Dari Perempatan Jember ke Perempatan Sarinah

Petang itu seperti biasa saya ke naik bus antarkota dari ibukota Jawa Tengah ke kota asal saya yang melahap waktu sekitar 3600 detik saja. Senja sudah turun. Langit mulai menjingga. Saya masih ingat saya memilih duduk di deretan bangku belakang. Itu karena di depan saya tak mau menatap langsung cepatnya laju kendaraan dan tipisnya jarak bus dengan sepeda motor yang berhamburan bak kawanan laron di musim hujan. Lalu di bangku tengah saya cemas jika terjepit jika bus ini terbalik dan mengalami nasib sama seperti dulu. Maka saya upayakan selalu duduk di belakang. Untung perut saya tahan mabuk darat sekalipun terhempas guncangan ban yang beradu dengan permukaan jalan yang bergelombang. Di bangku belakang memang rawan copet. Saya pernah kena juga sekali tetapi ini lebih baik daripada duduk tersiksa di depan.

Saya masih ingat air muka seorang pria yang berdiri gamang di belakang situ. Kebingungan karena tidak tahu bus ke Kudus. Ia bertanya pada saya. Saya ajak ia bersama saya naik bus Nusantara terakhir itu. Dari logatnya ia bukan warga Jawa Tengah. Benar saja. Ia dari ibukota. Ia mengaku sebagai fotografer.

Perawakan kami mirip. Sama-sama seperti lidi. Hanya saja ia berambut bergelombang. Saya lurus. Ia menjulang. Saya perlu egrang.

Lalu kami bercakap sejenak. Tujuannya ke Kudus ialah memotret mahakarya satu wali tanah Jawa yang menjadi bagian jatidiri kota kretek ini. Menara Kudus menjadi salah satu bagian proyek fotografinya yang ambisius. Totalitas dalam bekerja tecermin dalam tindak tanduknya. Ia memikul semua batang tripod dan kamera seberat itu sendiri. Dari Jakarta. Lima ratus kilometer lebih dari titik tempat kami berada. Punggung dan bahunya pastilah merana. Gila.

Beberapa saat hening hingga kami pun larut dalam kekalutan pikiran masing-masing. Saya dengan perkara kuliah saya karena saat itu saya masih mahasiswa tanpa gelar apa-apa. Ia dengan rencana perjalanan esoknya dan tempat berteduhnya malam itu. Roda-roda bus Nusantara itu terus menggelinding dan sampailah kami ke terminal Kudus. Untunglah kami tak sampai di sana tahun 2013. Jika iya, kami bisa keluar bus dengan semua benda berharga terendam air dan harus berenang terkepung banjir.

Gelap sudah meraja. Ia tampak makin cemas. Lalu ia bertanya pada saya. “Kalau di dekat menara itu ada tempat menginap kah?” ia ingin tahu. Saya jawab ada. Hotel kelas melati yang dijamin syar’i, celetuk saya. Kami naik angkutan umum dan sampai di mall paling megah di kota saya, Matahari. Dan saya antar ia sampai ke sebuah hotel di dekat perempatan Jember itu. Ia berterima kasih pada saya. Imbalannya kartu nama. Rupanya ia bekerja di sebuah penerbit besar di bilangan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Buku-buku teks sekolah saya diproduksi oleh perusahaan itu.

Beberapa tahun kemudian saya sudah lulus. Dan juga 3 tahun kemudian. Dengan dua gelar di tangan bukan berarti mendapatkan pekerjaan yang diinginkan itu mudah. Entah kenapa saya terpikat dengan sebuah undangan wawancara perusahaan yang ternyata setelah saya selidiki di Internet cuma berstatus abal-abal. Mereka hanya mau orang berjualan saham demi menguntungkan diri sendiri. Padahal saya sudah telanjur pesan tiket ke ibukota. Tak patah arang, saya hubungi fotografer itu lagi. Ia satu-satunya kenalan saya di Jakarta saat itu. Rencana pun berubah menjadi mengunjunginya demi mendapatkan peluang kerja yang belum pasti.

Sampai di sana, kami bertemu. Ia keluar dari kantornya dan menerima berkas saya yang sudah saya siapkan. Saya tahu tipis kemungkinannya penerbit itu mau merekrut apalagi mereka tidak sedang butuh pekerja baru. Tetapi ia berupaya meyakinkan saya bahwa kedatangan saya tidak sia-sia setidaknya karena ia masih mau menyisihkan waktu bertemu saya dan beramah tamah. Kami berbincang bak teman lama dan pertemuan berakhir dengan simpulan kecut: ia orang baik tetapi profesional. Karena profesional, ia bisa menepis harapan saya untuk bergabung ke dalam perusahan itu tanpa membuat saya sakit hati. Alasannya toh memang masuk akal. Mereka belum butuh.

Kami belum pernah bersua lagi hingga saat ini. Dan karena pergerakan arus nasib yang dahsyat, ia pun sudah keluar dari perusahaan sebelumnya dan kini bergabung dengan kantor berita negeri panda. Namun, sekonyong-konyong saya seolah bertemu dengannya kembali kali ini saat kemarin muncul foto teroris yang mengokang senjata di jalan M. H. Thamrin itu di dunia maya. Yang mengejutkan, nama lengkap fotografer yang ada di dalam caption atau keterangan foto yang membuat miris itu sama dengan nama fotografer yang memberi saya kartu nama di depan hotel syar’i di dekat perempatan Jember, Kudus, bertahun-tahun lalu. Tampak jelas, fotografernya mengambil dari jarak yang relatif dekat. Jika Tuhan berkehendak, bisa saja pemilik senjata itu mengarahkan peluru ke dada atau kepala fotografer itu. Syukur ia selamat. Buktinya banyak orang mengucapkan selamat — bukannya ratapan duka cita — atas karyanya yang berani dan heroik kemarin lusa itu.

Tembakau dan Sastra: Peran Rokok Kretek dalam Proses Kreatif Pramudya Ananta Toer

Pramudya_Ananta_Tur_Kesusastraan_Modern_Indonesia_p226
Sekelompok sastrawan dan tembakau sudah seperti bayi kembar siam. Pramoedya Ananta Toer termasuk di antaranya. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Sebagai seseorang yang tidak pernah menaruh sejumput tembakau pun di mulut, saya tidak pernah berpikir untuk menggunakan bahan adiktif apapun sebagai substansi utama untuk mendorong laju proses kreatif atau menghancurkan kendala menulis (writer’s block) yang menggelayut di benak. Kafein juga tidak, karena tubuh dan alam bawah sadar saya menolak. Saya tidak mau mengalami ketergantungan dalam bentuk apapun, apalagi dalam bentuk yang merugikan kesehatan dalam jangka panjang. Saya mau menulis dalam berbagai situasi, ada atau tidak sesuatu itu, saya akan tetap bertahan dan berhasil menyelesaikan tulisan. Semakin saya bersandar pada hal-hal itu, saya pikir kinerja saya dalam menulis akan tersendat secara konyol.

Namun, begitu saya membaca uraian sastrawan Indonesia Pramoedya Ananta Toer, saya mengetahui betapa pentingnya peran tembakau dalam kehidupan dan proses berkarya seorang penulis sekalibernya. Bisa dikatakan mengisap rokok kretek sudah menduduki prioritas yang setara dengan keharusan makan nasi setiap hari bagi Pram, sebutan akrab  almarhum yang menulis uraian itu dalam bentuk sekapur sirih dalam buku bertajuk “Kretek” (2000) tulisan Mark Hanusz. Gila tetapi nyata, pikir saya.

Pram menceritakan kenangannya itu pada pembaca. Persentuhan perdananya dengan berawal saat masa kanak-kanak. Pram belia sudah rajin mengumpulkan bungkus rokok kretek yang dijual bebas di Blora, kota kelahirannya. Di sana ia bermain dengan bungkus-bungkus yang beraneka ragam itu sebagai sebuah kesenangan belaka tetapi belum mencicip tembakau melalui isapan mulut. Ini tentu sangat berbeda dengan beberapa fenomena saat ini yang menunjukkan sebagian anak-anak di bawah usia remaja sudah mengadopsi kebiasaan buruk mengisap rokok. Pram muda baru merokok secara aktif saat ia berusia 15 tahun. Setidaknya itu menurut pengakuannya. Kita tidak akan pernah tahu apakah ia sudah menjajalnya sejak lama sebelum itu atau memang baru saja.

Saya mengingat nama “Nitisemito” sebagai salah satu ruas jalan besar di kota kelahiran saya, Kudus. Saya melintasinya tiap kali memasuki atau meninggalkan kota itu untuk ke Jakarta. Jadi bisa dikatakan ia menjadi salah satu urat nadi lalu lintas dan transportasi kami. Namun, dalam ingatan Pram, Bal Tiga Nitisemito adalah sebuah merek rokok kretek termasyhur yang ia isap pertama kali di masa remajanya. “Saya masih ingat dengan jelas rokok kretek yang saya pertama kali isap. Jenisnya klobot – terbungkus dalam kulit jagung dan diikat dengan benang katun merah,” tuturnya.  Sekelebat saya pernah juga melihat rokok semacam itu dalam keluarga saya. Rokok yang pernah dikonsumsi saudara nenek saya.

Ketergantungan yang saya singgung di awal itu sempat membuat Pram kepayahan saat harus bekerja tanpa rokok. Seperti ia katakan dalam pengakuannya:”Selama perjalanan pertama saya ke Amerika Serikat, saya berjanji pada diri sendiri saya akan berhenti merokok. Saat saya di Washington saya harus menulis laporan dan rasanya saya tidak sanggup melakukannya. Itulah saat saya mulai merokok kembali, (dan) meskipun kemudian saya sudah merokok, laporan itu tetap tak rampung juga.” Ironisnya, bahkan rokok kadang tidak bisa membuat kita lebih produktif. Hanya sebagai pelampiasan keresahan yang tidak beralasan.

Saat Pram mengklaim “semua pria Indonesia merokok dan mereka merokok kretek”, saya merasa saya sudah kehilangan jati diri saya sebagai pria Indonesia. Namun, tetap harus saya terima dengan lapang dada. Berdasarkan klaim Pram itu, saya bisa dicap tidak pria dan tidak Indonesia hanya karena menolak dan tidak pernah nyaman untuk merokok.

Pernyataan Pram memang ada benarnya. Rokok membantu para pria untuk bergaul, bersosialisasi dan membuka jalan ke lingkaran pergaulan di banyak hal. Kerap saya temui, dua orang yang asing satu sama lain bisa menjadi akrab karena meminjam pemantik api atau karena sama-sama harus berdiri di luar ruangan di kala tubuh mendamba tembakau karena di dalam berpendingin udara. Saat meminjam muka-muka perokok bisa sangat manis, ramah dan bersahabat meski dengan preman sekalipun. Heran? Tidak, karena sejak kecil saya juga sudah tak terhitung banyaknya menghadiri acara-acara sosial yang melibatkan rokok di dalamnya. Merokok seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Kudus dan memang sudah semestinya demikian karena dari kabupaten terkecil di provinsi Jawa Tengah ini rokok kretek menyebar ke mana-mana. Dan karena rokok, saya juga relatif terkucil dari pergaulan. Saya lelah harus bercakap-cakap dengan menahan napas di sebuah kumpulan “cerobong asap” bersarung dan berpeci di hajatan kelahiran, pernikahan, khitan, syukuran, hingga kematian.

Dalam kasus Pram, rokok kretek membantunya untuk tidak hanya berkreasi dalam dunia sastra dan jurnalistik, tetapi juga memberikannya kemampuan menolerir semua penderitaan sepanjang hidupnya yang turun naik selama masa revolusi di republik ini. “Kretek membantu saya melalui beberapa masa sulit,” kenang sang sastrawan. Di pulau Buru, Pram yang harus menjalani masa pengasingan itu tetap tidak terpisahkan dari rokok dan merokok. Walaupun cengkeh sulit ditemukan karena pembatasan jual beli di pasar, Pram terus saja merokok tanpa peduli bahan-bahannya. Pokoknya, asal ada dedaunan yang bisa dikeringkan dan dimasukkan dalam gulungan sebagai rokok yang bisa diisap, ia sudah lega. “Kami membuat rokok sendiri, dengan daun kelapa dan longsongan kertas-kertas apapun yang kami bisa temukan.” Di masa pendudukan Jepang saat banyak orang tewas kelaparan, Pram menggunakan rokok sebagai alat bertahan hidup. Rokok menurut Pram bisa mencegah rasa lapar muncul. Mungkin inilah yang membuat para perempuan juga tertarik menggunakan rokok sebagai sebuah alat praktis penurun berat badan, yang tentu sebuah salah kaprah karena harga yang harus dibayar tidaklah setimpal dengan dampak kesehatannya.

Terlepas dari polemik kesehatannya, rokok kretek sudah memberikan Kudus kemajuan ekonomi yang relatif tinggi sejak kemunculannya di akhir abad ke-19, tulis Hanusz. Bukan hendak sesumbar, tetapi Anda bisa bandingkan sendiri kondisi ekonomi warga Kudus dengan kabupaten-kabupaten di sekitarnya, seperti Purwodadi, Pati, Jepara dan Demak. Semua karena kontribusi cukai.

Dan yang terpenting, rokok kretek juga telah menjadi lokomotif penggerak proses kreatif sastrawan-sastrawan Indonesia yang saya yakin juga mayoritas suka atau setidaknya di masa lampau pernah kecanduan merokok.

Salam kretek dari warga Kudus pembenci rokok!

Sapi Tak Boleh, Kerbau pun Jadi (Wisata Kuliner Kudus)

Jika Anda berkunjung ke Kudus, jangan lewatkan warung soto satu ini.
Jika Anda berkunjung ke Kudus, jangan lewatkan warung soto satu ini.

Di Kudus, jarang dijumpai makanan dan olahan daging dari sapi. Semuanya berasal dari daging ayam, daging kerbau atau daging bebek (kami menyebutnya mentok), atau sebagian lainnya yang Anda tidak pernah terpikir, seperti seluruh tubuh burung puyuh mungil yang malang.

Mengapa orang Kudus tidak dibiasakan mengkonsumsi daging sapi?

Konon, dahulu kala sebelum Islam masuk ke daerah ini, lebih banyak pemeluk agama Hindu yang tinggal di Kudus. Itulah mengapa Anda bisa menemukan sebuah masjid dengan menara yang mirip candi di sebelah warung soto yang fotonya saya unggah di sini. Masjid dengan menara itu kami sebut “Masjid Menara Kudus“, tetapi penduduk lokal cukup menyebutnya “Menoro”.  Dan seperti kita ketahui, ajaran agama Hindu meyakini sapi itu binatang suci. Sapi merupakan simbol kekayaan, kekuatan, kelimpahan, semangat memberi yang tulus, dan kehidupan yang makmur dan lengkap dalam bumi (sumber:Wikipedia). Karena itulah, para pemeluk Hindu terutama di Nepal dan sejumlah negara bagian di India mengharamkan mengkonsumsi daging sapi dan olahannya. Sapi disucikan bisa jadi karena mereka adalah hewan ternak yang hasilnya bisa menghidupi manusia. Dari susu dan tenaganya bisa dimanfaatkan untuk memberi makan dan membantu manusia mengolah dan kotoran mereka menyuburkan tanah pertanian. Bahkan menurut Mahatma Gandhi, keyakinan bahwa sapi adalah binatang suci dan tidak boleh dikorbankan ialah ajaran inti Hindu (sumber: Wikipedia). Namun, seiring dengan makin berkurangnya penganut Hindu di Kudus, tradisi dan keyakinan yang menganggap suci sapi memang makin lama makin pudar tetapi toh tidak sepenuhnya hilang.

Sebenarnya cukup banyak warung soto kerbau yang ada di Kudus. Ada soto kerbau (dan ayam) di “Soto Pak Denuh” yang berada di jalan Jepara dan Agil Kusumadya (jalan provinsi ke arah Semarang), warung soto “Karso Karsi” yang ada juga di jalan Agil Kusumadya, tetapi warung soto satu ini unik karena bangunannya yang amat sangat lusuh. Dari dulu sampai sekarang, tidak ada perbaikan mencolok di sana. Sejak saya kecil sampai terakhir berkunjung di sana Lebaran tahun ini, tata ruang warungnya masih sama, dindingnya masih persis. Kuno dan entahlah, vintage mungkin? Namun, saya pikir tidak semua tempat harus terus menerus diperbarui agar tampak segar. Beberapa tempat lebih cocok jika dibiarkan begitu saja apa adanya karena kelak di sinilah kita akan berkunjung sesekali untuk bisa mengenang memori-memori di masa lalu. Dan bagi saya, mengunjungi warung ini bukan hanya memesan dan makan soto kerbau saja tetapi juga menikmati rasa dan ingatan lama.

305
Soto kerbau dan jeruk hangat yang akan mengurangi efek negatif lemak. Kombinasi yang unik kan? Bayangkan perut Anda panci yang baru dipakai membuat sup daging. Untuk mencucinya hingga bersih lagi, Anda akan gunakan jeruk nipis itu mengangkat lemaknya.

Saya sering diolok-olok bahwa orang Kudus, terutama Kudus Kulon (Kudus bagian barat sungai Gelis yang membelah kota), adalah orang-orang yang kikir. Warung ini kebetulan juga berada di sisi barat sungai itu. Anda bisa lihat ukuran mangkuk soto Kudus memang unik karena ukurannya yang mungil. Satu porsi soto kerbau ini harganya termasuk mahal untuk ukuran orang lokal. Dengan bakso sekitar Rp5-6 ribu per porsi dengan ukuran yang mengenyangkan, porsi soto kerbau ini hanya terasa separuh kenyang. Tanggung, begitu kata orang yang suka makan banyak. Soto kerbau di warung ini harganya Rp8.000. Bukan harga yang mengeruk kantung bagi turis ibukota tentunya yang sudah biasa makan di mall dengan harga per sajian yang rata-rata Rp50.000.

Bersama dengan hidangan itu, Anda bisa mencoba krupuk paru. Dan satu rekomendasi lainnya adalah mencicipi krupuk rambaknya yang khas. Krupuk ini terbuat dari kulit. Kulit hewan ternak apa, saya tidak tahu persisnya. Tetapi intinya keduanya sangat amat gurih. Cocok untuk mereka penggemar makanan ringan yang membangkitkan selera makan.

Penjualnya ada dua wanita paruh baya. Mereka bersaudara, jadi tidak heran muka dan perawakan badan pun sangat mirip.

304
Pembeli harus bersabar karena pelayannya hanya 2 orang!

Terbatasnya sumber daya membuat warung ini kurang cepat melayani konsumen. Saat saya meminta tambah 1 mangkok lagi, misalnya, ibu itu tampak sibuk dengan ponsel. Ia mengurus pesanan makanan dari pelanggan setia yang tidak datang tetapi sudah mengubunginya untuk dikirimi makanan. Apalagi saat itu baru Lebaran, saat orang-orang bisa lupa daratan dengan makanan. Karena itu, pesanan saya terlupakan dan saya harus mengulang lagi permintaan saya padanya. Perempuan itu pontang-panting bersama saudaranya melayani pembeli warungnya, lalu menyiapkan makanan untuk dibungkus lalu dikirim ke sana.

303
Mukanya sangat familiar. Ia mungkin pemilik sekaligus pelayan utama di sini.

Kalau dalam pembahasan entrepreneurship, saya jadi teringat dengan kata-kata Sandiaga Uno tentang scaling-up. Saya pikir perempuan-perempuan ini adalah pebisnis yang ulet dan tangguh. Buktinya mereka sudah bertahan selama puluhan tahun. Dan mustahil mereka tidak menikmati untung besar dari sini karena jika bisnis soto kerbau dan sate kerbau ini cuma untung sedikit, kenapa mereka harus repot-repot bertahan sampai selama itu? Mereka bisa saja mencoba bidang bisnis lain. Bisa jadi karena mereka sudah memiliki kekhasan dan jati diri brand bisnis di sini. Orang Kudus yang mana yang tidak tahu lokasi Menara Kudus yang dianggap sebagai ikon kota kretek Kudus? Dan warung ini terletak tepat di sebelahnya. Sangat strategis dan tidak bisa terlupakan oleh mereka yang berkunjung dari luar kota, misalnya. Masalahnya mereka sudah berpuas diri. Tidak ada keinginan atau ambisi untuk membesarkan bisnis itu menjadi, katakanlah, sebuah waralaba yang tersebar ke seluruh Indonesia , bahkan dunia.

302
Dindingnya sejak dulu begitu. Tidak makin putih. Tetap kelabu. Mungkin karena asap masakan.

Tetapi kadang mindset tradisional dan konservatif seperti ini menjadikan UMKM seperti ini menjadi begitu otentik, begitu lokal, khas, tiada duanya. Pengalaman yang bisa dinikmati di sini tidak akan bisa ditemukan di tempat lain di dunia, tak peduli seberapa mewah dan bersihnya. Malah kalau tempat ini direnovasi, memori  – hal yang paling disayang manusia – bisa terhapus. Untuk alasan tertentu, saya bersyukur kapitalisme tidak sampai menyentuh warung ini. Bila dinding warung soto kerbau itu menjadi bersih, rasanya pasti akan lain. Jika soto mereka itu kemudian diwaralabakan, cita rasanya mungkin akan berubah. Membakukan bahan baku dan cara memasak mungkin sukar tetapi yang lebih sukar lagi adalah bagaimana mempertahankan sensasi yang membuat orang bisa melayang dalam benak mereka cuma untuk bernostalgia ke masa lalu mereka saat masih kecil, masih muda. Warung ini bukanlah mesin waktu Doraemon yang bisa membuat pengunjungnya kembali ke masa lalu seenaknya tetapi setidaknya ada kepuasan tersendiri saat memasukinya. Semacam melankoli atau apalah. Sulit mendefinisikannya dengan kata dan logika. Karena ini berkaitan dengan RASA.

Dandangan

“Dandang” dalam bahasa Jawa memiliki arti wadah semacam panci untuk merebus air, menanak nasi dan sebagainya. Maka kata “dandangan” bisa saya perkirakan memiliki makna “banyak panci”. Entahlah. Saya hanya berspekulasi.

Tetapi di Kudus menjelang Ramadhan, Anda tidak akan menemukan banyak panci berjejeran di jalan. Anda akan disuguhi orang-orang yang berjalan kaki lalu lalang atau menaiki sepeda motor dengan kecepatan siput hanya demi menghabiskan waktu melihat-lihat barang yang dijual di sepanjang jalan-jalan utama di kota kretek.

Dulu saat masih kanak-kanak, dandangan terasa sebagai sebuah acara yang patut dinanti-nantikan. Apa pasal? Karena di sini bertebaran pedagang-pedagang mainan murah meriah. Anak-anak perempuan biasanya akan memilih mainan berupa alat-alat memasak mini dari bahan tanah liat yang dibakar. Semacam tembikar yang kemudian dicat ala kadarnya untuk memikat hati gadis-gadis kecil yang ingin meniru para ibu memasak di dapur. Mainan ini disebut “pasaran”, yang maknanya berbeda dengan kata “pasaran” (artinya: terlalu mudah ditemukan di mana saja) yang populer saat ini. Mainan ini berbentuk kurang manis memang kalau disandingkan dengan mainan plastik tetapi tentu lebih ramah lingkungan dan tahan panas.

Sementara itu, anak-anak laki-laki bisa memilih truk-truk mini, miniatur mobil, kaos superhero Batman dengan sayap di belakangnya yang berkibar saat naik di sepeda. Ada juga berbagai pistol-pistol palsu dari plastik. Dan yang saya sukai adalah perahu mungil dari seng yang bisa bergerak maju di sebaskom air dengan suara khasnya “otok otok otok…”! Menggerakkan perahu ini mudah saja. Cukup dengan menggunakan sedikit minyak dicelupkan ke sumbu dalam perahu, nyalakan dan panas dari api kecil di dalamnya menggerakkan perahu. Sebuah keajaiban bagi kami, anak-anak kecil yang belum banyak paham prinsip-prinsip sains.

Dandangan biasanya mulai digelar sebulan sebelum Ramadhan tiba. Para pedagang tidak hanya dari Kudus tetapi juga luar kota seperti Demak, Jepara, Pati, Purwodadi dan sebagainya. Kudus memang kabupaten terkecil di Jawa Tengah tetapi daya tarik ekonominya termasuk tinggi. Di sini berdiri Djarum, bisnis yang mengantar kedua bersaudara Hartono sebagai orang terkaya di tanah air.

Di balik hingar bingar Dandangan, tersimpan pula sejumlah masalah sebetulnya. Banyak kriminalitas terjadi dalam kerumunan seperti ini. Entah itu pencurian kendaraan bermotor atau pencopetan. Dandangan juga membuat Kudus lebih kotor dan kumuh. Anda bisa bayangkan kumuhnya jalan-jalan protokol sebuah kota kecil yang warganya berjalan santai, membeli, kemudian membuang sampah sembarangan. Dan itu tidak cuma berlangsung sehari dua hari tetapi sebulan lebih! Belum lagi beban kemacetan dan kerugian immaterial yang diakibatkan dari diadakannya Dandangan.