Memburu Makanan Halal dan Higienis di Tiongkok

Membaca pengalaman memualkan David Sedaris tentang makanan Tiongkok dalam “Let’s Explore Diabetes with Owls” membuat saya tergelak. Karena saya bisa merasakan rasa tersiksanya juga!

Dalam narasi jenakanya, Sedaris terus mengeluhkan dengan nada hiperbolisnya yang khas betapa orang lokal tidak jijik meludahkan dahak di mana-mana, bahkan di restoran sekalipun. Toilet dan kebiasaan buang air warga Tiongkok yang jauh dari kesan beradab juga menjadi target cemoohan penulis AS ini. Misalnya, ia terpana menyaksikan seorang anak kecil diangkat begitu saja dengan celana yang sengaja didesain sobek untuk memudahkan buang air besar dan kecil oleh orang tuanya ke sebuah wastafel. Currr! Dan ia pun kencing di dalam wastafel itu. Belum lagi cara menyajikan dan memasak makanan yang menurut Sedaris sembarangan dan kotor. Singkatnya, ia sangat putus asa untuk bisa menemukan sisi positif dunia kuliner dan kebersihan di Tiongkok.

Sungguh, Tiongkok bukan tujuan wisata yang ramah untuk penikmat hidangan yang estetis, bersih, bercita rasa tinggi, dan yang terpenting halal. Tantangannya sungguh berat.

Karena saya muslim, saya harus menyantap makanan yang halal. Mungkin akan lebih mudah jika saya mengaku vegetarian saja, tetapi saya kemudian berpikir, tidak mungkin semudah itu mendapatkan hidangan bebas daging di sepanjang perjalanan. Pikir saya, kalau bebas daging, risiko haram pastinya lebih rendah. Akhirnya saya menyerah. Karena sangat tidak mungkin mereka membuat satu meja dengan hidangan khusus bagi saya. Memasak hidangan terpisah untuk satu orang saja pemakan sayur dan buah dalam rombongan? Selain tidak praktis, pasti tarifnya bertambah. Saya terpaksa harus sangat berhati-hati selama di sana. Seperti berjalan di ladang ranjau, begitulah perumpamaannya. Kadang saat sangat lapar, rasanya hendak berlarian bebas, lalu teringat bahwa ini ladang ranjau yang di bawahnya tersimpan potensi ledakan yang menceraiberaikan diri. Apakah ini benar-benar bebas babi? Jangankan memastikan hidangan bebas babi, bertanya apakah suatu makanan ada kandungan babinya, saya juga tidak bisa.

Pernah suatu ketika kami duduk di sebuah meja makan terpisah yang klaim si pemandu wisata sudah bebas babi. Kami mengicipi semuanya. Satu jenis hidangan berbahan kembang kol menarik perhatian saya dan saya arahkan sumpit ke sana, lalu memasukkannya ke mulut. Sejenak kemudian, seorang teman yang merayakan Natal mencicipi juga hidangan tadi tetapi ia menemukan sebongkah daging di bagian bawah tumpukan kembang kol yang lumayan lezat itu. Ia mencicipi, mengunyah, dan bergumam,”Ini ada dagingnya? Kayaknya bukan daging ayam atau sapi deh…” Hening sejenak. Rasanya masih kurang percaya hingga teman lainnya yang tidak wajib menyantap makanan halal memutuskan mencicipinya dan berkata penuh afirmasi,”Iya, kayaknya bukan nih. Teksturnya lain. Babi…” Seketika tubuh saya terasa tersambar halilintar. Tidak percaya dengan kata-kata teman tadi. Saya tersenyum, berharap ia tertawa setelahnya, pasti ia hanya bercanda. Sialnya, ia tampak serius bahkan sampai makan malam selesai. Jadi benar…

Saya pun merutuk sepanjang perjalanan pulang dari restoran di Shanghai itu.

Namun, masalah tak berakhir di situ. Kebersihan penyajian makanan juga sangat dipertanyakan. Seperti yang pernah saya ceritakan, karena banyaknya piring dan alat makan yang harus dicuci di restoran-restoran itu, mereka menyemprotnya dengan selang air saja. Tanpa sabun, lalu mengeringkannya dan memakainya kembali. Dan jika ada hidangan tersisa, ada kemungkinan dikumpulkan untuk disajikan ke tamu berikutnya. Demikian kisah teman saya yang pernah hidup 6 bulan di negeri tirai bambu tentang pengusaha-pengusaha restoran yang nakal di kota-kota besar Tiongkok. Nafsu makan pun teredam, sembari melayangkan pandangan ke hamparan piring makanan di meja putar, terucap doa agar restoran ini tidak seburuk restoran yang teman saya kisahkan.

Menemukan restoran halal sangat sukar, jika tidak dibilang hampir mustahil. Di sebuah mall di Shanghai, kami menemukan satu restoran muslim yang dikelola oleh pengusaha Tiongkok muslim. Ia ikut memasak, di kepalanya ada kopiah putih. Dan para wisatawan dari Malaysia berkerumun di sana memesan makanan. Proses pembuatan makanan halalnya pun bisa disaksikan karena si juru masak yang juga berkopiah putih itu berada di balik jendela kaca. Ia memilin-milin adonan mie lalu mencacahnya menjadi lebih kecil dengan terampil. Dan saat ia selesai, orang-orang Malaysia itu bertepuk tangan dan mengacungkan ibu jari pada pemuda Tiongkok itu.

Sekembalinya di tanah air, saya bertemu dengan seorang teman yang pernah berkunjung ke sana. Ia yang juga muslim berceloteh dan berbagi kiat dengan saya,”Kalau mau makanan halal, mending pesan seafood saja. Karena saya diberitahu mereka, minyak babi itu tidak dipakai dalam makanan laut. Jadi lebih aman.” Saya berterima kasih untuk sarannya yang sangat terlambat itu. Tetapi mungkin belum terlambat bagi Anda yang hendak melancong ke sana. Hati-hati saja ya.

Asli atau Palsu? Bedakan dengan Hujan

Tiongkok, seperti Indonesia, adalah surganya para pembajak dan pemalsu produk-produk dengan merek kenamaan. Kenapa susah diberantas? Itu karena permintaannya terus menerus ada. Jadi kalau ada pasarnya, mengapa orang harus gentar memikirkan ancaman penegak hukum yang belum tentu bisa menangkap basah aksinya, atau menjebloskan ke penjara atau mendenda setinggi langit? Begitu mungkin batin pemalsu-pemalsu barang tadi.

Barang palsu menjadi alternatif yang masuk akal bagi para pembeli yang peka harga seperti saya untuk tetap terlihat bergaya dan berkelas. Kami tidak bisa membeli barang asli yang mahalnya mencekik leher tetapi juga tidak mau kehilangan banyak uang demi satu barang idaman. Kombinasi harga murah dan tampilan trendi maksimal itu akhirnya menjadi ramuan pemikat yang terkandung dalam setiap barang palsu terlaknat.

Satu kiat yang paling mudah untuk membedakan barang palsu adalah dengan mengamati perilaku orang yang memilikinya saat benda kebanggaannya harus terkena air hujan di alam terbuka. Anda cukup memperhatikan. Bila barang itu dipakai si empunya untuk melindungi kepalanya dari air hujan, pertanda barang itu palsu 100 persen! Lain lagi kalau barang itu asli. Pemiliknya pasti akan mendekap erat-erat agar jangan sampai basah kena air hujan, sebab harganya mahal bukan kepalang.

Karena itu, jangan buang uang untuk membeli payung yang mahal dan asli. Toh Anda akan mengeluarkannya juga untuk melindungi kepala saat turun hujan dan orang-orang akan tetap berpikir payung Anda palsu karena Anda tidak merasa sayang dengannya.

20140614-230743-83263143.jpg

Halo! Saya Candy!

Perkenalkan, nama saya Candy. Ini bukan nama saya sebenarnya. Cuma nama panggilan agar Anda semua orang Indonesia bisa memanggil lebih mudah. Marga saya Chou. Koko saya itu aktor terkenal lho, Chou Yun Fat! Haha.

Mata saya sipit, kulit saya kuning bersih, rambut saya lurus dan terikat rapi dan kencang. Tinggi saya sedang saja. Saya bekerja sebagai pemandu wisata rombongan turis Indonesia di kota Shanghai. Karena aktivitas saya yang menuntut banyak berjalan di luar ruangan, saya lebih suka mengenakan sepatu kets, celana jeans ketat, dan kaos pas badan saat bekerja. Apalagi sekarang cuacanya panas.

Sebetulnya saya tidak mau bekerja seperti ini terus. Melelahkan. Tetapi saya suka sekali jalan-jalan selagi saya masih ada waktu sebelum menjadi ibu-ibu. Dan saya tidak mau berpangku tangan. Saya harus bekerja menghasilkan uang, supaya bisa memberikan sebagian pendapatan untuk orang tua saya di kampung.

Pekerjaan ini tidak mudah. Sekilas sangat menyenangkan. Bertemu banyak orang, berkunjung ke tempat-tempat indah, berbicara dengan banyak orang, tertawa, tersenyum, menawarkan barang rekanan agar mereka mau membeli agar saya dapat komisi untuk mengisi pundi-pundi. Tetapi turis Indonesia banyak berulah. Saya acap kali dibuat pusing kepala karena mereka. Mereka suka terlambat. Sudah diberitahu berkumpul pukul sekian, tetap saja ada yang ‘jam karet’. Susah juga mau mengingatkan. Paling-paling saya beri hukuman mencium sopir atau menyanyi di depan kelompoknya agar mereka lebih enggan terlambat nantinya.

Turis Indonesia juga sering ceroboh dan lupa. Saat saya menanyakan nama-nama tempat yang mereka sudah kunjungi di Tiongkok, mereka hanya menggaruk-garuk kepala dan memandang kosong ke langit-langit bus. Yang paling melekat di pikiran cuma baunya toilet-toilet kami. Soal kecerobohan, saya juga sempat dibuat panik. Gara-garanya seorang bapak dalam rombongan sudah meninggalkan hotel dan akan ke bandara untuk pulang. Karena saat itu musim dingin, pagi pun masih gelap gulita. Saat di bus, saya ingatkan lagi jika ada barang yang ketinggalan di hotel. Beberapa saat, saya mendapat panggilan laporan dari pihak hotel bahwa ada ponsel yang tertinggal di salah satu kamar yang kami sewa. Saya pun segera mengumumkannya dan semua anggota rombongan itu memeriksa kembali. Bapak itu tidak menemukan ponselnya di saku. Ia hanya mendapati sebuah remote control TV! Dia mengira remote control itu adalah ponselnya kemudian menyambarnya untuk dimasukkan ke saku saat berkemas ke luar hotel. Karena kami tak punya cukup banyak waktu akhirnya kami putuskan menyuruh hotel mengirimkannya ke Indonesia. Padahal biaya pengirimannya 600 yuan. Tetapi bagaimana lagi, kata bapak itu, semua foto-foto di Shanghai ada di dalamnya. Ia tidak punya kamera lain. Hanya itu kenang-kenangannya. Sungguh mahal harga kenangan.

Saya suka Shanghai. Kota ini jauh lebih maju daripada kota tempat asal saya yang kecil. Setelah Beijing, Shanghai adalah kota terpenting kedua di negeri saya. Setelah itu ada Shenzhen, Guangzhou, Hangzhou, Suzhou.

Meski sudah beberapa kali memandu rombongan wisatawan Indonesia, saya belum pernah menjejakkan kaki ke negeri itu. Dari celoteh para turis yang saya ajak bicara, ibukota Jakarta mirip dengan Shanghai. Banyak apartemen dan gedung-gedung pencakar langit. Mereka suka Shanghai karena di sini mereka menemukan kemiripan dengan Hongkong yang menjadi surga belanja. “Cuci dompet”, begitu istilahnya. Cuci sampai bersih tidak bersisa.

Saya pendatang di Shanghai dan tempat asal saya dari provinsi Hunan. Saat turis-turis itu tidak tahu Hunan, saya ceritakan pada mereka bahwa tempat asal saya itu tempat syuting film Kera Sakti alias Sun Go Kong. Kota asal saya adalah Hangzhou. Tidak tahu Hangzhou? Mungkin Anda tahu Legenda Siluman Ular Putih. Di Hangzhou, ada danau Barat yang menjadi bagian latar belakang tempat kisah legendaris itu. Untuk sampai di Hangzhou, Anda harus naik kereta ekspres dari Shanghai selama 1 jam penuh. Saya bangga menjadi penduduk Hangzhou karena kotanya disebut kota cinta, kota romantis. Film Legenda Ular Putih Pai Su Chen itu mengambil tempat di sana 25 tahun lalu. Saya yakin orang Indonesia pernah menonton atau mendengarnya. Lalu ada juga kisah Sam Pek – Eng Tay yang filmnya diambil dengan latar belakang kota Hangzhou juga.

Usia saya sudah 27 tahun. Saya katakan “sudah” karena teman-teman sebaya saya di desa rata-rata sudah menjadi emak-emak. Saya sering ditelepon orang tua dari kampung. Mereka bertanya,”Apa kamu sudah menemukan calon menantu untuk kami, nak?” Saya sebenarnya sudah bosan menjawab tetapi sudah lah, bagaimana lagi. Kalau saya disuruh memilih antara pria Tiongkok dan pria Indonesia, saya akan memilih pria Indonesia sebagai pasangan hidup saya. Alasan saya ialah karena mereka lebih sopan dan menghormati orang yang lebih tua. Pria Indonesia juga lebih lembut dalam bertutur kata menurut saya. Kalau di pasar-pasar, pria Tiongkok suka berkata kasar dan kalau tidak jadi beli, Anda bisa dimaki-maki,”Orang gila!”

Pernah suatu kali saya ditanya mengapa saya tidak ke Indonesia saja, toh saya sudah bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. “Pria Indonesia itu kaya-kaya, ganteng-ganteng lho! Apalagi pria China Medan!”Begitu kata seseorang pada saya. Pria China Medan itu masih keturunan Tiongkok dan banyak yang dapat berbahasa Hokian dan masih punya keluarga di Tiongkok juga. Pria-pria Medan itu sering ke sini untuk berbisnis. Tetapi saya bersikukuh yang ganteng dan kaya itu biasanya buaya darat! Kadang saya dijanjikan untuk dikenalkan dengan pria-pria lajang keturunan China dari Indonesia tetapi kebanyakan hanya membual. Mereka cuma menawarkan janji manis. Saya sudah memberi alamat, email, bahkan nomor ponsel ke mereka tetapi tidak ada keseriusan. Maka dari itu, saya pikir orang Medan sering bohong. Di sini disayang, sudah pulang ke Indonesia, mereka lupa begitu saja. Kekayaan dan ketampanan bukan prioritas utama saya, yang terpenting hatinya baik.

Saya beruntung tinggal di kota Shanghai. Kenapa? Karena orang-orang yang tinggal di kota besar biasa menikah lebih lambat, sekitar umur 30-32. Kalau tinggal di desa sejak dulu, mungkin saya sudah menjadi ibu beberapa anak. Teman saya umur 21 sudah menikah dan sekarang beranak dua.
Pernah juga saya bertanya ke papa dan mama, apakah saya diijinkan menikah dengan orang Indonesia. Sayangnya, menurut mereka Indonesia terlalu jauh. Akhirnya mereka paham dan maklum juga bahwa kalau jodoh belum datang, mau dipaksa seperti apapun juga tidak akan datang. Kalau sudah saatnya datang, antrean bisa panjang.

Di Shanghai yang berpenduduk 22 juta ini, cinta sudah bisa diganti dengan materi. Wanita mencari suami dengan kriteria materi. Pria itu harus punya apartemen, mobil, dan lain-lain. Baru wanita itu mau ikut dengannya, entah berkencan atau menjadi simpanan atau istri sah. Yang penting sekarang bukan cinta tapi uang!

Saya terlahir di keluarga Chou dari 3 bersaudara. Saya yang termuda. Kakak saya ada dua, seorang laki-laki dan yang satu wanita. Kini kedua kakak saya sudah berkeluarga. Mereka tinggal di desa dengan papa dan mama. Ada yang bertanya, “Kenapa Candy bisa punya saudara? Bukannya di sini tidak boleh memiliki anak lebih dari satu?” Betul, saya lahir sebagai anak ketiga, yang artinya orang tua saya harus menanggung denda yang harus dibayarkan pada negara. Besarnya denda itu tidak tanggung-tanggung: 3000 yuan! Jumlah uang itu terasa memberatkan bagi papa dan mama yang hanya petani kampung. Mereka bercocok tanam padi, kemudian menjualnya ke pemerintah dan untungnya sedikit sekali.

Saya mungkin tidak akan ada di dunia ini jika papa dan mama saya memutuskan untuk tunduk pada putusan dokter. Saat itu, mama saya yang berbadan kurus merasa pusing dan sakit sehingga tak bisa bekerja di sawah bersama papa. Mereka menemui dokter dan sang dokter berkata mama sudah hamil 3 bulan! Dokter menyarankan,”Anda harus aborsi.” Mama enggan lalu berusaha menemukan cara untuk bisa berkelit dari saran dokter. Ia tidak bisa menolak terang-terangan. Mama ingin mempertahankan janin yang kelak menjadi Candy itu. Akhirnya mama menemukan akal,”Dokter, saya mau operasi aborsi tapi saya mau mandi dulu ya. Habis mandi saya ke rumah sakit lagi.” Untungnya, ia diijinkan. Mama pun pulang dan bertekad mempertahankan janinnya, ia tidak mau ke rumah sakit dan menjalani prosedur aborsi itu. Mama memutuskan melarikan diri dan bersembunyi untuk sementara waktu sampai saya lahir di kota Fubei. Untuk mencapai Fubei, mama yang sudah hamil muda dan kecapaian itu harus menempuh perjalanan dengan kereta api selama 5 jam. Setelah Candy lahir, kami kembali ke kampung. Sekembalinya di kampung, papa mama harus membayar 3000 yuan sebagai denda kelahiran anak ketiga.

Begitu susah payahnya papa dan mama melindungi saya sejak sebelum lahir sampai keluar dari rahim mama, saya bertanya pada mereka apakah terbersit penyesalan dalam benak mereka karena Candy sudah lahir ke dunia. Mereka menjawab tidak menyesal sama sekali. “Kalau lahirnya anak laki-laki justru kami menyesal, nak.” Mengapa begitu? Koko (kakak laki-laki) saya sekarang sudah berusia 30 tahun dan sudah punya keluarga sendiri tetapi tetap saja papa dan mama kami membantu menjaganya. Yang menyesakkan, koko saya setiap bulan masih meminta uang ke papa dan mama. Koko saya bukannya tidak punya pekerjaan. Ia bekerja sebagai sopir taksi tetapi gajinya sangat kecil. Cuma 2000 yuan sebulan. Belum cukup untuk membiayai pengeluaran keluarganya sendiri. Saat ia menikah, papa dan mama juga turut membantu mendirikan rumah koko saya. Karena itu, papa dan mama lebih suka mendapatkan anak perempuan,”Anak cewek bawa hoki, bawa uang. Kalau anak cowok, buang uang saja.”Papa dan mama masih bekerja dan mereka rajin menabung hanya untuk diberikan ke anak laki-laki mereka. Karena itu, orang tua saya harus tinggal dengan koko saya. Mereka tidak bisa tinggal dengan saya karena mereka tidak memberi uang pada saya. Papa dan mama bisa tinggal dengan koko saya karena mereka memberinya uang secara rutin. Mereka merasa malu. Sampai sekarang saya masih memberikan uang pada papa dan mama. Saya menyuruh mereka tutup mulut agar koko tidak tahu. Uang itu cuma untuk papa dan mama saja, pesan saya.

Saya sudah belajar bahasa Indonesia sejak 8 tahun lalu. Sebelumnya, saya bekerja sebagai seorang pramuniaga atau penjaga toko di desa. Gaji saya hanya 300 yuan sebulan. Tidak bisa dibandingkan dengan standar gaji di kota besar seperti Beijing atau Shanghai. Keuntungannya saya masih bisa pulang setiap hari. Selama dua tahun saya bekerja sebagai pramuniaga hingga suatu saat saya merasa bosan bukan kepalang dan datanglah tawaran dari kerabat di Guangxi. Mereka menawari saya pekerjaan baru yang lebih menjanjikan! Saya bersemangat mencobanya. Tak dinyana saya ditawari belajar bahasa Indonesia di Guangxi.

Saat saya ingin belajar bahasa Indonesia, papa dan mama tidak setuju awalnya. Saya hanya lulusan SMA, bukan perguruan tinggi. Saya juga mau ke universitas tetapi papa dan mama tak ada uang. Biaya belajar bahasa Indonesia juga tidak murah. Saat itu kami harus bisa menemukan pinjaman uang 20 ribu yuan untuk membayar biaya kursus selama 1 tahun. Letak tempat belajarnya juga jauh dari rumah, jadi papa dan mama agak berat hati. “Kamu sudah dapat pekerjaan. Kenapa harus susah payah belajar lagi, Candy?”Kata orang tua saya. Ditambah lagi, papa dan mama tidak tahu manfaatnya belajar bahasa Indonesia. Mereka tak tahu menahu letak Indonesia. Warga desa saya banyak yang tidak mengetahui letak Indonesia. Papa dan mama bertanya apakah dengan belajar bahasa Indonesia saya bisa mendapat pekerjaan yang lebih bagus. Saya jawab saya belum tahu tapi yang penting saya mau belajar dulu. Agar papa dan mama setuju, saya membujuk mereka dengan berkata,”Uang ini akan saya pinjam dulu. Setelah dapat pekerjaan, saya akan kembalikan.”Akhirnya mereka setuju juga. Tahun 2005 menjadi saksi saya mulai belajar bahasa Indonesia dengan susah payah. Tahun 2006 setelah saya lulus kursus, saya kembali ke kampung lagi. Karena lapangan kerja sempit, saya pun menganggur lagi. Ketrampilan berbahasa Indonesia saya menjadi terbengkalai, tak pernah diasah lagi. Saya pun menjadi bulan-bulanan papa dan mama. Kata mereka, apa gunanya susah payah belajar bahasa Indonesia kalau tidak dapat pekerjaan.

Hampir selama 4 tahun saya menganggur. Lontang lantung tidak bekerja. Hingga digelarlah Shanghai Expo tahun 2010. Tawaran pekerjaan pertama mengalir. Seseorang menelepon dari kota Hangzhou, meminta saya bekerja dengan kemampuan saya berbahasa Indonesia. Bayangkan saya harus menggunakan bahasa Indonesia secara tiba-tiba. Semua kemampuan berbahasa Indonesia saya rasanya sudah menipis hebat. “Ayo bantu saja. Yang penting bisa sedikit, Candy,”ajak orang itu. Saat itu saya masih gadis desa yang lugu dan tidak pernah bepergian jauh harus ke Hangzhou. Saya ditugasi memandu rombongan warga Indonesia. Rasanya saya mau mati saja saat naik bus, karena saat semua orang Indonesia itu membuka mulut, saya tidak paham. Saya tidak pernah berlatih bahasa Indonesia dan baru kali pertama bertemu orang Indonesia asli. Siapa yang tidak panik? Saya mau menangis karena begitu bingungnya mencari bahan untuk diceritakan keesokan harinya di hadapan para peserta rombongan. Jadi kenapa saya berkata orang Indonesia baik? Mereka menenangkan dan mendukung saya,”Candy, tidak apa-apa. Pelan-pelan. Kalau tidak tahu bahasa Indonesia, pakai Mandarin saja.” Lalu saya banyak mencatat kata-kata yang belum saya ketahui dari mereka. Bahasa Indonesia saya sampai sekarang masih jauh dari sempurna tetapi setidaknya masih bisa dipahami oleh Anda semua.

Mengetahui saya bisa bekerja dan tinggal di kota besar, papa dan mama bersyukur saya tidak mengikuti jejak mereka. Kalau saya menuruti kemauan mereka, saya mungkin sudah menjadi ibu dengan suami dan dua anak. Mana ada kesempatan jalan-jalan ke luar desa? Tidak ada pastinya.

Suatu kali saya pernah membawa papa dan mama ke luar desa, ke Hangzhou. Sebelumnya papa dan mama tidak pernah berkunjung ke kota lain sehingga mereka sangat senang di Hangzhou. Di sana mereka mengunjungi West Lake yang legendaris sampai puas. Papa dan mama sampai menangis karena mereka hanya pernah menyaksikan danau itu dari layar televisi tetapi kini mereka sudah menjejakkan kaki di sana. Di Shanghai, papa dan mama makin terkagum-kagum karena di desa kami, rumah tertinggi hanya 2 lantai. Sementara di kota ini, gedung pencakar langit bertebaran di sana sini. Apalagi saat melihat Shanghai TV Tower yang sampai ratusan meter! Saya pun berjanji akan membawa papa dan mama ke Indonesia. Mereka menolak karena pasti biayanya mahal sekali. Tapi apalah artinya uang, asalkan papa dan mama saya bisa senang. Tidak tahu kapan saya bisa mewujudkan janji itu tetapi setidaknya saya sudah berjanji. Papa dan mama malah lebih malu karena sebagai orang Tiongkok malah belum pernah menginjakkan kaki di ibukota Beijing. Itulah papa dan mama saya, orang Tiongkok dengan pemikiran dan gaya hidup yang sederhana dan bersahaja.

Meski merindukan papa dan mama, saya enggan hidup di desa lagi. Listriknya sudah mati kalau pukul 6-7 malam.

Saya pulang kampung setahun sekali saat Tahun Baru Imlek. Jumlah hari liburnya relatif panjang untuk saya, sampai 15 hari!

Karena belum pernah ke Indonesia, dulu saya pernah disarankan guru bahasa Indonesia saya untuk sesekali makan gado-gado jika pergi ke Indonesia. Katanya gado-gado itu kacang tanah, sayur mayur, seperti salad.

Guru bahasa Indonesia saya datang dari Indonesia juga. Dia berdarah Indonesia. Asalnya Surabaya, Jawa Timur. Sekarang hampir 50 tahun guru saya belum pernah ke Indonesia lagi. Itu karena usianya sudah renta, 80 tahun.

Saya katakan pada turis-turis Indonesia agar jangan sampai cuma 3-ing padahal sudah diajak berkeliling oleh saya ke kota Shanghai. Apa itu 3-ing? Sleeping, shopping dan kencing! Karena itulah yang biasanya dilakukan turis Indonesia. Mereka tidur (sleeping) di bus selama perjalanan, kemudian turun bus untuk berbelanja (shopping), sebelum naik bus mencari toilet (kencing) dan naik bus lagi untuk tidur. Begitu seterusnya. Berulang-ulang. Benar, ini ciri khas orang Indonesia. Satu orang ke toilet, semua ke sana. Akibatnya jadwal porak poranda karena terlambat.

20140614-181002-65402985.jpg

Allah di Indonesia, Saya di Tiongkok!

Selamat pagi!

Saya mau berbagi cerita tentang ‘ulah’ oknum turis Indonesia yang pernah saya temui. Turis Indonesia itu membingungkan ya. Saya pernah membawa rombongan turis Indonesia yang sebagian beragama Islam. Mereka ikut mengantre membeli siao lung pau, makanan khas Shanghai serupa roti dengan isi daging babi. Mereka ikut antre dan makan tanpa bertanya lebih dulu pada saya. Setelah mereka makan, mereka baru memberitahu saya. Tiba-tiba saya disalahkan,”Kenapa kamu tidak beritahu kami sejak awal, Candy?!! Kalau kamu beritahu, pasti kami tidak akan makan.”

Belajar dari pengalaman tadi, dalam tur berikutnya yang diikuti rombongan beragama Islam, saya pun menjelaskan dengan lantang:”Jangan beli apalagi makan siao lung pao karena ada daging B2 ya!” Pengumuman itu saya sampaikan di bus sebelum mereka turun. Sebagai gantinya, mereka bisa berbelanja benda lainnya.

Akan tetapi dari kejauhan terlihat oleh saya seorang bapak dari rombongan yang ikut mengantre di depan toko penjual siao lung pao.

“Bapak, kenapa Anda ikut antre? Anda tadi kan saya sudah beritahu di bus, itu mengandung babi! Anda tidak bisa makan!”Saya menjelaskan dengan emosi, karena saya merasa sudah memberitahu tetapi tetap tidak diperhatikan.

Bapak itu menjawab dengan nada tenang,”Saya tahu isinya daging babi. Sebelum berangkat ke sini, saya diberitahu teman untuk mencoba makanan khas Shanghai ini. Jadi saya tidak mau melewatkannya, katanya enak sekali. Saya juga mau coba.”

Saya pun bingung. Bapak ini beragama Islam tetapi kok masih makan babi?

Untuk menjawab keraguan saya, bapak itu berkata lagi,”Candy, Tuhan ada di Indonesia. Saya sekarang di Tiongkok.”

Sehabis memesan, ia mencari tempat yang aman untuk melahap siao lung pau tadi agar tidak kepergok teman-teman serombongan. Ia malu melanggar aturan agamanya rupanya.

Saya tanya rasanya. Katanya enak sekali. Kemudian saya berkata dalam hati,”Dasar Islam aspal!”

Salam hangat,

Candy