Pola Makan Sehat dan Olahraga Ala Rasulullah SAW

“Perawakan Nabi Muhammad SAW tidak tinggi, tidak pendek. Rambutnya keriting, tak pula lurus. Wajah beliau tak bulat, bukan pula persegi. Kulit Nabi cerah, putih kemerah-merahan. Rambutnya disisir ketika sebahu, digerai ketika sepapak daun telinga. Dahi beliau lebar. Alis Nabi melengkung panjang, tebal dan nyaris bertaut di tengah. Di antara keduanya terdapat urat yang memerah kala beliau marah. Bola mata Nabi indah dan hitam, bulu matanya lentik menawan. Hidungnya mancung, bagian atasnya memancar cahaya. Dua pipinya datar. Janggut sang Nabi menggaris dari depan telinga, menebal menuju dagu. Mulutnya lebar, giginya besar dari selanya memancar cahaya. Dari bawah janggut Nabi menggalur ke bawah bebulu halus, lewat leher, melebat di dada, melajur bagai tongkat hingga ke pusarnya. Leher Nabi jenjang dan indah. Perut beliau sama rata dengan dadanya nan bidang. Jarak antara kedua bahu lebar. Persendiannya kokoh.  Dulu Nabi suka menyisir rambut ke belakang mirip Ahli Kitab. Saat nyata keingkaran mereka, beliau berselisih dengan menyisir belahnya. Nabi makan roti dari tepung utuh tak diayak (dulu dianggap rendah, kini sehat berserat), lauknya garam, minyak zaitun, cuka dan labu. Nabi yang penuh cinta memberi nama bebarang miliknya; dari perkakas RT, bejana, gelas, kuda, keledai, pedang, tombak. Nabi tak pernah mencela makanan. Jika menyukainya, beliau memakannya penuh syukur. Jika tidak suka, beliau cukup diam tanpa komentar….”

Begitu deskripsi singkat yang seorang unggah ke Facebook pagi kemarin, hari Maulid Nabi tepat di hari ketiga tahun 2015. Di bawahnya tertera nama seorang ustadz. Salim A Fillah, tulisnya.

Saya tak tahu sumber semua deskripsi ini tetapi kalimat-kalimat deskriptif ini memang kerap disebarkan sebagai cara membayangkan sosok fisik Muhammad SAW. Kita boleh membayangkannya, boleh menuangkannya dalam kalimat tetapi tidak boleh menjadikannya sebuah lukisan atau gambar atau patung. Bisa jadi karena pembuatan lukisan atau gambar atau patungnya akan membuat risiko kultus individu makin tinggi. Semua orang mungkin akan membuatnya sebagai jimat atau penolak sial atau memuja-muja benda-benda itu bak berhala. Karena inilah yang biasa terjadi di masyarakat luas yang memiliki tingkat fanatisme yang tak bisa kita bayangkan. Tidak boleh syirik, menyekutukan Allah, tetapi toh tetap juga terjadi bukan? Karena itulah wujud kecintaan pada Nabi, mungkin begitu dalih mereka.

Deskripsi itu membuat saya ingin meminjam mesin waktu Doraemon, untuk memastikan apakah demikian kenyataannya. Sebuah upaya verifikasi keabsahan sebuah pernyataan yang perlu sekali dilakukan para jurnalis sebelum memuatnya. Bagaimanapun juga sumber primer, observasi langsung, lebih meyakinkan daripada sumber sekunder, atau bahkan tersier, seperti kutipan dari kutipan dari pernyataan seseorang. Kita bisa bayangkan tingginya risiko kesalahan redaksional atau pengutipan yang bisa terjadi selama ratusan tahun hingga informasi deskripsi Nabi itu bisa sampai ke saya.

Mungkin inti dari deskripsi itu adalah betapa Nabi Muhammad adalah seorang yang secara fisik biasa-biasa saja, seperti kita semua. Saya teringat dengan perkataan seorang teman yang mengatakan bahwa justru orang-orang yang istimewa itulah yang kerap kali kita remehkan. Ia lalu menyebut agen-agen badan intelijen negeri ini yang sama sekali bukan orang yang memiliki badan dan rupa yang tipikal agen khusus intelijen seperti James Bond dan sebagainya. Mereka, kata teman saya, tampil sangat biasa sehingga sangat melebur dengan orang-orang dan lingkungan di sekitarnya. Seorang pria paruh baya kurus atau anak muda yang terlihat ‘alay’ bisa saja seseorang yang telah diangkat sebagai agen khusus intelijen. Ini berkebalikan dari orang-orang biasa yang ingin diakui sebagai istimewa. Mereka justru ingin diakui sebagai istimewa dan agar bisa diakui istimewa, mereka harus berpenampilan mencolok.Kita menjumpai banyak orang seperti ini di dunia bisnis. Sungguh perbedaan yang amat mencolok antara dunia intelijen dan bisnis.

Terlepas dari semua itu, saya lebih tertarik dengan pola makan dan olahraga yang menurut penjelasan dalam buku “Pola Makan Rasulullah” karya Prof. Dr. Abdul Basith Muhammad as-Sayyid, seorang “ahli biofisika dan biokimia sekaligus pakar pengobatan alternatif,” demikian dijelaskan oleh Penerbit Almahira, di Jaktim, yang mencetak buku ini pertama kali September 2006. Buku hasil terjemahan M. Abdul Ghoffar dan H. M. Iqbal Haetami , Lc. ini memberikan penjelasan gamblang mengenai kebiasaan makan Rasul dan olahraga yang membuatnya tetap berperut rata di segala usia hingga akhir hayatnya di usia 63 tahun.

Nabi Muhammad SAW menggunakan Al Qur’an surat Al A’raf ayat 31 sebagai panduan, yang terjemahannya ialah:”Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaian kalian yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” Kalimat kuncinya ialah:”Jangan berlebih-lebihan.” Nasihat ini sesuai dengan saran seorang dokter yang saya kenal di tempat kerja. Ia pernah berkata, “Semua orang boleh saja makan semua makanan yang ia inginkan.” Saya tidak percaya dengan apa yang ia katakan. Ia kemudian menambahkan,”Asal sedikit-sedikit saja makannya…” Nah, itulah yang sulit dilakukan banyak sekali orang. Kita boleh saja makan apa saja asal cuma sesuap? Sayangnya, terlalu sering sesuap itu bisa menjadi dua suap, dua puluh suap, hingga dua ratus suap saat suasana hati sedang buruk atau ingin menggunakan makanan sebagai pelampiasan.

Meski melarang makan dan minum berlebihan, Islam juga tidak menganjurkan puasa berlebihan. “Syariat melarang seseorang berpuasa wishal (puasa yang tidak pernah buka selama berhari-hari). Sebab hal itu bisa melemahkan tubuh, mematikan jiwa, dan melemahkan keinginan beribadah,” tulis Abdul Basith Muhammad as-Sayyid di halaman 242.

Dijelaskan bahwa Ali bin Husain pernah bercakap-cakap dengan seorang dokter Nasrani. Saat sang dokter mengklaim Al Qur’an tidak mengandung ilmu kedokteran, Ali bin Husain mengatakan:”Allah SWT telah menghimpun ilmu kedokteran hanya dalam setengah ayat dari kitab kami.” Ayat yang dimaksud ialah:”Allah berfirman, ‘Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.’” Sang dokter terus bertanya apakah Rosul juga memahami ilmu kedokteran. Ali menjawab:”Lambung adalah gudang penyakit, dan diet adalah sumber obat. Berikanlah untuk setiap anggota tubuh sesuai dengan kebiasaannya.”

Islam juga menganut pengendalian asupan makanan dan minuman. Penulis Abdul Basith Muhammad as-Sayyid mengatakan mengobati orang sakit dapat dilakukan dengan dua hal, obat dan diet (pantang makanan tertentu). Jika keduanya disatukan, orang akan jauh lebih sehat daripada hanya sekadar minum obat atau melakukan diet ketat.

Abdul Basith juga menyebut bagaimana tradisi penyembuhan melalui diet atau pembatasan konsumsi makanan dan minuman itu sudah dilakukan oleh orang India zaman dulu. “Oleh karena itu, sebagian besar pengobatan yang dilakukan oleh orang-orang India adalah “berpantang”. Dimana (sic) orang sakit dilarang minum, makan dan berbicara selama beberapa hari, sehingga dia sembuh dan sehat,” terang Abdul Basith di halaman 244.

Bahkan jika memiliki makanan berlebih, kita disarankan untuk memberikannya pada hewan-hewan di sekitar kita yang masih kelaparan. Ini lebih baik daripada memakan semuanya sendiri hingga terlalu kenyang. Dijelaskan Abdul Basith bahwa Luqman (yang dikisahkan dalam Al Qur’an surat Al Luqman) pernah berpesan untuk tidak makan terlalu kenyang. Abdul Basith menulis,“ Jika engkau memberikan makanan itu untuk anjing, maka yang demikianlah itu lebih baik daripada engkau terus memakannya.”

Rasulullah memerintahkan agar kita berolahraga agar memperbaiki tubuh dan hati, kata Abdul Basith. Ia menegaskan hal itu dengan mengutip sebuah hadis Nabi:

“Berperanglah kalian, niscaya kalian akan memperoleh ghanimah (harta rampasan), dan lakukanlah perjalanan, niscaya kalian akan menjadi sehat.” (Riwayat Ath-Thabarani di kitab al-Ausath, sanad dhaif/ lemah).

Dalam hal ini, yang dimaksud “melakukan perjalanan” ialah menunggang kuda, karena kuda ialah moda transportasi utama di Arab saat itu. Olahraga juga lebih baik dilakukan saat lambung kosong yaitu lima jam setelah makan, bisa kurang bisa juga lebih ( as-Sayyid: Pola Makan Rasulullah, halaman 98).

Untuk aturan tidur, Rasul menurut penuturan Abdul Basith menyarankan umatnya tidur setelah proses pencernaan selesai. Artinya, antara waktu tidur dan waktu makan besar (menu berat, bukan sekadar makanan ringan atau buah) idealnya 3-4 jam. Setelah 3-4 jam lambung telah kosong dan kita dapat mulai berbaring untuk tidur malam.

Berbaring dalam tidur juga disarankan oleh Rosul untuk bertumpu di sisi kanan tubuh. Mengapa? Karena sepengetahuan saya pernah dikatakan bahwa jantung kita ada di sebelah kiri, sehingga berbaring dengan sisi kanan bersentuhan dengan tempat tidur akan lebih baik. Pun demikian saat kita akan bangun tidur, gunakan sisi kanan tubuh sebagai tumpuan. Diriwayatkan dari Aisyah RA bahwa Nabi biasa mengawali tidur dengan berbaring ke sebelah kanan dengan menghadap kiblat (as-Sayyid: Pola Makan Rasulullah, halaman 99).

Terkait tidur siang, Rasul tidak melarang karena jika kita tidur siang, akan ada kekuatan untuk bangun di malam hari, mungkin untuk sholat malam. Syaratnya tidur siang ini tidak dilakukan setelah ashar atau di pagi hari karena menurut Aisyah RA barangsiapa tidur setelah Ashar lalu hilang akalnya, maka janganlah sekali-kali mencela, kecuali dirinya sendiri (as-Sayyid: Pola Makan Rasulullah, halaman 101).

Food Combining in The Holy Quran

Fruits of Shinseiki pear on tree
The rule of the thumb is EAT FRUITS BEFORE ANYTHING. (Image via Wikipedia)

What you are about to read below is a piece of text I translated from a friend of mine. This is relevant if you’re a moslem but still think that food combining is not so convincing and groundless to apply to your daily eating pattern.

So it looks like The Holy Quran implies a food combining principle in the two verses below.

وَفَاكِهَةٍ مِّمَّا يَتَخَيَّرُونَ وَلَحْمِ طَيْرٍ مِّمَّا يَشْتَهُونَ

” And with fruits, any that they may select, and the flesh of fowls, any that they may desire.” (Al Waqiah: 20-21)

In the verses above, Allah SWT explains about the food of th paradise inhabitants. What is interesting here? As anyone can read, the word ‘fruits’ is mentioned first and ‘flesh’  latter. Why so?

This seems to be the most plausible answer. While most people in the Western hemisphere eat fruits before any other foods and have fruits as their breakfast, we Indonesians are not familiar to this eating habit. The prevalent myth in Indonesia is that fruits are supposed to be consumed after eating heavier meals or eaten later close to noon or afternoon. Then we must analyze why Allah SWT mentions fruits before meat? Does it have anything to do with the Western people eating habit. The question remains unanswered.

Fruits are digested in the stomach faster than any other types of foods. It generally takes 15-20 minutes for the system to fully digest fruits (with bananas as an exception, taking around 45 minutes). The glucose in fruits instantly provides us energy needed to work in the morning. It generally takes 2 hours for carbohydrates (rice, corn, noodles, bread) to be processed provided that they’re eaten alone (without any other foods). As for animal protein (chicken, four-legged animal meat, fish, egg) provided that they’re eaten alone is usually digested by the stomach within around 3-4 hours. Typical Indonesian way of eating – which involves eating animal protein and carbohydrate at the same time –  burdens the stomach because IT TAKES MORE THAN 6 HOURS TO COMPLETELY DIGEST THIS CARBO-PROTEIN COMBO. So you can imagine: before your stomach can’t get enough rest, you eat more, and on and on…BAM!

We also need to pay attention to the CIRCADIAN CYLE of  body. In a nutshell, the body is cleaning itself from the metabolism residue. It’s the “leftover” in large intestine that ought to be propelled out as soon as possible unless it’ll turn toxic anytime soon. For your information, this cleaning phase happens every day from around 4 am to 10 am, which is why the body doesn’t produce digestive enzymes (because it’s too busy cleaning itself!).  It’s a safe bet to ONLY eat fruits in the morning. To digest fruits, it doesn’t require digestive enzymes because enzyme contained in our saliva can do just that! This is also why we’d better chew fruits perfectly before swallowing it so as to expose it to the enzyme in saliva.

 

All the explanation is in accordance with Allah’s holy verses in The Qur’an :

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِن بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“ And if all the trees on earth were pens and the ocean (were ink), with seven oceans behind it to add to its (supply), yet would not the Words of Allah be exhausted (in the writing); for Allah is Exalted in Power, Full of Wisdom.” ( Luqman : 27 )

The Religious Dilemma (Position among the Stars- Part 3)

I wrote the draft of this post in the Jakarta-Bogor commuter line train. Great experience to write! Writers must love trains! And the notebook -one with paper not running on battery- is the most loyal and easy-to-use tool to document every train of thoughts.

It’s always nice to see how people live side by side despite being different. Being different at times separates us apart. I’m not like you. You’re not like me. Thus we should never be agreed on any things. But life keeps a zillion mysteries.

I haven’t watched the previous installment (a friend of mine said this is the third of a trilogy) but I thought there is something missing before this. And I was right.

In the previous trilogy, , it is told that the son has converted himself to Islam. The old lady wasn’t really pleased to learn this but she eventually came to terms with it.

After converting to Islam to his own will, the son didn’t seem to be fervent enough to learn his new faith he just declared to embrace.

In one early Sunday morning, the old lady who was a Catholic had to go to church to attend the Sunday morning sevice. She needed company but Tari was still asleep. The old lady continually woke her up yet in vain. Then came the uncle. He wanted Tari to accompany the old lady attending the service. “Come on, there’re only a flock of old women at the church!” Tari tousled her hair, still yawning and unwilling to leave the bed. It was early in the morning, for God’s sake! Yet it didn’t stop him to drag her out of the bed. Feeling upset, Tari asked her uncle in a bitter, flat tone, “Why don’t you accompany her instead?” “But I’m a moslem. How come a moslem goes to church??” the uncle got even more irritated. “You’re a moslem but we’ve never ever seen you praying (: shalat, Ind),” Tari protested. “Uhm, well… ,” he muttered, followed with a considerably long pause, unable to supply a logical argument. “Chekmate!” said the old lady, giggling. ” “That is absolutely true!” she found it particularly hilarious. Anda she continued giggling. Few moments later, the mother and mildly insulted son were seen on a motorbike, heading to the church. The church turned out to be less than majestic (don’t even think of a towering, classic-styled one like the cathedral downtown Jakarta). Nothing looked churchlike about it, except the congregation.

That’s the hard cold fact that any Christian or Catholic must deal with in several parts of this Moslem-dominated country. Once I overheard a Catholic priest talking with the you-know-who most prominent entrepreneurship evangelist in the country. He said, as far as I’m concerned, an opinion which would sound more or less like this: “(Indonesian) moslems are generally irritated when the neighborhood they’re living in shows a huge cross.” The cross or the symbol of Christianity seemes too either unbecoming or improper. One shouldn’t do it no matter what. It is intolerance, which the state and the laws have no approval of but the rest of the nation always clings to. It is natural, in fact. Human beings are selfish by nature. Once you’re considered a threat for their ego, you’ll be eliminated. That simple!

Tari was actually torn between these two older adults: her grandmom and her uncle.  She found it quite enigmatic to see two faiths embraced in the family. It was no easier for her at school. She was a moslem by law and school regarded her so. Nonetheless, deep down inside her conscience, Tari or Theresia loved Jesus (as written stealthily on the door of the rented house the family lived in). After all, Theresia sounded like a baptist name given after the shower ritual (excuse my inapt description, I myself am a moslem). My hunch is, thus, she was baptized early by the parents or grandmother.

And then another scene showed Tari and the grandmom went to a place looking a lot like a school auditorium. It was spacious, much bigger than a classroom. There were a lot of students in uniform. I don’t knw exactly what it was but what happened there was she, along with several other students who freshly graduated, was interviewed by a teacher. Perhaps it was an interview of scholarship application. Tari was asked whether she knew the 5 pillars of Islam. Tari cast a blank stare and kept silent, while the teacher passed the question to another student. The student being asked answered in an effortless manner, “Syahadat (pledge), salat (pray), zakat (alms),  puasa (fasting, and haji (hajj- pilgrimage trip to Madina and Mecca).”

There was nothing that Tari could do but leave the room with her last shred of dignity. But before she could flee, another humiliation was awaiting. The teacher- wearing veil- mumbled that Tari only wanted the money (scholarship fund) but didn’t even give a damn about the most basic questions of all. She looked uneasy, ashamed, guilty (maybe because she felt like she wouldn’t make it), as she  kept on scratching her head during the interview.

As Tari went out of the auditorium, her grand mother asked how the interview test was going. Tari was silenced by the question. She nodded weakly, only making sure the grandmother wouldn’t notice her troubled heart. She clearly wasn’t fully recovered from the great humiliation she just experienced. That was hard on the teenage girl. But the grandmom wouldn’t  find out that anyhow Tari was still conflicting against the other self inside. What doubt? I guess it has something to do with the question: “Is she supposed to be a Catholic or a Moslem?”

P. S. : Read the previous related posts:

The Amazingly Mixed-up Indonesia

The Anger and Disappointment