahasa Belanda itu. Sedikit demi sedikit. Sabarlah. Jangan arogan.

Kemudian selanjutnya ialah menguji kekuatan tangan ini di palang tunggal. Saya harus pull up dan chin up. Sebetulnya saya sudah biasa namun di fitartistik pelatih saya menyuruh melakukan dengan sedikit hentakan. Mungkin untuk mendorong daya ledak otot. Terus terang saya tidak terbiasa pull up dan chin up dengan gaya begitu. Saya lebih suka gaya yang smooth, tanpa jerking. Tapi sekali lagi, saya katakan saya harus menundukkan kebiasaan lama dan berlapang dada dan kepala agar ilmu baru bisa masuk dan terserap. Tidak boleh banyak beralasan ini itu. Just do it. Karena saya yakin semua itu ada alasannya.

Untuk latihan kekuatan core dengan palang ganda sejajar, ada beberapa level. Yang paling dasar ialah kedua tangan mengangkat tubuh secara stabil. Bahu berperan penting di sini. Lalu level berikutnya ialah mengangkat kedua kaki ke arah dada. Jika itu sudah lancar dan tidak membuat muka merah padam dan seram, beralihlah ke tingkat yang lebih lanjut, yakni L-sit dengan tumpuan kedua tangan di palang. Semua ini terlewati dengan mulus. Ego saya masih bisa sombong dan menyungging senyum bahkan saat pelatih Jonathan menghitung lewat dari 8. “Juara kamu!!” Batin saya memuji diri.

Benar adanya jika arogansi cepat atau lambat akan menumbangkan diri. Dalam kasus ini, tumbangnya arogansi saya begitu cepat datang. Begitu tahu itu sudah bukan masalah, saya diberi perintah melakukan planche, kedua tangan di palang lalu dada diangkat dan tubuh sejajar lantai dengan kedua kaki lurus ke samping.

Bendera putih melambai…

Ego saya tunduk. Takluk. “You’re not that great. Sorry.”

Tahu tubuh saya belum setegar itu, pelatih Jonathan memberi sebuah solusi untuk berlatih secara bertahap. Saya bisa mencoba bakasana dengan memakai dua dumbbell. Hanya saja bakasana di sini tidak menyentuhkan ketiak ke lutut. Jadi antara lutut dan dada ada ruang.

Untuk diri saya hari ini, skill itu masih musykil. Untuk beberapa bulan lagi mungkin. Siapa tahu? (*/)

Menelisik Fitartistik

Memang alam semesta memiliki alurnya sendiri. Tidak ada yang bisa dipercepat atau diperlambat. Semua sudah ada waktu dan jalurnya, layaknya benda-benda langit yang memiliki waktu edar dan garis orbitnya masing-masing.

Begitu juga dengan pertemuan saya dengan fitartistik. Sebetulnya dulu saya suka olahraga tetapi karena kebanyakan yang diajarkan di sekolah adalah jenis-jenis yang tidak saya suka dan saya juga tidak bisa (dari sepakbola, lari, voli, basket, sampai renang), saya jadi terkesan tidak suka bergerak. Padahal tidak.

Dan itu ada berkah tersendiri memang karena saat teman-teman sebaya saya yang dulu jago olahraga dan atletis mulai menggembul, saya justru mulai menemukan keasyikan tersendiri. Kenapa? Karena saya berolahraga bukan untuk nilai atau prestasi. Hanya sekadar ekspresi diri dan pemeliharaan kesehatan serta peningkatan produktivitas plus kualitas hidup.

Perkenalan saya dengan olahraga senam lantai yang ada kesamaan dengan gymnastik sebenarnya sudah lama, bahkan lebih lama dari perkenalan saya dengan yoga yang saya tekuni sekarang. Bisa dikatakan saya sudah tahu olah tubuh ini sejak di bangku sekolah. Saya ingat tiap kali guru olahraga saya sudah menyuruh ke aula untuk menggelar matras, saya merasa lega dan girang. Selamat tinggal bola-bola keparat ( saya buruk dengan olahraga apapun yang berkaitan dengan bola) dan selamat datang matras empuk yang meski berdebu tapi saya rela geluti berjam-jam.

Sayangnya senam lantai bukan fokus utama pelajaran pendidikan kesehatan jasmani (namanya kala itu). Ibaratnya saat itu hanya kesempatan untuk mencicipinya saja. Dengan tidak adanya tempat yang layak untuk berlatih, saya terpaksa melupakan minat saya.

Saat saya mengenal yoga, saya menyukainya juga atas dasar persamaannya dengan senam lantai dan juga karena tidak ada lawan yang harus dihadapi kecuali diri sendiri. Dengan demikian, intrik-intrik licik yang banyak ditemui dalam olahraga tim tidak akan ada di sini. Olahraga permainan saya akui memang bukan untuk saya, sebuah alasan yang juga dikemukakan Haruki Murakami saat memilih lari sebagai olahraganya yang utama. Mungkin karena kami sama-sama orang yang suka bekerja dengan kecepatan sendiri.

Dalam fitartistik yang saya baru kenal ini, saya juga menemukan keleluasaan itu: untuk berlatih sesuai dengan kemampuan dan kecepatan saya.

Yang membuat saya pertama-tama ingin mencoba fitartistik selain karena mirip gymnastik ialah karena penggagas sekaligus pelatih utamanya ialah Jonathan Sianturi. Kalau Anda besar di era 1990-an, namanya sudah tidak asing di kuping. Bisa dikatakan bahwa Jonathan adalah nama besar di dunia senam nusantara. Jadi, tekad saya bertambah bulat untuk mencicipinya.

Dan benar saja, saya menyukai fitartistik! Memasuki gedung senam di jalan Raden Inten, Duren Sawit, Jaktim Sabtu siang lalu, rasanya saya seekor ikan yang masuk kembali ke air setelah sekian lama terkurung di akuarium dan sebelumnya dipaksa hidup di darat sehingga memilih untuk mati suri hingga waktu yang tidak pasti. Dengan beryoga, saya mulai kembali berolahraga setelah sekian lama jeda dan setelah mengenal fitaristik, saya menjadi ingin berolahraga dengan lebih dinamis, tidak ‘terpenjara’ dalam mat saya.

Apa beda fitaristik dengan yoga dan gymnastik yang sudah kita kenal bersama? Yoga memiliki kandungan filosofis dan spiritual universalnya sendiri dan gymnastik menjurus pada olahraga kompetisi yang mengharuskan seseorang untuk berlatih keras, habis-habisan. Kalau belum capek, berarti belum maksimal latihan, kata Jonathan.

Menurut pria yang masih ramping dan lincah di usianya ke 47 tahun itu, fitartistik ia gagas dengan memahami kebutuhan untuk tetap bugar di masyarakat luas. “Tetapi bedanya di fitartistik, ada unsur plusnya. Yaitu fun!”ucap sang pelatih yang langsung mencap saya sebagai murid advanced (padahal handstand masih kepayahan). Militansi berlatih sampai tubuh benar-benar ‘hancur lebur’ yang biasa ditemui dalam pola latihan khusus atlet senam tidak akan ditemui di fitartistik. Justru Jonathan tidak segan menurunkan dosis latihan bila melihat pesertanya masih belum menguasai benar apa yang diajarkan baru saja. Seperti saat siang itu, ia mengajarkan kami enam gerakan untuk melatih beragam otot tubuh secara optimal. Ada enam gerakan yang diajarkan, yang berfokus membangun kekuatan bahu, tangan, otot core, kelenturan, daya ledak otot, dan sebagainya. Dan saat kami dinilainya masih belum menguasai gerakan, Jonathan memperlama waktu untuk tiap gerakan agar kami bisa dikoreksi dan lebih hapal gerakan.

Fitartistik ini kalau boleh saya definisikan sendiri ialah gymnastik yang lebih disesuaikan dengan kemampuan orang awam yang ingin sehat dan lebih fungsional. Maksud saya dengan ‘fungsional’ ialah saat berkegiatan sehari-hari, kita masih bisa melakukan apapun dengan baik. Tidak ada hambatan dan kendala gerak. Kasarnya, buat apa olahraga kalau angkat galon air saja masih menyuruh orang? Dan karena berolahraga bukan untuk prestasi, risiko cedera juga ditekan serendah mungkin.

Satu hal yang menarik dari fitartistik ialah adanya ruang untuk bereksplorasi. “Tidak ada batasnya, kalau Anda bisa lebih, silakan saja,” ujarnya. Jonathan mencontohkan jika seseorang bisa roll atau guling depan tiga kali, terus tambahkan jadi empat kali, dan seterusnya. Sangat menarik bagi kita yang menyukai tantangan, dengan syarat mesti tahu batas kemampuan agar tidak celaka.

Di sini, saya menemukan pendekatan-pendekatan yang baru bagi saya. Misalnya saat mencoba handstand, alih-alih diinstruksikan menendang-nendang ke udara sampai capek, kami digiring Jonathan dan asistennya Torik dan Dede yang atlet senam muda itu untuk tengkurap di platform busa empuk yang lumayan tinggi dan bergantian mengangkat satu kaki dengan kedua lengan menopang sebagian berat tubuh. Cara yang kontraintuitif bagi pelaku yoga tapi kenapa tidak?

Lebih lanjut Jonathan mengatakan,”Fitartistik bertujuan untuk menyehatkan. Lalu untuk apa sehat? Agar kita bisa melayani sesama,” tukasnya sedikit filosofis.

Apakah fitartistik bisa dilakukan siapa saja? Tentu. Bagi Anda yang bertubuh sehat tanpa luka dan cedera, silakan saja bergabung di tempat latihan fitartistik di Gedung Senam jl. Raden Inten Duren Sawit, Jaktim setiap Rabu (pukul 13:00) dan Sabtu (pukul 10:30). Siapa tahu kita bisa latihan bersama-sama. (*/)