To Be a Good Entrepreneurship Reporter, Don't Be an Entrepreneur

So here’s the rule of thumb for entrepreneurship and business reporters out there: Don’t be the person you want to interview and write about. In other words, don’t be an entrepreneur or business person. This piece of advice sounds a little bit counter-intuitive as I thought it’d be much easier to understand the subject matters by being in their shoes, seeing things the way these people do so I can write better about them and their companies.

It turns out I’m wrong…

Reporters need to stay away from being an entrepreneur themselves. They can’t be a top-notch reporter and a great entrepreneur at the very same time. They have to relinquish one of the two.

That’s probably the gist of Sarah Lacy’s statements. The founder of media company Pando.com was asked whether being an entrepreneur herself changed her way of writing as a tech reporter. As we all know, Lacy has worked for almost 15 years writing about the tech industry, the people and the whole dynamics in it. She answered it bluntly,”I’m a way worse reporter now…”

Asking hard questions to other entrepreneurs as an entrepreneur cum reporter is relatively easy, claimed Lacy. Yet, she stated that what bothered her to do her best job she always wanted is the OVEREMPATHY on the answers. “So particularly when it comes to things I’ve gone through…like having the ousted board member (she might be reminded of Mike Arrington ousted from TechCrunch or?) or even like a cash crunch or hiring a sales guy that didn’t work out[…]”

She further said she didn’t write as much as she used to and she felt for these pitiful entrepreneurs. “Because I see every side to it and I feel for them,”explained the mother of two.

Thank God, I’m not an entrepreneur because if I have to be one, I would certainly lose my best job ever. And I would never trade being a writer to any job on earth. This is very much the best. At least for now.

A Journalist who Hardly Ever Types

keyboardI know a boy who works as a journalist. He hardly ever types. He just copies and pastes but he is such a gem to his boss because his articles get lots of hits, page views. “Screw quality!”, he once said to me. It’s only about how many page views you can make and please your boss as much and long as you can and things are going fine. Bonus keeps coming to you so why bother typing all day long like me? It’s pretty much the message he has tried to send across.

Of course, he is such an object to envy. He can enjoy the perks of being an employee without having to work hard that much. Never that much. While I have to work hard for it.

It doesn’t matter how he sucked at the quality, it never bothers the boss. As long as the site rank is stable and showing positive trend, he is safe. Good for him.

Bad for his future…

Reporters Need 'Space' (read: Freedom)

keyboardFreeing your reporters to do really good works is DOABLE. Making them write 1-2 stories (with the best quality of journalism they can possibly provide readers) is one of the tricks. Don’t require them write 6-10 stories or even 10-15 stories a day (assume they work 8 hours a day, as they have their personal lives as well). It is not I who says so but Sarah Lacy, the founder of tech blog Pando.com.

I’m not stunned. She made a point. Quality, not quantity, is what she and her team are after so it does make sense for them to do so. A reporter cannot produce a piece of high quality journalistic content within less than an hour. That’s fucking crazy. Except the reporters only need to rewrite or repurpose or ‘repackage’ or summarize various articles from several sources scattered randomly on the web. It’s fun. They only sit at the office and never get out.

She further claimed that even a junior reporter aged 19 (I guess it is Nathaniel Mott she was talking about) was able to write a complex article which was she thought interesting and showed high quality in tech journalism that Lacy complained about to be flooded with press releases rewriting and copy pasting to be the fastest news breaker recorded on TechMeme Leaderboard.

She takes journalism really seriously, and that’s ridiculously awesome. At least to me. I don’t know it is to you.

Jika Menulis Jadi Otomatis (Tren Robot Penulis Berita)

Berhati-hatilah dengan impian dan harapan Anda. Begitu kata pepatah dari negeri China. Jika Anda bekerja sebagai pewarta, dan Anda pernah mengeluhkan betapa beratnya beban kerja Anda selama ini (misalnya karena harus turun ke lapangan, mengejar narasumber, menjalani piket/ shift malam dan dini hari yang membuat jam tidur kacau balau) dan ingin proses membuat berita menjadi semudah mengayunkan tongkat sihir dan mengucapkan mantra, selamat! Impian Anda sudah terwujud.

Beberapa waktu lalu saya pernah membaca sebuah artikel tentang bagaimana menulis buku yang praktis, yang ternyata dilakukan dengan bantuan software tertentu. Saya anggap ‘inovasi’ itu sungguh absurd. Jikalau memang teknologi semacam itu akan marak nantinya, tak serta merta ia bisa menjamin kualitas buku yang dihasilkan. Tetap saja harus ada campur tangan manusia dalam prosesnya. Otomatisasi tidak akan bisa seratus persen menggeser peran penulis dan segenap intelejensia, pengalaman, gagasan dan emosi mereka yang khas dan tiada duanya. Inilah yang tidak akan bisa dimiliki oleh buku-buku yang dihasilkan dengan mekanisme otomatis semacam itu, terka saya. Intinya, software itu tetap tidak bisa menggantikan peran para penulis buku fiksi dan non-fiksi.

Itu pula yang terpikir saat saya mengetahui dua media di Amerika Serikat mulai mengadopsi teknologi dalam proses penyusunan berita mereka dengan lebih inovatif. Los Angeles Times dan Associated Press dikabarkan telah menerapkan robo-journalism dalam proses produksi artikel berita mereka.

Sejak Maret 2014 media Los Angeles Times, yang menjadi pers lokal bagi kota Los Angeles yang dikenal sebagai kota yang kerap digoyang gempa bumi, menghadirkan inovasi berupa Quakebot, sebuah software karya Ken Schwencke yang selain bekerja sebagai jurnalis juga adalah seorang programmer andal. Konon hanya diperlukan waktu 3 menit untuk menyusun sebuah artikel berita gempa, yang relatif lengkap dan memenuhi syarat jurnalistik 5W (who, why, what, where, when) dan 1H (how).

Sementara itu, Associated Press sejak bulan Agustus 2014 telah menggunakan software penulis berita Wordsmith buatan startup Automated Insights yang bertugas merangkum berbagai laporan finansial korporasi. Dengan Wordsmith, tugas pewarta AP jauh lebih ringan. Bila dikerjakan manual, pastinya akan lebih memakan waktu dan energi. Dalam kasus AP, teknologi diperlukan untuk efisiensi kerja dan penyajian berita.

Bagaimana proses software Wordsmith mengolah berita hingga siap saji? Pertama, data mentah dijaring dari pelanggan, penyedia data pihak ketiga dan repositori publik seperti jejaring sosial. Banyak sekali format data yang bisa dijaring sehingga akurasi dan kelengkapannya relatif tinggi. Selanjutnya, dilakukan telaah data yang terkumpul dengan bantuan matriks canggih pendeteksi tren menarik dan menempatkannya dalam konteks sejarah. Kemudian data akan diidentifikasi dan dibandingkan dengan data lain yang sudah ada sebelumnya. Tahap berikutnya yaitu penyusunan struktur dan format laporan. Di sini, algoritma akan menyusun kalimat-kalimat untuk menghasilkan jenis format berita yang dikehendaki, misalnya narasi panjang, artikel pendek, visualisasi, tweet, berita dan sebagainya. Akhirnya, laporan tadi siap dipublikasikan secara real time via API, Twitter, email, laman web dan perangkat digital. Tugas editor hanya memberikan polesan akhir agar artikel tampak natural saat dibaca.

Kalau begitu mudah membuat berita sekarang, apakah para jurnalis tidak lagi dibutuhkan di masa datang? Editor pelaksana berita bisnis Associated Press Lou Ferrara tidak sepakat. Ia beropini bahwa robo-journalists ini justru memberikan banyak jurnalis manusia untuk melepaskan beban pemberitaaan yang simpel untuk lebih berfokus pada penyusunan berita-berita yang lebih mendalam. Argumen Ferrara menurut hemat saya memang cukup beralasan. Alih-alih membuat jurnalis kehilangan pekerjaan, inovasi robo-journalists justru harus dianggap sebagai pembebas dari rutinitas menulis berita yang membosankan dan itu-itu saja. Jurnalis tampaknya memang makin didesak untuk bisa berpikir dan menulis dengan sudut pandang yang khas dan pembahasan yang lebih analitis karena inilah yang tidak bisa dilakukan robot-robot itu!
Mengamini pernyataan Ferrara, Ken Schwencke dari LA Times juga menandaskan bahwa robo-journalists hanya melengkapi keberadaan human-journalists. Justru inovasi ini akan “membuat pekerjaan semua orang lebih menarik”, ujarnya.

CEO Automated Insights Robbie Allen juga memberikan pernyataan serupa, bahwa software buatannya bukan dirancang sebagai pengganti jurnalis manusia. Allen menambahkan kelebihan robo-journalists hanya ada pada ketepatan dan kecepatan pengolahan data. Sementara gaya bahasa, gaya penulisan dan sebagainya cuma bisa dihasilkan oleh human-journalists. Tugas robo-journalists jelas hanya menyajikan data agar lebih cepat dan layak baca. Titik.

Karena itu, jika Anda seorang pewarta yang setiap hari hanya bekerja untuk menyalin tempel artikel berita atau cuma menyadur tanpa membubuhkan kepribadian Anda di dalamnya, rasanya Anda harus siap-siap ditelan persaingan oleh robo-journalists ini.

Saya teringat dengan kata-kata jurnalis teknologi AS Kara Swisher, bahwa banyak jurnalis menyajikan berita dengan cara yang membosankan pembaca. Besar kemungkinan kemunculan robo-journalists akan memberangus jurnalis-jurnalis semacam ini, karena seberapapun cepat otak mereka bekerja dan jari jemari mereka mengetik, tetap saja tak akan bisa mengalahkan software-software seperti Wordsmith atau Quakebot. Maksudnya membosankan mungkin adalah penyajian yang mengikuti pola atau template tertentu, yang terus menerus berulang dan tak berubah. Alur cerita dalam berita juga relatif mudah ditebak. “Setelah itu, pasti membahas ini, ah basi,” begitu gumam pembaca. Tidak heran mereka juga bekerja seperti robot! Pastilah penyajiannya lebih kaku.

Dan satu poin yang menjadi perhatian bagi mereka yang mengaku jurnalis – bila mereka tak ingin tersingkir – adalah perhatian yang harusnya makin besar untuk membangun pemikiran sendiri dan tidak segan untuk menunjukkan kepribadiannya. Elemen kepribadian ini menjadi sorotan terutama jika Anda bekerja sebagai jurnalis online atau blogger. Tanpa kepribadian yang unik, karya-karya Anda akan kurang menarik minat pembaca. Bahkan jika kepribadian itu sangat sarkastis, atau emosional sekalipun, jangan ragu untuk menampilkannya dalam tulisan Anda. Karena kepribadian inilah yang sampai kiamat pun tidak akan bisa dimiliki oleh robo-journalists yang secanggih apapun. Contohnya, kata Swisher, adalah para jurnalis cum blogger teknologi di TechCrunch.com pasca keluarnya Michael Arrington, Sarah Lacy cs. Meski blogger-blogger TechCrunch itu kerap diremehkan dengan alasan memiliki bias atau sikap kurang objektif serta kurang piawai menggunakan prinsip jurnalisme dalam penulisan konten mereka, toh orang-orang itu sanggup menunjukkan kepribadian mereka yang menarik via jejaring sosial dan konten-konten yang mereka tampilkan. Tentu saja kata “menarik” di sini bersifat nisbi. Namun, yang patut digarisbawahi adalah bahwa kepribadian mereka menjadi salah satu faktor daya jual atau selling point yang turut mengungkit pamor konten berita yang disusun.

Jadi apakah masih ingin menjadi wartawan biasa-biasa saja? Itu terserah Anda. Namun alangkah baiknya bila mau berubah sebelum binasa.

Kantor Transisi yang Sunyi hingga Celoteh Wartawati Jilboobs

IMG_3507.JPG
Alhamdulillah semua kisruh Mahkamah Konstitusi itu berlalu. Sekarang Indonesia ibarat membuka lembaran baru. Season baru, begitu istilahnya kalau kita merujuk ke dunia sinetron atau serial televisi semacam Tersanjung atau Grey’s Anatomy. Kali ini tokoh antagonisnya sudah tenggelam, tetapi mungkin disimpan sutradara untuk ditampilkan secara mengejutkan di episode atau musim selanjutnya, sejenis Georgina Sparks yang jalang lalu bertobat di Gossip Girl. Tarik ulur yang menyenangkan, bak bermain layang-layang. Seru!

Kenapa saya bandingkan politik Indonesia dengan semua serial ini? Karena keduanya sama persis. Semuanya telah diatur di belakang layar. Skenario berjalan dan para aktor menjalaninya. Peran bisa berubah, watak juga demikian. Semua bisa berubah jika sutradara dan penulis naskah atau skenario berkehendak.

Jadi intinya sepanjang pagi tadi saya di sini, hanya untuk mengintai para pemimpin negeri, yang barangkali muncul tanpa peringatan kemari. Dan untuk itu kami – para jurnalis malang ini – bersiaga di depannya.

Saya sudah sampai pagi pukul 10.30, dan disambut hening. Saya pikir saya akan disuguhi keriuhan massa di sana tetapi saya salah besar. Memang dari jauh sudah terlihat mobil-mobil Metro TV dan TV One serta Kompas TV di dekatnya tetapi begitu saya mendekati, senyap. Seorang polisi tua berkumis tebal mengoceh dengan rekannya di perangkat HT miliknya. Ada juga segelintir pewarta TV hilir mudik resah memandang ke dalam melalui pintu teralis bercat putih itu. Tak ada siapapun di dalam kecuali dua orang anak muda dengan bingkai kacamata kontemporer yang bergaya dan celana pas kaki serta sneakers. Entah siapa mereka itu. Waktu solat Jumat mendekat dan saya harus pergi dari sana. Untungnya di Taman Menteng ada jamaah solat Jumat jadi tidak perlu jauh ke Masjid Sunda Kelapa.

Setengah dua siang menjelang sore, saya selesai bersantap siang kemudian berjalan kaki di rimbunnya pepohonan Taman Kodok di dekat jl. Situbondo, Menteng. Sampai di kantor transisi itu lagi, dan tak menemui kerumunan apapun jua.

Namun terlihat sekelompok pewarta di pojok dalam sana. Di halaman rumah yang sempit itu. Seorang petugas Paspampres menyuruh saya menuliskan nama dan paraf di buku besar berjudul “Wartawan”. Saya masuk dan duduk. Suasananya beku, membosankan. Semua orang itu asyik dengan gawai mereka sendiri. Dua orang di meja tengah itu tampak asyik dengan jari jemari mereka. Satu pria berambut sebahu dan satu wanita ber-jilboobs. Maksud jilboobs, kalau Anda belum paham, adalah jilbab yang masih belum syar’i karena terlalu pas di dada dan bercelana ketat.

Semua membosankan. Hingga tiba-tiba wartawati jilboobs dari stasiun televisi kenamaan itu mengawali celotehnya. Cerita-cerita yang cukup menghibur. Saya ikut mendengarkan sembari tetap mengetik, berpura-pura sibuk padahal mengantuk.

On James Foley Being a Real Journalism Martyr and Me Being a Churnalist

“Why do firemen go back into a blazing home? It was his job,” John Foley answered, according to CNN.com. Such an awesomely inspirational jerk! He made me feel so lame, sloppy and mediocre in doing my job.

We both are so different. Our super dedicated war journalist was so so so willing to risk his own life to cover conflicts that may in turn take his life in an unexpected fashion. While I am here, willing to be stuck in the job of churnalism, a form of journalism which sucks in a major way. A major way, I highlight. I need to create 15 or even more pieces of writing a single day due to pressure of improving Alexa rank and hits. It’s all about quantity. Screw reasearch! Screw checking! Screw reporting on the field! Screw interviewing. All I need to do is open my laptop, get on my social media feeds to scour the interesting sources to paraphrase and pick some uncopyrighted photos to publish with the listicles or mini articles and there I go. Click the publish button and done! No editing, no fact checking. It’s all about speed, quantity, return of investment. Period.

A huge, accumulative disappointment…

So when I get down to the field on Fridays, I take the chance to act like a real journalist. I talk with people, I record their voices (though at times I was lost in conversation), I ask questions which later on I assume to be foolishly unnecessary because the answers are so obvious. It feels great to create things with my own hands, efforts. I’m not paraphrasing and I meet with real people.

(image credit: news.yahoo.com)

Kara Swisher: Journalists Need to Be More Entrepreneurial, Too!

Kara Swisher, one of the best tech journalists ever lived (Image credit: Wikimedia.org)

So Kara Swisher urges journalists to be more entrepreneurial. She said so during her interview with Jason Calacanis as a response to a question from one of the people in the audience whether there is still more room for aspiring professional journalists out there trying to make a living and a lifelong career. She even got more convinced that there is more demand for high quality professional journalists. As she put it, it would “double.”

With a catch, that is to say that we journos have got to be “more entrepreneurial and creative,” she added. And I have to say she has got the point! Journalists are a bunch of people who are so familiar with risk taking and therefore could be great entrepreneurs.

Swisher also raised a question:”Does anyone have to be entrepreneurial now?” She thought so. Journalists to some extent have to be using their creativity and entrepreneurial spirit in some way to make their own living and to create more jobs for other people. To add, Swisher strongly believed that any successful people in the future has to have that streak of entrepreneurship in their mind.

“Journalists just have to be entrepreneurial like the rest of the world. […] They kind of do. You can do it in all the job. You just cannot go to an office now and sit there and do the same thing. Successful people in the future have an element of entrepreneurship no matter what they are in.”- Kara Swisher

Swisher, who is an American technology columnist for the Wall Street Journal, a co-founder of Re/Code  and commentator on the Internet, emphasized later on that to survive on the web, one needs to be either delightful and useful. It applies to apps and services like Twitter (which she claimed a lit bit of both), Instagram (delightful). Journalism, in order to thrive more in the future, has to be simultaneousy delightful and useful. Too many journalists are only pouring out too much information in a boring way. “You need to make information interesting!” Swisher almost screamed.

How to make our pieces more interesting?

She implied: write with interests, with analyses, with researches.

Belajar Jurnalistik dari SpongeBob

‎Dibandingkan serial kartun Barat lainnya, saya suka SpongeBob Squarepants, makhluk rekaan berwarna kuning yang bentuknya mirip spon cuci piring kita. Serial The Simpsons sebenarnya juga menarik dan guyonan serta satirnya sangat menohok dan cerdas. Pada kenyataannya, bagi saya The Simpsons dan SpongeBob sama menariknya karena buktinya diputar berulang kali pun kita tak akan bosan (bahkan Doraemon pun kalah).Jalan ceritanya lumayan menarik dan leluconnya segar, bisa dinikmati semua usia. Dan yang penting bagi audiens mainstream Indonesia, SpongeBob tidak terlalu blak-blakan mendukung LGBT seperti The Simpsons yang dalam satu film layar lebarnya pernah menggambarkan dua orang polisi pria yang tengah mengendap-endap. Seolah mereka hendak menangkap seseorang di kamar hotel, tak tahunya saat lampu patroli meredup, mereka malah berciuman dan masuk ke kamar itu. Mengena sekali bukan? Saya sampai tak sempat bereaksi dan cuma menganga karena begitu terpukau.

IMG_2521.PNG

Becermin dari Krabby Kronicle

Dari ratusan episode Spongebob Squarepants yang saya saksikan sejak pertengahan 2000-an, saya paling suka dengan “Krabby Kronicle” (musim keenam) yang ditayangkan perdana 8 Agustus 2008. Alasannya sederhana saja:karena episode ini berkisah tentang jurnalistik atau journalism!‎ Bagi Anda yang belum pernah menonton, begini kisahnya secara ringkas‎.

Mr. Krabs yang terkenal pelit itu ingin mendapat pelanggan baru dan beriklan di surat kabar lokal “Bikini Bottom Examinor” yang dari namanya saja sudah berkonotasi serius dan investigatif. Pembaca kebanyakan tidak begitu menyukai‎nya. Oplah Bikini Bottom Examiner kalah dari oplah The Bottomfeeder, yang dari namanya saja sudah memberikan tema jurnalisme bombatis dengan berbagai berita, yang menurut kalangan awam, “menarik”. Mr. Krabs yang selalu jeli dengan peluang bisnis yang bisa menjadi tambang uang itu kemudian terinspirasi oleh The Bottomfeeder yang bisa meraup uang dari basis pembaca yang luas meski hanya menyebarluaskan berita yang kurang benar dan berlebihan. Krabs menganggap dunia jurnalisme sebagai sumber pundi-pundi uangnya setelah bisnis restoran yang mulai stagnan. Dan Krabs yang rakus kekayaan itu pun nekat mendirikan bisnis korannya yang pertama:Krabby Kronicle. Lalu siapa karyawannya? Bukan Krabs namanya kalau ia tak bisa memeras tenaga 2 karyawannya yang setia. SpongeBob dan Squidward Tentacle diangkat menjadi reporter-reporternya sembari tetap menjalankan pekerjaan mereka di Krusty Krab yang mulai sepi pengunjung (karena itulah Krabs mengiklankan restorannya di koran). Protagonis kita SpongeBob pun dibekali kamera agar bisa turun ke lapangan dan memotret kejadian-kejadian menarik sebagai bahan berita. Karena terlatih sebagai koki, naluri pencarian berita SpongeBob belum terasah dan ia cuma memberitakan hal-hal yang kurang menarik padahal ada begitu banyak kejadian yang lebih layak diberitakan. Alih-alih ‎memberitakan perampokan bank, ia malah menceritakan Patrick yang sedang memandangi sebuah tiang di jalan. Membaca berita tadi, Mr. Krabs sebagai pemilik modal sekaligus pimpinan redaksi Krabby Kronicle marah besar. Pada reporter barunya, ia mewajibkan penggunaan imajinasi sebagai ‘bumbu’. “When you write these stories, you’ve gotta use a little imagination, boy,”ucap kepiting tua mata duitan itu. Mr. Krabs mengubah berita Patrick menjadi “seorang warga menikahi tiang” agar lebih menarik pembaca. SpongeBob ragu bahwa yang dilakukannya itu etis karena tidak jujur, yang melanggar etika jurnalisme. Mr. Krabs berkelit,”Think of it as…uh… a practical joke.” SpongeBob menelan mentah-mentah nasihat Mr. Krabs. Di hari berikutnya, SpongeBob meliput orang-orang di sekitarnya lalu memberitakannya di Krabby Kronicle dengan menggunakan pemutarbalikan fakta agar terkesan lucu, menarik dan sensasional, yang pada akhirnya menaikkan oplah dan jumlah pembeli. Mr. Krabs tak peduli bahwa berita-berita yang termuat di surat kabarnya menyebar kebohongan dan masa bodoh dengan konsekuensi pemberitaan yang bernuansa fitnah itu pada tiap individu yang diberitakan. Larry dipecat setelah ia diberitakan oleh Krabby Kronicle bahwa ia dipukuli habis-habisan oleh Pipsqueak yang berbadan kecil dan lemah. Reputasinya sebagai lobster perkasa jatuh dan manajer gym tempatnya bekerja merumahkannya karena takut reputasi Larry mencemari nama baik gym miliknya. SpongeBob merasa bersalah tetapi Mr. Krabs yang sedang terbuai keuntungan dari penjualan Krabbby Kronicle yang menanjak itu malah mengabaikannya. Ia hanya peduli keuntungannya sebagai pebisnis dan pemodal. SpongeBob ingin menulis berita tanpa harus mencederai nama baik orang dan atasannya tak mengizinkannya. Profit menjadi prioritas utama dan pertama. Plankton menjadi korban berikutnya. Bisnis restorannya Chum Bucket ditutup pihak berwenang karena diberitakan di Krabby Kronicle telah mendapatkan bahan baku yang tidak higienis. SpongeBob tetap bekerja dan menulis berita fitnah meski nuraninya tersiksa. Sandy sang tupai diberitakannya sebagai makhluk dengan IQ jongkok sehingga sejumlah ilmuwan datang untuk mencabut semua penghargaan sains yang Sandy terima. Krabby Kronicle makin sukses, oplahnya kini 5 juta eksemplar. Tetapi SpongeBob makin sedih dan tersiksa karena menyaksikan hidup banyak temannya hancur karena pemberitaan Krabby Kronicle yang bernada fitnah.

Hingga suatu saat, tibalah SpongeBob pada suatu titik saat ia merasa tidak ada bahan pemberitaan lagi. Semua penghuni di Bikini Bottom sudah ia liput dan hancurkan hidupnya. Mr. Krabs menantang SpongeBob untuk menelurkan berita yang paling spektakuler. Esoknya, benar saja. SpongeBob menuliskan berita yang paling menggemparkan di Bikini Bottom dengan mengabarkan secara detil ekspolitasi tenaga kerja yang berlangsung di bisnis restoran dan surat kabar Mr. Krab. Spongebob menuliskan di halaman depan Krabby Kronicle:”Krabs overworks employees, reaps reward. Krabby Kronicle mastermind behind bogus stories pays his tired, under-age reporter pennies while he rakes in the dough.” Kerumunan massa pembaca yang marah mendatangi Krusty Krab dan meminta kebenaran dari Mr. Krabs. Mereka nekat mengambil semua keuntungan penjualan Krabby Kronicle untuk dibagikan kembali untuk semua orang yang sudah merasa dirugikan oleh pemberitaan surat kabar tersebut. Dasar Krabs tak mau rugi, mesin cetak koran yang sudah terbengkalai karena bisnis korannya ambruk pun jadi ia gunakan untuk mencetak uang saja.

‎Untuk ukuran sebuah episode serial kartun yang dipasarkan untuk pemirsa anak, kisah Krabby Kronicle itu sungguh menohok dalam pengamatan saya. Isu-isu yang disorot memang bukan hal yang baru di dunia pers nasional dan global tetapi toh sampai saat ini masih sangat relevan dan aktual. Apalagi kalau kita kaitkan dengan kondisi pers dalam negeri pra, selama dan pasca Pilpres yang teramat hiruk pikuk, penuh dinamika dan kejutan-kejutan. Sejujurnya, kondisinya sangat memprihatinkan karena berbagai pelanggaran prinsip jurnalisme kategori berat dan fatal sudah kita saksikan dalam skala yang luar biasa kolosal dan berulang-ulang.

Pewarta ‎yang ‘Salah Asuh’

Kita patut maklumi bahwa era kebebasan pers sejak masa Gus Dur memberikan implikasi tersendiri. Semua orang tiba-tiba bisa mendirikan bisnis media dan pers sendiri. Semua orang bisa menerbitkan apapun, baik cetak hingga digital lalu mendistribusikannya. Faktor pendorong utama ialah tujuan ekonomi, sehingga motivasi ekonomi sangat menonjol dibandingkan idealisme dan prinsip jurnalisme. Akibatnya, prinsip-prinsip jurnalisme terlanggar setiap saat oleh banyak pelaku pers sendiri, karena acuannya adalah PROFIT semata. Pemodal lebih kuat daripada para jurnalis bahkan dalam struktur internal perusahaan mereka sendiri.

‎Satu prinsip jurnalisme yang kita lihat paling sering dilanggar selama ini ialah kewajiban berpihak pada kebenaran. Ini adalah prinsip pertama jurnalisme sebagaimana disimpulkan oleh Comittee of Concerned Journalist. Sebagaimana dilakukan oleh SpongeBoob dan sejumlah pewarta di negeri ini, fakta sering dimanipulasi, konteks juga kerap diubah sedemikian rupa sehingga pewarta dan medianya tak bisa lagi dipercaya sepenuhnya. Banyak orang dan entitas pers memilih memihak salah satu calon presiden padahal seharusnya mereka mengutamakan keberpihakan pada kebenaran. Lain dari prinsip jurnalisme abal-abal ala Krabby Kronicle, kebenaran jurnalistik harus disertai disiplin profesional dalam mengumpulkan dan verifikasi data. Wartawan hanya bertugas membeberkan peristiwa secara deskriptif, bukan persuasif apalagi agitatif dan provokatif. Apalagi imajinatif, seperti yang disarankan Mr. Krabs pada SpongeBob yang naif.

‎Karena itu, wartawan-wartawan baru kita perlu diasuh oleh sosok-sosok jurnalis yang kompeten dan berdedikasi dala‎m bidangnya. Bukannya ditatar dan diberi wejangan oleh para pemilik modal, atau jurnalis yang senior tetapi hanya menjadi corong instruksi pemilik modal.

Konflik antara pemilik modal dan ruang redaksi (newsroom) sudah sering dijumpai. Menurut Abdullah Alamudi (mantan wartawan Bisnis Indonesia dan The Jakarta Post), haruslah ada otonomi bagi newsroom untuk mengambil keputusan, yang membuatnya tidak bisa diganggu gugat oleh pihak pemodal demi menjaga idealisme jurnalismenya.

Jadi, jangan kita biarkan reporter-reporter ‘hijau’ seperti SpongeBob yang masih berhati nurani begitu saja disetir oleh pemilik modal nan rakus seperti Mr. Krabs‎! Karena di tangan para jurnalis inilah, nasib pers kita sebagai tiang penyangga demokrasi dan nasib bangsa dipertaruhkan.

Writers' Moral Responsibility

‎”The first job of a writer is to be HONEST.”- Irvine Welsh

I typed the word “honest” in capital letters as I cannot tell you how much I find this quote inspiring to me. ‎This quote at its best teaches us writers in general (whether they be bloggers, published authors, print journalists, online journalists, novelists, short story writers, or even mere Facebook updates’ creators) that nothing can substitute integrity and honesty.

But for some reason I cannot fathom why some writers plunge themselves into this kind of abyss named politics a little bit too far.‎ Take Indonesian moslem writer Jonru Ginting as an example. The self-proclaimed writer, entrepreneur, and internet marketer (as he himself stated on jonru.net). He is allegedly to be the culprit behind the photo showing Jokowi as a priest at a church giving sermons according to islamtoleran.com (another site with unknown track records). The photo was found to be photoshopped and thus fake. Jonru (@jonru) himself denied the accusation via Twitter and Facebook. But long before that, when Egypt crisis broke last year, he was reportedly releasing a hoax to change the perception of those who did not believe in the sincerety of Ikhwanul Muslimin movement (source: badaruzz on www.kaskus.co.id, 14/07/2014). He was said to have used a photo of a smiling corpse, with the intention of convincing readers that Ikhwanul Muslimin casualties were died heroes. But the photo was found to be sourced from the web. The photo was allegedly taken from Malaysia, where the woman was only mimicking and acting as a corpse during a simulation of taking care of dead body before the burial based on Islamic regulations.

I am not going too comprehensive about who is wrong or right in this politically sensitive case but it may also be due to the implications of his involvement as a cadre of Partai Keadilan Sejahtera (PKS) , who openly criticizes and frequently attacks Jokowi on his Twitter account and Facebook fanpage (https://www.facebook.com/jonru.page).

And that being said, I am not either about to judge him for being a politically biased writer ‎because that is his own preference entirely. Yet, what I want to highlight is how perilous it may get when you involved in affairs such as politics as you may lose your integrity and neutrality as a writer. Because as far as I can see, those two things are the most invaluable and intangible assets for writers of all kinds. You can tell lies in fictional works as much as you want but never ever spread lies in your reports, non-fictional works since it may put your credibility at stake.

Because I believe there is NO fine line between liers and truth tellers in writing. Either you tell a complete lie that still makes sense of course in some way (i.e. fictional authors) or tell the “truth” ‎as far as you possibly can do (i.e. reporters). Certainly, subjectivity may intrude in between but can subjectivity or bias leads a writer to lies or even worse libels, or defamation? Have your say.

Jurnalisme 'Positif' vs Jurnalisme Investigatif

‎Sekitar setahun yang lalu, saya berkesempatan menghadiri sebuah seminar yang digelar IFC (International Finance Corporation) dan sempat ada pertentangan antara para jurnalis yang ada di dalamnya. Salah satunya ialah karena satu orang pembicara di depan mengatakan pihaknya hanya akan mendukung publikasi berita yang “positif”, sementara untuk publikasi berita yang bersifat investigatif, mereka tidak akan mempublikasikannya. “Kami ingin menyebarkan kabar baik, bukan kabar buruk,”begitu katanya pada kami yang hadir.

Opininya itu disanggah oleh seorang jurnalis lainnya yang menganggap hal semacam itu sebagai penyia-nyiaan hak pers media yang bisa mengabarkan hal-hal yang tak kalah penting daripada berita-berita manis dan normal belaka. ‎Sangat disayangkan kalau wartawan hanya mengangkat hal-hal yang diinginkan tetapi enggan membeberkan hal lain yang kurang mengenakkan tetapi patut diketahui orang, demikian kurang lebih si jurnalis membantah.

Hal yang sama juga terjadi di negeri Paman Sam lho! Kalau Anda pikir kondisi semacam ini cuma ditemui di tanah air, Anda salah besar. Beberapa hari lalu, saya membaca sebuah artikel yang ditulis Paul Carr di blog teknologi dan startup Pando.com yang berisi pergulatan serupa. Dalam sebuah diskusi panel yang melibatkan dua jurnalis perempuan terkemuka di dunia teknologi dan startup, terjadi sebuah pembeberan publik yang bisa dikatakan cukup sadis. Alexia Tsotsis (editor blog Tech Crunch) dan Kara Swisher (pendiri blog Re/Code) masing-masing menunjukkan perbedaan sikap dalam meliput dan bekerja sebagai jurnalis. Tsotsis terkesan lebih lunak, lebih jinak dan mencerminkan kebijakan umum Tech Crunch yang menjilat penguasa, dengan memberitakan hal-hal yang menyenangkan. “Kami hanya penggembira,”begitu kata Tsotsis. Lebih lanjut Tsotsis berkata betapa ia terus berdoa agar dalam kotak masuk surelnya tidak dimasuki bocoran informasi dari pihak-pihak kontra pemerintahan Obama seperti informasi dari Edward Snowden yang amat kontroversial itu. Ia bahkan mengatakan menolak untuk mengangkat informasi seperti itu dalam blog yang dikelolanya.

Lain dengan Kara Swisher yang telah dikenal dengan reputasi jurnalismenya yang telah teruji dan tak peduli dengan pihak yang berisiko dibuat berang dengan pemberitaan yang ia turunkan, yang menolak untuk menulis hanya untuk menjilat satu pihak saja. Carr pun memuji:”Setidaknya Swisher adalah jurnalis yang hebat. Re/Code juga situs berita yang bagus.” Swisher menegaskan dirinya tidak pernah menolak bocoran informasi seperti milik Edward Snowden dan seolah “memaksa” Tsotsis untuk mengakui keunggulan jurnalisme dan integritas editorial Red/Code. Tsotsis pun menyatakan dengan jujur,”Karena itulah kau lebih baik dari kami.” ‎
Berikut kutipannya:

“”I never say that,” Swisher said.

“That’s why you’re better than us,” Tsotsis said sweetly.”

Carr yang menganut idealisme dalam bekerja ini mengatakan betapa memalukannya pengakuan Tsotsis sebagai editor sebuah organisasi media besar seperti Tech Crunch itu. Bagaimana bisa ia mengakui bahwa organisasinya tunduk di bawah kekuasaan lain?

Yang tak kalah menyedihkan: Inilah fakta yang juga merundung banyak organisasi berita di Indonesia dari jaman baheula sampai SBY berkuasa.

20140718-184304-67384137.jpg