Berlatih Menulis Gaya Lama

Ada pernyataan bahwa novelis/ penulis fiksi perempuan memiliki ketrampilan menulis novel laris yang lebih baik. Saya pikir ada benarnya juga. Perempuan memiliki kepiawaian alami untuk berbagi cerita. Dan cerita-cerita mereka terasa lebih emosional dan dalam serta blak-blakan daripada cerita-cerita yang dipertukarkan di antara kaum Adam. Mungkin karena dengan bercerita secara panjang lebar juga memerlukan keberanian untuk membuka diri, yang artinya juga bisa memberikan celah bagi pembaca untuk mengetahui kelemahan diri si penutur/ penulis yang bersangkutan.  Membuka diri dan memajang kelemahan sangat bertentangan dengan konsep maskulinitas mapan yang masih bertahan sampai sekarang. Pria secara umum ingin dianggap lebih kuat, berkuasa dan memiliki otoritas. Membuka kelemahan dalam bentuk apapun akan bisa merongrong semua itu. Sebuah overgeneralisasi tetapi setidaknya itu yang saya rasakan. Dalam banyak jurusan sastra, misalnya, jauh lebih banyak jumlah mahasiswa perempuan daripada laki-laki. Itulah yang saya alami.

Salah satu contoh penulis perempuan yang sukses dengan novelnya ialah Gillian Flynn, yang dikenal luas sebagai penulis novel thrillerGone Girl“. Dalam sebuah wawancara, penulis yang pernah dipecat dari sebuah majalah setelah bekerja selama sepuluh tahun di dalamnya itu mengatakan bahwa dalam proses penulis Gone Girl, ia memakai metode latihan menulis gaya lama (old school).

Seperti apa latihan menulis fiksi gaya lama yang ia lakukan?

Eksperimen Sudut Pandang

Ia menulis adegan-adegan dari sudut pandang karakter lainnya. Tetapi bagian-bagian ini ia katakan tidak dimuat dalam buku. Meski tidak dimasukkan dalam novelnya, toh Flynn tetap mengerjakannya demi memperkuat penokohan, deskripsi dan segala elemen dalam ceritanya agar lebih meyakinkan, seolah memang rangkaian fakta yang tidak terbantahkan.

Misalnya, untuk memperkuat penokohan karakter utama Amy Eliott, Flynn sengaja menulis dari sudut pandang teman SMA Amy. Untuk tokoh Nick Dunn, Flynn membuat penjelasan tersendiri soal penuturan dari sudut pandang guru TK Nick dalam sebuah perkumpulan orang tua murid.

Flynn menegaskan bahwa dirinya “suka mengamati seseorang dari berbagai sudut pandang (angle)”.

Detail Pribadi

Flynn kemudian mengatakan bahwa dirinya juga menulis soal hal-hal kecil dan remeh-temeh soal karakter-karakter utamanya. Sesepele apa yang ia tulis? Ia membayangkan menelusuri daftar putar (playlist) iPod karakternya untuk mengetahui lagu-lagu kesukaaan mereka dan daftar tunggu Netflix untuk membayangkan jenis tontonan yang mereka gemari.

Flynn tidak ragu untuk menghabiskan banyak energi dalam menulis bagian-bagian ini karena ia meyakini ada gunanya.

 

Roy (3)

III

Semalam aku tidak bisa tidur. Hanya gelisah membolak-balik badan di tempat tidur dan sesekali memeriksa ponsel di meja kecil samping bantal. Aku cemas dengan apa yang akan kuhadapi besok.

Alarm ponsel berdering nyaring. “Ah masih jam segini…,”aku menarik selimut, berharap masih akan ada injury time. Tapi waktu tidak mendengarkan permohonanku untuk berhenti sejenak. Kuseret diriku menuju ke kamar mandi, berpakaian, lalu makan.

Kupandangi kaca itu sambil tertegun,”Aku pasti bisa melalui hari ini!” Kutundukkan kepalaku lagi dan kupejamkan mata, berharap aku bisa membuka mata dan sudah berada di bangku sekolah, belajar Al Kitab.

Sudah pukul 7.00 dan aku masih berupaya menemukan kunci mobilku. Sedikit panik aku memanggil pak Boy. Nama aslinya memang Boy, karena ayahnya suka dengan Onky Alexander, si pemeran film Catatan Si Boy.

“Lho, belum tau ya mas?” ia balik bertanya,”Itu kuncinya sudah diambil ayah mas Roy.”

“Apa???”aku tidak percaya karena kunci itu aku letakkan di meja kamar. Bagaimana Papa mengambilnya? Dan yang lebih penting lagi, bagaimana aku harus ke kantor?

“Mas Roy sudah pulas tadi malam pas kuncinya diambil,”pak Boy menjelaskan.

Aku tak terlalu peduli dengan bagaimana Papa mengambil kunci mobilku karena aku harus segera menemukan cara untuk bisa ke kantor sekarang juga atau aku akan terlambat. Jalan dan lalu lintas Jakarta tak pernah bisa ditebak, dan dari pengalaman, jarak 5 km dari kantor dan rumah bisa ditempuh lebih dari 2 jam kalau sedang naas. Kali ini aku sudah kesiangan dan tak ada mobil yang bisa dipakai. Semua kuncinya dipegang Papa.

“Mas Roy, kalau mau saya panggilkan teman saya. Kan sedang
buru-buru,”tukas pria berperawakan kecil itu lagi. Apa rencananya?

“Maksud pak Boy?” Pandangan saya menyelidik.

Pak Boy mengusulkan,”Supaya tidak telat ke kantor, naik ojeknya bang Sidik aja mas…”

“Apa?!! Hmm…” Aku belum pernah mencoba tetapi ini kondisi darurat dan aku tidak ada solusi lain.

“Ya sudah pak, cepat panggilkan. Aku harus sampai jam setengah sembilan lho!”

Sejurus ia merogoh ponsel di sakunya dan menghubungi sang teman. Mereka berbicara dalam bahasa Betawi.

“Sudah siap!”ia berkata padaku.

Setengah menit kemudian, aku berada di jok sepeda motor itu, melesat dengan memakai helm. Ah, jambul rambutku yang sudah aku buat susah payah hancur tertimpa helm. Tak apalah, asal tidak terlambat.

Dalam 20 menit, aku sudah sampai di lobi gedung kantor Plazia di kawasan pusat aktivitas bisnis ibukota. Aku heran kenapa bang Sidik tahu lokasi kantor ini tanpa aku jelaskan. Rupanya usut punya usut, ia diberitahu pak Boy sebelumnya.

Masuk ke kantor aku sedikit terengah-engah. Kusaksikan di seluruh gedung hanya ada orang-orang dengan dua jenis penampilan: berseragam dan tidak. Namun demikian, aku tahu semuanya akan bekerja di sini. Office boys berseragam yang bernasib malang; mereka karyawan outsourcing yang bergaji relatif kecil. Begitu aku baca di sebuah situs berita kemarin. Mereka kembali berdemo, setelah wacana kenaikan BBM berhembus dan harga-harga kebutuhan pokok membubung tanpa ampun. Sementara para eksekutif dan pegawai profesional itu lalu lalang dengan pakaian-pakaian kerja yang lebih bagus. Entah itu jas atau batik tulis mahal. Mereka tampak lebih beruntung dari rekannya yang kerah biru, tetapi juga menanggung utang yang sering di luar batas penghasilan mereka.

Hari pertama menjadi karyawan magang di perusahaan Papa sungguh membekas karena aku seperti orang dungu. Aku berusaha datang lebih pagi agar bisa mempelajari medan. Aku tahu aku tidak akan bekerja di bidang ini hingga akhir karirku tetapi aku juga tidak mau bekerja asal dan menunjukkan etos kerja yang rendah. Itulah yang Papa contohkan padaku selama ini:bekerja sepenuh hati. Kalau dalam kasusku, HAMPIR sepenuh hati. Aku cuma tidak mau menodai kredibilitas dan kompetensi serta profesionalismeku sebagai individu merdeka, bukan sebagai pekerja atau pengusaha.

Aku tidak tahu apa-apa tentang bagaimana menjadi karyawan apalagi bagaimana menjalankan sebuah perusahaan. Aku tidak tahu letak toilet, tidak bisa menemukan kertas fotokopi, tidak bisa menggunakan telepon karena ternyata setiap orang harus memiliki kode rahasia agar bisa menghubungi nomor telepon di luar kantor. Tak mau repot, aku pakai saja ponselku. Tetapi tetap aku harus berhemat. Aku tak mau tagihan ponselku membengkak. Bagaimanapun aku yang membayar tagihan ponselku, meski ayah dan kakek memiliki uang untuk membeli perusahaan
telekomunikasi itu sekalipun.

Rupanya Jodi – si pria ceriwis itu – adalah manajer di sini. Mungkin manajer komunikasi, karena ia sungguh cerewet, suka berkomentar tentang apa saja. Termasuk tentang diriku. Penampilanku, caraku memutuskan, dan apapun itu hampir selalu ia puji.

Aku harus bertahan dengan sikap Jodi yang suka menyanjung-nyanjung ini. Setidaknya hari ini, dan beberapa ratus hari mendatang. Atau hingga Papa dan Opa mengubah pikiran mereka dan membolehkanku menjadi pendeta, seperti yang aku impikan.

“Dasinya bagus sekali, pak. Hari ini terlihat sangat segar, penuh semangat ya mulai bekerja di sini,”matanya berbinar sambil melontarkan komentar ‘jilatan’ di depanku dan beberapa orang saat makan siang. Iya, aku makan siang bersama mereka di kantin karyawan yang pengapnya bukan kepalang itu. Letaknya di basement gedung kantor kami. Di jam makan siang, sungguh penuh sesak dengan orang. Karena gerah oleh komentar Jodi dan udara di dalam kantin yang pengap, aku pun melepas dasi biru itu dan memasukkannya ke saku celana hitamku. Dasar orang gila, batinku. Perhatiannya berlebihan dan itu tidak hanya membuatku jijik. Teman-temannya juga.

Meja kerjaku menghadap ke arah utara. Di ketinggian lantai 69 ini, kami bisa menyaksikan laut dari jendela. Pertemuan cakrawala dan laut nun jauh di sana kabur. Seperti masa depanku ini. Apakah aku akan menjadi pendeta nantinya atau hanya menjadi pebisnis seperti ayah, kakek, paman dan semua orang di sekitarku ini?

Tidak banyak yang tahu betapa tidak menyenangkan menjadi salah satu pewaris tahta seperti ini. Aku tidak membahas sisi uangnya tetapi bagi banyak orang, kehidupanku adalah yang mereka sangat dambakan. Kenyataannya tidak begitu mudah sebetulnya. Semua kadang di luar kendaliku, meski aku tahu aku bisa melawan. Akan tetapi, mereka adalah bagian dari orang-orang yang aku kasihi. Mereka telah menjagaku dari kecil hingga seperti sekarang ini. Bagaimanapun aku tidak mau mengecewakan mereka.

Roy (2)

II

Bila aku dianugerahi kekuatan super, mungkin aku hanya menginginkan satu hal:kekuatan mengendalikan waktu. Kalau aku bisa mengendalikan waktu, aku bisa mencegah bulan Oktober datang menjemputku. Itu alasan utamaku.

Oktober yang mendebarkan itu akhirnya datang jua. Aku hanya bisa berharap bertahan hingga Desember tahun depan sembari menabung sebagian uang yang diberikan perusahaan karena aku karyawan magang spesial. Lalu aku bisa memikirkan bagaimana aku bisa keluar perusahaan dan membiayai studi master teologiku yang sudah kuimpi-impikan. Sungguh aku menantikan hari itu. Aku tidak peduli dengan perusahaan, aku hanya mau menjadi pendeta.

Aku masih ingat bagaimana opa merangkul akrab pendeta yang pernah memberikannya penghiburan spiritual saat bisnisnya hancur lebur diombang-ambingkan badai krisis moneter. Di usia 6 tahun aku menyaksikan sendiri kondisi kami sekeluarga yang dilanda ketakutan yang amat sangat. Kekayaan kami justru tidak bisa membuat kami aman. Karena semua harta itulah, kami diburu; sehingga aku mulai bertanya:”Untuk apa semua harta dan uang ini jika membuat kami harus menderita?” Saat itulah aku mulai membenci cita-cita menjadi pengusaha meski papa dan opa mendengung-dengungkannya setiap saat.

Diajak mengunjungi semua proyek-proyek yang dijalankan perusahaan kami di berbagai daerah tidak membuatku terpanggil jua menjadi pengusaha atau penerus mereka nantinya. Hatiku meronta.

Kadang aku berkhayal bagaimana kehidupanku jika aku tidak terlahir sebagai keturunan pengusaha kaya raya seperti ini. Apakah aku akan jauh lebih beruntung karena bisa sekolah teologi tanpa dipaksa menjadi pengusaha atau aku bisa menjadi seorang anak muda yang penuh gairah berbisnis sehingga tanpa dipaksa orang tua, aku dengan sendirinya menerjunkan diri dalam bisnis keluarga? Aku berusaha berhenti berfantasi seperti itu karena semakin membuat kenyataan ini terasa pahit.

“Tok tok tok!!!”ketuk seseorang di pintu. Khayalanku terpaksa berhenti. Aku menata posisi tubuh dan berpura-pura berkonsentrasi ke layar sabak elektronikku yang sebenarnya masih belum menyala. Di layarnya yang gelap itu, terpantul wajah seorang pemuda yang sudah terlihat tegang menjelang jam kerja baru yang akan dimulai beberapa menit lagi.

Seorang pria yang belum kukenal masuk. Kutolehkan wajah ke arah pintu, ia tersenyum dan menyapaku ramah,”Selamat pagi, pak Roy!” Ia kemudian diikuti oleh beberapa orang lagi yang juga ikut menyalamiku. Wajah-wajah mereka tidak asing tetapi aku tidak pernah secara spesifik mengetahui nama mereka. Mereka bawahan papa.

Tanpa aku sangka, mereka berbaris di depanku dan seorang pria yang tampak lebih senior berkata seolah mewakili kelompoknya,”Saya Jodi, pak Roy. Kami sudah diberitahu pak Benny soal Anda yang mulai kerja hari ini.” Ia ulurkan tangannya dan mengembangkan senyuman terbaik untuk anak bosnya.

Jodi menggenggam tanganku erat. Tangannya kasar, tubuhnya agak gempal dan tinggi, kacamatanya tebal berangka gelap dan solid. Suara bass Jodi kemudian menggema,”Selamat datang ke Plazia!!!”

(Bersambung)

Bersiap untuk NaNoWriMo

John Green, penulis The Fault in Our Stars, pernah mengatakan dalam video Vlog Brothers
di YouTube bahwa menulis novel yang bagus dalam sebulan memang MUSYKIL. Kecuali Anda seorang jenius atau Anda orang kaya raya dan pemilik perusahaan penerbitan yang bisa seenaknya mencetak karya Anda yang paling kacangan dan picisan sekalipun untuk dipublikasikan, Anda pasti membutuhkan proses untuk membuat karya fiksi terbaik Anda.

Namun, demikian Greene yakin bahwa waktu sebulan itu cukup untuk menghasilkan sebuah draft pertama yang lumayan layak baca, meski nantinya tidak tertutup kemungkinan Anda bisa mengalami “pembantaian” habis-habisan oleh editor.

Karena itulah, saya menantang diri sendiri untuk bisa menghasilkan sebuah draft karya fiksi, entah itu novel atau novelet atau kumpulan cerpen dan saya akan memulai menulisnya sekarang.

Saya tidak akan peduli dengan pendapat orang karena saya hanya ingin menuliskannya untuk memuaskan diri sendiri dulu. Saya ingin menulis untuk menghasilkan karya yang saya ingin konsumsi sendiri, begitulah juga cara kerja Stephanie Meyer yang dikenal dengan Twilight Series-nya yang fenomenal. Egois kedengarannya, tetapi begitulah adanya.

Tulis dulu semuanya lalu sunting lagi untuk menyempurnakan.

Because writing is basically about rewriting….