Ricky: “Jauhi Rokok!” (Kisah Seorang Penyintas Serangan Jantung)

Screen Shot 2016-08-24 at 10.27.25
Ricky: “Jauhi rokok. Stop merokok dan jauhi perokok, karena asapnya sangat buruk untuk kesehatan kita. Rajin berolahraga dan menjaga pola makan yang sehat.” (Foto: Instagram)

Tubuh manusia mirip mesin yang membutuhkan perawatan teratur. Ia tidak bisa sesekali saja dirawat habis-habisan saat kita memiliki waktu senggang atau sedang memiliki suasana hati yang bagus lalu kita gunakan sepuas-puasnya tanpa batas dan mengabaikannya saat merasa sibuk atau malas. Karena itu, hidup aktif dan sehat di masa kecil dan remaja tidak serta merta menjamin sepenuhnya seseorang sehat seterusnya hingga fase dewasa dan tua. Jika lalai, sama saja akibatnya sefatal orang yang tidak pernah menjaga kesehatan sejak muda. Itulah pelajaran hidup yang harus dibayar Ricky Firmansyah. Dengan sangat mahal.

Sama-sama menggemari yoga, kami bertemu pertama kali dalam sebuah kelas yoga luar ruangan di suatu pagi yang cerah dan hangat di sebuah kawasan di Bumi Serpong Damai, Tangerang. Di samping manfaat kesehatannya, yoga juga memberikan manfaat lainnya yang tak kalah positifnya bagi kehidupan sosial saya: mempertemukan saya dengan orang-orang baru.

Bersama dengan orang-orang baru seperti Ricky, saya juga belajar hal-hal baru, termasuk betapa mahalnya kesehatan jantung ini.

Pada saya, Ricky mengaku sejak masa kecil sampai remaja menghabiskan waktu untuk aktif berkegiatan fisik. Ia menyukai olahraga. Dari basket, sepakbola sampai aktivitas khas pecinta alam di luar ruangan yang menantang ia lakoni.

“Tapi 15 tahun terakhir, saya malas berolahraga dan makanan yang saya konsumsi tidak terkontrol, sehingga kolesterol saya menumpuk,” terang Ricky yang ibunya juga mengalami masalah kesehatan jantung yang mirip. Pembuluh darah jantung ibu Ricky dipasangi balon untuk menyingkirkan penyumbatan akibat penumpukan plak.

Kadar kolesterol dalam tubuh Ricky perlahan tapi pasti melambung. Begitu juga dengan bobot tubuhnya. Karena tak ada keluhan berarti, ia mengabaikannya dan menjalani aktivitas sebagaimana biasanya. Padahal, jika Anda belum tahu, berat badan berlebihan saja sudah menaikkan peluang gagal jantung dua kali lipat lebih bagi mereka yang mengalaminya, apalagi jika ditambah dengan gabungan berbagai faktor lainnya seperti faktor genetik, pola hidup dan lain-lain  (sumber).

Diwal Mei 2014, Ricky merasakan sebuah keluhan di jantungnya. Hasil pemeriksaan kesehatan umumnya keluar dan memberikan sebuah hasil yang di luar dugaan: Jantungnya sedang mengalami gangguan. Pada bulan yang sama ia mengalami serangan jantung pertamanya.

Kontribusi gaya hidup menurutnya mempengaruhi kesehatannya yang kala itu menurun karena obesitas dan kadar kolesterol tinggi. Ditambah dengan buruknya pola makan dan kebiasaan merokok, kombinasi faktor-faktor tersebut bisa berakibat fatal.

Karena kondisi Ricky sudah sangat mengkhawatirkan, dokternya mengharuskan prosedur operasi bypass pada jantungnya. “Operasi saya jalani pada akhir September 2014,  saat saya kena serangan jantung yang kedua,” ungkapnya.

Peristiwa tersebut terjadi pada saat ia sedang bekerja di kantor pukul 8 pagi. “Dada mulai terasa sesak dan muncul sensasi nyeri di dada sebelah kiri.” Seketika itu juga ia dibawa istrinya ke RS Premier Jatinegara, dan langsung menjalani angiography. “Di situlah terlihat ada beberapa penyumbatan di pembuluh darah di jantung saya. Dokter menyarankan segera dilakukan operasi bypass,” tuturnya mengenang peristiwa yang tak terlupakan tersebut.

Ricky tidak bisa mengelak lagi karena menurut dokter, kondisinya sudah memburuk sampai pemasangan ring sudah tidak memungkinkan.

“Saya pasrah dan mengikuti saran dokter mengingat risiko yang setiap saat bisa saya hadapi apabila saya menolak untuk di-bypass,” kenang pria yang kini rajin berlatih yoga itu.

Pasca operasi bypass 2014 itu, Ricky merombak cara hidupnya dengan membiasakan olahraga. “Minimal jalan kaki untuk mengurangi berat tubuh saya, juga pola makan  lebih sehat dan teratur. Saya juga rajin bersepeda statis.”

Ricky tertarik dengan yoga setelah menyaksikan Virni, istrinya, yang mulai rajin berlatih yoga. Karena tak mau gegabah, ia berkonsultasi pada dokter jantungnya. “Setelah saya tanyakan pada dokter jantung saya, (mengikuti latihan yoga – pen) ternyata diperbolehkan,”ucapnya lega. Sifat latihan yoga yang low impact membuatnya relatif aman bagi penyintas gangguan jantung sepertinya.

Setelah beberapa lama mengintegrasikan yoga pada rutinitas olahraganya, Ricky mulai merasakan perubahan positif. Napasnya menjadi lebih panjang, badan lebih segar, tubuhnya lebih fleksibel. Secara mental yoga memberikan perubahan yang signifikan karena membuatnya belajar lebih rendah hati, bersabar, berterima kasih dan berbuat baik kepada sesama. Semua menyumbang pada pemulihan kesehatannya secara holistik.

“Bagaimana keluarga memberikan dukungan dalam menjaga kesehatan pasca operasi?” tanya saya. Menurutnya, dukungan keluarga sangat besar. Keluarga terutama istri sangat mendukung Ricky untuk kembali sehat. Istrinya rela menjadi “polisi” untuk memilih makanan dan selalu memberikan semangat.

Ditanya pesan yang ingin ia sampaikan pada anak-anak muda atau mereka yang masih sehat, Ricky berwejangan:”Jauhi rokok dan perokok karena asapnya sangat buruk untuk kesehatan. Rajin berolahraga dan menjaga pola makan yang sehat. Pada dasarnya boleh kalau mau makan sesuatu yang “agak kurang sehat” sesekali, misalnya durian atau makanan bersantan, asal sekedar mencicipi dan tetap diimbangi dengan olahraga supaya racunnya segera dibuang melalui keringat.”

Seolah sebagai ungkapan rasa syukurnya pada Ilahi, Ricky kini lebih menikmati hidup. Semangat itulah yang ia pancarkan dalam berbagai kegiatannya sekarang, dari melancong, sampai berkumpul dengan istri dan anak-anaknya. Karena tanpa kesehatan, semua kekayaan dan kenikmatan hidup lainnya menjadi hambar, tak bermakna.

P. S.: Makna “penyintas” sama dengan “survivor”.

(Tulisan ini dibuat untuk diikutsertakan dalam lomba blog bertema “Gaya Hidup Sehat, Untuk Jantung Sehat” dalam rangka HUT ke-35 tahun Yayasan Jantung Indonesia)

Wanita Cemas dengan Paha, Pria dengan Perut Mereka

Mereka yang mengalami kelebihan berat badan memiliki fokus yang berbeda dalam hal bagian tubuh yang ditangani menurut jenis kelamin dan kelompok usia.

Menurut analisis statistik 7.724 orang yang menerima bantuan dalam sebuah klinik diet dari April hingga Juni tahun lalu, para perempuan memiliki tingkat kecemasan yang paling tinggi mengenai paha mereka sementara para pria mencemaskan bagian perut dan pinggang mereka, dua area yang kerap dipegang oleh pasangan mereka saat bermesraan.

Berdasarkan analisis grup, para remaja dan mereka yang berada di kelompok usia 20-an berupaya mendapatkan perawatan untuk merampingkan bagian paha mereka tetapi mereka yang berusia 30 tahun ke atas, melakukan perawatan untuk merampingkan bagian perut mereka.

Seorang juru bicara untuk klinik itu mengatakan temuan mereka menunjukkan perbedaan dalam sebaran lemak tubuh dan perubahan hormon menurut jenis kelamin dan usia. Pasien berusia lebih tua cenderung menginginkan perawatan untuk obesitas perut karena banyak pria yang memiliki perut yang besar karena terlalu banyak minum sebagaimana yang dialami banyak wanita pasca melahirkan dan menopause, di samping kurangnya olahraga dan terlalu banyak makan.

Bukti Nyata Orang Gemuk Juga Bisa Lentur

Sudah kenyang rasanya saya mendengar komentar seperti:”Kamu enak ya, badannya kurus jadi lebih lentur, pelintar pelintir, jumpalitan ke sana kemari!”

Dan satu lagi, biasanya diucapkan oleh mereka yang diajak latihan yoga:”Ah aku kan gemuk gini, mana mungkin bisa fleksibel kayak kamu yang kurus?”

There’s always an exception…

Dan inilah pengecualian itu. Namanya Catur dan saya baru saja mengenalnya tadi pagi dalam kelas yoga yang diajar Deera Dewi.

Lihat saja fotonya dalam pose urdhva dhanurasana/ kayang/ wheel pose di bawah ini. Berat saya mungkin setengah berat badan Catur dan ia memiliki tingkat kelenturan tubuh yang luar biasa untuk orang dengan bentuk tubuh ‘berbobot’. Otot tubuh depannya tampak teregang maksimal (mungkin karena ia berlatih dengan rajin), dan bahu serta dada terbuka dan sangat lentur, dengan kedua kaki yang terjaga jarak kerapatannya. Anda bisa ketahui seseorang sudah melakukan kayang dengan benar atau belum dengan mengamati posisi bahu dan lengan yang lurus (tidak melengkung), dada terbuka maksimal, paha yang sejajar satu sama lain dan kokoh ke atas, dan 2 telapak kaki paralel selebar pinggul (tidak membuka terlalu lebar).

Dalam beberapa kasus, memang ada orang-orang yang tampaknya obesitas tetapi sebetulnya mereka bergaya hidup sehat dan aktif secara fisik. Mereka tampak berbobot karena tipe badan yang secara alami seperti itu dan tidak bisa lagi diubah dengan cara apapun. Namun, yang patut dihargai adalah konsistensi dan tekad yang tinggi untuk tetap berlatih dan bergaya hidup sehat meski lemak tidak kunjung luruh.

Masih ada alasan untuk tidak beryoga karena gemuk dan tidak fleksibel seperti rekan-rekan Anda yang langsing?