Begini Cara Kota Saya Kudus Dukung Bersama Suksesnya Asian Games 2018

GOR Djarum Kudus, sebuah tempat sakral yang menjadi kawah candradimuka bagi para atlet bulutangkis muda potensial di seluruh Indonesia. Diresmikan tahun 2006, venue megah ini menjadi pusat latihan dan aktivitas PB Djarum Kudus. (Foto: dok pribadi)

Hitung mundur perhelatan akbar olahraga Asian Games 2018 sudah dimulai sejak setahun lalu. Medio Agustus 2018 menandai 365 hari menuju pembukaan event akbar yang membanggakan bangsa Indonesia yang menjadi tuan rumah penyelenggaranya.

Di Jakarta sebagai ibukota negara sekaligus salah satu lokasi diadakannya banyak pertandingan Asian Games tahun ini, saya sudah menyaksikan banyak sekali pengingat bahwa event itu akan segera tiba. Dari badan bus TransJakarta yang hilir mudik, pelataran dan gedung-gedung pemerintahan yang dibalut ucapan penyemangat atlet RI, hingga di taman-taman kota yang dipasangi ikon-ikon lucu Asian Games yakni Bhin-Bhin (burung cendrawasih), Atung (rusa bawean), dan Kaka (badak bercula satu), rasanya Jakarta sudah sangat siap menyampaikan dukungan totalnya pada keberhasilan penyelenggaraan peristiwa olahraga skala kontinental ini.

Meskipun tenggat waktunya relatif sempit, penyediaan infrastruktur untuk Asian Games 2018 digarap serius oleh pemerintah. Ini buktinya. (Sumber: IndonesiaBaik.id)

Presiden Joko Widodo bak seorang panglima yang mengerahkan seluruh pasukannya untuk menyebarkan berita ke seluruh rakyat bahwa peran serta dan dukungan masyarakat terhadap kelancaran penyelenggaraan Asian Games 2018 sangat diperlukan. Tidak perlu menjadi olahragawan untuk bisa mensukseskan event ini. Dan tidak juga perlu menjadi warga resmi DKI Jakarta atau Palembang untuk bisa turut serta secara aktif menyuarakan dukungan.

Untuk itu, meskipun di Kudus kota asal saya spanduk dan baliho Asian Games 2018 tidak sebanyak yang ditemukan di Jakarta dan Palembang, Kudus juga memiliki kontribusi dukungan pada kesuksesan Asian Games kali ini. Selain spanduk dan baliho sebagaimana yang sudah dilakukan oleh aparat setempat (baca: “Polres Kudus Ikut Mensukseskan Asian Games 2018″), ternyata Kudus, tempat kelahiran saya yang notabene ‘hanya’ kabupaten terkecil di pulau Jawa dan kelima termungil di seluruh nusantara ini, memiliki caranya sendiri untuk berkontribusi. Berikut adalah bagaimana saya dan segenap warga Kudus lainnya bisa memberikan dukungan untuk Asian Games 2018.

Baliho Asian Games 2018 hiasi sudut-sudut kota Kudus. (Sumber: Tribratanewskudus.com)

Mendukung dengan Badminton

Badminton berasal dari India, tetapi ia tidak dikenal secara global hingga diperkenalkan di Inggris oleh para perwira perangnya. Untuk pertama kalinya olahraga ini dimainkan secara resmi di kota kecil bernama Badminton, yang menjadi kota kelahiran seorang bangsawan bernama Duke of Beaufort. Tahun 1934 menjadi saksi berdirinya organisasi resmi badminton pertama di dunia yang hingga kini dikenal sebagai IBF (International Badminton Federation) dan diketuai oleh Sir George Thomas dari Inggris. Kemudian diadakan perhelatan bergengsi Thomas Cup (sejak 1949) untuk pemain putra dan Uber Cup (1957) untuk pemain putri.

Badminton sendiri baru masuk di Indonesia tahun 1951 saat PBSI didirikan tanggal 5 Mei 1951. Tujuh belas tahun berselang, atlet badminton Indonesia Rudi Hartono menjadi juara All-England Championship dan menyabet gelar tersebut selama total 8 kali.

Selain dikenal sebagai kota kretek karena di sanalah berdiri perusahaan rokok terbesar Djarum, Kudus kemudian juga dikenal sebagai kota badminton. Reputasinya sudah tidak diragukan lagi. Dari deretan pemain badminton legendaris di Indonesia, beberapa berasal dari Kudus yakni Liem Swie King, Hastomo Arbi, Eddy Hartono dan Hariyanto Arbi. Sementara itu, nama-nama terkenal seperti Alan Budikusuma, Ardy B. Wiranata, Ivana Lie, Minarti Timur hingga Kevin Sanjaya Sukamuljo yang baru-baru ini naik daun meskipun bukan kelahiran Kudus tetapi menjalani pengasahan bakat di kota ini di bawah Klub Djarum. Tidak berlebihan jika dikatakan Kudus juga kota badminton Indonesia.

Memenuhi Target 2 Emas

Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, badminton masih terus menjadi tumpuan harapan untuk mengharumkan nama bangsa kita ini di kancah internasional termasuk ajang Asian Games 2018. Sebagai tuan rumah, kita tentu tidak ingin hanya menjadi pentonton di tribun, melihat bangsa-bangsa lain melaju dengan berbagai prestasi olahraga mereka. Dalam hal ekonomi, kita dalam skala dunia sudah masuk ke peringkat 16 berdasarkan Gross Domestic Product (GDP). Dalam hal jumlah penduduk, besarnya bangsa ini juga sudah menembus 5 besar. RI sudah melesat ke peringkat negara keempat dengan penduduk terbanyak di dunia setelah RRT, India dan AS. Karena itu, tidak berlebihan jika kali ini Indonesia ingin merangsek masuk ke peringkat sepuluh besar.

Kalau ditilik lagi lebih cermat ke sejarah, Indonesia pernah mencapai puncak prestasinya di Asian Games yang pertama kali diadakan tahun 1951 itu pada tahun 1962. Saat itu, RI bertengger di posisi kedua sehingga tidak berlebihan jika Indonesia seperti raksasa yang baru bangkit dari tidurnya. Dengan usia yang masih begitu muda, prestasi olahraga RI di lingkup Asia gilang gemintang dengan 21 emas, 26 perak dan 30 perunggu. Ia hanya kalah dari Jepang yang sukses meraup 73 emas, 65 perak dan 23 perunggu. Faktor status sebagai tuan rumah mungkin juga bisa memberikan dorongan psikologis dan mental pada para atlet kala itu.

Namun, bukan berarti atlet RI jago kandang! Di Bangkok tahun 1970, prestasi RI di Asian Games masih di peringkat 4 meski sebelumnya tahun 1966 turun di ranking 6. Hingga 1990, RI masih ada di kisaran 10 besar. Prestasi kita terpuruk di tahun 2006 saat Asian Games digelar di Doha, Qatar. Di Asian Games 2010 yang bertempat di Guangzhou, peringkat naik ke posisi 15. Dan sekarang, wajar kita bisa berharap banyak dengan para atlet kita karena pemerintah juga sudah menyatakan dukungan penuh pada penyediaan kontribusi para atlet yang berhasil meraih medali.

Pasok Bus untuk Asian Games

Kalau Anda warga Kudus, tentu tahu bus Nusantara. Nah, perusahaan karoseri Nusantara Gemilang yang berada di kota Kudus kini digandeng pemerintah untuk turut menyediakan bus bagi sarana transportasi para atlet Asian Games 2018. Bus-bus tersebut kemudian diserahkan untuk dikelola PT Transportasi Jakarta (TransJakarta). Tak tanggung-tanggung jumlahnya sampai 101 unit!

Bus-bus tersebut nantinya akan digunakan untuk melancarkan mobilitas para atlet dari penginapan mereka ke tempat bertanding. Yang patut diketahui, meskipun dikatakan berpusat di Jakarta dan Palembang, ternyata   area tepatnya di Bumi Serpong Damai, Tangerang dan Sentul, Bogor, serta Bandung, Jabar.

Mau tahu cabang olahraga apa saja dan venue/ tempat pertandingannya? Ini dia infografisnya. (Sumber: IndonesiaBaik.id)

Suarakan Dukunganmu!

Bagi kita yang bukan atlet, bagaimana cara kita menyatakan dukungan? Mudah saja. Kunjungi DukungBersama.id. Tinggal pilih ingin ikuti lomba blog, foto atau video. Karyamu ditunggu sampai 15 Juli nanti!

Jayalah Indonesia dan Dukung Bersama Asian Games dari Daerahmu! 

Sumber referensi:

  1. Wikipedia
  2. Jatengpos.com
  3. Tribratanewskudus.com
  4. Asiangames.tempo.co
  5. IndonesiaBaik.id
  6. DukungBersama.id