Tentang Kudus, Kota Paling ‘Arab’ Se-Indonesia

Saya terus terang merasa kaget saat seorang teman memvonis bahwa orang-orang Kudus ‘pelit’ bercerita tentang kota mereka (belum tahu dia orang Kudus bisa pelit tak cuma perkara cerita). Dan jujur saja saya juga tidak tahu apa yang saya harus ceritakan dari kota asal saya itu. Rokok kretek dan brand yang rasanya paling mantap untuk dihisap? Soto kerbau yang berkuah bening yang disajikan di mangkuk yang lebih cocok untuk kudapan? Jenang yang rasanya manis sekali sampaiĀ tenggorokan merintih meminta air putih? Makam Sunan Kudus dan Sunan Muria yang penuh dengan bus-bus peziarah luar kota yang datang silih berganti memenuhi jalan kota yang hanya separuh jalan protokol di ibukota? Gunung Muria yang tandus meranggas dan air terjun Montel yang debitnya mulai (atau sudah?) tandas? Tiga pusat perbelanjaan di kabupaten termungil di Jateng itu? GOR Djarum yang hanya pernah saya lintasi beberapa kali itu? Atau Persiku yang kabarnya begitu kabur di persepakbolaan Indonesia? Entahlah.

Ia membandingkan dirinya dan teman-teman dari kotanya yang tak sungkan menceritakan tempat-tempat indah, makanan dan minuman lezat, dan sebagainya. Anda tahulah apapun itu yang menarik bagi pelancong dan penggemar kegiatan pelesir. Saya tersadar diri ini bukan duta yang baik bagi kabupaten kelahiran saya itu.

Kota ini begitu kecil, hingga saya lupa bahwa di sinilah kretek dibuat pertama kali sekitar tahun 1880 oleh seseorang bernama Jamahri. Tunggu, saya tak tahu apa itu kretek sebenar-benarnya tetapi konon itu dibuat dengan menaburkan cengkeh ke ramuan tembakau lalu membungkusnya dengan kulit jagung kering. Katanya kretek memberikan pengalaman baru menikmati tembakau sampai dianggap pantas mendapat tempat tersendiri di mata dunia perokokan. Saya tak tahu persis, karena mulut saya tak pernah disinggahi rokok. Di sini jugalah, pertama kali kretek diproduksi secara massal, tidak lagi di industri rumahan seperti sebelumnya.

Uniknya, rokok kretek diperkenalkan awalnya sebagai ‘obat’ bagi asma dan sakit tenggorokan, yang bisa didapat dari rumah produsennya atau di toko obat terdekat. Metode promosi kretek juga unik, tidak pakai bintang iklan tampan yang menunggang kuda tegap berekor surai melambai-lambai, tetapi kalangan aristokrat Jawa alias kaum priyayi.

Itulah sedikit yang bisa saya ceritakan tentang keistimewaan kota ini. Dan oh, itu saya cukilkan dari buku “Kretek” tulisan Mark Hanusz, orang asing yang tentu saja bukan orang Kudus. Karena buat kami orang dalam, sejarah buat apa? Tak membuat kaya. Hanya bahan nostalgia kaum senja. Terlebih lagi buat anak mudanya, yang menumpang lahir saja.

Kalau ada yang bercanda dengan menyebut saya “orang kudus” semacam Bunda Theresa, saya bisa pastikan kedua kata itu (kudus dan Kudus) ada kemiripan maknanya sebab selain menjadi tempat kelahiran kretek, Kudus satu-satunya kota di nusantara yang namanya diserap dari bahasa Arab, al Quds, yang artinya “suci”.

Dandangan

“Dandang” dalam bahasa Jawa memiliki arti wadah semacam panci untuk merebus air, menanak nasi dan sebagainya. Maka kata “dandangan” bisa saya perkirakan memiliki makna “banyak panci”. Entahlah. Saya hanya berspekulasi.

Tetapi di Kudus menjelang Ramadhan, Anda tidak akan menemukan banyak panci berjejeran di jalan. Anda akan disuguhi orang-orang yang berjalan kaki lalu lalang atau menaiki sepeda motor dengan kecepatan siput hanya demi menghabiskan waktu melihat-lihat barang yang dijual di sepanjang jalan-jalan utama di kota kretek.

Dulu saat masih kanak-kanak, dandangan terasa sebagai sebuah acara yang patut dinanti-nantikan. Apa pasal? Karena di sini bertebaran pedagang-pedagang mainan murah meriah. Anak-anak perempuan biasanya akan memilih mainan berupa alat-alat memasak mini dari bahan tanah liat yang dibakar. Semacam tembikar yang kemudian dicat ala kadarnya untuk memikat hati gadis-gadis kecil yang ingin meniru para ibu memasak di dapur. Mainan ini disebut “pasaran”, yang maknanya berbeda dengan kata “pasaran” (artinya: terlalu mudah ditemukan di mana saja) yang populer saat ini. Mainan ini berbentuk kurang manis memang kalau disandingkan dengan mainan plastik tetapi tentu lebih ramah lingkungan dan tahan panas.

Sementara itu, anak-anak laki-laki bisa memilih truk-truk mini, miniatur mobil, kaos superhero Batman dengan sayap di belakangnya yang berkibar saat naik di sepeda. Ada juga berbagai pistol-pistol palsu dari plastik. Dan yang saya sukai adalah perahu mungil dari seng yang bisa bergerak maju di sebaskom air dengan suara khasnya “otok otok otok…”! Menggerakkan perahu ini mudah saja. Cukup dengan menggunakan sedikit minyak dicelupkan ke sumbu dalam perahu, nyalakan dan panas dari api kecil di dalamnya menggerakkan perahu. Sebuah keajaiban bagi kami, anak-anak kecil yang belum banyak paham prinsip-prinsip sains.

Dandangan biasanya mulai digelar sebulan sebelum Ramadhan tiba. Para pedagang tidak hanya dari Kudus tetapi juga luar kota seperti Demak, Jepara, Pati, Purwodadi dan sebagainya. Kudus memang kabupaten terkecil di Jawa Tengah tetapi daya tarik ekonominya termasuk tinggi. Di sini berdiri Djarum, bisnis yang mengantar kedua bersaudara Hartono sebagai orang terkaya di tanah air.

Di balik hingar bingar Dandangan, tersimpan pula sejumlah masalah sebetulnya. Banyak kriminalitas terjadi dalam kerumunan seperti ini. Entah itu pencurian kendaraan bermotor atau pencopetan. Dandangan juga membuat Kudus lebih kotor dan kumuh. Anda bisa bayangkan kumuhnya jalan-jalan protokol sebuah kota kecil yang warganya berjalan santai, membeli, kemudian membuang sampah sembarangan. Dan itu tidak cuma berlangsung sehari dua hari tetapi sebulan lebih! Belum lagi beban kemacetan dan kerugian immaterial yang diakibatkan dari diadakannya Dandangan.