12-Inch MacBook Air, Another Incremental Innovation The World Badly Needs

It was rumored yesteryear already. To be frank , it’s quite stale as news. But why is this still news? Because it’s Apple that produces it. The world doesn’t care about what innovation Axio, Advan or Raspberry Pi would bring out to the market.

They say the new tech fascination would be released in the summer of 2015.

And as always, the selling point is the thinness. But if you wish to have the generosity of ports in the new product, you’ll be disappointed. Only one 3.5mm audio jack and a single USB-C connector are left. So the 13-inch model still wins.

There’s no mention about the battery durability. But if it can last 12 hours just like the 13-inch version, that’ll be great also.

The price could be between the 11 and 13 inch model.

Let’s hope the prediction is worse than the fact later on. Yet, I suppose I’ll stay with my old 13-inch one.

Truly I cannot understand why Apple has to produce the 12-inch in the first place? Tim Cook seems to want to confuse Apple fanboys and girls after applying the same strategy in the iPads.

Now, your decision making prior to buying a MacBook Air has never been as easy and simple as before.

Wait, that doesn’t include the processor and memory variations. 128, 256, 512 GB…??! I couldn’t care less.

Interviu, Saat Tepat untuk Membual bagi Pria

Rendah hati itu perlu bahkan menjadi daya tarik saat bergaul. Akan tetapi jangan lupa, ia juga bisa menjadi bumerang bagi pemiliknya di saat-saat penting. Salah satunya adalah wawancara kerja.

Saat wawancara kerja, mereka yang menjadi pelamar kerja haruslah pintar membual atau siap-siap gigit jari! Demikian kurang lebih pesan yang bisa dipetik dari hasil penelitian ilmiah yang dilakukan pada sekelompok pelamar kerja pria. Bersikap apa adanya dan rendah hati malah membuat peluang mendapatkan pekerjaan makin tipis.

Menurut ilmuwan Corinne Moss-Racusin yang tengah menempuh program doktoral psikologi di Rutgers, para pelamar kerja di tahap wawancara dinilai sama kompetennya namun mereka yang bersikap apa adanya dan rendah hati malah kurang disukai. Inilah yang saya sebut sebagai bumerang.

Rendah hati dianggap sebagai kelemahan dalam wawancara kerja, sebuah sifat yang menunjukkan status yang rendah bagi para pria yang bisa mempengaruhi secara negatif potensi pendapatan dan penerimaan lamaran kerja mereka. Kerendahhatian pada perempuan sebaliknya tidak dianggap sebagai indikator negatif dan tak dikaitkan dengan status. Seksis? Betul sekali.

Temuan dalam studi ini dilaporkan dalam jurnal Psychology of Men and Masculinity.

Moss-Rascusin menjelaskan lebih lanjut, bagi para pria dan perempuan, aturannya sama sekali lain. “Perempuan haruslah lebih komunal dan berorientasi lain tetapi mereka tidak boleh dominan. Secara historis dan lintas budaya, pria dikaitkan dengan pihak yang berbuat, yaitu, lebih independen dan memiliki fokus daripada perempuan,” terangnya.

Dalam studi ini, 132 mahasiswi dan 100 mahasiswa menjadi relawan dengan mengikuti wawancara kerja selama 15 menit. Peneliti ingin mengetahui perbedaan stereotip gender dan bagaimana ia menjadi bumerang bagi individu.

“Perempuan diperbolehkan untuk menjadi lemah sementara sifat ini sangat dihindari pada pria,” ujar Moss-Racusin. “Sebaliknya, dominasi diharapkan ada dalam diri pria dan dilarang ada dalam perempuan. Maka dari itu, stereotip gender mencakup 4 pasang aturan dan ekspektasi perilaku.

Sekat-sekat Muslihat

Dalam berita yang saya pernah dengar menjelang malam Natal, yang biasanya saya dengar adalah aparat kepolisian disibukkan dengan penjagaan di Gereja Katedral Jakarta. Saya tidak banyak bertanya mengapa katedral yang kerap kali disebut. Jika saya cermati memang lebih jarang saya mendengar ada pemberitaan penjagaan aparat di gereja-gereja Kristen Protestan di media massa.

Saya tak ambil pusing dengan itu karena saya tidak terpikir ada perbedaan di antara gereja Kristen Katholik dan Protestan.

Hingga suatu hari saya bertemu dengan seorang teman yang berkeyakinan Katholik. Pagi itu kami bersantap bersama di sebuah kedai makanan di alam terbuka. Kami menyinggung tentang Ahok yang berhalangan datang ke taman meskipun sudah diundang jauh-jauh hari.

“Saya juga sudah ragu kalau Ahok benar-benar akan datang ke sini,” terang teman saya itu. Pasalnya, Ahok memeluk Kristen Protestan. Dan katanya lagi, pemeluk Kristen Protestan memiliki keterikatan dengan gereja tempat ia menjadi jemaat. Seperti ada keanggotaan tetap dan mereka diwajibkan untuk datang dan menyumbang ke gereja itu sepanjang waktu.

“Lain dengan orang Katholik seperti saya,” imbuhnya. Gereja-gereja Katholik kata dia lebih terbuka dalam hal menyambut orang yang ingin beribadah. Tidak ada keanggotaan yang mengikat dan mereka diperkenankan untuk beribadah di gereja Katholik manapun di dunia ini, tidak cuma di satu gereja yang sudah menjadi tempat mereka memberikan komitmen penuh untuk beribadah.

Itulah mengapa kita tidak perlu heran saat ada tetangga yang memeluk Kristen Protestan yang tidak memilih untuk beribadah di gereja protestan di dekatnya dan lebih memilih beribadah di gereja yang lebih jauh. Ternyata itu karena ia sudah menjadi semacam anggota di gereja yang bersangkutan.

Karena itulah gereja Katholik lebih rawan terhadap penyusupan dan pemboman teroris yang mencoba mengacaukan kondisi yang kurang kondusif di antara umat beragama saat ini. Apalagi kita telah tahu munculnya bibit-bibit radikalisme di masyarakat Indonesia.

Dalam umat Islam sendiri – yang di dalamnya saya menjadi bagian – bisa dijumpai pula fenomena semacam ini. Ayah saya yang bergabung dalam Muhammadiyah hanya beribadah di satu masjid yang sudah ia bangun bersama kawan-kawannya. Lalu meninggalkan masjid Muhammadiyah di kampung lainnya yang sebelumnya biasa ia kunjungi yang juga sama dekatnya untuk beribadah hanya untuk beribadah di masjid baru tadi. Dan sangat tipis kemungkinan ayah saya mau sholat di masjid dekat rumah yang dibangun orang Nahdlatul Ulama (NU), kecuali semua masjid Muhammadiyah di desa, kecamatan atau kabupaten kami runtuh, rata dengan tanah.

Memang ayah saya tidak sampai seekstrim menghindari sholat di masjid lain saat berada di luar kota tetapi tetap saja ini membuat saya jengah. Mengapa harus fanatik seperti itu? Mengapa tidak sesekali ke masjid-masjid lain di sekitar kita, menjumpai orang baru yang sama sekali bukan warga kampung, orang yang bukan anggota organisasi yang sudah kita masuki, yang bukan bagian dari keluarga besar kita?

Happy Birthday to This Blog!

IMG_3325.PNG

 

If I didn’t have this blog, I might have gone mad, psychologically troubled. It helps a lot when I need to shout but my mouth cannot say a word. It aids me to handle the influx of ideas, which would be otherwise a waste of intellect. These ideas would be wild, unorganized but the blog helps me organize them all when someday I need them again.

 

David Sedaris: Write First then Collect Rubbish

david sedaris

David Sedaris’s face  was sweating a bit. In his left hand, you can see a white canvas shopping bag in which he threw some rubbish he found along the way. He complained,”It drives me crazy…” He took a stroll again and found more rubbish. This time, the rubbish was more than the bag could hold. He gave up collecting these cans, and walked again.

I know why Sedaris does such a thing on a daily basis because he CANNOT take it anymore. “Why people keep spoling the superb nature??!”I might scream on behalf of the American author.

“It’s so beautiful here (around his neighborhood in England) but look….! Look over there. People throw rubbish everywhere,”he approached it and took some with his bare right hand.

He doesn’t understand why people throw rubbish and hence the rubbish collection.

He admitted he can collect more if he walks from where he stands and the hill top before him. This peculiar activity has been part of his daily routine since he moved to the neighborhood.

Upon watching the interview, I just realized that Indonesia is not the only place where rubbish is a major problem. In a developed world, it’s been one since forever and as an anglophilic person, I can’t believe it. Simply can’t. How on earth do these first world nations fail to address the issue we in the third world ones are facing? Now, I know they’re not even any better in terms of rubbish management attitude. Yes, in cities and towns, there’s remote chance to find rubbish at public places but in the nature, humans are still humans regardless of their races, citizenship, welfare, and so on. They tend to think that rubbish can get rid of itself over time, so it’s ok to throw it away anytime anywhere they wish.

Sedaris added,”I write in the morning and I go out and pick up rubbish.” He keeps doing that despite the fact that some people think the author is obviously nuts. Well, that’s what I always thought when I started to move and live in Jakarta. I always wanted to pick the rubbish I see and find along my path but I think I’m simply too afraid of being called “eccentric”. I know it doesn’t violate the rule or norm but that’s unusually kind to environment and the super ignorant majority and that’s considered strange by laymen.

Sedaris is greatly eccentric and geez, that is sexy! I meant, intellectually sexy.