Anomali Bernama Baduy (7)

(Credit: Cecep)
Di rumah keluarga inilah saya menginap dan mereka selalu mendahulukan kami waktu makan. Begitu kami selesai makan, baru mereka makan. Jadi, siapa bisa tega untuk menambah lagi?(Credit: Cecep)

Malam saat kami beranjak tidur memang tidak begitu dingin. Namun, begitu lepas tengah malam hingga dini hari dan subuh, hawa dingin merasuk melalui lubang-lubang di dinding rumah Baduy yang terbuat dari anyaman bambu. (B)untung bagi saya, di atas saya, sebuah lubang di dinding bambu menganga cukup lebar. Jaket bisa membendung hawa dingin pegunungan ini dari pinggang ke atas tetapi kaki saya resah bergerak ke sana kemarin mencari kehangatan karena cuma berbalut celana pendek dan sarung yang terlampau tipis.

Pukul setengah lima, saya biasa terbangun tetapi di sini, saya memutuskan bangun lebih lambat. Faktor suhu salah satu alasannya. Yang lain ialah perkara cahaya. Sepagi itu, rasanya masih riskan untuk keluar sendirian. Semua orang masih mendengkur dan berbaring meringkuk di tikar jerami anyaman wanita-wanita Baduy. Saya tidak tahu apa yang ada di luar sana karena bahkan di dalam rumah, kondisinya pekat seluruhnya. Pembaringan saya di pojok ruangan membuat saya harus berjuang melompati banyak orang jika ingin bangun lebih pagi.

Kepala yang masih setengah mengantuk ini kemudian tak jadi tidur nyenyak lagi sebab tak berselang lama, seorang bayi menangis, meraung-raung dan seorang ibu menenangkannya dengan bicara lirih-lirih. Suara mereka begitu jelas jadi saya duga mereka ada di rumah sebelah. Rupanya ini alarm dari Yang Kuasa, pikir saya. Tetapi saya tetap tidak bisa bangun, hanya terpaku dan memejamkan mata menikmati kesadaran di sini, di lantai bambu sebuah rumah yang hanya dialasi tikar dan dikelilingi anyaman bambu dan dilingkupi atap ijuk. Saya menunggu ada orang di rumah ini yang terbangun. Tetapi semenit, dua menit, kemudian tak tahu berapa lama, karena putus asa, saya tertidur juga kembali begitu bayi itu tenang kembali.

Kami mengawali hari dengan yoga sekitar pukul 7 pagi. Dan sarapan pagi nasi goreng dengan telur dadar langsung meredam rasa lapar ini. Beberapa suap terakhir masih tersisa di piring saya hingga jaro atau kepala kampung adat di Cibeo menyambangi kami. Ia tampak sebagaimana pria Baduy Dalam biasa. Pakaiannya mirip dengan yang lain sehingga jika saya bertemu dengannya lagi kapan-kapan, saya pasti tidak bisa mengenalinya lagi dalam sekumpulan pria Baduy.

Bersamanya, kami duduk di beranda kembali. Saya buru-buru mencuci tangan lalu mengambil buku catatan saya dan merangkum percakapan kami. Dengan sabar, jaro menjawab pertanyaan-pertanyaan kami yang  kritis, iseng, dan kadang ‘gila’. Untuk tiap topik, saya berikan subjudul tersendiri di bawah ini.

__***__

FAUNA. Sesaat setelah lolos dari ujian terberat Tanjakan Cinta siang itu, pemandu kami Teguh berceletuk,”Di atas tidak akan ada hewan berkaki empat.” Yang ia maksud “di atas” tentu wilayah suku Baduy Dalam.

Tidak pernah terpikir oleh saya mengapa ada kondisi ganjil semacam itu. Apakah memang tidak ada hewan berkaki empat yang sanggup mendaki sampai sejauh kami? Hipotesis itu tentu kurang bisa diterima akal sehat karena binatang-binatang itu dapat dengan lebih mudah menjelajah alam bebas seperti bukit-bukit ini jika mau daripada manusia yang lebih banyak pertimbangannya. Dan apa yang Teguh maksud dengan binatang berkaki empat? Ia menjelaskan hewan yang dimaksud ialah sapi, kambing, kerbau dan hewan-hewan ternak sejenisnya.

Betul juga. Begitu kami memasuki perkampungan Suku Baduy Dalam di Cibeo, tidak saya jumpai seekor pun hewan-hewan ternak berkaki empat. Hanya saja, ayam-ayam berkeliaran bebas di sana-sini.

Jaro atau lurah kampung Baduy Dalam yang kami kunjungi ini membeberkan jawabannya pada kami. Dalam sebuah kesempatan, sang jaro ini bersedia duduk bersama kami untuk beraudiensi, layaknya seorang walikota atau gubernur yang menyambut tamu-tamu kehormatan dari negeri asing. Usai makan pagi nasi goreng yang berhias telur dadar yang dibuat oleh ibu pemilik rumah yang kami inapi satu malam, pria yang sudah menjabat sebagai jaro selama 25 tahun terakhir ini duduk di beranda rumah yang terbuat dari bambu dan dengan sabar menanggapi semua pertanyaan dan masukan dari para pendatang.

Dalam balutan pakaian khas berupa kemeja lengan panjang yang putih agak kecokelatan akibat waktu, jaro kampung Cibeo ini mengatakan bahwa hewan-hewan pemamah biak yang disebutkan tadi berpotensi menjadi hama pengganggu bagi tanaman padi yang sudah susah payah mereka tanam. Kucing menjadi satu pengecualian. Pertama karena ia bukan hewan pemamah biak yang gemar melahap rerumputan termasuk padi-padian. Kedua ialah karena kucing dianggap suku Baduy Dalam sebagai satwa domestik yang bermanfaat untuk mengusir tikus dari rumah. Saya sendiri belum sempat menemukan seekor tikus pun di sekitar permukiman ini. Entah karena saya beruntung atau bagaimana. Tetapi itu juga menjadi sebuah kelegaan, karena jika tikus jarang ditemui di sekitar perkampungan, ular pun akan lebih jarang, karena jika kita masih ingat pelajaran rantai makanan dalam pelajaran biologi, tikus adalah makanan ular. Jadi, adanya kucing secara alami mengendalikan – kalau tidak bisa dikatakan memusnahkan – secara tidak langsung populasi ular di sekitar perkampungan. Saya sendiri tidak bisa membayangkan jika saat mandi di sungai ada ular yang tiba-tiba berenang menuju ke arah saya. Untuk perkara mandi di sungai, akan saya bahas tersendiri juga nanti.

Pertanyaan tidak terhenti di situ. Bagaimana dengan anjing? Anjing memang kami sempat temukan di wilayah kampung Baduy Luar meskipun jumlahnya juga tidak sebanyak yang kita bisa temukan di Bali. Tetapi anjing-anjing itu berkeliaran bebas. Tidak dikungkung atau diikat oleh pemiliknya sebagaimana yang dilakukan orang di perkotaan Jawa. Di sini, saya duga karena suku Baduy tidak memeluk Islam, mereka lebih liberal dalam menyikapi kehadiran anjing di sekitarnya.

Jaro kami ini juga mengamini bahwa orang Baduy tidak menyingkirkan anjing dalam kampung mereka. Justru anjing diperlukan karena bisa memberitahukan pada mereka bahwa ada manusia atau hewan yang tidak mereka kenal atau berniat buruk yang masuk ke wilayah rumah sang majikan. Aspek keamanan ini begitu penting sebab manusia Baduy tinggal di tengah hutan, tempat banyak potensi bahaya juga tersembunyi.

Ayam menjadi ternak kesukaan orang Baduy Dalam sebab hewan ini tidak peduli dengan tanaman padi yang menjadi sumber pangan utama. Mungkin ayam suka dengan beras, tetapi saat masih dalam bentuk padi, kecil kemungkinan ayam ingin mematukinya untuk memenuhi tembolok.

Karena itu, dalam berbagai kesempatan seperti hajatan, kematian, dan peristiwa penting lainnya dalam kehidupan manusia Baduy, daging ayam potong segar yang dipelihara secara organik (karena suku Baduy sama sekali tidak memakai pupuk buatan kimiawi buatan pabrik di sawah mereka) menjadi hidangan andalan. Jumlah ayam yang dipotong untuk perhelatan besar semacam itu bisa mencapai 500 ekor.

Uniknya, di kampung Baduy ini, ayam-ayam yang ada dibiarkan berkeliaran bebas. Memang ada yang dikandangkan tetapi lebih banyak yang tidak. Ayam-ayam itu kata sang jaro sudah diketahui siapa pemiliknya. Tanpa harus memberi label atau tanda pada bulu di sayapnya. (bersambung)

Anomali Bernama Baduy (4)

Di tepian sungai inilah kami beryoga bersama setelah menyelesaikan leg pertama trekking yang ternyata masih panjang. (Credit: Machfud Achyar)
Di tepian sungai inilah kami beryoga bersama setelah menyelesaikan leg pertama trekking yang ternyata masih panjang. (Credit: Machfud Achyar)

YOGA. Hari pertama pukul 11-12 siang kami melakukan yoga di dekat sungai yang dilintasi sebuah jembatan bambu yang didirikan dengan rancangan yang tiada duanya. Jembatan bambu Gajeboh ini adalah sekumpulan bambu yang disatukan dengan tekun dan teliti memakai tali ijuk pohon aren. Ia membentang sekitar 20 meter menyatukan dua tepi sungai Ciujung. Konon konstruksi ini dibangun dengan gotong royong warga Baduy Luar.

Tidak ada logam apalagi paku dan baut serta mur untuk saling menggabungkan elemen-elemennya. Hanya elemen-elemen organik dari alam yang ada. Selain bambu, pengikatnya hanya serabut berwarna hitam yang juga dipakai sebagai atap rumah yang dipilin sedemikian rupa sehingga berbentuk tali yang besar dan kokoh. Para pelintas jembatan yang baru pertama kali pastinya merasa miris tetapi saya pikir itu karena kebiasaan mereka yang sudah terbiasa menapak di beton yang diam dan kokoh sehingga saat menyadari bambu yang mereka injak berayun-ayun, mereka panik, seakan tidak percaya dengan kekokohan desain dengan material alami ini. Padahal alam itu dapat diandalkan lebih daripada yang kita kira.

Matras-matras yoga berwarna-warni digelar di salah satu tepi sungai yang disatukan jembatan tersebut. Saya di tengah dengan pandangan menghadap ke aliran sungai yang gemericiknya terdengar lirih tersamar keriuhan suara para wisatawan lokal di akhir pekan seperti sekarang. Keramaian memuncak di hari Sabtu dan Minggu sehingga membuat perkampungan menjadi lebih hingar bingar.

Karena baru saja kami melalui jalur trekking yang begitu menantang, fokus latihan pun saya berikan pada area bahu, leher, punggung, sepanjang tulang belakang dan seluruh daerah pinggul yang mendapatkan tekanan dari beban-beban berupa barang bawaan dan tas-tas berat.

Kami berangkat lagi dari perkampungan Baduy Luar setelah makan siang serta salat zuhur. Pukul 1 siang, kami pun melangkahkan kaki untuk melanjutkan kembali perjalanan yang ternyata masih jauh. Beberapa gambar masih bisa diambil di titik ini karena meskipun kami sudah masuk ke perkampungan Baduy, ini baru wilayah Baduy Luar, yang dikenal lebih terbuka dan lebih moderat dalam menyambut pengunjung luar. Penggunaan alat-alat komunikasi dan elektronik masih diperkenankan. Meski demikian, saya enggan juga menyentuh alat-alat simbol keterhubungan – dan keterikatan – dengan dunia modern. Saya ingin menenggelamkan diri dalam kehidupan mereka tanpa komunikasi virtual dan digital. Setidaknya dalam 2 hari ini. Diet digital ini ampuh untuk mengurangi tingkat ketergantungan manusia modern perkotaan yang kerap cemas dan merasa tidak berdaya tanpa gawai-gawainya. Saya ingin memberikan gawai itu pada porsinya kembali, bahwa mereka tidak bisa menentukan suasana hati saya. Bahwa perangkat-perangkat itu hanyalah kepanjangan dari diri saya, bukan bagian dari diri saya. Jadi, jika saya tidak memakainya, saya masih merasa utuh, tidak merasa ada yang kurang dan perlu untuk dilengkapi.

Beryoga di tepi sungai seperti ini menyuguhkan suatu sensasi berbeda dari beryoga di studio bahkan di taman kota sebagaimana yang saya kerap lakukan di Jakarta. Perbedaan itu begitu subtil, halus, sampai saya kehilangan kemampuan untuk menggambarkannya dengan kata-kata yang tertata. Yang pasti, inilah bedanya beraktivitas di tengah lansekap yang sudah penuh rekayasa dan lansekap yang relatif masih terjaga kemurniannya dari intervensi manusia.

Keesokan paginya latihan yoga bersama kami adakan juga di halaman antarrumah yang sebetulnya tidak seberapa lapang. Permukaan sebidang tanah mungil itu lebih rata dan kering dibandingkan halaman yang lebih luas tetapi permukaannya lebih penuh bebatuan dan basah.

Beryoga di ruang terbuka semacam ini memang memerlukan konsentrasi ekstra agar pikiran bisa lebih terfokus. Begitu banyak potensi distraksi, yang jika dipikir-pikir akan menjadi tantangan tersendiri.

Kelas kami pagi itu mulanya berlangsung khidmat. Kami memulai dengan pikiran yang tenang. Saya sendiri harus menempatkan diri di beranda sebuah rumah yang posisinya lebih tinggi dari sekitarnya, seolah membuat saya memiliki sebuah panggung khusus untuk melakukan demonstrasi yoga. Ian, seorang peserta, saya daulat sebagai peraga juga.

Semua berjalan lancar tanpa kendala…

Hingga sekonyong-konyong entah dari arah mana seekor ayam jantan merangsek masuk ke tengah para peserta yang sedang asyik masyuk melakukan yoga. Belum cukup, seekor ayam jantan lainnya mengikuti temannya (atau lawannya?) lalu bertarung sengit di tengah-tengah halaman, seakan tidak peduli ada sejumlah peserta yang kalang kabut dan panik tidak tertahankan karena ketakutan terkena taji dan patukan.

Menyaksikan insiden itu, saya sempat kebingungan apakah harus tertawa menikmati ini semua atau mengusir dengan keji kedua satwa yang sejatinya tidak tahu apa-apa. Dan sebelum kelas yoga saya kocar-kacir dan bubar sebelum waktunya, untunglah ayam-ayam jantan itu sudah berpindah dari arena persabungan yang tidak sepatutnya. (bersambung)