Sayonara, Facebook and Twitter! Welcome, Sebangsa!

I remember writing about Sebangsa four years ago [read on: New Indonesian-Flavored Social Media Sebangsa.com Tries to Gain Traction]. It was a new service still and not many people knew its existence. Sebangsa was later on supported by ATSI (Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia/ Indonesia’s National Telecommunication Service Providers Association), which enables it to survive to its very second.

In 2014, the service launched after Enda Nasution and Indira B. Widjonarko made it. It was far from popularity. Facebook, Twitter and Instagram were still widely used. In terms of functions, it had a lot in common with the first two social media services aforementioned. It presented a timeline with multimedia content.

One thing the service has tried to facilitate is the spirit of ‘gotong royong’ or communal solidarity. It accomodated Indonesian migrant workers so its content was uniquely ‘Indonesia’. Group is its best feature. Linguistically, it was also designed to provide more ease of communication among Indonesians. So you’ll find bahasa gaul or Indonesian slang there.

Fast forward four years later, I still know Sebangsa but I am hardly on it. I have been too engrossed with Facebook, Twitter and Instagram. And thank God, it still exists.

After the Cambridge Analytica-Facebook shameful scandal, I came back to it once again. I gained my access to my already existing Sebangsa account (which is by now 4 years old). As of today I start to be on it more especially after I deleted my Facebook and Twitter private account.

The app cofounder Enda said [as cited by maxmanroe.com] that their strategy was never about getting head-to-head against the giants [read: Facebook and Twitter]. “We are here not to drag netizens out of Twitter or Facebook. It doesn’t matter if they are still on both social media services as our features are different from theirs.”

But if I had been Enda, I would have been more assertive in stating my ambition and proactively acquiring more users in the Indonesian market. Especially in the time of Indonesian public disgust over the scandal involving Facebook. We Indonesians now know more that trusting our data to foreign entities costs us a lot more than mere privacy leak and damage of trust.

It costs us our sovereignty and freedom to determine our own fate [through supposedly intervention-free democracy processes].

Now I know the reason why Facebook and Twitter are strictly banned in China and the country only approves of local social media networks.

If there is a perfect time for Indonesia to reclaim its digital sovereignty in this 21st century [read on: The Indonesian Government Threatens to Ban Facebook in Indonesia] then NOW IS THE TIME FOR SEBANGSA TO SHOW UP.

Leaving Facebook and using Sebangsa sounds more feasible to me because I hate to say that I hate it when people say proudly:”Indonesia is one the biggest Facebook users number in the world.” Indonesians should not feel proud of it because it shows the nation dependency on another nation’s products. And to me, that is a flaw to fix, instead of an achievement to show off. (*/)

"Hatching Twitter": Dinamika Startup dalam Balutan Sastrawi

Jurnalis dan kolumnis New York Times Nick Bilton bisa dikatakan berhasil menciptakan sebuah biografi yang menarik. Hanya saja, karyanya yang satu ini bukan biografi yang membahas mengenai kehidupan satu individu. Bilton menuliskan Hatching Twitter, sebuah rentetan sejarah startup legendaris yang kerap disebut bersamaan dengan Facebook sebagai dua penguasa besar dunia jejaring sosial di dekade kedua abad ke-21. Ia menuliskan secara runut dinamika Twitter yang sebagaimana startup lainnya juga mengalami banyak momen-momen dramatis. Riwayat Facebook telah diprofilkan dalam film “The Social Network”. Sayangnya, Twitter belum. Namun, siapa tahu ada rumah produksi yang tertarik mengadaptasi karya Nick Bilton ini menjadi sebuah karya sinematografi yang elok dan sedap dihayati?

Entah disengaja atau tidak, Nick Bilton menurut pandangan saya sudah menggunakan metode penulisan yang berhasil membuat naskahnya menjadi lebih filmis, alias layak dijadikan sebagai film. ‎Di sini, ia mengabaikan aspek-aspek kaku yang biasa dijumpai dalam dunia entrepreneurship dan bisnis. Anda sama sekali tidak akan menemukan kosakata khas keuangan seperti IPO, saham, atau sebagainya. Dengan begitu, tidak berlebihan kalau saya katakan buku ini bisa dikonsumsi siapa saja, tanpa membuat dahi berkerut, tanpa harus mencari kata yang asing di Google, tanpa harus merujuk glosarium. Singkat kata, Bilton meramu perjalanan Twitter hingga menjadi seperti sekarang agar mudah dicerna masyarakat awam, anak-anak sekolah dasar yang sudah bisa membaca sekalipun.

Pertama kali membaca, saya sudah bersiap untuk berpikir memahami kalimat-kalimatnya yang teknis dan pelik. Setelah banyak membaca artikel-artikel panjang di blog-blog teknologi dan startup seperti TechCrunch, Gizmodo, Pando, dan Recode‎ yang kadang tidak jelas konteksnya, saya merasa lebih nyaman membaca penuturan Bilton yang sangat sastrawi.

Jelas Bilton menanggalkan gaya bertutur seorang kolumnis dan jurnalis, serta mengadopsi gaya storytelling yang membuat alur dalam buku ini terkesan mengalir seperti aliran air. Karena menulis tentang Twitter, Bilton juga menggunakan jargon khas jejaring sosial itu. Dalam judul dan sub-judulnya, Bilton menuliskan tagar (hashtag) seperti #START untuk menandai bab pengantar yang berisi penjelasan kondisi Twitter tanggal 4 Oktober 2010 pukul 10.43 pagi. Terdepaknya CEO Evan Williams diceritakan di sini. Detil-detil remeh yang sebelumnya hanya diketahui pihak internal Twitter‎ kini terkuak dan justru menjadi kekuatan dari kisah itu karena Anda para pembaca bisa merasakan gejolak emosi para pelaku dalam kisah nyata itu. Misalnya, Anda bisa menemukan detil menarik di bab #START, saat Evan Williams merasa mual dan ingin muntah setelah “ditendang” dari kursi CEO dalam sebuah kudeta di ruang rapat direksi Twitter yang “berdarah”. Istrinya Sara yang juga bekerja di sana menghampiri Evan yang memiliki akun @ev dan bertanya,”Bagaimana perasaanmu?” Evan menjawab,”Sial (Fuck).” Ia harus mengumumkan pengunduran dirinya itu sembari memperkenalkan seorang suksesor, Dick Costolo.

Saya suka dengan gaya penulisan seperti ini. Sangat GQ. Maksud saya, mirip dengan gaya menulis para jurnalis Majalah GQ. Tulisan mereka berdasarkan fakta, bernilai jurnalistik, tetapi memiliki nilai sastrawi yang tinggi. Penuturannya lewat perspektif orang pertama. Di buku ini, sudut pandang orang ketiga tunggal dipakai agar penulis lebih bebas merangkai potongan-potongan kisah yang ia dapatkan dari “beberapa ratus jam wawancara dengan para pegawai dan eksekutif Twitter dan Odeo dan teman eksekutif, pejabat pemerintah, diskusi dengan hampir semua orang yang namanya disebut di dalam buku serta para pesaing mereka‎.” Jadi bisa dibayangkan betapa keras kerja Bilton mengumpulkan fakta dan informasi yang terekam dalam berbagai email internal, rekaman wawancara dan tentu saja data di jejaring sosial Twitter. Ia mengklaim telah memastikan kebenaran tempat, waktu terjadinya kejadian dengan melacaknya di Twitter.

Hatching Twitter cocok untuk Anda yang ingin membaca sesuatu yang bermakna tanpa harus banyak berpikir keras mengenai bisnis dan entrepreneurship. Anda akan dimanjakan dengan penuturan sisi-sisi humanis para entrepreneur ini, yang tentunya jarang dibeberkan di tulisan para jurnalis teknologi yang biasa menyorot angka dan data, untung dan rugi, tren dan pelemahan, dan hal-hal lain yang sangat jurnalistik.

Membaca buku ini membuat saya juga ingin bertanya,”Siapa yang perjalanan startupnya mau saya tulis jadi buku ya?” Seandainya ada yang bersedia.

Tampilan Baru Hootsuite Lebih Segar di Mata

Dasbor platform pengelola akun jejaring sosial Hootsuite versi web mendapatkan perombakan yang lumayan signifikan kali ini. Perbedaan yang paling menyolok adalah ukuran font yang makin besar dan spasi antara satu tweet dan yang lain yang jauh lebih lapang. Efek dari semua itu ialah lebih lapang dan segar bagi mata.

Not Everyone Must Be a Blogger

matt mNot everyone should be a blogger, says WordPress founder Matt Mullenweg. Simply because not everyone has the passion to share things online. “Not everyone’s a creator,”claims he.

But maybe everyone’s a creator, Matt. But not everyone has the passion of sharing.

That reminds me of a friend who happens to like sharing long long updates on Path. She rants a lot once in a while on stuff she cares so much about like parenting but she tends to refuse the idea of blogging because she assumes it’s not what she really is. In many ways, the blogging thing is something  she thinks way too time and intellectual labor intensive. Yet, she can afford the hassle of writing such long updates on Path, which makes me confused. It turns out she doesn’t think sharing ideas to the rest of the world without limit is her thing. That’s something I could never understand. Why writing for only yourself or a limited number of people when you know what you share is useful to not only your inner circle but also everyone who shares the same shoes with you?

Blogging should be done with passion as it’d be tiresome for many without passion to write up like every single day. And this is not everyone can and wants to do. Writing every day is a grind and writing every day to get significant audience is another challenge to conquer.

There’re bloggers who shift path to microblogging like Twitter simply because it’s more succinct and instant a a tool of interaction. The Great Robert Scobble would be one of the examples. In Indonesia, we’ve got Nukman Luthfie, who happened to be an early adopter of blogging and online journalism in the country but as Twitter emerged as a new channel of communication, Nukman spends more time to tweet than blog. It’s all about passion once again. And not all bloggers are all that consistent when it comes to writing consistently. Of course they still write but not in the long form as often as they did before. Instant gratification? I bet.

Blogging may be adopted and then abandoned or vice versa but no one can ddeny that blogging is constant in the way that it serves as our digital home. You can have as many social media accounts as you want but all those lead you to one single place: your site or blog.

Live Blogging for Dummies

Live blogging could be distraction to some. Take Steve Jobs as an example. He once made all of the journalists in the room covering the launch of the product ‎put their laptops down, and even better, switch them off. Poor Jobs. He annoyed the journos without remorse. You cannot blame people for doing their job, Jobs!

So apparently live blogging is pretty much a hit maker especially when a hugely impactful event is in progress. Like the last live blog I was writing on that news site I work for. I was on fire writing about the verdict of Prabowo Subianto law suit. As we all know, he sued his opponents, accusing Jokowi and Jusuf Kalla of being tricky and slimy to win over him and Hatta Rajasa. He seemed to do it only to prove he is a loser once again. Another shame he brought for himself. The staunch supporters of Prabowo-Hatta rallied outside the Constitution Court and caused some physical clashes but luckily no one got killed in the process. The army on duty had been instructed to be less agressive (because perhaps Prabowo used to be part of them‎ and is still so no, though informally).

I was NOT there, to be blunt. I was only sitting at my desk, listening to some live streams broadcast on the web. Everyone was curious on what was going on and what was about to happen after the rally. I also summarized longer pieces of news spread on Twitter timeline of some news sites.

Basically this is what I do when I have to live blog indoor. I prepare a web page where I could write a line or two at first, and then as the time goes by, I will add more details chronologically. Mention hours and minutes to give impression you’re continously updating. So when they refresh your page, they can find something new to read, whether it be texts or photos or videos.

Here are some of my insights on live blogging based on my experience.

Focus, focus, focus!
You undoubtedly need to enhance you focus. It’s like listening exams, you listen to sources and process, summarize and publish the information and thoughts almost instantly. Without too long delay, or your readers will be disappointed. It’s very easy when you are in the middle of the quiet room. But when you have to cover outdoor events and liveblog about it, there’s extra mental work to do for you. Never forget to ask a friend or two to be with you to watch your belongings in case you need to use the bathroom for a minute or so. You cannot leave your laptop just like that in an open space where strangers‎ are anywhere to see. That holds true when you already get the right strategic spot to comfortably see and observe a live event and never want to relinquish it to other journos.

Make sure you’re near ‎unused power outlets

‎I cannot stress more on the importance of securing a spot near power outlets.

Make sure the connection works smoothly
After electricity supply is solved, you need to ensure your connection works at the desired speed. Never rely on one modem or one cellular operator. At least, provide two. Otherwise, you’ll cry a river when your favorite operator’s‎ service turn out to suck a lot there.

Get ready with your smartphone
Live blogging could be similar to live tweeting but of course you have to write longer, because you simply CAN. ‎Be more accurate as a reporter than a Twitter user.

And if you are an avid user of WordPress mobile application, you may use the app to live blog. Just add more details on one single blog post with time stamps for each update, with the latest right up there near the title. The app would be such a great tool when you cannot sit there to type on your laptop.

I haven’t given an outdoor live blogging a try. But my hunch is it is going to be a lot more challenging as you will have to deal with more distraction than live blogging indoor.

That said, happy live blogging!

Membahas Strategi Kampanye Digital Obama dalam Pemilu

Tim kampanye digital Obama paparkan strategi mereka. (Image credit: Wikipedia)

Tim Obama di kampanye tahun 2008 mengumpulkan lebih dari 500 juta dollar dari sekitar 6,5 juta pendonor online. Ini menjadi yang pertama terjadi dalam sejarah di sana. Dan laman Facebook Obama mendapatkan 3,5 juta penyuka (likers). Naiknya Obama ke pentas politik AS melalui bantuan kanal jejaring sosial ini menjadi sorotan banyak pihak karena mampu menunjukkan bagaimana jejaring sosial mampu mengubah wajah birokrasi dan pemerintahan sebuah negara besar, sebuah fenomena yang juga terjadi di tanah air kita Indonesia.

Dalam tulisan ini, saya akan merangkum pemikiran-pemikiran menarik dari Joe Rospars yang pernah menjabat sebagai Chief Digital Strategist dalam kampanye “Obama for America” yang menurut saya menarik untuk dipelajari dan menjadi catatan bagi Anda yang memiliki ketertarikan khusus dalam dunia jejaring sosial (social media).

Jejaring sosial bagi Rospars adalah pengelolaan komunitas (community organizing). Komunitas ini bukan buatan, tetapi organik. Dan mereka benar-benar ada dalam realita. Ini lebih mengarah pada jati diri Obama sebenarnya dan bagaimana Obama dalam kehidupan publik. Rospars memiliki tugas untuk mengedukasi para pendukung Obama bahwa Obama sendiri sudah memiliki rekam jejak positif dalam masyarakat AS sejak ia menolak posisi dengan bayaran tinggi untuk bekerja di Chicago sebagai community organizer. Ia berupaya untuk memberikan bantuan bagi masyarakat akar rumput yang membutuhkan dalam hal ekonomi dan hak sebagai warga negara. Obama muda ingin agar masyarakat menjadi pemimpin bagi diri mereka sendiri. Masyarakat diajak untuk memahami permasalahan dalam diri mereka agar bisa mengatasinya kemudian sehingga kemudian bersatu untuk berupaya mewujudkan perubahan nyata. Tim digital campaign pimpinan Rospars berusaha menyampaikan hal ini pada para pendukung Obama melalui Facebook.

Salah satu alasan mengapa kampanye digital Obama ini begitu sukses ialah dukungan yang diberikan oleh sang pasangan, Michelle Obama. Menurut Michelle (sebagaimana dikutip dari Rospars), ia “ingin melakukan ini (berkampanye via jejaring sosial -pen) tetapi ingin melakukannya dengan cara yang benar”. Community organizing kemudian menjadi semangat dalam kampanye digital Obama.

Obama termasuk sukses dalam menggalang dukungan dari masyarakat luas melalui penyaluran donasi ke rekening tertentu. Strategi itu menjadi salah satu strategi untuk mengatasi kurangnya koneksi Obama ke kalangan politisi di seluruh AS sekaligus mencari dukungan untuk menghadapi tantangan-tantangan yang makin besar. Obama membangun komunitas yang terdiri dari masyarakat akar rumput dari nol secara organik. Inti strategi dan pendekatan emosional tadi.

Rospars mengatakan banyak dijumpai kendala dalam mengubah jejaring sosial dan teknologi untuk mempengaruhi hasil pemilihan presiden saat itu. Kendala utama pertama ialah strategi digital masih (bahkan hingga saat ini) dianggap sebagai pelengkap (cuma ‘nice to have’, bukan ‘must have’), atau sesuatu yang hanya bisa dimainkan oleh para petinggi perusahaan atau kalangan penyuka teknologi namun bukan hal yang dianggap penting dalam berhasil tidaknya sebuah kampanye. Maka dari itu, percuma saja memiliki banyak pengikut dan penyuka di jejaring sosial tetapi tidak ada pengaruh positif yang signifikan pada performa di kehidupan nyata. Pasti ada yang salah, tandas Rospars.

Kendala utama kedua ialah bagaimana membuat teknologi yang memudahkan, bukan mempersulit, masyarakat yang ingin mendukung Obama untuk menyatakan dukungan dan mengajak orang lain berbuat sesuatu demi kemenangannya nanti di pemilihan. Rospars melakukan kampanye digitalnya dengan membangun sebuah platform yang terintegrasi dengan database kampanye dan organisasi terkait dan menghubungkannya dengan Facebook.

Yang menarik ialah tim ini berusaha untuk tidak hanya memberikan kesan bahwa Obama memiliki kepekaan terhadap kemajuan teknologi, terlibat aktif dalam interaksi dengan komunitas yang ada di dalamnya tetapi juga memfokuskan diri pada bagaimana melibatkan orang-orang awam dalam proses politik yang berlangsung saat itu untuk meyakinkan mereka bahwa suatu perubahan positif akan terjadi jika mereka mau bahu-membahu bersama memilih Obama.

Teddy Goff (Digital Director kampanye “Obama for America”) menjelaskan tim kampanye digitalnya terdiri dari staf kreatif, desainer, developer web, video, penulis, social, mobile, email, iklan. Masing-masing memiliki manajer proyek sendiri. Kemudian yang tidak kalah penting ialah analytics.

Elemen AUTHENTICITY atau ketulusan menjadi hal yang penting dalam kampanye digital mereka. Bagaimana hal ini bisa diwujudkan? Berikanlah akses pada orang awam menuju sosok nyata yang tidak bisa mereka jumpai secara tatap muka, misalnya Obama, istrinya, Joe Biden, dsb.

Email pun dijadikan sebagai salah satu alat menjangkau pendukung. Bentuknya yang konvensional dan sederhana memudahkan lebih banyak orang mengaksesnya. Isinya sebisa mungkin mencerminkan karakter orang yang diwakilinya. Dalam contoh yang diberikan Goff, Joe Biden tinggal menyetujui sebuah komposisi tulisan untuk disebarkan via email. Dan tulisan itu mencerminkan kepribadian dan pesan yang ia ingin sampaikan. Saat orang membacanya, diharapkan akan terbangun hubungan yang tulus dan nyata.

Elemen lainnya yang sama pentingnya ialah TRANSPARANSI. Saat menerima dan mengumpulkan sumbangan dana tunai dari berbagai pihak yang menyatakan dukungan, tim kampanye digital Obama kemudian menyusun sebuah infografis berdasarkan data faktualnya untuk disajikan secara terbuka di Internet. Ini membuat orang lebih bisa memahami bahwa sumbangan mereka, tidak peduli berapapun jumlahnya, adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar. Dan sensasi kepuasan dan kebanggaan menjadi bagian dari sebuah gerakan menuju perubahan yang berskala masif dan luas itu sungguh tidak tertandingi, apalagi jika Anda warga akar rumput yang kerap termajinalisasi.

Elemen selanjutnya ialah ENGAGEMENT, atau hubungan timbal balik yang terbangun antara berbagai pihak yang ada di dalam kampanye digital ini. Interaksi dua atau banyak arah menjadi suatu hal yang krusial di sini. Agar lebih banyak orang yang mau bergabung, tim kampanye digital Obama membuat berbagai strategi yang ditujukan bagi mereka yang akab dan melek teknologi, misalnya dengan membuat kalender elektronik yang bisa diintegrasikan dalam iCalendar atau Google Calender pribadi pendukung yang ingin menyumbang tenaga menjadi relawan.

STORYTELLING menjadi elemen terakhir yang turut berkontribusi dalam keberhasilan kampanye digital Obama. Kisah hidup Obama sendiri memang sudah menarik, tetapi itu saja belum cukup.

Tim ini juga harus cerdik dalam mengemas pesan yang ingin mereka sampaikan. Kreativitas tinggi dibutuhkan agar pesan itu dapat diterima oleh masyarakat dengan lebih baik atau yang kita bisa katakan mengena atau ‘nyambung’. Tim tersebut berbicara dalam bahasa orang yang mereka ajak bicara dengan merilis sebuah video jenaka yang kemudian dipublikasikan dan beredar secara viral di Twitter dengan tagar # youngerthanmittspoliticalcareer, yang isinya menyindir pernyataan rival Obama, Mitt Romney, yang berkata bahwa dirinya bukan politisi karir.

Being fun, being real, showing personality” menjadi motto mereka dalam berinteraksi dengan para pendukung Obama di jejaring sosial dalam bahasa yang mereka sukai dan pahami.

Penting juga untuk mengemas satu pesan untuk disajikan dalam berbagai format. Mengapa? Agar lebih banyak swing voters (mereka yang belum menentukan pilihan) tertarik atau bagi mereka yang sudah merasa mantap memilih tetapi merasa ragu, bisa mengubah pilihannya setelah diyakinkan dengan pesan tertentu. Tim ini misalnya menggunakan data resmi dari badan pemerintah yang berwenang dalam urusan ketenagakerjaan (US Bureau of the Labor) untuk menyajikan perubahan positif dalam pasar tenaga kerja yang menunjukkan prestasi ekonomi Obama selama menjabat di periode pertama sebagai presiden AS.

Pendekatan komunikasi yang bernuansa PERSUASI melalui INTERAKSI juga ditekankan dalam tim ini, kata Goff. Salah satu contohnya yang menarik ialah kalkulator pajak Obama yang dapat diakses secara online oleh siapa saja. Mereka mampu menarik perhatian dengan memberikan informasi berupa hasil kalkulasi pajak yang unik untuk setiap orang.

Tim digital campaign Obama juga memberikan sentuhan yang berbeda dalam pengumpulan dana agar tidak terkesan terlalu biasa. Mereka menghadirkan program “Dinner with Barack” yang memungkinkan para donatur di atas 3 dollar yang beruntung terpilih bisa bersantap malam dengannya. Program itu sesuai dengan misi Obama agar tidak hanya merangkul kalangan elit ekonomi tetapi juga rakyat biasa yang tertarik dengan diri, visi dan misinya sebagai pejabat publik.

Prinsip utama mereka adalah bagaimana agar mempermudah masyarakat dalam mendukung kampanye Obama di setiap tingkat engagement dan bagaimana mengajak mereka yang sudah masuk untuk berkontribusi nyata dalam pemenangan Obama di pemilihan. Untuk memudahkan masyarakat tadi, salah satu usahanya ialah dengan membuat sebuah situs yang berdesain responsif, yang artinya situs itu akan bisa dengan mudah ditampilkan dan dijelajahi meskipun diakses melalui berbagai perangkat digital dari yang berlayar sekecil ponsel cerdas sampai ke komputer desktop di rumah.

Bagi mereka yang menginginkan pesan yang lebih ‘muluk-muluk’ atau penuh idealisme dan bervisi jauh ke depan disertai makna yang lebih dalam dan filosofis, tim ini juga memberikan pesan serupa dalam format yang lebih serius dan berat, yaitu dengan menampilkan salah satu relawannya. Relawan itu seorang pria dengan 4 anak, yang memiliki harapan agar bangsa Amerika lebih baik di masa mendatang sebagaimana yang diharapkan Obama untuk anak-anaknya dan bangsanya. Mereka mencoba merangkul kalangan yang memiliki ekspektasi lebih tinggi daripada hanya sekadar perubahan temporer dan dangkal di masyarakat serta melibatkan tanggung jawab yang lebih mendalam. (Sumber: Team Obama Talks Digital Vision – Strategies and Tools for 2012 and Beyond)

Kebijakan Baru Twitter Hapus Konten Orang yang Sudah Meninggal

Twitter umumkan Selasa kemarin (19/8) bahwa pihaknya akan menghapus foto-foto orang yang sudah meninggal jika diminta oleh pihak keluarga yang bersangkutan. Isu ini mengemuka setelah foto-foto dan video jurnalis AS James Foley menyebar luas di jejaring sosial.Kebijakan itu dimunculkan sepekan setelah anak perempuan almarhum Robin Williams, Zelda Williams, mengumumkan bahwa dirinya meninggalkan dunia jejaring sosial setelah sejumlah oknum melakukan ‘trolling’, yang menggunakan foto-foto sang ayah yang diedit untuk melucu.

“Menggali akun-akun kami untuk mencari foto-foto ayah atau menghakimi saya adalah hal yang sangat kejam dan tak perlu,”papar Zelda dalam tweet terakhirnya.

“Untuk menghormati permintaan orang-orang terkasih, Twitter akan menghapus foto orang-orang yang sudah meninggal dunia dalam kondisi tertentu,”ujar jubir Twitter Nu Wexler.

“Saat mengulas permintaan penghapusan konten media, Twitter mempertimbangkan faktor-faktor kepentingan publik seperti faktor berita konten yang dimaksud dan mungkin tidak bisa memenuhi semua permintaan yang diajukan,”imbuh Wexler.

Situs jejaring sosial Twitter dibanjiri dengan tangkapan layar video grafis yang menunjukkan eksekusi jurnalis malang Foley dan mengunggah tweet dengan tautan menuju video mengerikan tersebut. Twitter mengatakan pihaknya akan menghapus konten semacam itu berdasarkan permintaan anggota-anggota keluarga dekat atau individu yang berwenang. Namun, Twitter masih menolak memberikan akses ke akun apapun, bahkan pada kerabat orang yang meninggal.

Pejabat Gedung Putih mengatakan pada The Washington Post bahwa para pejabat Departemen Pertahanan AS mengamati situs jejaring sosial untuk menginformasikan mereka mengenai video Foley. Twitter memblokir dua akun yang mengirimkan foto-foto eksekusi dan menyatakan pihaknya akan terus mengulas kebijakan-kebijakan untuk melindungi para penggunanya.

XeeFunApps is Too Creepy an App

Wow how accurate this application can measure my personality shown on social media really amazes and cringe me at the very same time. XeeFunApps.com enables you to get to know yourselves with a single click, and voila! Your personality or aptly said “online personae” your face shown to the external world may be described very well.

What algorithm was employed in the app so it generated precise results like this? I’m still wondering.

From #tweetsfromthetop Event in Jakarta

‎[youtube http://www.youtube.com/watch?v=P9P2UmlN_dY&w=560&h=315]

This is my first second post on this blog in April. I can’t tell you how busy I have gotten these past weeks. I lost my paternal grandmother fortnight ago. And I’m sure she is resting in utter and complete peace now. No pain, no strain.

Life goes on no matter what…

So tonight I intended to show her I’m living my life to the fullest, by following my passion: writing, social media and yoga. It’s the best life ever for me now and while it lasts, I want to enjoy it the best I could.

And this #tweetsfromthetop project is actually ‎about the celebration of life itself. The event was hosted by Punang at Ogilvy’s Kino Cafe. It’s about how to inspire more people out there with tweets that matter most. Because tweets that matter most are sometimes not the ones which get talked about most (meaningfulness versus virality). That’s why Twitter needs us, any Twitter users whether it be avid or occasional ones, to serve as crowdsourced curators. From oceans of tweets on the web, we are to collect and sort the best tweets of the Twitter accounts we think worth-following. Go to the official webpage of #tweetsfromthetop and fill out the nomination electronic form, said Mr. Singh of Twitter (@parrysingh). That easy.IMG_20140416_193252[1]

Some prominent social media figures and bloggers were present, just like Enda Nasution (@enda) and @ndorokakung. These two are among few Indonesians who first started to blog years ago.

 

 

 

 

Stephanie Wiriahardja of Hootsuite gave me these notebooks. Meanwhile, Twitter gave me the previous edition of #tweetsfromthetop.
IMG_20140416_214544[1]

Cyber Bullying in the Coverage of @tifsembiring's Social Media Faux Pas Goes Too Far

image

Amazed… And sickened.

Not by the statement of the minister, but the overly abundant shower of attention media is paying to the social media faux pas committed by the Indonesia’s communication minister, Tifatul Sembiring.

Of course, it is an amusing irony to learn that the staunch advocate of anti online pornography movement and policy did follow a Twitter handle associated to sexually explicit content. Yet, I was wondering whether the amount of attention is a bit too much, overshadowing what is essential. It’s more like cyber-bullying than proper press coverage to me. They’ve been mocking Sembiring, even BBC.co.uk gets involved in the stunt. I’m no huge fan of his, I have neither political loyalty to his party nor Indonesian politics. No trust is left for them, I must say.

But bullying is still bullying, regardless of the excuse(s).