Seks Sehatkan Jantung Semua Manusia Segala Usia, Kecuali Pria Lansia

Bagi perempuan lansia, seks masih memberikan efek positif bagi kesehatan. Efek sebaliknya malah didapat oleh pria sebaya mereka. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

Saya pernah membaca sebuah artikel berisi penjelasan mengenai berhubungan seks setara dengan melakukan olahraga. Hasilnya tubuh Anda lebih sehat setelah aktivitas fisik yang tak kalah menguras tenaga tetapi hemat biaya itu. Tak perlu keluar rumah bahkan kamar tidur. Tak perlu membayar biaya tinggi di pusat kebugaran yang glamor. Dan Anda masih bisa menyehatkan diri.

Terdengar seperti solusi ideal dan menyenangkan bagi pemalas seperti kita semua, bukan?

Tapi jangan senang dulu dengan berita tersebut jika Anda seorang pria dengan usia emas (akhir 50-an) atau di atasnya. Sebab terungkap bahwa berhubungan seks apalagi yang terlalu intens seperti saat masih muda malah membuat pria lansia berisiko lebih tinggi terkena serangan jantung dan masalah kardiovaskuler lainnya. Namun, bagi Anda yang berjenis kelamin wanita, meskipun usia Anda sudah menanjak pun seks tidak mempengaruhi kesehatan secara negatif karena malah bisa menurunkan risiko hipertensi. Demikian dinyatakan oleh tim peneliti Michigan State University yang hasilnya kemudian dimuat dalam Journal of Health and Social Behavior.

 

Lantas apakah pria-pria uzur mesti sepenuhnya berpantang seks padahal mereka masih menghendakinya dan bisa melakukannya? Tampaknya memang demikian, atau setidaknya mereka mesti memperjarang kekerapan berhubungan badan dengan pasangan jika ingin lebih sehat dan panjang usia.

Lalu seberapa sering aktivitas seksual yang termasuk ‘sering’ dan bisa merongrong kesehatan jantung itu? Studi itu merinci, para pria tua yang berhubungan badan sekali seminggu atau lebih berisiko mengalami penyakit jantung dua kali lebih tinggi daripada pria tua lain yang tidak aktif dalam kehidupan seksualnya. Lebih berbahaya lagi jika hubungan seks itu dirasa sangat nikmat atau memuaskan, karena justru di situlah risiko serangan jantung makin tinggi dibandingkan pria sebaya mereka yang seksnya cenderung datar, apa adanya, dan ‘dingin’.

Rupanya ini semua berkaitan dengan kesehatan keseluruhan kaum Adam di usia lanjut. Rata-rata kaum pria makin sulit orgasme begitu usia bertambah, dan makin mudah pula mereka mengalami kelelahan berat yang membebani kerja jantung yang sudah makin lemah juga. Karenanya bisa dipahami untuk mencapai klimaks yang segila di masa muda rasanya tak memungkinkan bahkan dikatakan berbahaya bagi nyawa.

Belum lagi ditambah dengan faktor hormonal yakni kadar testosteron yang menurun. Dikombinasikan dengan penggunaan obat-obatan yang biasa dikonsumsi manula, lebih dianjurkan bagi pria lansia untuk mengalihkan energi mereka ke hal-hal lain yang lebih aman.

Saya jadi teringat dengan sebuah artikel lain yang membahas tentang 3 kunci panjang umur dari seorang yogi (pelaku yoga pria): beryoga setiap hari, berpantang rempah dan menghindari seks. Untuk beryoga saban hari, saya bisa menerimanya bulat-bulat. Tidak ada yang bisa menyangkal efek positif yoga pada kesehatan manusia. Lalu berpantang rempah. Meski agak membingungkan dan rempah memiliki kandungan yang menyehatkan, jika dikonsumsi terlalu sering, ia juga membuat tubuh menjadi makin ‘panas’ dan memicu kegelisahan yang pada gilirannya relatif mengganggu saat yogi bermeditasi. Alhasil, meditasi tak bertahan lama dan konsentrasi mudah pecah. Dan lagipula, rempah juga berkhasiat meningkatkan gairah seksual. Inilah yang menggiring kita ke poin ketiga. Tapi apa salahnya melakukan banyak seks? Ternyata karena pria tua sepertinya sudah mesti pensiun dari urusan kenikmatan ranjang agar jantung yang sudah melemah tak berhenti seketika saat terlalu asyik bersenggama.

 

Ricky: “Jauhi Rokok!” (Kisah Seorang Penyintas Serangan Jantung)

Screen Shot 2016-08-24 at 10.27.25
Ricky: “Jauhi rokok. Stop merokok dan jauhi perokok, karena asapnya sangat buruk untuk kesehatan kita. Rajin berolahraga dan menjaga pola makan yang sehat.” (Foto: Instagram)

Tubuh manusia mirip mesin yang membutuhkan perawatan teratur. Ia tidak bisa sesekali saja dirawat habis-habisan saat kita memiliki waktu senggang atau sedang memiliki suasana hati yang bagus lalu kita gunakan sepuas-puasnya tanpa batas dan mengabaikannya saat merasa sibuk atau malas. Karena itu, hidup aktif dan sehat di masa kecil dan remaja tidak serta merta menjamin sepenuhnya seseorang sehat seterusnya hingga fase dewasa dan tua. Jika lalai, sama saja akibatnya sefatal orang yang tidak pernah menjaga kesehatan sejak muda. Itulah pelajaran hidup yang harus dibayar Ricky Firmansyah. Dengan sangat mahal.

Sama-sama menggemari yoga, kami bertemu pertama kali dalam sebuah kelas yoga luar ruangan di suatu pagi yang cerah dan hangat di sebuah kawasan di Bumi Serpong Damai, Tangerang. Di samping manfaat kesehatannya, yoga juga memberikan manfaat lainnya yang tak kalah positifnya bagi kehidupan sosial saya: mempertemukan saya dengan orang-orang baru.

Bersama dengan orang-orang baru seperti Ricky, saya juga belajar hal-hal baru, termasuk betapa mahalnya kesehatan jantung ini.

Pada saya, Ricky mengaku sejak masa kecil sampai remaja menghabiskan waktu untuk aktif berkegiatan fisik. Ia menyukai olahraga. Dari basket, sepakbola sampai aktivitas khas pecinta alam di luar ruangan yang menantang ia lakoni.

“Tapi 15 tahun terakhir, saya malas berolahraga dan makanan yang saya konsumsi tidak terkontrol, sehingga kolesterol saya menumpuk,” terang Ricky yang ibunya juga mengalami masalah kesehatan jantung yang mirip. Pembuluh darah jantung ibu Ricky dipasangi balon untuk menyingkirkan penyumbatan akibat penumpukan plak.

Kadar kolesterol dalam tubuh Ricky perlahan tapi pasti melambung. Begitu juga dengan bobot tubuhnya. Karena tak ada keluhan berarti, ia mengabaikannya dan menjalani aktivitas sebagaimana biasanya. Padahal, jika Anda belum tahu, berat badan berlebihan saja sudah menaikkan peluang gagal jantung dua kali lipat lebih bagi mereka yang mengalaminya, apalagi jika ditambah dengan gabungan berbagai faktor lainnya seperti faktor genetik, pola hidup dan lain-lain  (sumber).

Diwal Mei 2014, Ricky merasakan sebuah keluhan di jantungnya. Hasil pemeriksaan kesehatan umumnya keluar dan memberikan sebuah hasil yang di luar dugaan: Jantungnya sedang mengalami gangguan. Pada bulan yang sama ia mengalami serangan jantung pertamanya.

Kontribusi gaya hidup menurutnya mempengaruhi kesehatannya yang kala itu menurun karena obesitas dan kadar kolesterol tinggi. Ditambah dengan buruknya pola makan dan kebiasaan merokok, kombinasi faktor-faktor tersebut bisa berakibat fatal.

Karena kondisi Ricky sudah sangat mengkhawatirkan, dokternya mengharuskan prosedur operasi bypass pada jantungnya. “Operasi saya jalani pada akhir September 2014,  saat saya kena serangan jantung yang kedua,” ungkapnya.

Peristiwa tersebut terjadi pada saat ia sedang bekerja di kantor pukul 8 pagi. “Dada mulai terasa sesak dan muncul sensasi nyeri di dada sebelah kiri.” Seketika itu juga ia dibawa istrinya ke RS Premier Jatinegara, dan langsung menjalani angiography. “Di situlah terlihat ada beberapa penyumbatan di pembuluh darah di jantung saya. Dokter menyarankan segera dilakukan operasi bypass,” tuturnya mengenang peristiwa yang tak terlupakan tersebut.

Ricky tidak bisa mengelak lagi karena menurut dokter, kondisinya sudah memburuk sampai pemasangan ring sudah tidak memungkinkan.

“Saya pasrah dan mengikuti saran dokter mengingat risiko yang setiap saat bisa saya hadapi apabila saya menolak untuk di-bypass,” kenang pria yang kini rajin berlatih yoga itu.

Pasca operasi bypass 2014 itu, Ricky merombak cara hidupnya dengan membiasakan olahraga. “Minimal jalan kaki untuk mengurangi berat tubuh saya, juga pola makan  lebih sehat dan teratur. Saya juga rajin bersepeda statis.”

Ricky tertarik dengan yoga setelah menyaksikan Virni, istrinya, yang mulai rajin berlatih yoga. Karena tak mau gegabah, ia berkonsultasi pada dokter jantungnya. “Setelah saya tanyakan pada dokter jantung saya, (mengikuti latihan yoga – pen) ternyata diperbolehkan,”ucapnya lega. Sifat latihan yoga yang low impact membuatnya relatif aman bagi penyintas gangguan jantung sepertinya.

Setelah beberapa lama mengintegrasikan yoga pada rutinitas olahraganya, Ricky mulai merasakan perubahan positif. Napasnya menjadi lebih panjang, badan lebih segar, tubuhnya lebih fleksibel. Secara mental yoga memberikan perubahan yang signifikan karena membuatnya belajar lebih rendah hati, bersabar, berterima kasih dan berbuat baik kepada sesama. Semua menyumbang pada pemulihan kesehatannya secara holistik.

“Bagaimana keluarga memberikan dukungan dalam menjaga kesehatan pasca operasi?” tanya saya. Menurutnya, dukungan keluarga sangat besar. Keluarga terutama istri sangat mendukung Ricky untuk kembali sehat. Istrinya rela menjadi “polisi” untuk memilih makanan dan selalu memberikan semangat.

Ditanya pesan yang ingin ia sampaikan pada anak-anak muda atau mereka yang masih sehat, Ricky berwejangan:”Jauhi rokok dan perokok karena asapnya sangat buruk untuk kesehatan. Rajin berolahraga dan menjaga pola makan yang sehat. Pada dasarnya boleh kalau mau makan sesuatu yang “agak kurang sehat” sesekali, misalnya durian atau makanan bersantan, asal sekedar mencicipi dan tetap diimbangi dengan olahraga supaya racunnya segera dibuang melalui keringat.”

Seolah sebagai ungkapan rasa syukurnya pada Ilahi, Ricky kini lebih menikmati hidup. Semangat itulah yang ia pancarkan dalam berbagai kegiatannya sekarang, dari melancong, sampai berkumpul dengan istri dan anak-anaknya. Karena tanpa kesehatan, semua kekayaan dan kenikmatan hidup lainnya menjadi hambar, tak bermakna.

P. S.: Makna “penyintas” sama dengan “survivor”.

(Tulisan ini dibuat untuk diikutsertakan dalam lomba blog bertema “Gaya Hidup Sehat, Untuk Jantung Sehat” dalam rangka HUT ke-35 tahun Yayasan Jantung Indonesia)

13 Cara Ilmiah Jaga Kesehatan Jantung yang Belum Anda Ketahui

Ada begitu banyak cara menjaga kesehatan jantung yang pernah kita dengar dalam pembicaraan kita sehari-hari. Tapi apakah sudah terbukti keabsahannya melalui penelitian ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan? Belum tentu juga. Berikut saya rangkum 13 cara menjaga kesehatan jantung yang belum Anda ketahui dan sudah dibuktikan keabsahannya melalui penelitian ilmiah oleh sejumlah tim ilmuwan kaliber dunia.

  1. Makan diet ikan segar ala Jepang: Berdasarkan studi ilmuwan di University of Pittsburgh Graduate School of Public Health, mengonsumsi asupan yang kaya ikan dan minyak ikan setiap hari membuat kesehatan jantung lebih baik berkat kandungan omega-3s. Ilmuwan menyarankan asupan ikan ditingkatkan menjadi hampir 100 gram per hari sebagaimana tingkat konsumsi orang Jepang. (Original Study)
  2. Makan semangka: Minum jus semangka menurunkan tingkat kolesterol, berat badan, dan plak di arteri jantung Anda, demikian ungkap penelitian tim riset dari Purdue University yang dilakukan pada tikus percobaan. Itu karena semangka mengandung zat citruline yang baik bagi kesehatan jantung, dan dalam beberapa penelitian sebelumnya terbukti bisa menurunkan tekanan darah. (Purdue University)
  3. Tinggal di daerah berudara bersih: Sebuah studi oleh tim riset Keck School of Medicine of University of Southern California membuktikan bahwa saat tingkat polusi udara berkurang, kesehatan jantung manusia yang tinggal di lingkungan itu juga meningkat. Riset itu dilaksanakan di Beijing tahun 2008 pada saat digelarnya Olimpiade Beijing. (Original Study)
  4. Mengonsumsi makanan tinggi lemak tak jenuh: Penelitian membuktikan konsumsi harian alpukat, minyak zaitun dan kacang-kacangan memperbaiki kesehatan jantung. Asupan semacam ini banyak ditemukan dalam pola makan Mediteranea, demikian ungkap tim riset dari Johns Hopkins University. (http://release.jhu.edu )
  5. Makan cokelat: Cokelat murni mengandung beberapa enzim yang bagus untuk kesehatan jantung, kata tim peneliti dari UNC-Chapel Hill dan Harvard University. Salah satu enzim yang ada dalam cokelat alami itu ialah DOT1L. Jika asupan enzim ini memadai, risiko seekor tikus percobaan menderita serangan jantung akan lebih rendah. Yang harus diperhatikan ialah bahwa Anda harus mengonsumsi cokelat murni, bukan cokelat pabrikan yang sudah diproses dan padat kalori (http://uncnews.unc.edu/).
  6. Perbaiki cara hidup: Cara hidup yang sehat memiliki dampak lebih besar daripada faktor keturunan dalam menjaga kesehatan jantung, menurut dua riset ilmiah dari Northwestern University. Bagaimana Anda menjalani kegiatan sehari-hari dan apa yang Anda lakukan setiap hari berkontribusi pada tinggi rendahnya risiko terkena sakit jantung. (www.northwestern.edu/newscenter/index.html)
  7. Menggerakkan kaki saat duduk: Saat Anda resah atau kurang sabar, biasanya Anda akan mengetukkan kaki ke lantai atau menggerakkannya ke segala arah. Ternyata ini ada gunanya bagi jantung dan peredaran darah secara umum. Karena menggerakkan kaki dalam kondisi duduk membuat sirkulasi darah lebih lancar daripada cuma diam. (University of Missouri)
  8. Menjaga kebugaran: Kebugaran fisik mungkin tidak hanya mengurangi risiko menderita penyakit jantung namun juga bisa meningkatkan peluang Anda bertahan hidup jika Anda telanjur menderita sakit jantung, demikian ungkap sebuah tim penelitian ilmiah dari Johns Hopkins University yang dipublikasikan di Jurnal Mayo Clinic Proceedings. Karena itu, lakukan olahraga apapun yang Anda bisa dan paling sukai, meskipun itu hanya berjalan cepat di sekitar rumah Anda. (Original Study)
  9. Menghindari overdosis berita tragis: Peringatan bagi Anda yang kerap mengonsumsi konten berita di berbagai media. Membaca terlalu banyak berita, terutama yang bernada tragis dan menyedihkan, akan membuat kesehatan jantung menurun. Hal ini dibuktikan oleh simpulan dari penelitian tim riset Texas A&M University. Untuk itu, peneliti menyarankan membatasi diri dalam membaca berita. (Texas A&M University)
  10. Membahagiakan diri: Saat seseorang dengan penyakit jantung merasa bahagia, semangat hidupnya akan lebih tinggi dan pada gilirannya akan membantu meningkatkan kesadarannya untuk menjalani pengobatan dengan lebih telaten. Setidaknya itulah simpulan riset selama lima tahun pada lebih dari 1000 orang oleh tim riset Penn State. (Penn State)
  11. Menyuruh ayah, suami, saudara atau anak laki-laki Anda memperbaiki cara hidupnya: Jika seseorang memiliki sakit jantung (termasuk penyakit kanker, diabetes), cara hidup ayah/ kakeknya bisa jadi berkontribusi. Para peneliti dari McGill University mengemukakan bahwa selain DNA, ada histones dalam sperma pria yang membawa informasi yang bisa diwariskan pada beberapa garis keturunannya nanti.  (Original Study)
  12. Menyuruh ibu, istri, saudara atau anak perempuan Anda memilih asupan yang sehat: Jika tadi kita sudah menyudutkan kaum pria, sekarang giliran kaum wanita. Para ibu yang asupan makanannya amburadul bisa mempengaruhi secara negatif kesehatan anak dan cucunya bahkan cicitnya. Asupan yang kurang sehat dan bertahan lama akan menyumbang pada risiko penurunan kesehatan termasuk risiko terjangkitnya penyakit-penyakit degeneratif termasuk sakit jantung. Nutrisi selama masa kehamilan sangat penting untuk diperhatikan, bukan hanya demi kesehatan generasi di bawah Anda tetapi juga hingga tiga generasi mendatang. (Washington University in St. Louis)
  13. Tidak berlebihan mengonsumsi minyak sayur: Banyak klaim pihak industri minyak goreng yang kurang absah. Salah satunya yang sering salah kaprah ialah mengganti minyak goreng Anda dengan minyak nabati dari bahan jagung dan safflower yang kaya asam linoleat omega-6 tapi miskin kandungan asam alfa linoleat omega-3. Dengan demikian, minyak jenis ini tidak banyak membantu meningkatkan kesehatan jantung. (University of Toronto)

 

(Tulisan ini dibuat untuk diikutsertakan dalam lomba blog bertema “Gaya Hidup Sehat, Untuk Jantung Sehat” dalam rangka HUT ke-35 tahun Yayasan Jantung Indonesia)